SANTET – Dendam Berakhir Petaka episode 14

Chapter 14

Belum sempat ita menyelesaikan perkataannya itu, tubuh ita terlihat bergetar hebat, kedua bola matanya yang membesar, mengantarkan sorot matanya yang tajam dan sarat dengan kemarahan, mendapati hal itu, aku segera menarik ambu untuk menjauhi ita, karena aku yakin pada saat ini ita tengah kembali di kuasai oleh kekuatan ghaib

“ mbu…kita enggak mungkin membiarkan ita seperti ini terus….atang khawatir…”

“ tang……sekarang juga kamu panggil pak sanif…firasat ambu benar benar enggak enak…” perintah ambu memotong perkataanku

Untuk sekedar diketahui, pak sanif adalah seorang warga kampung yang menjadi rujukan apabila terjadi suatu masalah yang terhubung dengan ranah keagamaan, walaupun pak sanif bukanlah seorang kyai, tapi pak sanif mempunyai pengetahuan yang luas tentang keagamaan. Dan kini begitu mendapati perintah ambu tersebut, dengan bermodalkan sebuah obor sebagi penerang jalan, aku segera berangkat menuju ke rumah pak sanif, tapi sayangnya sesampainya aku di rumah pak sanif, anak pak sanif memberitahukan kepadaku bahwa saat ini pak sanif tidak sedang berada di rumah dan besar kemungkinannya pak sanif akan kembali pulang besok malam

“ memangnya ada apa sih kang, sepertinya ada sesuatu yang penting ya….?”

“ enggak….enggak ada sesuatu yang penting kok, ambu hanya ingin meminta tolong kepada bapak kamu untuk mendoakan warung sembako yang baru saja kami buka….”

“ ohh begitu…baiklah kang atang…besok kalau bapak pulang, akan saya sampaikan…”

Dalam perasaan kecewa, aku beranjak pergi meninggalkan rumah pak sanif, hingga akhirnya sesampainya aku di rumah, aku mendapati keberadaan ambu yang saat ini tengah menemani ita yang sedang tertidur

“ bagaimana keadaan ita…mbu….?”

“ sudah lebih baik tang…tadi itu ita sempat menjerit jerit layaknya orang yang tengah kesakitan….ambu benar benar enggak tega melihat keadaan ita seperti ini tang…”

Paraunya suara ambu dalam mengucapkan perkataannya itu telah membuatku berkesimpulan bahwa saat ini ambu tengah berada dalam kondisi yang tidak sehat

“ kamu sendirian saja tang…? mana pak sanifnya…?”

“ maaf mbu…sepertinya malam ini pak sanif enggak bisa datang ke rumah kita, mungkin baru besok malam pak sanif bisa datang…” jawabku dan berbalas dengan ekspresi kekecewaan ambu

Selepas dari jawabanku itu, ambu kembali melontarkan pertanyaannya yang terhubung dengan kejadian yang telah aku dan ita alami, mendapati pertanyaan itu, tanpa mengurangi atau melebihkan sedikitpun dari kejadian yang telah aku dan ita alami itu, aku langsung menceritakan semuanya kepada ambu, hingga akhirnya di saat aku telah mengakhiri ceritaku itu, ekspresi keterkejutan begitu tergambar jelas di wajah ambu

“ astaga tang…jadi perempuan tua itu menarik tubuh ita menembus dinding ini….?” tanya ambu seraya menunjukan jari tangannya ke arah dinding yang berada tepat di atas tempat tidur ita

“ iya mbu….jujur saja atang juga masih bingung….bagaimana mungkin tubuh ita bisa tertarik keluar dari tubuhnya sendiri bahkan sampai menembus dinding seperti itu….”

“ bahaya….ini bahaya tang…andai saja saat ini pak sanif bisa datang….mungkin pak sanif akan bisa memberikan kita jalan keluar dari permasalahan ini…..” ujar ambu seraya menghela nafas panjang

“ lebih baik kita berdoa saja mbu…mudahan mudahan sampai dengan nanti pak sanif datang ke rumah kita ini, kondisi ita masih sama seperti ini, dengan kata lain atang berharap kejadian ghaib itu akan kembali terjadi di saat pak sanif sudah berada di rumah kita ini…..”

“ iya tang…mudah mudahan saja seperti itu….”

“ mbu…..”

Keraguan yang aku rasakan untuk melanjutakan perkataanku itu, kini telah berbuah dengan ekspresi keingintahuan ambu atas lanjutan dari perkataanku itu

“ ada apa tang….? ”

“ besok malam…walaupun pak sanif datang ke rumah kita ini…kemungkinan besarnya atang akan tetap melakukan ritual sesajian….”

Mendapati lanjutan perkataanku itu, untuk sejenak ambu terdiam, hingga akhirnya setelah keterdiamannya itu, ambu mengungkapkan rasa pesimisnya atas ritual sesajian yang akan aku lakukan itu, dan dasar dari kepesimisannya itu adalah perkataan ita yang mengatakan bahwa ita telah mendapatkan ancaman setelah ita mengetahui sesuatu yang telah diperbuat oleh abah dan itu entah apa

“ jadi apakah sekarang ambu percaya, menghilangnya abah sampai dengan saat ini ada hubungannya dengan gangguan ghaib yang telah membuat kondisi ita menjadi seperti ini……..?”

“ tang…ambu ini adalah seorang ibu dan juga seorang istri yang bisa merasakan adanya sesuatu yang janggal apabila suami atau anak anak ambu melakukan sesuatu yang salah, pada awalnya ambu mencoba untuk menyangkal kata hati ambu yang mengatakan ada hubungannya kejadian menghilangnya abah dengan kondisi ita saat ini, namun ketika tadi ambu mendengar perkataan ita yang mengatakan ita telah mendapatkan ancaman setelah ita mengetahui sesuatu yang telah diperbuat oleh abah, penyangkalan ambu itu mendadak sirna….hanya saja yang menjadi pertanyaan ambu sekarang ini adalah apakah mungkin abah melakukan teror seperti ini hanya karena alasan ita telah mengetahui perbuatan abah yang terhubung dengan keinginan abah untuk menjual atau menggadaikan tanah ini dan juga tanah yang berada di kampung tetangga, kalau hanya alasannya itu, bukankah seharusnya hanya ita yang mengalami gangguan ghaib……”

“ seharusnya memang seperti itu mbu…tapi melihat dari beberapa kejadian yang telah kita alami, atang mencurigai ada alasan lain yang membuat abah meneror kita seperti ini….”

“ alasan lain apa tang….?”

“ entahlah mbu….tapi atang yakin, suatu saat kita pasti akan mengetahuinya…ya sudah…lebih baik sekarang ambu beristirahat, jangan sampai karena ambu memikirkan masalah ini, kondisi kesehatan ambu jadi terganggu….”

“ enggak tang…ambu enggak akan bisa beristirahat di saat kondisi ita seperti ini….”

“ atang mengerti mbu….tapi biar bagaimanapun ambu tetap harus beristirahat….kalau begitu sebaiknya ambu beristirahatnya di kamar ita saja dengan begitu ambu bisa setiap saat melihat keadaan ita…biar atang yang berjaga jaga di luar kamar…” saranku kepada ambu dan berbalas dengan persetujuan ambu

Rasa cemasku akan terjadinya kembali kejadian ghaib yang akan semakin memperburuk kondisi ita saat ini, telah membuat malam yang aku lalui ini terasa begitu panjang, suara suara yang silih berganti terdengar diantara heningnya malam, seakan akan memaksaku untuk tetap terjaga dan selalu bersiap diri apabila sesuatu yang tidak aku inginkan kembali terjadi, hingga akhirnya di saat kumandang azan subuh mulai terdengar, aku memutuskan untuk sholat subuh lalu berlanjut dengan menyiapkan sarapan pagi yang biasanya selalu di persiapkan oleh ambu, tapi berhubung pagi ini ketersedian nasi dan juga telur telah habis, keinginanku yang ingin membuat nasi goreng sebagai menu sarapan pagi ini terpaksa aku batalkan

“ duh ambu jadi bangun kesiangan tang….semalam itu badan ambu agak kurang enak….” ujar ambu di sela aktifitasku yang tengah menyajikan dua buah gelas yang berisikan air teh manis hangat di meja makan, namun kini belum sempat aku merespon perkataan ambu tersebut, ambu sudah terlebih dahulu berjalan memasuki kamar mandi, sepertinya saat ini ambu tengah tergesa gesa untuk melaksanakan sholat subuh

Sepuluh menit sudah waktu berlalu menemani kesendirianku dalam menikmati sajian teh manis hangat, dan kini seiring dengan kehadiran ambu yang telah selesai melaksanakan sholatnya, aku memutuskan untuk mengambil beras dan juga telur di warung, tapi kini belum sempat aku melangkahkan kakiku keluar dari dalam rumah, ambu melontarkan pertanyaannya yang menanyakan tentang tujuanku keluar dari dalam rumah

“ atang mau mengambil beras dan juga telur di warung mbu….tadi rencananya atang mau membuat nasi goreng, tapi berhubung nasi dan telurnya enggak ada, terpaksa atang batalkan…jadi sebagai gantinya, biar nanti atang memasak nasi sekaligus menggoreng telur untuk menu sarapan pagi kita….”

“ ya sudah….biar nanti ambu saja yang mengerjakannya tang, pasti kamu dari semalam belum tidur kan….”

“ enggak apa apa mbu….biar atang saja yang mengerjakannya, bukankah ambu sedang kurang enak badan…jadi lebih baik, ambu beristirahat lagi saja…”

Tanpa menunggu adanya respon dari ambu atas perkataanku itu, aku segera keluar dari dalam rumah, lalu berjalan menuju ke arah warung, hingga akhirnya sesampainya aku di dalam warung, kehadiranku ini di sambut dengan aroma bau busuk yang tercium begitu menyengat di dalam warung, mendapati hal itu, aku mencoba untuk mencari tahu akan sumber dari aroma bau busuk tersebut, dan pada akhirnya keteringatanku akan kejadian pecahnya beberapa telur sewaktu aku melayani mang ayip, kini telah mengantarkan langkah kakiku untuk memeriksa kondisi telur yang tersimpan di dalam peti penyimpanan telur

“ ya tuhann…kenapa bisa jadi seperti ini…” gumamku dalam rasa tidak percaya karena mendapati hampir seluruh telur yang tersimpan di dalam peti penyimpanan telur dalam keadaan pecah, serta mengeluarkan bau yang teramat busuk, dan kini begitu aku melihat keberadaan sebutir telur yang masih dalam keadaan utuh, aku mengambilnya dan hendak memeriksanya, namun baru saja telur tersebut berada di dalam genggaman tanganku, entah mengapa tiba tiba saja aku merasa kesulitan untuk mengendalikan jari jemari tanganku ini, dan hal ini telah membuat, telur yang berada di dalam genggaman tanganku ini terpecah akibat dari begitu kuatnya cengkraman jari jemari tanganku dalam menggenggam telur, dan satu hal yang membuat aku terkejut di saat telur tersebut pecah adalah pecahan dari telur tersebut tidaklah berupa pecahan cangkang telur melainkan berupa pecahan kaca

Diantara rasa sakit yang aku rasakan akibat dari begitu banyaknya pecahan kaca yang menancap di telapak tanganku, aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah dengan tujuan untuk mengobati lukaku ini

“ astaga tang…tangan kamu kenapa…?”

Pertanyaan ambu tersebut terucap di saat ambu melihat adanya cairan darah yang menetes dari telapak tanganku ke lantai, seiring dengan keberadaan ambu yang kini telah berdiri di hadapanku, ambu langsung meraih pergelangan tanganku untuk melihat luka yang berada di telapak tanganku, dan di saat itulah aku baru tersadar, ternyata keberadan pecahan kaca yang pada saat sebelumnya masih menancap di telapak tanganku kini telah tergantikan oleh pecahan cangkang telur

“ aneh banget sih tang….bagaimana ceritanya pecahan cangkang telur ini bisa menancap di telapak tangan kamu….” ujar ambu seraya menutupi hidungnya karena merasa tidak tahan dengan aroma bau busuk yang bersumber dari cairan putih telur yang melekat di telapak tanganku, dan kini diantara keterpakuanku yang masih merasa bingung dengan kejadian ini, ambu menarik tanganku lalu memintaku untuk duduk

“ atang juga bingung mbu….tadi itu atang enggak sengaja meremas sebutir telur…”

“ enggak sengaja meremas sebutir telur….?”

“ mungkin lebih tepatnya bukan enggak sengaja mbu….kerena tadi itu atang merasa kesulitan untuk mengendalikan jari jemari tangan atang, bahkan seharusnya yang menancap di telapak tangan atang ini adalah pecahan kaca bukan pecahan cangkang telur seperti ini…..”

Dalam ekspresi wajah yang menunjukan rasa keterkejutannya atas penjelasanku itu, ambu berjalan memasuki kamarnya, dan tidak berselang lama kemudian, ambu keluar lagi dari dalam kamarnya dengan turut serta membawa sebuah peniti dan juga sebuah sapu tangan, dan kini diantara aktifitas ambu yang mulai mencabuti satu persatu pecahan cangkang telur yang menancap di telapak tanganku, dari mulutku ini mulai mengalir cerita yang menceritakan secara lengkap kejadian ghaib yang telah aku alami itu, dan pada akhirnya ceritaku itu kini telah berbuah dengan ekspresi kecemasan di wajah ambu

“ maaf mbu…atang enggak bermaksud membuat ambu cemas…tapi dengan kejadian ghaib yang baru saja atang alami tadi itu……atang curiga…abah bukan sedang mengirimkan gangguan ghaib biasa…….”

Rasa sakit yang aku rasakan akibat dari ambu yang menggunakan penitinya untuk mengambil pecahan cangkang telur yang berukuran cukup kecil dan menancap cukup dalam di telapak tanganku, kini telah membuatku meringis kesakitan

“ ambu benar benar enggak mengerti dengan perkataan kamu itu tang…yang kamu maksud dengan bukan gangguan ghaib biasa itu apa…?” tanya ambu seraya mencabut cangkang telur terakhir yang menancap di telapak tanganku, dan setelah itu ambu membalut telapak tanganku dengan sapu tangan

“ santet mbu….”

“ hahhh santet…jangan sembarangan bicara kamu tang…kalau kita sudah bicara masalah santet, itu bukan masalah sepele lagi tang…..”

“ atang enggak sembarang bicara mbu……”

Untuk sejenak aku dan ambu terdiam dalam pikiran masing masing, keteringatanku akan kejadian rusaknya barang barang daganganku tanpa alasan yang jelas serta kondisi ita yang semakin memburuk akibat dari gangguan ghaib yang dialaminya, semuanya itu semakin menambah keyakinanku bahwa abah telah mengirimkan gangguan ghaib dalam bentuk santet untuk tujuan tertentu

“ apakah kamu yakin dengan perkataan kamu itu tang….?”

“ atang yakin mbu….karena kalau merujuk dari kejadian demi kejadian ghaib yang telah kita alami, mulai dari gangguan ghaib yang membuat kondisi ita menjadi seperti ini, lalu barang barang dagangan atang yang rusak tanpa adanya alasan yang jelas, dan yang terakhir kejadian pecahnya telur hingga membuat tangan atang terluka seperti ini…semuanya itu mengarah ke praktek santet mbu…tapi kita lihat saja nanti…semoga saja pak sanif bisa membuktikan kebenaran dari keyakinan atang itu…..”

Kalimat pengharapan yang terucap dari mulutku ini secara perlahan mulai bergulir mengikuti pergerakan waktu, keberadaanku dan ambu yang saat ini tengah menunggu kedatangan pak sanif dan juga ningtias di teras rumah, untuk sesekali dikejutkan oleh suara gemuruh petir yang tersembunyi di dalam gugusan awan hitam

“ sudah hampir magrib mbu…ningtias dan pak sanif kok belum datang juga ya…….”

“ mungkin sebentar lagi tang….oh iya tang…apakah kamu yakin akan tetap melakukan ritual sesajian itu, bukankah tadi kamu sudah mengatakan, gangguan ghaib yang terjadi di rumah kita ini adalah santet….”

“ atang akan tetap melakukannya mbu….bukankah setiap tempat ada penunggu ghaibnya, bisa jadi penunggu ghaib di tempat ini akan bisa memberikan perlindungan kepada kita dari serangan santet……..”

“ ahh jangan bicara ngawur kamu tang…..”

“ atang enggak bicara ngawur mbu….karena hanya itulah yang bisa kita lakukan saat ini…anggap saja itu sebagai salah satu bentuk ikhtiar kita, diluar ikhtiar yang telah kita lakukan………”

Entah yang aku katakan itu benar atau salah, tapi yang pasti, di saat ini aku memutuskan untuk melakukan cara apapun selama cara yang aku lakukan itu bisa memberikan perlindungan kepada ambu dan juga ita


cerbung.net

SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Enggan rasanya bagiku untuk menceritakan aib yang teramat kelam ini, namun di saat malam mulai menancapkan sisi kegelapannya dan di saat keheningan malam mulai menghadirkan suara suara tanpa raga yang silih berganti membisikan kisah kisah yang teramat sulit untuk aku terima dengan logika ini, aku hanya bisa terpaku dalam bisu dan membiarkan goresan tanganku ini mewakili jeritan hati dari suara suara tanpa raga itu…“ apakah mereka yang telah melakukan ini mbu….?” tanyaku kepada ambu diantara isak tangisnya yang terdengar begitu lirih “ entahlah tang…” “ atang yakin mbu…memang mereka yang melakukannya…”Untuk sesaat aku terdiam, bibirku bergetar hebat, semuanya ini mewakili rasa amarah yang begitu besar dihatiku ini“ atang bersumpah mbu, atang akan membalas semuanya ini….darah yang tertumpah…nyawa yang terenggut…adalah harga yang mereka harus bayar….”Sepenggal percakapan yang kini telah terpatri dalam catatan kehidupanku di dunia ini, kini telah menjadi awal sebuah petaka yang menyeretku pada sebuah pilihan untuk menyelesaikan permasalahan hidupku ini dengan jalan yang kelam…SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset