SANG PAMOMONG episode 99

Chapter 99 : Pusaran Apa...??

Malam itu aku habis mengerjakan tugas bersama Firda. Pukul 9.30 malam aku beranjak pulang dari rumah Firda. Cuaca mendung dan tampak cahaya petir dan guntur bersahutan.
Aku memaksakan diri untuk pulang ke kost, walaupun sebenarnya aku takut dengan petir.
Iya…aku takut dengan petir…

Aku mempercepat laju motorku agar bisa segera sampai di kost sebelum hujan turun. Akan sangat nyaman berada di kost saat cuaca begini dan ditemani segelas kopi.

Tapi rupanya alam tak berpihak padaku. Baru setengah perjalanan, hujan turun dengan lebatnya. Petir dan guruh tak henti hentinya. Ditambah dengan angin yang kencang.

Sial….aku lupa bawa mantolku…

Terpaksa aku hujan-hujanan menuju kost. Mau berteduh, sudah terlanjur basah. Masih untung, tugasku aku titipkan di rumah Firda. Kalau enggak, wih…bisa runyam urusannya.

Dengan menggerutu panjang pendek, aku menjalankan motorku dengan pelan. Jarak pandang sangat terbatas… Kaca helm tertutup aliran air yang deras. Mau kubuka kaca helmku, tapi pasti titik air hujan akan terasa sakit di wajahku.

Aku berharap hujan segera reda dan aku bisa segera mencapai kostan. Tapi sekali lagi, harapan tinggal harapan.
Hujan malah semakin lebat…kilat bersautan..angin semakin kencang…seolah alam sedang mengintimidasiku.
Sungguh hujan badai yang parah..
Aku mencoba mencari tempat berteduh, bahaya jika melanjutkan perjalanan dalam kondisi seperti ini.
Tapi sekian lama mencari, aku tak menemukan tempat berteduh.
Dengan sangat pelan aku menjalankan motorku..sangat pelan.
Tak kulihat lampu kendaraan yang berpapasan denganku. Mungkin karena sudah larut dan cuaca ekstrim seperti ini, membuat orang malas keluar, atau mungkin mereka menunda kepulangan menanti hujan reda.
Tapi herannya, seharusnya banyak tempat berteduh di sekitar sini.. Tapi aku tak melihat satu bangunanpun yang berdiri dan bahkan aku ga melihat satu cahaya lampu pun dari rumah-rumah penduduk.
Ini di dalam kota ..bukan di pegunungan atau desa sepi… Kok ga ada lampu sama sekali.
Kembali sebuah pemikiran menghampiriku. Mungkin karena cuaca ekstrim, PLN mematikan lampu di seluruh kota.
Ya itu bisa saja terjadi..

Maka dengan pasrah dan menahan dingin, aku lanjutkan perjalananku.
Menurut perhitungan waktuku, dengan perjalanan lambat ini, paling tidak dalam waktu 15 menit lagi aku akan sampai di kost.
Kuperhatikan jalan yang kulewati…jalan yang sudah aku kenal. Aku masih dalam track yang benar.

Sampai suatu saat lampu motorku menyoroti sesuatu yang aneh di tengah jalan itu. Ada sesuatu seperti lingkaran besar di tengah jalan… Tapi karena gelap, aku belum tahu apakah itu. Perlahan aku mendekati sesuatu itu…semakin dekat dan dekat…
Lampu motorku menyorot ke sesuatu itu.
Tampaklah sebuah lubang besar hitam di tengah jalan. Seperti sebuah pusaran air tapi menyamping, bukan ke bawah.

Wah…tidak beres ini. Pasti ada sesuatu yang tidak benar. Masa sih ada pusaran di jalan raya.
Instingku mengatakan kalau ini adalah sesuatu yang membahayakan. Aku berniat untuk memutar balik motorku dan menjauh dari situ.

Namun……. Terlambat sudah. Saat aku bisa memutar motorku, tiba-tiba mesin motorku mati. Lalu sebuah daya sedot yang luar biasa kuat seolah menarikku beserta motorku.
Aku berusaha mendorong motorku menjauhi tempat itu, tapi daya sedot itu membuatku tak mampu bergerak maju.
Ah…terlalu repot mendorong motor. Yang penting selamat dulu…pikirku.
Aku melepaskan motor dan mencoba berlari menjauhi tempat berbahaya itu. Dan…sekali lagi…terlambat.

Sebuah daya sedot yang sangat kuat seolah menarikku ke dalam pusaran itu.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kedudukanku agar tak tersedot, namun aku tak mampu. Perlahan aku tertarik menuju pusaran itu… Saat melewati motorku yang tergeletak, aku mencoba memegangi motorku. Dengan tambahan beban motor, tentunya aku tak akan tersedot lagi.

Tapi perkiraanku salah lagi..
Motor beserta diriku ternyata masih terseret menuju pusaran itu.
Dengan perbedaan beratku dan berat motor, daya sedot itu lebih berpengaruh padaku. Aku seolah melayang di atas motor itu… Lama-lama, tanganku tak lagi kuat memegangi motor itu.
Peganganku terlepas…dan….seperti batu yang dilepaskan dari ketapel, aku melesat masuk ke dalam pusaran hitam itu.

“Tolong….tolong …!” teriakku minta tolong.
Tapi siapa yang akan menolongku? Tak ada seorangpun di situ.

“Ya Allah…lindungilah aku…!” doaku saat itu.

Aku terhempas masuk ke dalam pusaran itu, dan aku ikut berputar di dalamnya.
Aku masih berusaha menggapai mencari sesuatu yang bisa kupegang…tapi nihil…
Tak ada sesuatupun yang bisa kupegang…
Aku semakin jauh masuk.ke dalam pusaran yang bagai tak ada ujungnya.
Sehebat apapun daya dan upayaku, semua tak membuahkan hasil apapun.
Sekuat apapun aku mencoba tetap sadar, tapi putaran yang sangat cepat itu membuatku sangat pusing.
Dan kesadaranku hilang…
Aku tak ingat apa-apa lagi…

—————————-_————_——-_————

Aku tak ingat berapa lama aku pingsan.
Saat sadar…aku berada di sebuah tempat yang sangat asing buatku.
Remang senja yang pertama aku lihat.
Sudah senja….atau ini remang subuh…?
Berapa lama aku pingsan…???
Di mana pula aku saat ini..???

Aku mencoba bangun dari tempatku terbaring… Melihat sekeliling.
Tempat apa ini? Hanya ada semak dan pohon-pohon yang seolah berwarna jingga karena terkena sinar mentari senja…

Ada dimana aku sebenarnya?
Kembali aku melihat sekelilingku… Hanya pepohonan dan semak, serta padang rumput kecil di mana aku berdiri sekarang. Suasananya sangat sepi…tak ada suara kicau burung atau suara hewan-hewan yang sering kita dengar di hutan.
Tempat apa ini sebenarnya…?
Aku menunduk lesu… Bagaimana mungkin aku bisa terdampar di tempat ini?
Kucoba mengingat kembali kejadian yang sudah kualami. Pulang dari tempat Firda, hujan badai, pusaran, tersedot…
Hei…apa mungkin karena tersedot pusaran itu aku nyasar di tempat aneh ini?
Atau aku sudah mati?
Aku mencoba mencubit lenganku…
“Auww….!”
Sakit ternyata. Berarti aku masih hidup, dan ini bukan sebuah mimpi.

Aku melihat sebuah jalur kecil di depanku, seperti jalan setapak yang terbentuk karena sering dilewati manusia. Ah…berarti tempat ini sering dilewati, sehingga membentuk jalan setapak seperti itu.
Aku memutuskan untuk mencari jalan keluar dari tempat ini melewati jalan setapak tersebut.
Daripada hanya diam dan tidak berbuat apa-apa..
Aku mulai melangkahkan kakiku…

“Klotak….!”
Hei…apa itu… Kakiku seperti menendang sesuatu.
Aku cari benda yang tertendang kakiku tadi.
Hei…sebatang tombak… Sepertinya aku kenal.
Kuambil tombak itu dan kuteliti…

“Tombak Kyai Cemeng….???”

Aneh…kenapa tombak ini tanpa kupanggil ada di sini? Tergeletak di tanah pula…
Fyuh…aku tak habis pikir… Kejadian apa pula yang kualami ini???
Sebuah misteri yang harus aku pecahkan….


cerbung.net

SANG PAMOMONG

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Dalam kepercayaan Jawa, bayi yang baru lahir, didampingi oleh sosok PAMOMONG. MOMONG dalam khasanah bahasa Jawa, artinya Mengasuh. Nah..sosok Pamomong itu bisa juga disebut sebagai PENGASUH. Sosok Pamomong adalah sosok.ghaib yang hanya bisa dilihat oleh sang jabang bayi. Kadang kita melihat bayi yang ketawa-ketawa sendiri, sambil matanya melihat ke atas. Dipercaya, bahwa saat itu, sang bayi sedang diajak bercanda atau bermain oleh Pengasuhnya. Dari kepercayaan tersebut, cerita ini terlahir. Sebuah kisah fiksi yang akan menceritakan tentang seseorang yang sampai masa dewasa bisa melihat dan berkomunikasi dengan Sang Pamomong. Semoga bisa menghibur para reader semua.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset