SANG PAMOMONG episode 85

Chapter 85

Aku terdampar di sebuah tempat yang sangat asing dan menakutkan.
Bukan…bukan karena tenpat itu gelap pekat atau penuh dengan makhluk menyeramkan. Bukan itu sebabnya.
Tempat itu terlihat sangat terang… Tak ada tanah tak ada langit tanpa batas.
Tak tahu saat itu pagi, siang, sore atau malam.
Tak ada matahari atau bintang…
Atas, bawah, depan, belakang, samping kanan dan kiri…hanya ruang kosong tanpa batas.
Tak ada apapun…

Di mana aku saat ini?
Bagaimana aku bisa berada di sini?
Hal terakhir yang aku ingat adalah aku sedang bertempur dengan sosok jin pesugihan.
Dan aku terkena sebuah pukulan hingga tak sadarkan diri…
Bangun-bangun sudah di sini. Apakah ini alam barzah…? Apakah aku sudah mati…?

Aku merasakan kesepian yang sangat… Sendiri, tanpa ada apapun di sekelilingku…
Dunia apa ini? Atau alam apa ini?

Aku mencoba berjalan… Ke arah depan…
Karena yang kutahu hanya depan belakang atas bawah dan samping..
Tak tahu arah selatan dan lainnya…
Baru selangkah aku berjalan, aku berhenti termangu-mangu…
Hmm…bagaimana kalau aku tersesat? Bagaimana cara kembali ke titik ini? Tak ada sesuatupun yang bisa dijadikan penanda… Karena di semua arah hanya kehampaan yang ada.

Aku menepuk jidatku sendiri… Apa bedanya aku kembali ke titik ini atau tidak? Toh, aku tak tahu ada di mana saat ini.
Mau nyasar kek…peduli amat.
Lqgian buat apa diem2 di tempat asing ini?
Mending berjalan ke mana saja lah, siapa tahu bisa menemukan suatu petunjuk.

Aku menghela napas, memantapkan hati…dan mulai melangkah..
Setapak, dua tapak…terus berjalan tak tentu arah. Yang pasti…ke depan sana.
Entah apa yang akan kutemukan di sana.
Sementara berjalan, aku merasa sedikit geli… Melihat kakiku yang tak menapak sesuatu tapi seperti berjalan biasa.
Iseng aku menjejakkan kaki, ingin mengetahui apakah yang kuinjak ini udara atau sesuatu yang padat…

DUKK….DUKK…

Ah rasanya seperti menjejak tanah.
Tapi yang kupijak tampak seperti awang-awang. Tak tampak apapun di bawah kakiku.
Benar-benar tempat yang aneh…
Baiklah….anggap saja aku berjalan di awang-awang…..pikirku sambil tersenyum.
Kapan lagi punya pengalaman seperti ini?
Eh…atau mungkin aku akan ada di sini selamanya?
Ah…lillahi ta’alla…. Akan kujalani saja… Menanti apa yang akan terjadi.

Tiba-tiba muncul ide absurd di kepalaku.. Bagaimana kalau aku melompat ke atas?
Haha…perlu dicoba nih…

Huupp…..aku melompat sekuat tenaga.
Hei..hei…alamak jang…. Tinggi kali lompatan aku ni…
Aku baru berhenti saat daya luncurku habis…entah sudah setinggi apa aku dari tempat semula…
Di tempat aku berhenti… Aku seperti berdiri di atas tanah…ga turun lagi… Gimana nih turunnya?
Hmm…aku berpikir gimana caranya turun, walaupun jika aku turun, pemandangannya juga sama aja sih…
Tapi khan penasaran…
Gimana kalau aku meniatkan untuk turun…apakah bisa turun?
Ga akan tahu kalo ga dicoba…..
Bismillah…aku meniatkan untuk turun. Melompat sedikit, dan WUZZ….aku terperosok ke bawah.
Teruussss…..ke bawah…
Waduh…kok ga berhenti-berhenti ya? Aku mulai panik… Bagaimana jika nanti aku terbanting di bawah sana? Pasti badanku hancur lebur…

Waaa……… Aku sungguh ketakutan. Reflek, tanganku menggapai-gapai seperti orang jatuh yang mencari pegangan.
Namun apa daya…tak ada yang bisa dipegang…
Aku semakin ketakutan….
Dan yang tetingat hanya Sang Khalik… Ya Allah…tolong hambamu ini…

Dalam ketakutanku, aku memejamkan mataku… Pasrah akan apa yang terjadi nanti.
Masih terasa gerakan turun yang sangat deras…semakin deras…sesuai dengan hukum percepatan benda jatuh…
Semakin lama semakin cepat….
Aku benar-benar sudah pasrah…
Terjadilah apa yang harus terjadi.
Kupejamkan mataku erat-erat…berharap tak kurasakan gerak jatuh itu.

Tunggu….perasaan kok lama banget sih jatuhnya? Sebetapa tingginya sih?
Rasanya dah lama banget aku jatuh, kok belum nyampe bawah juga sih…?

Penasaran, aku membuka mataku perlahan…..sangat perlahan…
Rasa takut itu membuatku berat untuk membuka mata…
Perlahan, mataku terbuka…dan…waduh…di mana lagi ini?
Depan, belakang, kanan, kiri….isinya pasir melulu. Aku di padang pasirkah?
Kucoba melihat ke atas… Huft…di atas bukan pasir, tapi tampak seperti langit siang yang cerah. Tak ada awan tak ada matahari…kosong.
Menengok ke bawah…pasir…
Berarti benar aku berada di padang pasir…
Aku ternyata terjatuh di padang pasir, tapi aneh… Mestinya dengan kecepatan jatuh seperti itu, mestinya tubuhku terbenam ke dalam pasir…tapi ini tidak.
Aku mencoba melangkah lalu menengok ke belakang… Tak ada bekas tapak kaki di pasir di belakang tubuhku.
Hhhh….keanehan apalagi yang kualami kali ini?
Terus terang saja, aku merasa takut namun sekaligus penasaran.

Saat itulah…sayup-sayup aku mendengar suara di kejauhan..
Entah suara apa…karena hanya seperti suara orang bergumam.
Aku mencoba membuka telingaku lebar-lebar..
Mencari arah datangnya suara…tapi nihil…
Suara itu seakan berasal dari semua arah…
Aku garuk-garuk kepala yang ga gatal…

Nekat…aku berlari ke arah depan. Berharap suara itu berasal dari sana… Berharap dapat mendengar lebih jelas lagi… Dan berharap dapat bertemu seseorang…
Seandainya di depan sana suara itu menghilang, aku bisa balik lagi ke sini. Begitu pikirku…

Aku mencoba berlari dan…WUZZ…. Busyet….lariku bisa secepat the Flash ini sih…
Hanya dalam hitungan detik, aku dah berlari cukup jauh. Aku berhenti untuk mendengarkan suara itu.

Kok ga ada suara apapun? Apa aku salah arah?
Masak sih harus balik.kanan…

Eits…tunggu… Suara itu terdengar lagi…mulai agak jelas, tapi masih kurang jelas…
Aku semakin bersemangat… Berlari lagi…berhenti…mendengarkan…lari lagi…

Akhirnya…suara itu semakin jelas..
Suara orang mengaji…
Suara siapa itu? Merdu dan syahdu sekali.

Aku mendengar jelas ayat itu…
Surah Yasin ayat ke 58 kalo ga salah….

“Salamun qaulam mir robir rohim…!”

Dan ayat selanjutnya…dan selanjutnya lagi…
Semakin dekat dan jelas…

Aku berjalan terus, berharap berjumpa dengan orang yang mengaji itu, dan menanyakan tentang tempat ini.

Tapi sekian lama berjalan, belum juga aku bertemu seorangpun…

Sampai saat terdengar doa setelah membaca Al Qur’an…

“Shadaqallah hul ‘adzim…!”

Ah…sudah selesai bacaannya… Padahal itu adalah petunjuk arah satu-satunya untukku…

Tapi aku tetap bersemangat berjalan terus. Siapa tahu aku menemukan seseorang di depan sana.

Dan benar saja, di depan sana aku melihat sebuah gerbang yang tertutup rapat…
Hanya gerbang, tanpa kulihat bangunannya.
Gerbang apakah itu….?
Walaupun tak tahu ada apa di balik gerbang itu, tapi itu menumbuhkan harapanku.

Sesampainya di gerbang itu, aku mengamatinya. Gerbang kayu.biasa yang berdiri di tengah gurun pasir… Hanya gerbang.
Bahkan saat aku iseng melihat ke belakang gerbang lewat samping gerbang itu, dapat kulihat di belakang gerbang itu hanya pasir belaka.
Jadi kenapa mesti ada gerbang di sini?
Khan aneh?
Pasti ada sesuatu maksud gerbang ini dibangun di tempat ini.

Rasa ingin tahuku muncul dengan kuat. Gerbang adalah pintu…berartl untuk masuk harus melewati pintu.
Kalau masuk lewat jalan lain, nanti dikira maling….hehe.
Aku geli sendiri dengan pemikiranku itu.

Aku menghadapl gerbang itu…
Ada 2 gelang besi di daun pintu gerbang itu.
Aku menngerakkan gelang besi itu hingga memukul daun pintu…maksudku adalah mengetuk pintu.
Tapi sampai berkali-kali, tak ada yang membukakan pintu itu.
Lalu aku mendorong daun pintu gerbang itu…. Tidak terkunci…

“Assalamu’alaikum….!” ucapku sambil mendorong gerbang itu hingga terbuka.
Saat gerbang itu terbuka lebar, sebuah cahaya terang yang menyilaukan memancar ke arahku dan seolah menyedotku masuk ke dalamnya….

cerbung.net

SANG PAMOMONG

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Dalam kepercayaan Jawa, bayi yang baru lahir, didampingi oleh sosok PAMOMONG. MOMONG dalam khasanah bahasa Jawa, artinya Mengasuh. Nah..sosok Pamomong itu bisa juga disebut sebagai PENGASUH. Sosok Pamomong adalah sosok.ghaib yang hanya bisa dilihat oleh sang jabang bayi. Kadang kita melihat bayi yang ketawa-ketawa sendiri, sambil matanya melihat ke atas. Dipercaya, bahwa saat itu, sang bayi sedang diajak bercanda atau bermain oleh Pengasuhnya. Dari kepercayaan tersebut, cerita ini terlahir. Sebuah kisah fiksi yang akan menceritakan tentang seseorang yang sampai masa dewasa bisa melihat dan berkomunikasi dengan Sang Pamomong. Semoga bisa menghibur para reader semua.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset