SANG PAMOMONG episode 83

Chapter 83

Hari Minggu Pon…2 hari menjelang hari H.
Pagi-pagi sudah ada dering telpon yang menggangguku.
Kulihat nomer tak dikenal yang menelponku. Aku biarkan saja…ga aku angkat. Tak lama, dering hpku terhenti.
Lalu terdengar lagi nada dering hp.
Nomer tadi lagi…

“Halo, assalamu’alaikum….!”
“Wa’alaikum salam… Nak Aji, ini om Bagas. Kamu ada waktu ga buat kesini?”
“Oh…Om Bagas ya? Saya luang kok Om… Ada apa ya?”
“Ini, kyai Maksum nanti pukul 9 mau rawuh kesini. Kalau bisa, kamu juga kesini ya?”
“Insya Allah bisa Om.. Nanti saya ke rumah Om..!”
“Oke… Sampai jumpa di rumah ya? Assalamu’alaikum..!”
‘Iya Om, wa’alaikum salam.”

Rupanya Kyai Maksum yang dihubungi papanya Firda nanti bakal datang ke rumahnya. Kebetulan kalau begitu, aku bisa berdiskusi tentang rencana yang akan kami lakukan besok malam.

Aku segera ke kamar Desi dan pamit mau ke rumah Firda. Mulanya Desi keberatan, tapi setelah aku jelaskan panjang kali lebar sama dengan luas…emoticon-Big Grin, akhirnya Desi mengijinkan.

Pukul 9 tepat aku berangkat menuju rumah Firda. Sesampai di sana, aku memencet bel rumah itu, dan yang membukakan pintu adalah mamanya Firda.

“Assalamu’alaikum Tante…!”
“Eh..nak Aji. Wa’alaikum salam. Ayo masuk, itu sudah ditunggu sama papa dan pak kyai!” katanya padaku.
Aku memperhatikan wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu. Wajahnya tampak pucat dan pandangannya sayu.

“Tante sakit…? Kok wajahnya pucat…?” tanyaku.
“Yah…namanya ibu yang sedang memikirkan keadaan anaknya, ya begini nak. Susah tidur, ga selera makan…!”
“Yang sabar ya tante. Aku janji bakal.berbuat semampuku untuk menyelamatkan Firda…!” kataku.

Aku merasa bersalah sudah membuka keadaan Firda, sehingga membuat mamanya khawatir.

“Iya Nak Aji, sebelumnya tante ucapkan banyak terima kasih ya?”
“Sama-sama tante. Oh iya…Om dimana tante?”
“Sedang bersama pak Kyai di kamar Firda. Kamu langsung kesana saja!”
“Baik tante….!”

Akupun segera menuju ke kamar Firda. Sesampai di sana kulihat pintu kamar itu terbuka.
Tampak Om Bagas dan seorang pria berusia sekitar 35 tahunan, sedang memandangi Firda yang tampak duduk seperti orang melamun di ranjangnya.

“Assalamu’alaikum…..!” ucapku memberi salam.
“Wa’alaikum salam…!” jawab mereka serempak sambil menolehkan wajah ke arah pintu.
“Eh..nak Aji, sini masuk. Pak Kyai, ini nak Aji yang saya ceritakan itu. Nak Aji, ini kyai Maksum!” kata papanya Firda mengenalkan kami.

Aku segera mengulurkan tangan yang disambut oleh Pak Kyai Maksum. Aku mencium punggung tangan pak Kyai itu. Walaupun masih muda, aku dapat merasakan aura putih bersih yang memancar dari pak Kyai Maksum.
Aura yang begitu menenangkan…

“Oh..ini yang namanya mas Aji. Apa kabar Mas Aji? Sehat..?” tanya beliau.
‘Alhamdulillah pak Kyai… Semoga pak Kyai juga selalu sehat.”
“Amin…alhamdulillah. Saya sedang melihat keadaan putri pak Bagas ini… Benar ada aura gelap di wajahnya, hanya saja saya tidak tahu apa sebabnya!”
“Kata teman ghaib saya pak, ini adalah tanda yang diberikan pada calon tumbal pesugihan.”
“Oh…temanmu yang ada di belakangmu itu ya? Salam kenal.nyai…!” sapa beliau pada Zulaikha.
“Salam kenal juga pak Kyai… Assalamu:alaikum…!” jawab Zulaikha.
“Wa’alaikum salam… Rupanya jin muslim ya nyai?’
“Benar pak Kyai…!”

Sementara Kyai bertanya jawab dengan Zulaikha, aku mengamati Firda. Wajahnya muram, seperti melamun, namun tatapan matanya tampak kosong.

Setelah beberapa saat, Om Bagas mengajak kami untuk turun ke ruang tamu.

Setiba di ruang tamu, sudah tersedia minuman dan makanan kecil di meja.
Di ruang tamu itulah kami lanjutkan obrolan kami.

“Menurut cerita Pak Bagas, mas Aji punya rencana untuk menyelamatkan Firda dari jin pesugihan yang akan mengambil jiwanya. Bagaimana rencana mas Aji?” tanya pak Kyai padaku.

Aku merasa tenang berada di dekat Kyai muda ini. Dan beliau juga sangat ramah, serta tidak meremehkan angkatan muda semacamku.
Maka aku mengutarakan rencanaku yang sudah kususun dengan para jin yang akan ikut serta dalam rencana tersebut.
Aku jelaskan rencanaku sedetail mungkin.
Pak Kyai tampak mengangguk-angguk. Kadang beliau juga memberikan masukan tentang rencana itu.
Jadilah kami berdiskusi panjang lebar, sampai akhirnya terbentuklah sebuah rencana yang lebih matang.

Senin Wage pukul 7 malam. Saatnya eksekusi…
Banyak tamu di rumah Firda. Pak Kyai Maksum membawa 7 orang santrinya.
Aku dengan kekuatan lengkap sudah datang juga. Zulaikha, Nyi Anjar, Saloka dengan pasukan perwira wanitanya, dan Ki Sardulo seto dengan wadya balanya.

Setelah sholat ‘Isya berjamaah, kami melakukan dzikir dan doa supaya tindakan kami.ini di-Ridhoi Allah SWT, dan tujuan kami menyelamatkan Firda dapat tercapai.

Sambil menunggu saat eksekusi, kami berbincang-bincang kesana kemari.

Aku permisi untuk duduk di teras karena akan merokok.
Di teras, aku melihat para santri pak Kyai yang sedang mempersiapkan segala yang dibutuhkan nanti.
Aku menyapa mereka dan ngobrol sejenak. Setelah itu, aku duduk di gazebo yang ada di taman.
Aku menyalakan rokok dan menghisapnya.
Entah kenapa, aku merasa sangat tegang malam ini. Rasanya ini bakal jadi pertempuran paling berat yang pernah kualami.
Aku menghembuskan asap rokok kuat-kuat. Mencoba melepaskan ketegangan yang menyelimutiku.

Saat itulah datang Tante Fitri dengan membawq nampan berisi segelas kopi dan sepiring gorengan.

“Minum dulu nak Aji…!”
“Iya Tante…makasih!”
“Nak Aji, tante kok merasa takut ya? Takut kehilangan anak tante!”
“Tante tenang saja ya? Bantu kami dengan doa Tante. Pasrahkan semua pada Sang Khalik tante!”
“Iya nak… Tapi tante tetap khawatir!”
“Yakinlah Tante, semua usaha yang disertai doa pasti akan mendapatkan hasil yang baik!” ucapku mencoba menenangkan beliau.
Beliau hanya mengangguk-angguk, namun tatapannya menerawang jauh entah kemana.

“Tante, lebih baik tante masuk… Ini sudah larut. Saya juga akan memperkuat pagar ghaib supaya susah ditembus!”
“Baik nak Aji. Nak Aji berhati-hatilah… Selamatkan Firda ya Nak?”
“Saya akan beeusaha sekuat mungkin Tante!”
“Terima kasih… Tante masuk dulu..!”

Setelah kepergian tante Fitri, aku kembali memperkuat pagar ghaib dengan dibantu oleh Zulaikha, Nyi Anjar dan Saloka.
Terbentuklah 4 lapis pagar ghaib yang kurasa amat kuat. Tiba-tiba, muncullah pagar ghaib ke 5… Pagar ghaib yang kutahu dibuat oleh Kyai Maksum.
Tambah kuat aja nih…mantap…

Tak terasa, tengah malam.hampir tiba. Aku masuk ke dalam rumah untuk cek persiapan terakhir.
Santri Kyai Maksum sudah membentuk lingkaran mengelilingi tubuh Firda yang sedang tertidur beralas permadani dan kasur lipat. Kyai Maksum sendiri, berada di luar lingkaran dan duduk membelakangi lingkaran itu. Kulihat lingkaran santri itu terlindungi sebuah kubah energi sebagai pagar ghaib.
Papa dan mamanya Firda duduk di samping pak Kyai.
Oke, semua siap…
Aku kembali keluar rumah, duduk di teras sambil memandang langit yang berbintang.
Malam makin larut…
Tepat tengah malam, terdengar lantunan ayat suci dari dalam rumah… Pak Kyai sudah memimpin santrinya membaca ayat-ayat suci.
Terdengar merdu dan sendu di telingaku. Hampir aku menitikkan air mata, kalau saja saat itu tidak muncuk kejadian yang menggetarkan hati.

Awan gelap tiba-tiba menaungi rumah ini, angin menderu-deru…
Seperti ada topan yang mengamuk…
Terdengar lolong anjing di kejauhan…

GLAARRR……

Sebuah suara ledakan terdengar sangat keras…Cumiakkan telingaku.
Aku mencari ke arah datangnya suara itu…

DHUAARRRR…..

Bumi terasa bergetar… Sebuah ledakan yang dahsyat.
Kaca jendela juga bergetar…
Sekaranglah waktunya…..


cerbung.net

SANG PAMOMONG

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Dalam kepercayaan Jawa, bayi yang baru lahir, didampingi oleh sosok PAMOMONG. MOMONG dalam khasanah bahasa Jawa, artinya Mengasuh. Nah..sosok Pamomong itu bisa juga disebut sebagai PENGASUH. Sosok Pamomong adalah sosok.ghaib yang hanya bisa dilihat oleh sang jabang bayi. Kadang kita melihat bayi yang ketawa-ketawa sendiri, sambil matanya melihat ke atas. Dipercaya, bahwa saat itu, sang bayi sedang diajak bercanda atau bermain oleh Pengasuhnya. Dari kepercayaan tersebut, cerita ini terlahir. Sebuah kisah fiksi yang akan menceritakan tentang seseorang yang sampai masa dewasa bisa melihat dan berkomunikasi dengan Sang Pamomong. Semoga bisa menghibur para reader semua.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset