SANTET – Dendam Berakhir Petaka episode 12

Chapter 12

“ yang pasti bukan karena alasan keluarga atang telah dikirimi sesuatu yang jahat oleh orang lain….”

“ ohhh….kalau bukan itu alasannya, berarti kang atang melakukan ritual sesajian itu karena alasan kang atang mendapatkan gangguan ghaib akibat dari kang atang yang belum meminta izin kepada penunggu ghaib di tempat ini….”

“ bisa jadi seperti itu mang alasannya…”

“ sebenarnya sih kang….enggak ada sesuatu yang khusus dalam ritual sesajian itu, kang atang hanya cukup berniat menyajikan semuanya itu dalam rangka meminta maaf kepada mahluk ghaib di tempat ini, karena kang atang telah lupa untuk meminta izin sewaktu kang atang memulai membuka usaha di warung ini, selebihnya kang atang hanya perlu mempersiapkan bahan bahan yang diperlukan untuk ritual sesajian, seperti rokok menyan, kopi hitam, bunga kanthil, pisang mas, dan kemenyan yang nantinya harus kang atang bakar….”

“ hanya itu saja mang…?”

“ ya setahu saya sih…memang hanya itu saja kang…..”

Selepas dari pembicaraan itu, dengan terlebih dahulu aku meminta tolong kepada mang ayip agar mang ayip merahasiakan pembicaraan ini, mang ayip akhirnya berpamitan pulang, dan selang beberapa saat setelah kepulangan mang ayip, beberapa warga kampung kembali datang ke warungku dengan membawa keluhan yang sama

“ ya tuhan…kalau setiap hari kejadiannya seperti ini…bisa bisa warungku ini…”

“ assalamualaikum….”

Ucapan salam yang terucap dari mulut seorang wanita yang suaranya sudah begitu familiar di telingaku ini, dengan seketika menghentikan gumamanku itu, dan kini dengan senyum yang mengembang di wajahnya, ningtias menyapa beberapa warga kampung yang telah dikenalnya

“ wa’alaikumussalam…masuk tias…”

“ wahh…lagi sibuk ya kang…biar tias bantu ya….”

Tanpa menunggu adanya jawaban dariku, ningtias segera membantuku dalam melayani beberapa warga kampung yang belum sempat aku layani, hingga akhirnya selepas dari beberapa warga kampung yang telah aku dan ningtias layani, sepertinya saat ini ningtias sudah mengetahui akan permasalah yang tengah aku hadapi

“ akhirnya selesai juga….” gumamku seiring dengan kepergian warga kampung terakhir dari warungku

“ maaf kang atang…kalau tias perhatikan, sepertinya kang atang lagi ada masalah ya….?”

Mendapati pertanyaan ningtias tersebut, untuk sejenak aku terdiam, keinginanku yang ingin menceritakan seluruh kejadian yang telah aku alami kepada ningtias, seperti terganjal oleh rasa keraguanku yang merasa belum yakin apakah ningtias akan mampu untuk menjaga kerahasiaan dari kejadian yang telah aku alami itu

“ kalau kang atang enggak mau menceritakannya…enggak apa apa kang, tias mengerti…sebenarnya tujuan utama tias datang ke rumah kang atang, adalah hendak menjenguk ita sekaligus melihat keadaan ambu dan juga abah….”

“ bukan aku enggak mau menceritakannya tias….nanti akan aku ceritakan semuanya di dalam rumah sekaligus kamu bisa melihat kondisi ita dan juga bertemu dengan ambu….tapi tunggu sebentar, aku harus menutup warung terlebih dahulu…”

Dengan dibantu oleh ningtias, aku segera meletakan papan papan yang menjadi penutup warung pada tempatnya, hingga akhirnya selepas dari warung yang telah aku tutup, dalam rasa ketidaksabarannya untuk segera berjumpa dengan ita, aku mengajak ningtias untuk masuk ke dalam rumah dengan tujuan utama ke kamar ita

“ astaga kang….apa yang sebenarnya telah terjadi pada ita…?” tanya ningtias dalam ekspresi keterkejutannya begitu mendapati kondisi ita yang mungkin sama sekali tidak pernah di bayangkannya

Sebuah piring makan yang berada di lantai, seperti memberikan pertanda bahwa ambu telah menyuapi ita makan walaupun dalam porsi yang tidak terlalu banyakt, hal ini terlihat dari banyaknya nasi dan juga lauk pauk yang tersisa di piring makan

“ entahlah tias…jujur saja aku bingung dalam menyikapi kondisi ita saat ini, dan dasar kebingunganku itu adalah sampai dengan saat ini, aku masih belum bisa juga mengetahui, kejadian apa yang sebenarnya telah di alami oleh ita….” ujarku diantara tatapan mata ningtias yang tengah memandang ke arah tubuh ita, untuk sesekali tubuh ita terlihat bergetar layaknya seseorang yang tengah bermimpi

“ memangnya pada saat itu, kang atang telah menemukan ita di mana…?”

“ bukan aku yang menemukannya, tapi beberapa warga kampung yang menemukan ita sewaktu mereka berburu burung di kawasan hutan kecil perbukitan

“ hahh…kawasan hutan kecil perbukitan yang terkenal angker itu…?” tanya ningtias dalam rasa tidak percaya

“ iya, mereka menemukan ita disana, dan setelah penemuan itu….entah mengapa berbagai macam gangguan ghaib mulai terjadi di rumah ini, seakan akan gangguan ghaib itu mengiringi kondisi ita yang semakin memburuk…”

Untuk sejenak aku terdiam, dan diantara keterdiamanku itu, terlihat ningtias merapihkan bagian kain yang tersingkap pada tubuh ita akibat dari pergerakan ita, hingga akhirnya seiring dengan tatapan mata ningtias yang menatap ke arah wajahku, aku mulai menceritakan kepada ningtias mengenai berbagai macam gangguan ghaib yang telah terjadi di rumah ini, termasuk perubahan sikap abah dan juga gangguan ghaib yang telah di alami oleh mang ayip

“ apakah kang atang menduga, kerusakan barang barang dagangan kang atang itu ada hubungannya dengan gangguan ghaib yang mang ayip alami….?”

“ bisa jadi seperti itu tias….”

“ waduhh…tias kok jadi tambah bingung ya kang, mengapa efek dari kejadian menghilangnya ita ini jadi melebar kemana mana, bukankah seharusnya hanya ita yang mengalami gangguan ghaib karena kemungkinan besar ita telah melakukan sesuatu yang kurang baik di kawasan hutan kecil perbukitan…tapi mengapa sekarang kang atang dan ambu juga mengalaminya….?”

“ nah itu dia….itu dia yang membuat aku bingung selama ini….” jawabku seraya menghela nafas panjang

“ kang…tias sih menduga ada kemungkinan lain yang menjadi penyebab dari banyaknya gangguan ghaib di rumah ini ……”

“ kemungkinan yang lain…?”

“ sebentar kang…sebentar…”

Untuk sejenak ningtias terdiam, dan di dalam keterdiamannya itu, ekspresi wajah ningtias menunjukan bahwa saat ini ningtias tengah memikirkan sesuatu yang pastinya terhubung dengan permasalahan ini

“ apakah mungkin kang…gangguan ghaib yang terjadi di rumah kang atang ini adalah ulah dari seseorang yang merasa enggak suka dengan keluarga kang atang…karena kalau berdasarkan dari apa yang telah kang atang ceritakan tadi, semuanya itu sepertinya mengarah ke sana kang…….”

Terdiam…sepertinya hanya itulah yang bisa aku lakukan di dalam merespon perkataan ningtias saat ini, kecurigaan ningtias akan adanya seseorang yang tengah berniat jahat kepada kaluargaku, kini telah memunculkan dugaanku atas kemungkinan ningtias yang telah mendengar desas desus mengenai abah

“ itu hanya dugaanku saja kang…bisa jadi benar dan bisa jadi enggak benar….” ujar ningtias yang merasa tidak nyaman dengan keterdiamanku ini

“ untuk saat ini, aku enggak berpikir sejauh itu tias….yang terpikirkan di dalam otakku saat ini adalah aku hendak melakukan sesuatu yang kemungkinan besar akan mengembalikan kehidupan keluargaku ini dalam kehidupan yang normal.….”

“ memangnya kang atang akan melakukan apa….?” tanya ningtias dan berbalas dengan jawabanku yang mengatakan bahwa aku hendak melakukan ritual sesajian, sesuai dengan apa yang telah disarankan oleh mang ayip

“ mudah mudahan saja…ritual sesajian yang akan aku lakukan nanti itu, akan menjadi perantara permintaan maafku kepada mahluk ghaib penghuni kawasan hutan kecil perbukitan…”

“ aamiin kang…. tapi ngomong ngomong kang…kapan kang atang akan melakukan ritual sesajian itu….? dan apakah ada yang bisa tias bantu dalam prosesi ritual sesajian itu….?”

“ kalau sampai hari ini dan juga besok hari, abah belum juga pulang, kemungkinan besar, aku akan melakukan ritual sesajian itu besok malam…mudah mudahan saja ambu akan mengizinkannya, dan mengenai apakah ada yang bisa kamu bantu….sebenarnya sih ada, kebetulan aku belum mepersiapkan bahan bahan yang aku perlukan untuk melakukan ritual sesajian itu….tapi….”

“ tapi apa kang….?” tanya ningtias memotong perkataanku

“ tapi aku takut, nantinya kamu akan pulang kemalaman…jika harus membantuku dalam mempersiapkan bahan bahan ritual sesajian itu…”

“ ya ampun kang…besok itu kan kebetulan hari sabtu…dan hari minggunya sekolah libur, jadi kalau kang atang enggak keberatan…biar nanti tias yang mencari bahan bahan keperluan ritual sesajian itu di kampung kita ini dan setelah itu tias berencana untuk menginap di rumah ini……”

“ hahh…kamu yakin tias…?” ujarku dalam rasa tidak percaya atas rencana tias tersebut

“ yakin kang….hitung hitung tias menemani ita, tapi itu pun kalau kang atang mengizinkan tias untuk menginap…”

Sepertinya tidak ada alasan bagiku untuk menolak kebaikan ningtias tersebut, selain saat ini aku memang membutuhkan bantuan ningtias untuk mempersiapkan bahan bahan keperluan ritual sesajian, kehadiran ningtias di rumah ini, setidaknya akan dapat mengurangi rasa sepi akibat dari ketiadaan abah sampai dengan saat ini

“ wahh..kalau aku sih sudah pasti mengizinkannya tapi enggak tahu kalau….”

“ mengizinkan apa tang…?”

Sebuah kalimat pertanyaan yang terucap dari mulut ambu dan terdengar secara tiba tiba, kini mengiringi kehadiran ambu memasuki kamar ita, mendapati hal itu, ningtias segera berjalan menghampiri ambu lalu mencium tangannya

“ sudah lama tias….?”

“ sudah agak lama juga mbu….duh tias jadi merasa enggak enak nih, karena semenjak dari tadi tias belum menemui ambu….” jawab ningtias seraya memperhatikan luka di wajah ambu

“ enggak apa apa tias….kebetulan tadi itu, ambu memang masih beristirahat di kamar….ohh iya tang…tadi itu ambu dengar kamu mengatakan mengizinkan, memangnya kamu mau mengizinkan apa….?”

Selepas dari pertanyaannya itu, ambu hendak mengambil piring makan yang berada di lantai, mengetahui hal itu, dengan segera ningtias mendahului pergerakan ambu dalam mengambil piring makan, dan kini diantara keberadaan piring makan yang telah berada di dalam genggaman tangannya, ningtias meminta izin untuk membawanya ke dapur

“ kamu gagu ya tang…ambu tanya kok malah diam saja….”

“ mbu….jika sampai dengan hari ini atau besok hari, abah masih belum pulang juga, atang berencana untuk melakukan ritual sesajian, dan ningtias berniat untuk membantu atang, dan dikarenakan ritual sesajian itu akan atang lakukan pada malam hari, kemungkinan besar ningtias akan bermalam di rumah kita ini, itu pun kalau ambu mengizinkannya….”

Ambu menghela nafas panjang, tatapan matanya kini terarah ke wajahku

“ apakah kamu yakin tang, ritual sesajian yang akan kamu lakukan itu, akan dapat mengeluarkan kita dari permasalahan ini….?”

“ atang sih yakin mbu…sangat yakin…hanya saja atang memerlukan izin dari ambu…karena enggak mungkin atang melakukan semuanya itu tanpa adanya izin dari ambu…”

“ tang kalau sampai dengan hari ini atau besok hari abah masih belum pulang juga…ambu akan mengizinkan kamu untuk melakukan ritual sesajian itu dan juga mengizinkan tias untuk menginap di rumah kita ini, tapi jika hari ini atau besok hari, abah sudah pulang….lebih baik kamu lupakan keinginan kamu untuk melakukan ritual sesajian itu….”

“ iya mbu….”

“ tapi ingat tang, kamu harus memberitahukan kepada tias agar tias merahasiakan semuanya ini, jangan sampai warga kampung mengetahui tentang gangguan ghaib yang terjadi di rumah ini dan juga kondisi ita saat ini…..” ujar ambu seiring dengan kehadiran ningtias memasuki kamar ita

“ ya sudah tang…sebaiknya sekarang kamu makan siang, sholat zuhur dan langsung beristirahat….biar ambu dan tias yang menemani ita….”

Mendapati saran ambu tersebut, aku langsung bergegas meninggalkan kamar ita, untuk melaksanakan sholat zuhur dan juga makan siang, dan dikarenakan siang ini ita sudah ada yang menemani, aku memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar, hingga akhirnya setelah hampir kurang lebih empat jam lamanya aku tertidur, aku kembali terbangun diantara ruangan kamar yang kini telah terselimuti oleh kegelapan

“ sepertinya sudah magrib….” ujarku seraya beranjak bangun dari tempat tidur lalu menyalakan lampu kamar, dan kini seiring dengan keteringatanku akan keberadaan ningtias di rumah ini, dengan langkah yang tergesa, aku keluar dari dalam kamar dan mendapati keberadaan ambu yang tengah melakukan terapi pengobatan untuk mengatasi rasa sakit kepalanya


cerbung.net

SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Enggan rasanya bagiku untuk menceritakan aib yang teramat kelam ini, namun di saat malam mulai menancapkan sisi kegelapannya dan di saat keheningan malam mulai menghadirkan suara suara tanpa raga yang silih berganti membisikan kisah kisah yang teramat sulit untuk aku terima dengan logika ini, aku hanya bisa terpaku dalam bisu dan membiarkan goresan tanganku ini mewakili jeritan hati dari suara suara tanpa raga itu…“ apakah mereka yang telah melakukan ini mbu….?” tanyaku kepada ambu diantara isak tangisnya yang terdengar begitu lirih “ entahlah tang…” “ atang yakin mbu…memang mereka yang melakukannya…”Untuk sesaat aku terdiam, bibirku bergetar hebat, semuanya ini mewakili rasa amarah yang begitu besar dihatiku ini“ atang bersumpah mbu, atang akan membalas semuanya ini….darah yang tertumpah…nyawa yang terenggut…adalah harga yang mereka harus bayar….”Sepenggal percakapan yang kini telah terpatri dalam catatan kehidupanku di dunia ini, kini telah menjadi awal sebuah petaka yang menyeretku pada sebuah pilihan untuk menyelesaikan permasalahan hidupku ini dengan jalan yang kelam…SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset