SANG PAMOMONG episode 88

Chapter 88 : Cerita Om Bagas

Hari ini aku mulai kuliah lagi, dan langsung dihajar mld test. Untungnya open book gan…hehe..
Ga perlu susah payah belajar..
Udah gitu ga ada yang ngawasin lagi… Lha yang mid test susulan cuman sebiji…open book lagi, ngapain diawasln coba?

Mid test susulan itu kujalani selama 5 hari. Kalo ada kuliah di jam setelah mid test, ya ikut kuliah juga.
Kawan-kawan kuliahku pada nanyain kabarku dan minta maaf ga sempat jenguk.. Ya aku maafin lah…secara aku kan pemaaf…
Beberapa kali aku ketemu Firda yang makin mepet aja, mungkin karena merasa berhutang budi kali yak?
Dan dia selalu menyuruhku datang ke rumahnya. Katamya papa dan mamanya mau ketemu.
Dia juga sempet cerita, kalau tante Sisil meninggal karena kecelakaan dan rumahnya terbakar habis.
Ternyata benar info dari Saloka…tante Sisi termakan perjanjian dengan jin pesugihan.
Fyuh…ga berkah deh yang namanya pesugihan. Kata orang, pesugihan itu mengambil jatah rejeki anak cucu dan keturunan si pelaku pesugihan.
Khan kasihan keturunannya ya? Tapi entah itu benar atau tidak, akupun tak tahu.
Menurutku, banyak atau sedikit rejeki yang kita terima harus disyukuri. Apalagi jika itu didapat dengan kerja keras kita… Berkah gan…enak dimakan… Ga bikin penyakit.

Skip…

Aku memang belum sempat ke rumah Firda karena memang slbuk belajar mengejar ketinggalanku dalam materi kuliah.
Mati-matian aku harus mengejarnya…
Akhirnya dalam.waktu sebulan, aku dah bisa mengejar ketertinggalanku.
Jadi bisa lebih santai dong?
Kata siapa? Masih harus menyelesaikan berbagai tugas yang menumpuk…sampai lembur-lembur. Alhamdulillah badanku kuat, ga ngedrop. Yah cuman seputar mata jadi hitam dan agak kurusan.
Dl sinilah Desi turun tangan, saat aku lembur, selalu dibuatkan susu…padahal penginnya kopi…
Kalau lembur lewat waktu, aku diingatkan buat istirahat… Emang dah..calon bini idaman..

Setelah semua tugas selesai, baru aku bisa agak santai.
Bisa main ke rumah Firda walaupun disuguhin wajah manyun Desi. Cemburu kayaknya dia…haha.

Nah, sore itu lepas maghrib, aku pergi ke rumah Firda.
Firda yang membukakab pintu untukku… Alamak….dia cuma pakai tanktop dan celana gemes… Bener-bener blkln gemes…
Begitu tahu aku yang datang, senyumnya merekah dan segera mengajakku masuk ke kamarnya….ups…ke ruang keluarga kok…
Di sana sudah ada Om Bagas dan tante Fitri sedang nonton TV.
Begitu melihat aku yang datang, dengan senyum cerah, mereka menyambutku.

“Eh..nak Aji… Sini duduk di sini!” kata tante Fitri.
“Iya tante, makasih…?” kataku sembari duduk di sofa.
“Apa kabar nak Aji, sudah sehat betul?” tanya Om Bagas.
“Alhamdulillah Om…!”
“Syukurlah… Katanya sudah mulai kuliah ya?”
“Iya Om.. Kedatangan saya kemarl juga mau mengucap terima kasih, karena Om sudah mau repot-repot mengurus perkuliahan saya Om. Maaf, baru bisa datang sekarang, karena sibuk mengejar ketinggalan Om!”
“Sudah…jangan dipikirkan. Itu ga seberapa jika dibandingkan dengan pengorbananmu untuk menyelamatkan Firda! Iya khan Ma?”
“Benar nak Aji… Kami sekeluarga yang mengucapkan terima kasih atas semua usaha dan pengorbanan nak Aji dalam menyelamatkan Firda. Kalau ga ada nak Aji, entah bagaimana nasib Flrda!”
“Ah..jangan dibesar-besarkan Om, Tante… Saya cuma berusaha semampu saya untuk menolong Firda. Tanpa pertolongan Allah, saya ga akan bisa apa-apa!”
“Betul nak Aji, tapi bagaimanapun juga kami harus berterima kasih atas usaha nak Aji!’ kata Om Bagas.
” Sama-sama Om… Saya senang Firda baik-baik saja!”

Saat itulah Firda datang membawa nampan berisi es teh dan makanan kecil. Saat dia meletakkan gelas dan toples itu di meja, mata ga tahu aturan inj kok ya sempet-sempetnya ngelirlk ke belahan dadanya…
Dasar mata pintar…ada pemandangan bagus, tidak terlewatkan…ahai…
Sambil menikmati es teh dan makanan kecil, kami ngobrol tentang kejadian waktu itu.
Om bagas menceritakan kejadian di dalam rumah.

“Saat tengah malam waktu itu Nak Aji, kami bersama kyai Maksum dan murid-muridnya sedang berdzikir, sambil mengelilingi Firda yang tertidur di tengah kami. Tiba-tiba bertiup angin yang sangat kencang dengan suara gemuruh di dalan rumah. Untunglah sebelumnya pak Kyai sudah memerintahkan untuk memindah perabotan dan mengosongkan rualgan. Di tengah angin ribut itu, listrik padam… Pak kyai memerintahkan supaya kami tetap berdzikir. Walaupun kami ketakutan, tapi kami tetap melanjutkan dzikir, sambil sesekali melihat kondisi Firda, walaupun hanya dalam keremangan.
Pak Kyai tiba-tiba bangkit berdiri dan mendorong kedua telapak tangannya ke atas, lalu ke samping kiri kanan. Entah apa maksudnya. Setelah beberapa saat, angin itu perlahan mereda, dan lampu kembali menyala.
Kami menarik nafas lega… Tapi, rasa lega itu berubah menjadi was was saat tiba-tiba Firda bangun dan menatap keluar dengan pandangan hampa.
Mulutnya berkomat-kamit dengan suara pelan…

” Aku sudah dijemput… Aku sudah dijemput…!”
Begitu terus menerus….dan bibirnya mulai tersenyum…
Senyumnya makin melebar dan tertawalah dia. Tertawa yang mengerikan namun terasa menyakitkan.”

“Wah…wajah lo pasti serem waktu itu…!” ledekku pada Firda.
“Ih. Apaan sih… Aku kan ga inget apa-apa. ..!” katanya membela diri.
“Selanjutlya gimana Om?”
“Selanjutnya, tubuhnya mulai melayang…. Namun dengan sigap, kyai Maksum melompat menghadang tubuh Firda dan meletakkan tangannya di ubun-ubun Firda. Mulut pak Kyai komat-kamit entah membaca apa. Lalu…..

” Allahu akbar…..!!!!”
Pak Kyai Cumiikkan takbir dengan keras…
Lalu tubuh Firda melemas dan jatuh. Untung Om segera menangkap tubuhnya agar ga terbentur lantai.
Lalu suasana menjadi sunyi…
Pak kyai meneruskan dzikirnya diikuti oleh santrinya.
Sementrmara Firdq tergolek lemas di pangkuan mamanya yang tak henti-hentinya menangis….
Di luar sana terdengar suara ledakan-ledakan yang menggetarkan kaca rumah. Entah ada apa di luar sana.
Lalu pada pukul 3 dini hari… Suasana dalam rumah menjadi gelap… Padahal lampu menyala, tapi ruangan terasa gelap.
Lalu muncul sesosok makhluk tinggi besar, dengan badan penuh sisik, bermata satu, dengan satu tanduk yang patah, serta sebuah tangan yang terpapas kutung. Tubuhnya tampak penuh luka… Sepertinya dia habis bertarung…
Dengan agak sempoyongan dia mendekati Firda. Mamanya Firda ketakutan melihat makhluk itu hingga pingsan….!’
‘Hiii….abisnya serem banget sih Pa… Apalagi dari lukanya keluar cairan yang berbau busuk…hiii…seremmm…?” kata tante Fitri.
Rupanya jin pesugihan itu setelah kabur dari naga emas, malah masuk ke dalam rumah ini.
Sementara aku terkapar di luar….

“Lalu selanjutnya Om?” tanyaku.
“Bentar deh…om minum dulu. Haus nih…!” katanya sambil meraih gelas es teh dan meneguk isinya.

Setelah minum es teh, serta menyulut rokok, Om Bagas nampak menerawang…seolah mengingat kejadian malam itu.

“Melihat makhluk itu mendekat ke arah Firda, Kyai Maksum segera bangkit dan menghentakkan dua tangannya ke depan. Kulihat makhluk itu sedikit terdorong mundur.
Makhluk itu menggeram dan membabatkan tangannya ke arah Kyai Maksum. Kyai menangkis pukulan itu dan Kyai terdorong mundur 2 langkah. Padahal tangan mereka tidak pernah bersentuhan. Aku pikir, itu pastilah pukulan tenaga dalam.
Melihat Kyai Maksum terdorong mundur, 2 santri yang paling dekat segera bangun. Telapak tangan mereka menahan punggung kyai Maksum, senentara mulut mereka masih melantunkan dzikir…
Santri yang lain segera bangkit dan berbaris di belakang 2 santri tadi.
Telapak tangan mereka, menempel pada punggung kawwnnya yang di depannya. Aku agak geli melihatnya, soalnya seperti anak-anak sedang main kereta api-kereta apian….
Tapi wajah mereka serius banget. Aku jadi tegang dibuatnya…
Makhluk itu menghentakkan tangannya yang tidak buntung ke arah kyai Maksum, dan beliau segera memapaknya dengan kedua telapak tangan beliau. Makhluk itu terdorong mundur dan terjatuh…tampaknya dia kehabisan tenaga.
Tapi dasar keras kepala, makhluk itu bangun lagi dan kembali memukul Kyai. Lagi-lagi dia terhempas mundur. Dicobanya lagi beberapa kali, tapi tetap saja dia terjatuh lagi dan lagi.
Akhirnya makhluk itu meraung dan pergi meninggalkan kami.
Rumah kembali menjadi terang benderang.

“Alhamdulillah…..!” ucap kyai Maksum dan santrinya bersamaan.

Kemudian Kyai menghampiriku dan berkata:

“Sekarang Firda sudah aman. Makhluk itu sudah pergi.”
“Alhamdulillah….!” ucapku bersyukur atas perlindungan Allah SWT pada anakku dan kami semua.

Kyai berkata bahwa beliau akan membersihkan sisa-sisa aura gelap yang ada di tubuh Firda.
Beliau meletakkan telapak tangan sejengkal di atas tubuh Firda dan menggerakkan dari kepala ke kaki dan sebaliknya.

Setelah selesai, aku dan mamanya yang sudah sadar, membawa Firda masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Saat aku kembali dari kamar Firda, aku tidak menemukan Kyai Maksum. Kata santrinya, beliau sedang memeriksa keadaan di luar.
Aku segera menyusul keluar, dan mendapati Kyai Maksum sedang memegang nadimu yang sedang pingsan. Aku mendekat, dan kyai Maksum menyarankan agar membawamu ke rumah sakit…!”

“Oh…begitu ceritanya ya Om? Sungguh hebat kyai Maksum bisa mengalahkan jin pesugihan itu…!”
“Kata Kyai, beliau beruntung bahwa makhluk itu sudah terluka parah, sehingga bisa mengusirnya. Itupun masih harus dibantu penyaluran energi batin dan tenaga dalam dari para santrinya itu!”
“Oohhh…berarti santri yang berbaris itu ternyata menyalurkan tenaganya pada pak Kyai ya Om?”
“Begitulah menurut Kyai Maksum…!”
“Yah.. Alhamdulillah, semua sudah berakhir dengan baik ya Om?”
“Iya nak Aji… Om sangat bersyukur, Firda bisa selamat. Kamu juga sudah sehat kembali. Om sempat khawatir saat kamu ga bangun-bangun. Om merasa bersalah… Demi keselamatan anak Om, kamu yang jadi korban…!”
“Ah ..itu bukan salah Om. Semua karena kemauan saya sendiri buat membantu Firda. Apalagi, Firda udah seperti saudara buat saya Om.’
“Terima kasih banyak ya nak Aji? Entah apa jadinya Firda kalau ga ada nak Aji!” kata tante Fitri.
“Sama-sama tante… Semua sudah jadi kehendak Allah. Saya cuman berusaha semampu saya… Dan akhirnya saya malah merepotkan Om dan Tante dengan mengurus biaya rumah sakit dan urusan kuliah saya. Saya juga berterima kasih banyak untuk itu Om, Tante…!”
“Ah…sudahlah… Ga usah sungkan-sungkan lagi. Kamu sudah kuanggap sebagai anggota keluarga kami. Jadi ga usah ada rasa sungkan lagi. Kita adalah keluarga!” kata Om Bagas.
“Terima kasih Om, cuman saya merasa ga pantas jadi anggota keluarga ini!”
“Ngomong apa kamu? Setelah apa yang kamu lakukan untuk Firda. Dan kamu tadi juga mengatakan sudah menganggap Firda sebagai saudara sendiri… Maka anggaplah Om dan Tante sebagai orang tuamu juga….!”

Tak terasa air mataku mengalir. Dari awal aku mengenal keluarga ini, mereka sangat baik dan ramah. Dan sekarang, aku bahkam dianggap sebagai anggota keluarga mereka…
Sungguh suatu anugerah yang indah… Aku mempunyai keluarga di kota ini…

“Terima kasih banyak Om, Tante… Saya bahagia banget bisa menjadi bagian dari keluarga ini… !” kataku penuh haru.

“Hehe…gue punya sodara lagi deh… !” Firda nimbrung.
“Asal jangan dinakalin aja sodara barunya…!” kataku..
“Haha…tapi kalo.ga nurut, tetep aja bakal aku jewer. ..!”
“Waduh…nemu sodara kok galak banget ah…!” kataku sambil tepok jidat

Semua tertawa mendengar perdebatanku dan Firda.

Ga terasa, waktu sudah makin malaam. Akhirnya aku pamit pulang ke kost.
Sesampai di kost… Ada wajah manyun menanti di teras kamarku…
Dengan mata yang berapi-api…
Waduh…bakalan ada perang dunia ke lima ini mah…..

“Malem banget pulangnya Mas… ?” tanya Desi dengan bibir manyun.
Tapi tetap meraih tanganku dan mencium punggung tanganku.
“Iya Neng… Ntar aku ceritain deh.. Aku bersih-bersih dulu ya?”
“Iya mas…!”

Aku membuka pintu kamar, mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi. Mukaku terasa lengket. Sekalian saja ambil wudhu, belum sholat Isya soalnya.

Selesai sholat, aku menemui Desi di teras kamar. Dan coba tebak…. Udah ada segelas kopi panas di teras.
Benar-benar calon istri idaman nih…
Aku mendekati Desi dan mengecuo pipinya… Desi tersenyum..dan balas mencium pipiku.

Sambil menikmati kopi, aku ceritakan saja semua yang dibicarakan dan terjadi di rumah Firda tadi.
Yang pasti aku ga ceritain tentang ngintip belahan dada Firda…bisa dipancung nanti….
Dasarnya Desi gadis yang dewasa, dia bisa menimbang dengan baik segala hal, walaupun rasa cemburunya besar, tapi ga membuta. Selalu menunggu penjelasan yang masuk akal.
Pokoknya Desi d’best lah…ahaha

cerbung.net

SANG PAMOMONG

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Dalam kepercayaan Jawa, bayi yang baru lahir, didampingi oleh sosok PAMOMONG. MOMONG dalam khasanah bahasa Jawa, artinya Mengasuh. Nah..sosok Pamomong itu bisa juga disebut sebagai PENGASUH. Sosok Pamomong adalah sosok.ghaib yang hanya bisa dilihat oleh sang jabang bayi. Kadang kita melihat bayi yang ketawa-ketawa sendiri, sambil matanya melihat ke atas. Dipercaya, bahwa saat itu, sang bayi sedang diajak bercanda atau bermain oleh Pengasuhnya. Dari kepercayaan tersebut, cerita ini terlahir. Sebuah kisah fiksi yang akan menceritakan tentang seseorang yang sampai masa dewasa bisa melihat dan berkomunikasi dengan Sang Pamomong. Semoga bisa menghibur para reader semua.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset