SANG PAMOMONG episode 71

Chapter 71

Ki Sardulo Seto hadir dengan anak buahnya yang semua berwujud macan.

“Ada apa memanggilku, Den?”

Wah ..manggil Den sekarang…Kemajuan nih….

“Tolong bantu Zulaikha, Ki. Dia dikeroyok banyak banget gitu. Aku mau menghadapi dukun itu!”
“Baik Den….!” kata Ki Sardulo yang lalu memerintahkan anak.buahnya menyerbu mskhluk ghaib dukun itu.

Sekarang tinggal menghadapi dukun itu, yang bersenjata keris menggidikkan itu.

Hmmm…aku juga mesti pake senjata nih… Biar ga kalah pamor sama dukun itu.

Dengan sedikit konsentrasi, aku memanggil Kyai Cemeng…tombak warisan nenek.
Dalam sekejap mata, tombak itu sudah ada dalam genggamanku.
Karena malam hari, keberadaan tombak itu aku harap agak tersamarkan karena warnanya yang legam.

Aku kembali berhadapan dengan dukun itu. Jeritan kematian di samping kami, juga pertempuran di dekat kami, sudah tidak kami perhatikan.
Konsentrasi kami hanya tertuji pada musuh masing-masing.

Dukun itu berteriak dan menyerbuku sambil menyabetkan kerisnya. Pendar cahaya hijau yang muncul dari keris itu, meluruk ke arahku.
Untuk mrnghadapinya, aku .mengibaskan tombakku dari bawah ke atas.
Seberkas sinar hitam gilap memapaki sinar hijau itu, dan saling berbenturan.

GLAARRR…….

Dentuman ledakan akibat pertemuan dua sabetan senjata pusaka, seolah menulikan telingaku.

Dukun itu tampak kaget… Mungkin dia mengira kalau aku bakal terkapar oleh sabetan kerisnya. Tapi kenyataannya tidak sesuai dengan keinginannya…

Melihatnya kaget, aku segera memukulnya dengan pukulan jarak jauh ke arah dadanya.
Tapi gerak refleknya mampu menyelamatkan dia dari terkena pukulanku. Saat pukulanku hampir mengenainya, reflek dia melintangkan kerisnya di depan dadanya, sehingga pukulanku tidak mengenai dadanya.
Dukun itu selamat dari pukulanku, tapi tenaga dorong pukulanku masih mampu mendorongnya ke belakang.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, saat dia sedang limbung, aku sabetkan tombakku mengarah ke pergelangan tangannya yang memegang keris.

Wuzz…..selarik gelombang hitam melesat ke arahnya….
Luput sodara sodara…..

Pergelangan tangannya tidak terkena sabetan tombakku.
Malah kerisnya yang terkena…

Trang…..
Suara benturan dua pusaka terdengar nyaring.
Sebuah kejadian yang tidak kubayangkan terjadi…
Keris itu terlepas dari tangannya dan melayang entah kemana.
Dalam hati aku bersorak gembira… Tak terduga bahwa dukun itu bisa kehilangan senjatanya.

Tombakku aku simpan kembali, dan aku hampiri dukun itu.
Dukun itu sudah tampak kebingungan.
Apalagi saat tak terdengar suara pertempuran di samping kami.

Aku lihat, Zulaikha dan Ki Sardulo Seto sedang menonton kami.
Rupanya pertempuran sudah berakhir.
Kembali aku mendekati dukun itu dengan kesiagaan penuh.
Kulihat dukun.itu sudah menjadi gugup.
Makhluk pengikutnya sudah tertumpas, tinggal dia seorang diri.
Mentalnya sudah down duluan..

“Stop, aku menyerah….!” teriaknya.

Aku memandangnya dengan tajam…

“Benar menyerah?” tanyaku.
“Benar…aku sudah kalah. Anak buahku habis, senjataku hilang… Aku kalah…!”
‘Baiklah… Sekali ini aku ampuni kamu. Tapi sekali lagi kau berani mengganggu keluarga pak Firman, aku bakal mencarimu dan menghajarmu!” sahutku.
“Baik… Aku berjanji.tak akan mengganggu keluarga pak Firman lagi.’
“Aku pegang kata-katamu…!”
Aku lalu berbalik menuju sepedq motorku. Mau lanjut cari makan. Kuanggap masalah di sinj sudah selesai…

“AWWAASSS…!!!” teriakan Zulaikha mengagetkanku. Reflek aku menjatuhkan tubuhku. Selarik sinar merah panas hampir mengenaiku.
Dua jalur pukulan berkelebat menyambut cahaya merah itu.

Dhuarrr…..

Rupanya Zulaikha dan Ki Sardulo yang melontarkan pukulan itu.
Aku bangkit dari tanah dan berbalik menghadapi dukun itu.
Tampak dukun itu sedang bersimpuh di tanah dan menumpahkan darah segar.

Rupanya dia terkena pukulan yang membalik karena benturan tadi.
Emosiku memuncak…aku ga terima dia sudah membokongku.
Tapi melihat keadaqnnya, aku ga tega juga buat menghajarnya.
Aku lalu berbisik pada Ki Sardulo dan dia menganggukkan kepalanya.
Dia melesat .menghampiri dukun itu dan melakukan beberapa gerakan.

Dukun itu berteriak keras….

“Hei..dukun ga tahu diri… Jalur energimu sudah dikunci oleh temanku ini. Kau tidak ubahnya manusia biasa saat ini. Jadi bertobatlah…dan menjadi orang yang baik…!” kataku sok bijak…

Tanpa menunggu jawabannya, aku segera meninggalkannya di tempat itu.
Lanjut cari makan bre… Laper akut ini mah….

Usai makan, aku pulang ke kostan.
Sampai di kost, udah jam 10 malam.
Saat aku baru memarkir motor, …….

“Mas Ajii……..!!”

Aku menengok ke arah datangnya suara…

Whatt…??? Desi…?
Kok udah ada di kost dia?

Waduh….aku ga inget dia balik ke kost malam ini…

Aku menghwmpiri Desi di depan kamarnya.
Tampak Renita baru keluar dari kamar kakaknya.

Kulihat Renita keluar dari kamar kakaknya. Habis mandi kayaknya.
Rambutnya masih basah, dan dia lagi mengelap rambutnya dengan handuk.
Kelihatan seger deh….
Apalagi dia cuman pake kaos ketat dan celana pendek.
W O W……
Itu aja yang bisa aku ucapin… Dalam hati tapi…..
Kedengaran Desi, bisa dikubur hidup-hidup diriku.

Aku menghampiri Desi yang sedang berdiri di teras depan kamarnya.

‘Wah…udah nyampai aja. Jam berapa nyampe?” tanyaku.
“Dah dari jam 8 tadi Mas. Mas habis dari mana sih? Jam segini baru balik?”

Aku mengsjaknya duduk di teras kamar itu dan mulai bercerita.
Tentang rumah Firda sampai aku dicegat dukun itu.
Desi dan Renita mendengarkan dengan seksama.

Setelah aku selesai bercerita, Desi jadi tampak khawatir. Dia mendekatiku, memegang kepalaku.
Dilihatnya seluruh bagian kepalaku.
Lalu aku disuruh berdiri, lalu badanku dibolak-balik… Biar ga gosong mungkin….

“Mas ga ada yang luka khan? Ga ada yang sakit?”
“Ga ada… Masih utuh semua kok.. Masih ganteng juga….!” kataku sambil nyengir…
“Iya deh… Pacarku paling gantengm..!” katanya sambil memeluk tanganku.
“Duh…yang lagi pacaran… Ga inget ada adeknya di sini…?” celetuk Renita.

“Eh…ada kamu Ren. Kapan dateng?” tanyaku sok care.
“Halah…dari tadi dah lihat kok, nanya kapan dateng…!” cibirnya.
“Hehe…ntar dikira cuek ama kamu… Makanya aku tanya. Basa-basi lah….!”
“Ga lucu ah… Eh Mas… Firda itu siapa? Cantik ga? Pacar baru Mas ya?”

Duh, ni anak bawel amat ya? Pertanyaannya itu lho….

“Temen satu jurusan… Tetehmu juga tahu kok.”
“Teh…awas lho.. Ntar Mas Aji disamber sama Firda…!”

Wah, tukang kompor juga ni anak…

‘Teteh mah percaya wae ka Mas Aji!” kata Desi.

Hahaha….mampus lo… Desi ga kemakan omonganmu Ren…kataku dalam hati.

“Ah…ga seru. Teteh mah orangnya kalem beut… Ga mempan dikomporin…!” kata Renita sambil manyun.

Duh ..tuh bibir bikin gemes kalo manyun gitu…

“Hahaha…percumah deh ngomporin tetehmu Ren…!” kataku penuh kemenangan.
“Tenang Teh .. Biar aku yang awasin mas Aji di kampus! Kalo macem-macem, biar aku labrak cewenya..!”
‘Udah ah… Kalian nih malah bertengkar. Eh…mas, ada oleh-oleh tuh, titipan dari Abah dan Ambu.
Bentar aku ambilin…?’ kata Desi sambil masuk ke dalam kamar.

Tinggal aku berdua dengan Reni di teras. Lumayan, ada kesempatan buat mantengin body Renita yang bohay….

“Eh Mas… Kamar yang buat aku dimana?”
“Tuh…..!” jawabku sambil menunjuk ke sebuah kamar.
“Ah..elah, cuma di sebelah Teteh ini mah….!”
“Ga papa khan?”
“Ga papa sih… Aku pikir yang di dekat Mas Aji…hihi!”
“Itu sih barisan kost cowo… Ga boleh diisi cewe!”

Desi ksluar kamar sambil membawa bungkusan lumayan besar.

“Besar amat Neng… Apaan tuh isinya?” tanyaku.
“Banyak Mas…, kata Ambu, buat calon mantu…hihihi!” Renita yang jawab.
“Apaan sih Dek…. Ini ada dodol, ada peuyeum, ada juga tahu sumedang…?” kata Desi.
“Wah..banyak banget. Alhamdulillah. Abah dan ambu sehat?”
“Alhamdulillah sehat semua Mas…!”

Kami ngobrol sampai tengah malam. Renita kelihatan dah ngantuk dan pamit tidur duluan.

Kesempatan emas… Aku mendekati Desi.
Kami saling berpandangan, dan tak perlu waktu lama, bibir kami segera bertemu.
Rasa rindu lama tak bertemu, membuat kami memuaskan diri berpagutan.
Pagut…..lepas…..pagut…lepas…
Ampe tebel deh bibirnya…

Tentunya dengan sedikit rabaan dan remasan juga lah.
Kalo kagak mah…hambar banget bre…

Puas melepas kangen, Desi duduk di sampingku sambil menyenderkan kepalanya di bahuku.

Bau wangi shampo menyeruak hidungku. Dengan penuh kasih sayang, kucium rambut Desi.
Desi meletakkan kepalanya di dadaku sambil memeluk pinggangku.

“Manja amat Neng?”
“Kangeennn….!”
” Sama lah Neng.. Aku juga kangen banget sama kamu!”
“Aku pengin kita bisa terus bersama Mas…!”
“Amiinn…!” jawabku.

Kuelus-elus rambutnya dengan penuh kasih sayang. Ga berapa lama, terdengar dengkur halusnya.
Rupanya Desi tertidur di pelukanku.
Aku membiarkannya tidur tanpa mengganggunya.
Kasihan, pasti dia lelah banget dalam perjalanan.
Satu jam aku bertahan dalam posisi itu.
Udara malam makin dingin. Aku merasa agak menggigil.
Tapi aku tetap bertahan, dan memeluk Desi.
Terasa hangat, lumayan untuk menghilangkan dingin.
Tubuh Desi bergerak…terbangun rupanya.

“Ah…aku ketiduran Mas.. Kok ga dibangunin?”
“Ga tega… Kayqknya pules banget. Sekarang pindah kamar ya? Dingin di luar ..!”
“Iya Mas… Mas juga langsung istirahat ya?”
“Iya… Sana masuk.kamar…!”
“Sun dulu….!” pintanya.

Ga perlu waktu lama, bibir kami kembali bertaut. Tapi hanya sebentar. Desi lalu masuk kamar…
Aku dengan membawa oleh-oleh, masuk kamar. Setelah meletakkan oleh-oleh, aku memasukkan motor.
Lanjut tiduurrr….


cerbung.net

SANG PAMOMONG

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Dalam kepercayaan Jawa, bayi yang baru lahir, didampingi oleh sosok PAMOMONG. MOMONG dalam khasanah bahasa Jawa, artinya Mengasuh. Nah..sosok Pamomong itu bisa juga disebut sebagai PENGASUH. Sosok Pamomong adalah sosok.ghaib yang hanya bisa dilihat oleh sang jabang bayi. Kadang kita melihat bayi yang ketawa-ketawa sendiri, sambil matanya melihat ke atas. Dipercaya, bahwa saat itu, sang bayi sedang diajak bercanda atau bermain oleh Pengasuhnya. Dari kepercayaan tersebut, cerita ini terlahir. Sebuah kisah fiksi yang akan menceritakan tentang seseorang yang sampai masa dewasa bisa melihat dan berkomunikasi dengan Sang Pamomong. Semoga bisa menghibur para reader semua.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset