SANG PAMOMONG episode 68

Chapter 68

Melihat si wowo mati mengenaskan, barisan makhluk tak kasat mata itu menyerbu aku dan zulaikha.
Aku ragu-ragu untuk bergerak, hanya mengeluarkan energi yang melingkupi seluruh tubuhku sebagai tameng.
Ga tega rasanya harus memusnahkan mereka. Mereka khan makhluk Allah juga….

Zulaikha sudah mengeluarkan pedang tipisnya dan mulai membabat penyerbu yang mendekatinya.
Jeritan kesakitan dan lolongan kematian segera membahana…Cumiakkan telinga.

Keraguanku mesti dibayar mahal…
Sebuah pukulan dari si kunti menggetarkan dadaku.
Aku terlempar ke belakang dan menabrak tembok ruangan.
Dadaku terasa sesak… Untung badanku sudah kulindungi dengan perisai energi, sehingga pukulan itu tak sampai mencelakakanku.
Terdengar jeritan kunti itu… Kulihat kunti itu sudah terbabat oleh pedang Zulaikha.

Aku bangun perlahan, merasakan sakit di punggungku akibat membentur tembok ruang tengah.
Kerasa sakit juga woi….

Aku berdiri dengan tertatih…
Belum sempat aku berdiri tegak.., rombongan makhluk kerdil yang berjumlah sekitar 5 makhluk, merangsek dan mengeroyokku.

Curang mereka itu…aku belum siap kok main keroyok aja…
Sontak aku menjadi murka karenanya.
Segera kupanggil tombak kyai Cemeng untuk datang. Seketika, sebatang tombak sepanjang satu meter dengan warna hitam pekat berkilat, berada di tanganku.
Tak ada rasa kasihan lagi…
Aku harus mempertahankan diri, atau bakal mati konyol….

Gelombang serangan datang beruntun… 5 makhluk itu sudah mengarahkan pukulannya ke lima bagian tubuhku. Semuanya titik yang mematikan…
Kualirkan energiku pada tombak itu dan kukibaskan memutari tubuhku.
Selarik cahaya hitam berpendar dari badan tombak membentuk sebuah lingkaran dan membabat tubuh makhluk-makhluk kurcaci itu.
Seketika, mereka terpotong menjadi 2 bagian tepat di pinggang mereka.
Lolongan kematian menggetarkan langit…
Bu
Bau busuk dan sangit memasuki rongga hidungku. Membuatku sedikit mual…

Masih belum selesai… 4 makhluk lain segera menyerangku…
Poci, kunti dan dua makhluk kerdil bersama-sama melontarkan pukulan dari arah depan.
Kulintangkan tombak dan menahan pukulan mereka.

DHUAARRRR…..

Bentrokan aura tombak dan pukulan mereka menggetarkan dinding ruangan.

Aku terdorong mundur satu langkah….sedang mereka hanya bergoyang gontai saja.
Aku melompat ke arah mereka sambil menyabetkan tombak membentuk garis lurus sebatas pinggang makhluk2 itu..
Cahaya yang keluar dari badan tombak membabat pinggang mereka hingga putus.
Mereka berteriak menjemput ajal dan berubah menjadi segumpal asap yang lalu menghilang.

Kulihat Zulaikha sedang membantai musuh-musuhnya yang tinggal sedikit.
Pedangnya berkelebat kian kemari dan menebas musuhnya satu persatu.
Gerakan Zulaikha begitu indah bagaikan sebuah tarian. Tarian kematian….
Pinggangnya bergerak memutar kesana kemari, dengan langkah gemulai, sementara pedangnya kadang menebas, kadang mematuk, kadang membabat…
Setiap kibasan pedangnya, selalu membawa kematian bagi musuhnya.
Wajah cantiknya memancarkan kemarahan yang sangat hebat.
Tak terlihat lagi kecantikan dan kejahilannya. Yang ada sekarang adalah wajah penuh kemarahan dan kekejaman….mengerikan.
Melihat musuhnya yang cuma sedikit, aku segera menuju keluar rumah.
Aku bermeditasi di halaman rumah…menyalurkan energiku dan membangun sebuah pagar ghaib untuk mencegah masuknya makhluk astral lainnya.
Selesai membuat pagar ghaib, aku menghempaskan nafasku.

Dadaku masih agak sesak karena pukulan kunti tadi. Aku segera bermeditasi lagi untuk mengobati luka dalam yang tidak begitu parah.
Kutarik energiku dari bawah pusar, dan kuarahkan kebagian dadaku yang sakit.
Perlahan, rasa sesak di dadaku mulai berkurang.
Nafasku terasa lebih longgar.
Aku memghela nafas lega… Alhamdulillah….cuma luka ringan saja.

Mendadak Zulaikha muncul di depanku.
Aku sampai kaget dibuatnya…

“Huft….bikin kaget aja!”
“Kamu ga apa-apa? Ada yang terluka apa enggak?” tanyanya dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Ga papa… Cuman luka dalam sedikit. Udah baikan kok sekarang. Sudah habis musuhnya?”
“Syukurlah…. Aku khawatir banget tadi. Musuh dah aku bantai semua. Eh….kamu dah buat pagar ghaib ya?”
“Iya, sekalian aja… Sama buat jaga-jaga supaya ga ada makhluk lain yang masuk ke rumah ini!”
“Bagus lah…. Kulihat sudah cukup kuat kok pagarnya. Ga perlu aku tambahin lagi…!”
“Iya lah .. Siapa dulu yang buat ..!” sahutku sombong…

Pletaakkk….

“Jangan takabur…. Gitu aja udah sombong ..!” kata Zulaikha setelah dengan kejamnya menggaplok kepalaku yang imut ini.

“Hehe…becanda kok….!”

Aku lalu beranjak masuk ke dalam rumah.
Memperhatikan ruang tengah yang agsk berantakan.
Untung ga ada barang berharga yang pecah….fyuhh…

Sudah ada Firda dan ortunya di situ. Mereka membereskan barang yang berjatuhan.
Aku membantu mereka untuk beberes.
Selesai berberes, kami duduk bersama di ruang keluarga itu.

‘Bagaimana Nak Aji, apakaj sudah bersih rumah ini?” tanya bokap Firda
“Insya Allah sudah Om!”
“Mereka bakal balik lagi apa enggak? Khan barang yang ditanam belum diambil?” mamanya Firda ikut bertanya.
“Insya Allah nggak tante… Tadi sudah saya buatkan pagar ghaib buat melindungi rumah ini!”
“Ah. .syukurlah… Terima kasih banyak Nak Aji…!”
“Sama-sama Om, Tante…! Karena sudah malam, saya mohon pamit dulu ya Om, Tante!”
“Eh tunggu dulu nak Aji… Ini sekedar buat beli bensin Nak Aji!” kata papanya Firda sambil menyodorkan sebuah amplop.

“Maaf Om… Saya bantu Om dengan ikhlas. Apalagi Firda adalah teman saya. Saya ucapkan terima kasih atas niat baik Om, tapi saya tidak dapat menerimanya Om…!” kataku menolak pemberiannya.
“Tapi kamu khan dah capek ngusir hantu itu?”
“Ah ..capek sedikit, ga papa Om! Baiklah Om, saya permisi dulu.
Eh…hampir lupa, besok kalo mau bongkar tembok, tolong saya diberitahu. Supaya saya bisa menunjukkan tempatnya yang tepat!”
“Baik nak Aji… Hati-hati di jalan!”
“Baik Om. Mari Tante..Firda…! Assalamu’alaikum…!”

Aku segera beranjak keluar rumah itu dan mengambil motorku.
Firda dan ortunya mengantarkanku sampai teras.
Aku menghidupkan motorku dan segera cabut menuju kost. Penginnya langsung istirahat… Badan capek banget rasanya….

Sampai di kost, aku segera mandi junub…ups…salah. Mandi biasa kok….
Trus istirahat di kamar, langsung tepar.
Sesaat sebelum terlelap, aku lihat Zulaikha duduk bersila di lantai dekat kasurku.
Mungkin meditasi untuk memulihkan tenaganya.

Karena capek, aku terlelap dengan cepat. Pertarungan dengan makhluk ghaib memang sangat menguras energiku.

Aku tersentak bangun saat mendengar suara letupan di luar kamar. Ada apa ini?
Masak malem-malem gini ada ban mobil meletus?
Loh…suara itu terdengar berkali-kali.
Atau ada yang main petasan? Perasaan lebaran dan tahun baru masih lama deh.

Penasaran, aku bermaksud untuk bangkit dari kasur dan pergi keluar.

‘Tetap berbaring…jangan bangun dari kasur. Biar aku yang menghadapinya!” suara Zulaikha terdengar terngiang di telingaku.

“Ada apa ini?”
“Sudah, diam saja… Ada yang ingin mengguna-gunai kamu dwngan santet.”

W H A T T T T?????

Apa salahku sampai ada yang ngirim santet ke aku coba?

Akhirnya, aku menuruti apa kata Zulaikha. Aku cuma berbaring di kasur. Ga tahu apa yang dilakukan Zulaikha di luar sana.

Saat itulah, ada sebuah bola cahaya berwarna merah menyala menembus langit-langit kamar.
Langsung menuju ke arahku.
Karena merasa terancam, spontan energiku keluar dan melingkupi seluruh tubuhku.

Belum sempat energiku tersalur dengan sempurna, bola cahaya itu sudah berjarak sejengkal dari tubuhku.
Aku hanya bisa melotot memandang bola cahaya itu.

“Mati aku….!’ pikirku.

Tapi ternyata bola api itu berhenti dengan jarak sekitar 5 cm dari tubuhku.
Lalu bola cahaya itu perlahan naik lagi menuju plafon kamar, dan….melesat turun dengan kecepatan tinggi.
Tapi begitu sampai di dekat tubuhku, bola cahaya itu berhenti lagi. Seolah ada sesuatu yang menghalanginya untuk menyentuhku.

Mendadak Zulaikha muncul dan menghajar bola cahaya itu…

BLAARRR……

Sebuah ledakan terjadi di dalam kamarku. Dinding kamar serasa tergetar oleh ledakan itu.

” Sial…ada satu yang lolos. Kamu ga apa-apa Ji?” tanyanya.
“Ga papa kok… Masih ada santetnya?”
“Udah ga ada lagi. Tadi sebagian besar membentur pagar ghaib dan meledak, satu itu yang berhasil lolos!”
“Ah. .syukurlah. Siapa sih, iseng banget ngirim santet ke aku?”
‘Mungkin dukun yang menanam benda di rumah temenmu itu!”
“Wah….tahu juga dia kalo kirimannya sudah kita hancurkan!”
“Jelas tahu lah. Dia khan selalu memantau makhluk yang dikirimnya..!”
‘Trus kenapa aku tadi disuruh tiduran aja? Aku khan bisa juga menghadapi santet itu?” kataku kesal.
‘Duh ..jangan ngambek. Kamu kan sedang kelelahan karena pertarungan tadi. Kita juga ga tahu, apa yang akan terjadi besok saat membongkar tembok. Maksudku, supaya kamu menghemat energi aja sih?”
“Oh…gitu. Makaaih deh, udah diperhatiin.’
‘Iya ..sama-sama. Khan emang dah jadi tugasku!”

Aku meraih hpku dan melihat jam. Sudah jam 3 dini hari. Wah, alamat ga bisa tidur lagi nih. Gara-gara santet sialan itu….grrr!!!

Daripada bingung, aku ambil wudhu dan sholat tahajud…sekalian dzikir sambil menunggu subuh.

Tak lupa, meditasi untuk memulihkan energi yang sempat terkuras kemarin malam.

Setelah sholat subuh, seperti biasa aku ngopi donk…;D
Sambil menikmati kopi dan sebats, aku bermain hp.
Lagi mainan hp, ada telpon masuk.
Terlihat nama Desi terpampang di layar hpku.

“Hallo, Assalamu’alaikum cantik…!”
“Wa’alaikum salam mas… Sudah sholat subuh Mas?”
“Sudah dong…. Ini lagi ngopi di teras!”
“Oh…kirain belum bangun, trus aku telpon. Niatnya mau bangunin
Mas buat sholat subuh. Eh…malah udah sholat…hihi!”
“Kapan balik ke kost nih? Udah aku pesenin kamar buat Renita lho!”
“Besok sore aku berangkat dari rumah Mas.”
“Tumben mepet banget balik ke kostnya? Ga kangen ma aku ya?”
“Kangeennnn banget mas.. Tapi mau gimana lagi, dapat travelnya buat besok sore!”
“Oh ..ya udah deh. Pokoknya, hati-hati di jalan.”
“Iya Mas… Udah dulu ya Mas, mau bantuin ambu masak nih?”
“Iya… Belajar masak yang enak, biar nanti suaminya ga jajan di angkringan…!”
“Siap mas… Besok kalo dah di kost, aku masakin khusus buat Mas Aji deh!”
“Wah ..jadi ga sabar nih, pengin ngerasain masakan kamu!”
“Sabar mas… Lusa aku masakin deh. Udah dulu ya Mas…. Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam!”

Selesai telponan, aku melanjutkan ngopi.

Ada chat masuk dari Firda..

– Ji, nanti rencananya mau bongkar tembok jam 9 pagi. Papa dah dapat tukangnya.

+ oke. .ntar gue meluncur ke rumah lo!

– Agak pagian aja, biar bisa sarapan bareng..

+ Ogah ah… Malu.

– Halah. Sok malu lo….

+ Hehe…emang malu kok.. Ntat jam 8 gue udah di rumah lo.

– Oke, gue tunggu…

Dan ga aku balas lagi chatnya.

Jam 8 pagi, aku sudah sampai di rumah Firda.
Dengan perut kenyang karena sudah sarapan tentunya.
Jadi kalo disuruh makan, ada alasan buat nolak…hehe.

Jam stengah 9, dua orang tukang datang dengan peralatan tempur mereka.

Dengan bantuan Zulaikha, aku menunjukkan pada mereka, bagian tembok mana yang harus mereka bongkar.

Mereka mulai bekerja dengan penuh semangat. Apalagi luasan tembok yang harus dibongkar cuman sekitar 1,5 meter persegi.
Ga besar kok…

Dalam waktu satu jam, proses pembongkaran selesai. Dan kami dapati ada sepotong bambu di sana, dan sebuah bungkusan kain mori.

Aku ambil potongan bambu dan bungkusan kain mori itu.
Begitu bungkusan itu kubuka, isinya cuma tanah saja.

Busyet…benda kek gitu kok bisa ngundang makhluk ghaib ya?

“Itu bambu yang digunakan untuk mengukur panjang jasad orang mati. Dan tanah itu adalah tanah kuburan!” kata Zulaikha padaku.
“Kok bisa ngundang banyak jin?’
‘Itu sudah dimantrai oleh dukun, jadi auranya bertambah kuat dan menarik makhluk ghaib buat ke sini!”
“Kamu bisa ngilangin kekuatan mantranya apa nggak?”
“Ga bisa, cara satu-satunya, ya dibakar!”

Aku mengangguk-angguk mendengar apa yang dikatakan Zulaikha.

FYI: Di daerah ane, bambu buat ngukur jasad orang mati sering dibuat rebutan untuk dibikin joran pancing gan. Konon katanya, jika mancing dengan joran iti, bisa dapat ikan banyak. Wallahu a’lam

Ketika Papanya Firda menanyakan benda apa itu, akupun menjawabnya sesuai apa yang dikatakan Zulaikha.
Orang-orang yang mendengar sampai bergidik mendengar penuturanku.

Dengan ijin papanya Firda, aku membawa benda2 itu ke belakang rumah untuk aku bakar.

Saat aku sudah siap membakar benda2 itu, munculah sesosok kakek tua berbadan tinggi besar dan berpakaian serba hitam di hadapanku.

Waduh…apalagi ini? Jelas dia bukan manusia…. Jelas dia makhluk dari alam lain.
Apakah dia penunggu barang2 tersebut?
Atau apa….??

cerbung.net

SANG PAMOMONG

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Dalam kepercayaan Jawa, bayi yang baru lahir, didampingi oleh sosok PAMOMONG. MOMONG dalam khasanah bahasa Jawa, artinya Mengasuh. Nah..sosok Pamomong itu bisa juga disebut sebagai PENGASUH. Sosok Pamomong adalah sosok.ghaib yang hanya bisa dilihat oleh sang jabang bayi. Kadang kita melihat bayi yang ketawa-ketawa sendiri, sambil matanya melihat ke atas. Dipercaya, bahwa saat itu, sang bayi sedang diajak bercanda atau bermain oleh Pengasuhnya. Dari kepercayaan tersebut, cerita ini terlahir. Sebuah kisah fiksi yang akan menceritakan tentang seseorang yang sampai masa dewasa bisa melihat dan berkomunikasi dengan Sang Pamomong. Semoga bisa menghibur para reader semua.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset