SANTET – Dendam Berakhir Petaka episode 10

Chapter 10

” kamu ini kenapa tang… seperti lagi banyak pikiran saja….kalau kamu memang ragu untuk ke masjid, sebaiknya kamu sholat di rumah saja….”

“ iya mbu….entah mengapa, perasaan atang semakin hari kok semakin enggak enak saja ya….”

“ kalau memang ada yang ingin kamu bicarakan tang…sebaiknya kamu sholat dulu, setelah itu kamu bisa membicarakannya dengan ambu, siapa tahu ambu bisa meringankan beban pikiran kamu itu…..”

Berat rasanya bagiku untuk kembali menambah beban pikiran ambu yang saat ini tengah memikirkan kondisi ita dengan cerita mengenai kejadian ghaib yang telah dialami oleh mang ayip, tapi rasanya tidak ada lagi pilihan lain bagiku selain aku harus menceritakannya, hal ini aku lakukan agar ambu bisa mengambil keputusan yang bijak di dalam menyikapi kondisi ita saat ini, hingga akhirnya setelah aku melaksanakan sholat magrib, tanpa berkeinginan untuk menunda nunda lagi, aku langsung menceritakan kepada ambu mengenai kejadian yang telah di alami oleh mang ayip

“ hahh…apa kamu yakin kalau mang ayip enggak sedang berbohong tang…?”

“ atang yakin mbu….karena apa yang telah diceritakan oleh mang ayip, sama persis kriterianya dengan sesuatu yang hadir di saat atang mengalami kejadian ghaib di kamar ita…”

Mendengar perkataanku itu, ekspresi wajah yang semula terlihat tenang kini terlihat mulai menampakan ketidaktenangannya

“ memangnya kamu telah mengalami kejadian ghaib apa lagi tang di kamar ita….?” tanya ambu dan berbalas dengan jawabanku yang menceritakan tentang kejadian ghaib yang aku alami di kamar ita

“ ya tuhannn…kalau begitu firasat ambu selama ini benar tang….kejadian menghilangnya ita bukanlah kejadian biasa….dan bisa jadi sosok perempuan tua itu adalah penghuni ghaib di kawasan hutan kecil perbukitan yang merasa enggak suka dengan tingkah laku ita sewaktu ita berada di kawasan hutan kecil perbukitan….”

“ bisa jadi seperti itu mbu….tapi sebenarnya ada satu kemungkinan lainnya yang pada saat itu mang ayip katakan…..yaitu kemungkinan….”

Keraguan yang aku rasakan untuk melanjutkan perkataanku itu, kini telah membuat ambu mengernyitkan dahinya

“ kemungkinan apa tang…kok malah diam….? ayo lanjutkan lagi perkataan kamu itu…”

“ kemungkinan kehadiran sosok perempuan tua itu terhubung dengan desas desus yang mengatakan bahwa abah mempunyai banyak musuh sewaktu abah mengikuti pemilihan kepala kampung, dengan kata lain kehadiran sosok perempuan tua itu adalah ulah dari seseorang yang mempunyai dendam pribadi kepada abah……”

“ abah mempunyai banyak musuh…? astaga tang….kamu ini bicara apa sih…sejak kapan abah mempunyai banyak musuh…?”

“ justru atang yang seharusnya bertanya itu mbu….tolong untuk kali ini, ambu jujur kepada atang, biar atang enggak menduga duga seperti itu….”

Mendapati perkataanku itu, ambu mengarahkan tatapan matanya ke wajahku

“ kejujuran apa lagi tang yang kamu harapkan dari ambu…? jika kejujuran yang kamu maksud itu terhung dengan masa lalu ambu…orang tua ambu…sanak famili ambu…dan semua yang terhubung dengan ambu, hari ini ambu bersumpah tang, enggak ada satupun yang ambu tutup tutupi dari kamu…ingatan ambu akan masa lalu ambu benar benar menghilang tang…yang ambu ingat hanyalah abah kamu tang…yaa abah kamulah yang pertama kali ambu lihat setelah kecelakaan yang ambu alami, di saat itu abah kamu begitu tulus dan baik dalam mengurus ambu, dan hal inilah yang menjadi pertimbangan ambu untuk menerima pinangan abah, selebihnya dari itu tang…ambu benar benar sudah enggak ingat lagi…bahkan ketika kemarin kamu mengatakan bahwa ambu telah bertengkar dengan abah hingga ambu mengucapkan perkataan yang mengatakan bahwa abah telah menjual tanah yang bukan miliknya…itu pun ambu sudah enggak ingat lagi tang..….”

“ astaga…apa mungkin sakit kepala yang di derita ambu telah membuat memori ingatan ambu semakin menurun….”

Selepas dari gumaman yang terucap di hatiku itu, aku hanya bisa terdiam dengan pandangan menatap ke arah lampu rumah yang sinarnyanya semakin meredup, dan besar kemungkinannya hal ini disebabkan oleh adanya permasalahan pada mesin genset

“ kamu mau kemana tang…?” tanya ambu begitu melihatku yang hendak berjalan ke arah pintu rumah

“ mau memeriksa mesin genset mbu…atang curiga bensinnya sudah mau habis…”

Tanpa menunggu jawaban yang terucap dari mulut ambu, aku segera keluar dari dalam rumah untuk memeriksa mesin genset, dan selepas dari mesin genset yang telah aku periksa, aku sama sekali tidak menemukan adanya kendala pada mesin genset, hal ini berarti menunjukan, bahwa ada penyebab yang lain yang menyebabkan meredupnya lampu rumah

“ ahh brengsek…enggak biasanya seperti ini…”

Diantara rasa ketidakpuasanku terhadap hasil pemeriksaan pertamaku, aku mencoba kembali untuk memeriksa beberapa bagian pada mesin genset, namun baru saja aku memulainya, suara teriakan ambu yang terdengar begitu panik dalam memanggil namaku, telah membuat detak jantungku ini sedikit berdegup kencang, dan entah mengapa firasatku saat ini mengatakan sesuatu yang buruk pasti telah terjadi di dalam rumah

“ semoga ini hanya firasatku saja….”

Baru saja aku hendak beranjak bangun dari posisiku saat ini yang tengah duduk di hadapan mesin genset, ambu terlihat berlari ke arahku dengan turut serta membawa kepanikannya, hingga akhirnya sesampainya ambu di hadapanku, aku merasa terkejut begitu mendapati adanya beberapa luka goresan di wajah ambu, dan keterkejutanku itu semakin bertambah menjadi begitu aku mendapati adanya bercak bercak berwarna kuning kecoklatan serta beraroma khas kotoran manusia, mengotori pakaian yang tengah dikenakan oleh ambu

“ astaga mbu…apa yang telah terjadi….?”

“ ita tang….itaaa….”

Ambu menghentikan perkataannya, jari tangannya terlihat mengusap darah segar yang keluar dari luka goresan di bagian wajahnya, mendapati hal itu, tanpa berkata apa apa lagi, aku segera menarik tangan ambu untuk masuk ke dalam rumah, hal ini aku lakukan, selain aku ingin mengobati luka di wajah ambu, aku juga ingin mengetahui atas apa yang sebenarnya telah terjadi di dalam rumah, hingga akhirnya sesampainya aku dan ambu di dalam rumah, keberadaan pintu kamar ita yang terbuka lebar, memperlihatkan sosok ita yang tengah berjongkok di lantai dengan wajah yang tertunduk

“ tang…jangan dekati ita…”

Seiring dengan perkataannya itu, ambu mencengram erat pergelangan tanganku, keinginanku yang semula hendak berjalan menghampiri ita, terpaksa aku urungkan, dan kini diantara keberadaan aku dan ambu yang hanya bisa terpaku dalam memandang ke arah ita, sinar dari cahaya lampu yang terlihat semakin meredup, seakan mengaburkan pengelihatanku atas sosok ita yang sesungguhnya

“ ya tuhan….” gumamku dalam rasa tidak percaya atas apa yang tengah aku lihat saat ini, karena saat ini aku melihat sosok ita secara perlahan mulai tergantikan oleh sosok perempuan tua yang sama persis dengan sosok perempuan tua yang di gambarkan oleh mang ayip, walaupun saat ini posisi perempuan tua itu tengah berjongkok dengan wajahnya yang tertunduk, namun keberadaan tongkat kayu di tangannya serta susunan rambutnya yang terlihat terurai secara tidak beraturan, sudah cukup menjadi dasar bagiku untuk meyakini bahwa sosok perempuan tua itu memanglah sosok perempuan tua yang pernah di jumpai oleh mang ayip

“ mbuuu…ammbuu..liiihat ituuu kann….”

Dengan suara tergagap, aku mencoba memastikan bahwa apa yang tengah aku lihat saat ini, tengah di lihat juga oleh ambu, namun kini begitu mendapati respon ambu yang menyentakan tanganku melalui jari jemarinya yang tengah menggenggam erat pergelangan tanganku, aku sadar bahwa saat ini hanya aku seorang diri yang tengah melihat sosok perempuan tua itu

“ tang…kamu jangan nakutin ambu….ambu ini melarang kamu mendekati ita karena ambu takut, ita akan melakukan hal yang sama seperti apa yang telah ita lakukan terhadap ambu…”

“ taappii mbuu…aa..ataang…meelllihatt…”

Belum sempat aku menyelesaikan perkataan yang teramat sulit untuk terucap dari mulutku ini, lampu rumah mendadak padam, namun sebelum padamnya lampu rumah, aku dan ambu sempat mendengar dan juga melihat, sosok ita yang tertawa lepas sebelumnya akhirnya jatuh terjerembab ke lantai dengan di iringi oleh suara geramannya, mungkin bagi ambu saat ini, apa yang telah dilihatnya itu, adalah sosok ita yang sesungguhnya, namun di dalam pengelihatanku, aku melihat sosok perempuan tua itu seperti berbaur dengan kemunculannya kembali sosok ita yang sesungguhnya

“ tang…bagaimana ini…hati hati dengan ita tang….” ujar ambu diantara perpaduan antara suara geraman dan juga suara racauan yang terucap dari mulut ita

“ bagaimana kita bisa berhati hati mbu….sedangkan untuk melihat saja kita kesulitan…ada baiknya jika kita keluar rumah dulu, biar nanti atang menyalakan obor…baru setelah itu kita memeriksa keadaan ita…”

“ lohh…kok obor tang…memangnya mesin genset kita kenapa…?”

“ ahh susah atang untuk menjelaskannya mbu….”

Dengan langkah yang tersendat sendat, aku dan ambu mulai berjalan menembus kegelapan yang menyelimuti seluruh ruangan di dalam rumah, hingga akhirnya setibanya kami di halaman rumah, keberadaan dari obor yang biasa aku simpan di belakang warung, kini menjadi tujuan utama dari langkah kakiku dan ambu

“ untung masih ada isi minyaknya mbu….” ujarku begitu mendapati keberadaan minyak tanah di dalam bambu

“ apa enggak sebaiknya kita meminta bantuan kepada warga kampung mbu…?” tanyaku seraya memantik api untuk menyalakan obor

“ jangan tang…….enggak ada bedanya kamu meminta bantuan kepada ibu diswaya atau warga kampung…semuanya itu akan berakhir dengan terbukanya aib keluarga kita, kalau sampai itu terjadi….ambu enggak bisa membayangkan seperti apa kemarahan abah kamu itu….”

“ aib…?, letak aibnya itu dimana mbu…ita itu enggak gila, apa yang telah ita lakukan tadi itu bukanlah atas kehendak ita sendiri….…”

“ ambu mengerti tang…mengerti…tapi, apakah nanti warga kampung mau percaya kalau ita itu mengalami kerasukan…? karena dari apa yang ambu ketahui, enggak ada tang…orang yang mengalami kerasukan dalam waktu selama itu….pada akhirnya warga kampung hanya akan menilai ita sebagai perempuan yang enggak normal…”

Ingin rasanya saat ini aku kembali mendebat perkataan ambu, tapi begitu aku mengingat kembali akan situasi saat ini yang menempatkan ita dalam situasi yang tidak pasti, aku memilih untuk berdamai dengan ambu, lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah untuk mengetahui keadaan ita saat ini

“ tang….” gumam ambu diantara keberadaan kami yang kini telah memasuki rumah dan mendapati keberadaan ita yang masih terbaring di lantai dengan tubuh yang mengejang serta mengeluarkan suara erangan yang bercampur dengan suara geramannya, yang jika aku harus memaknainya, suara itu seperti perpaduan antara rasa kesakitan yang mendalam, dan juga bentuk luapan amarah dari sosok ghaib yang saat ini tengah bersemayam di tubuh ita, mendapati hal itu, pergerakanku yang kini hendak menghampiri ita, kembali lagi mendapati penentangan dari ambu, karena saat ini, ambu mungkin merasa khawatir, akan adanya tindakan berbahaya yang akan dilakukan oleh ita

“ tapi mbu…kita enggak mungkin membiarkan ita seperti itu….” ujarku dalam rasa panik

“ ya sudah….kalau begitu sebaiknya sekarang kamu cari tali pengikat tang….”

“ hahh…tali pengikat…tali pengikat untuk apa mbu…?”

“ tang…ini bukan saatnya kamu banyak bertanya…cepat cari tali pengikat, sebelum ita melakukan sesuatu yang buruk, yang pada akhirnya akan membahayakan diri kita dan juga diri ita sendiri….”

Tanpa berani lagi untuk membantah perkataan ambu, dengan terlebih dahulu meminta agar ambu memegang obor yang tengah aku pegang, aku segera berlari keluar dari dalam rumah untuk mengambil tambang kecil yang tersimpan di warung, dan kini diantara keberadaan tambang kecil yang sudah berada di dalam genggaman tanganku, aku dan ambu akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri ita, dan di saat itulah aku mendapati kenyataan yang mungkin bisa menjawab pertanyaanku mengenai apa yang sebenarnya telah dialami oleh ambu hingga menyebabkan wajah ambu mendapati beberapa luka goresan seperti itu

“ ya tuhan…itaaa…!”

Terkejut, takut, bingung….sepertinya perpaduan kata kata itulah yang dapat menggambarkan perasaanku di saat aku mendapati keberadaan ita yang saat ini tengah terbaring di lantai dengan tubuh yang mengejang serta terkotori oleh kotoran manusia yang kemungkinan besar adalah kotoran miliknya sendiri, mendapati kenyataan itu, aku segera mengangkat tubuh ita lalu membaringkannya di tempat tidur

“ hati hati tang…jangan terlalu lengah….” ujar ambu seraya meletakan obor di lantai

“ ya tuhann…aku enggak tega jika harus memperlakukan adikku seperti ini……..” gumamku seraya hendak melemparkan tambang kecil ke lantai, namun baru saja aku hendak melemparkannya, secara tidak terduga, ita mengarahkan jari jemari tangannya ke arah wajahnya, namun belum sempat jari jemari tangannya itu menyentuh wajahnya, secara refleks, aku langsung menahan pergerakan tangan ita lalu melebarkannya di kedua sisi kepalanya, hingga membuat posisi wajahku kini hanya menyisakan jarak yang teramat dekat dengan wajah ita

“ akan daataang waktuunya untukmuuu….….”
Ini adalah untuk kedua kalinya setelah kejadian ghaib yang aku alami di kamar ita, aku kembali mendengar suara perempuan tua yang terucap dari mulut ita, dan sepertinya apa yang telah aku dengar saat ini, telah terdengar juga oleh ambu, hal ini terlihat dari ekspresi keterkejutan yang terpancar di wajah ambu dalam merespon perkataan ita tersebut

“ cepat ikat tang….jangan menunda nunda lagi…….!”

Dalam kepanikannya, ambu kini mencoba untuk menahan salah satu bagian tangan ita, mendapati hal itu, aku pun bersegera menjauhkan wajahku ini dari wajah ita, hal itu aku lakukan, selain aku tidak tahan dengan aroma mulut ita yang mengeluarkan aroma bau kotoran manusia, aku juga khawatir, ita akan melakukan sesuatu yang mungkin akan melukai wajahku ini


cerbung.net

SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Enggan rasanya bagiku untuk menceritakan aib yang teramat kelam ini, namun di saat malam mulai menancapkan sisi kegelapannya dan di saat keheningan malam mulai menghadirkan suara suara tanpa raga yang silih berganti membisikan kisah kisah yang teramat sulit untuk aku terima dengan logika ini, aku hanya bisa terpaku dalam bisu dan membiarkan goresan tanganku ini mewakili jeritan hati dari suara suara tanpa raga itu…“ apakah mereka yang telah melakukan ini mbu….?” tanyaku kepada ambu diantara isak tangisnya yang terdengar begitu lirih “ entahlah tang…” “ atang yakin mbu…memang mereka yang melakukannya…”Untuk sesaat aku terdiam, bibirku bergetar hebat, semuanya ini mewakili rasa amarah yang begitu besar dihatiku ini“ atang bersumpah mbu, atang akan membalas semuanya ini….darah yang tertumpah…nyawa yang terenggut…adalah harga yang mereka harus bayar….”Sepenggal percakapan yang kini telah terpatri dalam catatan kehidupanku di dunia ini, kini telah menjadi awal sebuah petaka yang menyeretku pada sebuah pilihan untuk menyelesaikan permasalahan hidupku ini dengan jalan yang kelam…SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset