SANTET – Dendam Berakhir Petaka episode 4

Chapter 4

“ abah kemana mbu….?”

Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulutku, mengawali hari yang telah beranjak pagi, terlihat jam telah menunjukan pukul setengah tujuh pagi, selang beberapa saat dari pertanyaanku yang belum terjawab oleh ambu, terlihat ita keluar dari dalam kamarnya dengan mengenakan seragam sekolah

“ wahh ceria banget sih wajahnya kang…karena warungnya sudah rapih atau karena sudah bertemu dengan ka tias nih….”

“ hushh ita…jangan terus terusan meledek akang kamu…” lerai ibu diantara pergerakan ita yang kini mengambil posisi duduk di kursi meja makan untuk sarapan pagi

“ ahh ambu…ita kan hanya bercanda saja, lagi pula kalau kang atang benar benar suka sama ka tias itu lebih baik…yaa…hitung hitung kang atang memperbaiki keturunan…” canda ita kembali yang berbalas dengan gelak tawaku dan ambu

“ tang…abah masih berada di dalam kamar, semalam itu abah tiba di rumah sewaktu kamu sudah tidur….”

“ memangnya abah habis dari mana mbu…? kok pulangnya semalam itu….”

Selepas dari pertanyaanku itu, aku segera mengambil posisi duduk di sisi ita, lalu mulai menyantap sarapan pagi yang telah disediakan oleh ambu

“ abah kamu itu sedang ada urusan dengan kepala kampung tetangga, kalau enggak salah sih…membereskan surat surat tanah kita yang berada di kampung tetangga…memangnya kenapa tang, apa saat ini kamu mempunyai keperluan dengan abah…?”

Belum sempat aku menjawab pertanyaan ambu, terlihat abah keluar dari dalam kamar, lalu ikut bergabung duduk di meja makan

“ tang…kapan kamu akan ke kota untuk berbelanja keperluan warung kamu itu…?” tanya abah seraya menyantap sarapan paginya

“ kalau atang sih…terserah abah saja, kapan saja boleh kok bah….”

“ bagaimana kalau hari ini….kebetulan abah juga sedang ada keperluan di kota ?”

“ wah boleh tuh bah…kalau begitu biar atang bersiap siap terlebih dahulu….”

“ ahh curang nih abah…kenapa sih ke kotanya harus hari ini, bukan pada saat ita libur sekolah saja…kalau ita libur…ita kan bisa ikut….” rajuk ita dengan menunjukan ekspresi wajah kesalnya

“ lain kali kamu bisa ikut ta…abah janji…”

Selepas dari suapan terakhir yang mengkandaskan sarapan pagiku, aku segera mempersiapkan diri, selembar catatan yang berisikan daftar keperluan yang harus aku belanjakan, kini aku masukan ke dalam saku celana, hingga akhirnya tepat pada pukul sembilan pagi, aku dan abah berangkat ke kota

“ apakah keperluan kamu itu semuanya sudah terbeli tang…..?” tanya abah diantara aktifitas kuli angkut yang tengah menaikkan barang belanjaan ke atas sebuah truk kecil

“ untuk saat ini sepertinya sudah cukup bah…” jawabku seraya kembali memeriksa list daftar belanjaan yang telah aku catat dalam lembaran kertas

“ mengenai bensin genset itu bagaimana bah…?”

“ untuk bensin genset….abah sudah membelinya, dan mungkin sore nanti akan dikirimkan dulu sebanyak satu drum….”

Mendapati jawaban tersebut, aku tersenyum lega, karena hal ini berarti aku telah memenuhi semua kebutuhan yang aku perlukan

Hembusan angin senja yang mengantarkan hawa dingin di sekujur tubuhku, kini menemaniku dalam mengawasi barang demi barang yang diturunkan oleh dua orang kuli angkut dari atas truk, beberapa barang memang aku sengajakan untuk dimasukan ke dalam warung, sedangkan beberapa barang yang lain, aku simpan di dalam rumah, hal ini aku lakukan karena keterbatasan dari rak penyimpanan di dalam warung

“ tang…apakah semua barangnya sudah turun….?” tanya ambu secara tiba tiba, terlihat keberadaan ambu yang kini telah berdiri di sisi kanan tubuhku

“ sudah mbu…drum bensin pesanan abah juga sudah atang terima…” jawabku seraya menunjuk ke arah drum bensin yang berada di depan warung, selang beberapa saat setelah jawabanku itu, para kuli angkut pengantar barang kini berpamitan dengan tidak lupa menyerahkan kwitansi pembelian barang yang sudah terbayar kepadaku

“ sepertinya akan turun hujan ya mbu…”

Keberadaan truk kecil yang semula terparkir di depan rumah, perlahan mulai berjalan pergi meninggalkan rumah, nampak terlihat gumpalan awan hitam yang tersamar dalam temaram senja

“ bukan sepertinya lagi tang…coba kamu lihat tuh..sudah gerimis, sebaiknya kita masuk, karena sebentar lagi magrib….”

Selepas dari perkataannya itu, ambu berjalan memasuki rumah, keberadaan dari jari tangan kanannya yang memegangi kepalanya, mengisyaratkan bahwa saat ini ambu kembali merasakan rasa sakit di bagian kepalanya

“ kasihan ambu…sekian lama harus mengalami rasa sakit seperti itu…” gumamku lalu berjalan memasuki rumah

Tepat pada pukul setengah tujuh malam, aku yang telah selesai melaksanakan sholat magrib di rumah dikarenakan hujan lebat yang menghambatku untuk berangkat ke masjid, kini lebih memilih untuk mengisi waktu di dalam kamar, namun baru saja aku merebahkan tubuh yang penuh dengan rasa penat ini di atas kasur, terdengar suara ambu yang meminta agar ita melihat keberadaan seseorang yang tengah mengetuk pintu rumah, entah siapa yang telah hadir bertamu di saat hujan yang tengah turun dengan derasnya seperti ini, namun yang pasti, rasa keingintahuanku yang tinggi kini telah membimbing langkah kakiku untuk untuk keluar dari dalam kamar

“ siapa yang datang mbu…?”

Ambu hanya menggelengkan kepalanya dalam merespon pertanyaanku itu, ekspresi wajah ambu memperlihatkan bahwa saat ini ambu tengah menahan rasa sakit di bagian kepalanya

“ tang…coba kamu pastikan siapa yang datang…”

Kalimat perintah yang terucap dari mulut ambu, kini mengantarkan langkah kakiku meninggalkan ruang makan, keberadaan pintu rumah yang terbuka lebar, memperlihatkan kehadiran seorang wanita yang tengah berbicara dengan ita

“ siapa wanita itu….?” tanyaku di dalam hati lalu melanjutkan berjalan menghampiri ita, namun baru saja beberapa langkah aku berjalan, ita terlihat mengajak masuk sosok wanita misterius itu ke dalam rumah

“ kang atang…” tegur ita begitu melihatku yang tengah berdiri terpaku dalam memandang ke arah ita dan juga sosok wanita misterius itu, nampak terlihat hampir sebagian besar dari pakaian yang di kenakan oleh wanita misterius itu terbasahi oleh air hujan, dan hal ini sepertinya telah membuat tubuh wanita misterius itu, sedikit menggigil karena menahan rasa dingin

“ tolong beritahu abah kang….ada tamu yang mencarinya….” pinta ita seraya memberikan isyarat mata, yang aku sendiri tidak mengerti akan maksud dari isyarat mata tersebut

“ siapa yang datang tang….?” tanya ambu dari kejauhan, mendengar pertanyaan ambu tersebut, tanpa berkeinginan untuk menjawab pertanyaan ambu dengan cara berteriak, aku segera berjalan menghampiri ambu guna memberitahukan kedatangan dari sosok wanita misterius yang mengaku sebagai tamu abah

“ cepat beritahukan abah kamu tang…mungkin wanita itu memang mempunyai tujuan yang penting datang ke rumah ini…”

Beberapa kelopak bunga yang terlihat dimakan oleh ambu, mengisyaratkan bahwa saat ini ambu masih terbelenggu oleh rasa sakitnya, dan hal ini bukanlah menjadi hal yang bagus bagi aku untuk membantah perintah ambu dengan argumenku yang merasa heran dengan kehadiran sosok wanita misterius itu di saat hujan masih turun dengan sangat lebatnya

“ kok malah jadi bengong tang…cepat beritahu abah kamu….”

Selepas dari kalimat perintah yang kembali terucap dari mulut ambu, aku segera berjalan menuju ke kamar guna memberitahukan abah, namun baru saja aku hendak mengetuk pintu kamar, perputaran dari gagang kunci pintu kamar, mengiringi terbukanya pintu kamar, nampak terlihat keberadaan abah yang tengah berdiri terpaku dengan pandangan menatap ke arah wajahku

“ ada apa tang….?” tanya abah dan berbalas dengan jawabanku yang memberitahukan tentang kehadiran dari sosok wanita misterius yang mengaku sebagai tamu abah, mendapati jawabanku itu, dengan langkah yang tergesa, abah berjalan menuju ke arah ruang tamu untuk menemui sosok wanita misterius itu

“ siapa sebenarnya sosok wanita misterius itu…?”

Diantara ketiadaan jawaban yang bisa menjawab pertanyaanku itu, terlihat ita berjalan dari arah dapur menuju ke arah ruang tamu dengan turut serta membawa nampan yang berisikan dua buah gelas air hangat serta sebuah handuk yang tersampir di bahunya, mendapati hal itu, aku memutuskan untuk ikut bergabung ke ruang tamu guna mencari tahu akan sosok dari wanita misterius itu

“ duduk sini tang….” pinta abah seraya menepukan telapak tangannya pada alas kursi kayu yang berada di sisi kirinya, keberadaan ita yang telah meletakkan nampan yang berisikan dua buah gelas air hangat di tengah meja, kini menempatkan posisinya duduk tepat berhadapan sosok wanita misterius itu, sedangkan di sisi yang lain, sosok wanita misterius itu terlihat mengeringkan rambut hitamnya yang tergerai basah dengan handuk kering yang tadi tersampir di bahu ita

“ tang…ita…perkenalkan ini ibu diswaya….abah sengaja mengundang ibu diswaya ke rumah kita ini dengan tujuan mengobati penyakit ambu…tapi sekarang abah benar benar merasa enggak enak…karena telah merepotkan ibu diswaya yang telah menyempatkan diri untuk datang bertamu di saat hujan lebat seperti ini…”

“ pantas saja…rupanya ini ibu diswaya yang pernah diceritakan oleh ita….”

Cantik dan penuh dengan aura yang menggoda…yaa itulah gambaran yang bisa aku berikan atas sosok wanita yang kini tengah mengembangkan senyum menggodanya, dan jika aku boleh menduga, mungkin usia wanita ini belumlah mencapai usia empat puluh tahun, dugaanku ini di dasari pada bentuk phisik tubuhnya yang masih menampakan lekukan lekukan indah, yang pastinya akan membuat setiap mata lelaki yang memandangnya enggan untuk berkedip, dan hal ini sepertinya berlaku kepadaku saat ini

“ enggak merepotkan kok pak icang…tadi itu di saat saya menuju ke rumah ini, kondisinya memang belum hujan, dan saya juga lupa untuk membawa payung…”

“ kenapa tadi di saat hujan, ibu diswaya enggak berteduh terlebih dahulu…?”

“ saya takut kang atang….saya ini kan warga baru, dan belum begitu mengetahui pasti akan kondisi keamanan di kampung ini, jadi saya memutuskan untuk meneruskan berjalan ke rumah ini dari pada saya harus berteduh di tengah kegelapan malam….”

Diantara perkataan ibu diswaya yang kini terhenti, getaran halus yang terlihat pada kedua tangannya, telah memancing terucapnya perkataan ita yang mempersilahkan agar ibu diswaya meminum air hangat yang telah tersaji di meja, pada awalnya aku tidak begitu memperhatikan bentuk gelas yang kini tengah di genggam erat oleh ibu diswaya, namun di saat ibu diswaya berusaha mendinginkan air hangat yang mungkin bagi ibu diswaya masih terasa panas dengan cara meniupnya, aku baru tersadar, bahwa gelas yang tengah berada di genggaman tangan ibu diswaya adalah gelas yang biasa dipergunakan oleh abah, mendapati hal itu, tanpa berpikir apakah perkataanku ini sopan atau tidak, aku meminta agar ibu diswaya mengganti gelas yang akan diminumnya itu dengan gelas yang masih berada di atas nampan

“ kang atang….biar aja atuh kang…ibu diswaya kan enggak tahu…” tegur ita seraya mendelikan kedua bola matanya ke arahku

“ duh…maafkan anak saya ya bu…silahkan lanjut diminum….”

Mendapati perkataan abah dan ita, ibu diswaya hanya mengembangkan senyumnya seraya meletakan gelas yang tengah di genggamnya di atas nampan lalu menggantinya dengan gelas yang lain

“ enggak apa apa pak icang…ini salah saya, lagi pula memang enggak sopan jika saya menggunakan gelas yang biasa pak icang pergunakan….”

Selepas dari tiupan ibu diswaya pada uap hangat yang keluar dari dalam gelas, ibu diswaya mereguk hampir setengah dai air hangat yang berada di dalam gelas, melihat hal itu, abah pun kini ikut mereguk air hangat dari dalam gelasnya, dan hal ini sepertinya abah lakukan guna menghormati ibu diswaya

“ apa enggak sebaiknya ibu diswaya berganti pakaian dengan pakaian milik istri saya, karena saya takut…”

“ ohh enggak usah pak icang…saya sudah merasa lebih enakan kok, lagi pula saya enggak akan terlalu lama di rumah ini, ngomong ngomong…istri pak icang dimana…?”

Belum sempat abah menjawab pertanyaan yang terucap dari mulut ibu diswaya, aku memberikan jawaban yang memberitahukan bahwa saat ini ambu tengah berada di ruang makan, mendapati jawabanku itu, kini tanpa berbasa basi lagi, abah langsung mengajak ibu diswaya untuk menemui ambu, entah apa yang akan mereka lakukan, namun saat ini aku lebih memilih untuk berdiam diri bersama ita di ruang tamu

“ ta…itu ibu diswaya yang kamu ceritakan waktu itu…?” tanyaku seraya mengarahkan pandangan mata ini ke arah jalan menuju ke ruang makan, karena saat aku tidak ingin pertanyaanku ini terdengar oleh ibu diswaya ataupun oleh abah

“ ita enggak tahu kang, ita kan sama sekali belum pernah melihatnya….tapi kalau melihat kecantikan serta profesinya, ita yakin kalau wanita itu memang ibu diswaya yang ita maksud….memangnya kenapa kang…?”

“ jujur saja ta….belakangan ini ada yang mengganggu pikiran akang…” jawabku seraya menghela nafas panjang

“ mengganggu pikiran kang atang bagaimana…?”

“ kehadiran dua orang wanita cantik yang hadir dalam waktu sangat berdekatan ini, apakah ada hubungannya dengan mimpi buruk yang akang alami…”

“ kang atang ini bicara apa sih…memangnya kang atang sudah bermimpi apa….?” tanya ita dengan rasa keingintahuannya yang tinggi

“ akang pernah bermimpi, rumah kita ini kedatangan seekor ular hitam…dan menurut akang ular hitam itu seperti mempunyai tujuan yang buruk pada keluarga kita….akang jadi merasa khawatir ta…”

“ ahhh kang atang ngaco…masa iya sih kedua wanita cantik itu, akang hubung hubungkan dengan mimpi buruk kang atang, enggak mungkinlah kang…karena dari apa yang kita lihat sekarang ini, kedua wanita cantik itu malah memberikan kebaikannya kepada keluarga kita, ibu diswaya memberikan pengobatan kepada ambu, sedangkan ka tias…ka tias memberikan kebaikannya kepada kang atang, dan khusus untuk ka tias…ita mempunyai penilaian khusus, ka tias itu adalah sosok wanita yang sempurna…sudah cantik…sopan, ka tias juga ramah kepada keluarga kita….jadi bagaimana kang, apakah kang atang masih berpikiran bahwa kedua sosok wanita cantik itu merupakan wujud nyata dari perwujudan ular hitam yang ada di dalam mimpi buruk kang atang itu…. ”

“ entahlah ta…semoga saja apa yang akang pikirkan itu hanyalah pikiran buruk akang semata…..”

cerbung.net

SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Enggan rasanya bagiku untuk menceritakan aib yang teramat kelam ini, namun di saat malam mulai menancapkan sisi kegelapannya dan di saat keheningan malam mulai menghadirkan suara suara tanpa raga yang silih berganti membisikan kisah kisah yang teramat sulit untuk aku terima dengan logika ini, aku hanya bisa terpaku dalam bisu dan membiarkan goresan tanganku ini mewakili jeritan hati dari suara suara tanpa raga itu…“ apakah mereka yang telah melakukan ini mbu….?” tanyaku kepada ambu diantara isak tangisnya yang terdengar begitu lirih “ entahlah tang…” “ atang yakin mbu…memang mereka yang melakukannya…”Untuk sesaat aku terdiam, bibirku bergetar hebat, semuanya ini mewakili rasa amarah yang begitu besar dihatiku ini“ atang bersumpah mbu, atang akan membalas semuanya ini….darah yang tertumpah…nyawa yang terenggut…adalah harga yang mereka harus bayar….”Sepenggal percakapan yang kini telah terpatri dalam catatan kehidupanku di dunia ini, kini telah menjadi awal sebuah petaka yang menyeretku pada sebuah pilihan untuk menyelesaikan permasalahan hidupku ini dengan jalan yang kelam…SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset