SANTET – Dendam Berakhir Petaka episode 5

Chapter 5

Satu minggu sudah waktu berlalu dari pembicaraan antara aku dan ita yang membahas tentang mimpi buruk yang aku alami serta kemungkinan hubungannya dengan kemunculan ningtias dan juga ibu diswaya di rumahku, sepertinya saat ini aku memang sudah harus mulai bisa melupakan mimpi buruk yang aku alami itu, hal ini dikarenakan, selama jeda waktu seminggu itu, aku sama sekali tidak melihat adanya peristiwa buruk yang menimpa keluargaku, justru selama jeda waktu seminggu itu, peruntungan baik seperti memayungi usaha warung sembako yang tengah aku kembangkan

“ kang atang…apa bisa saya bayarnya nanti setelah saya menjual hasil ladang ke tengkulak…?”

“ bisa teh…yang penting nanti pembayarannya lancar…” jawabku diantara kesibukanku dalam memasukan beras ke dalam kantong beras literan, lalu menyerahkannya kepada ibu warga kampung yang menjanjikan akan membayarnya setelah hasil ladangnya terjual ke tengkulak, hingga akhirnya setelah hampir beberapa kali aku kembali melayani warga kampung yang membeli keperluan rumah tangganya, terdengar suara ambu yang meminta agar aku beristirahat sejenak untuk makan siang sekaligus melaksanakan sholat zuhur

“sepertinya warung sembako kamu itu tambah ramai pembelinya ya tang…”

“ alhamdulillah mbu…jika semuanya bisa berjalan terus seperti ini, kemungkinan besar atang akan bisa mengembangkan warung sembako kita itu….”

“ mudah mudahan semuanya berjalan lancar tang….” ucap ambu seraya menuangkan air putih ke dalam gelasku yang sudah kosong

“ sebenarnya mbu, ada sesuatu yang ingin atang bicarakan kepada ambu…”

“ kamu ingin membicarakan apa tang….?”

“ ningtias mbu…apakah boleh atang mempekerjakan ningtias di warung sembako milik kita itu…”

“ mempekerjakan ningtias…?” tanya ambu yang sepertinya berusaha untuk meyakinkan dirinya atas apa yang telah di dengarnya

“ iya mbu…jujur saja, atang merasa kasihan melihat kehidupan ningtias, andai ningtias bisa bekerja di warung sembako milik kita, atang yakin…hal itu akan sedikit membantu perekonomian ningtias…”

Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, ambu mengarahkan tatapan matanya ke wajahku

“ tang…tang…kamu ini anak ambu…jadi ambu bisa mengetahui apa sebenarnya yang ada di hati kamu, ambu yakin…selain kamu menaruh rasa kasihan kepada ningtias, kamu juga mempunyai perasaan kepada ningtias…”

Mendapati perkataan ambu, aku hanya bisa terdiam, sejujurnya apa yang telah dikatakan oleh ambu tersebut memang benar adanya, aku tidak bisa memungkiri munculnya benih benih kasih sayang kepada ningtias setelah perjumpaan pertama aku dengan ningtias

“ tapi tang…kamu harus ingat satu pesan ambu, jangan pernah kamu berkeinginan untuk memiliki seseorang hanya memandang dari kecantikannya, ada banyak hal yang harus kamu pertimbangkan, dan menurut ambu…hanya satu kekurangan kita dalam menilai ningtias…”

“ apa itu mbu….?” tanyaku memotong perkataan ambu

“ asal usulnya tang…apa kamu mengetahui asal usul ningtias…?, karena menurut cerita yang ambu dengar dari ita, asal usul ningtias terputus bersamaan dengan kematian ibunya…”

“ apakah dengan begitu ambu berpikiran, kalau ningtias itu berasal dari keluarga yang enggak baik….?

“ bukan tang…bukan begitu maksud dari perkataan ambu tadi, bisa jadi ningtias berasal dari keluarga baik baik, hanya saja untuk saat ini, kita belum bisa mengetahuinya secara pasti, dan andaikan nanti kamu berjodoh dengan ningtias, kamu baru akan mengetahui jawabannya…intinya saat ini ambu hanya bisa berpesan agar kamu berhati hati dalam memilih pendamping hidup….”

Selepas dari perkataannya itu, ambu berjalan meninggalkan meja makan, waktu yang kini telah menunjukkan pukul satu siang hari, mengingatkanku pada keberadaan ita yang belum terlihat batang hidungnya di rumah ini

“ enggak biasanya ita pulang telat seperti ini….” gumamku dalam rasa khawatir, hingga akhirnya setelah hampir kurang lebih satu jam lamanya aku menunggu kepulangan ita dan ita masih juga belum menunjukkan tanda tanda kehadirannya, aku memutuskan untuk mencari ita ke sekolah dengan terlebih dahulu menutup warung

“ kamu harus mencari ita sampai ketemu tang…ambu khawatir….”

“ jangan berpikir yang enggak enggak mbu…mudahan mudahan ita masih berada di sekolahnya…”

Tanpa berkeinginan untuk berlama lama lagi dalam menatap ekspresi wajah ambu yang penuh dengan rasa kekhawatirannya, aku mulai melangkahkan kaki ini menapaki jalan setapak kampung yang menuju ke sekolah, berbagai macam dugaan yang mungkin melatarbelakangi keterlambatan ita untuk pulang ke rumah, kini telah membuat langkah kakiku ini terasa begitu ringan, hingga akhirnya setelah hampir kurang lebih lima belas menit lamanya aku berjalan, keberadaan dari beberapa pelajar yang tengah berada di gerbang sekolah, memberikanku sebuah harapan bahwa saat ini ita memang masih berada di sekolah

“ maaf dik…. apa adik mengenal ita…?” tanyaku pada seorang pelajar wanita yang memang telah sedari tadi memperhatikan gerak gerikku dalam mencari keberadaan ita di sekolah

“ ita…ita yang mana ya kang….?”

Dari ekspresi wajah yang diperlihatkan oleh pelajar wanita itu, sepertinya pelajar wanita itu memang benar benar tidak mengenal ita, mungkin hal ini disebabkan karena mereka tidak sekelas atau bisa jadi pelajar wanita itu merupakan adik kelas ita, mendapati kenyataan itu, aku kembali mencoba untuk menanyakan keberadaan ita kepada beberapa pelajar yang lain, hingga akhirnya di saat rasa putus asa mulai mendera diriku karena tidak ada satupun dari pelajar yang aku tanyai itu mengenal ita, suara seorang wanita yang memanggil namaku dan terdengar dari arah belakang tubuhku ini, telah membuat degup jantungku ini sedikit berdebar diantara perasaan khawatir karena ita belum bisa aku temukan dan juga perasaan bahagia, karena suara yang telah aku dengar itu, adalah suara wanita yang telah menaburkan benih benih kasih di hatiku ini

“ tias…” gumamku seraya memandang ke arah wajah ningtias, namun sepandai pandainya aku yang mencoba untuk menyembunyikan rasa kekhawatiranku atas keberadaan ita yang belum juga aku temukan, pancaran dari ekspresi wajahku yang menunjukkan rasa kekhawatiranku yang tinggi, sepertinya telah sedikit mempengaruhi emosi ningtias, hal ini diperlihatkan dengan nada suara ningtias yang terdengar begitu panik dalam menanyakan maksud dari kedatanganku di sekolah

“ jadi sampai dengan saat ini…ita belum kembali ke rumah…?”

“ belum tias…sekarang ini aku benar benar bingung, entah harus kemana lagi aku mencari ita…”

“ ya tuhannn…kita harus mencari ita kang…kita harus bisa menemukannya…”

Suara ningtias terdengar begitu parau dalam mengucapkan perkataannya itu

“ sebaiknya kamu tenang dulu…aku akan mencoba untuk mencarinya kembali, andaikan nanti aku tidak bisa juga menemukannya, aku akan memberitahukan hal ini kepada abah dan juga kepada warga kampung, agar warga kampung bisa membantu untuk melakukan pencarian….”

Kepanikan yang dirasakan oleh ningtias sepertinya mulai sedikit memudar begitu mendengar perkataanku itu, tapi kini baru saja aku merasa lega karena telah dapat meredakan kepanikan ningtias, tiba tiba saja ningtias berteriak dengan intonasi suaranya yang tidak terlalu tinggi, dalam mengungkapkan keteringatannya akan sesuatu yang terhubung dengan ita

“ maaf kang…maaf…” ujar ningtias yang sepertinya menyadari bahwa suara teriakannya itu telah mengejutkanku dan juga memancing perhatian dari beberapa pelajar sekolah

“ sebenarnya tadi itu, sewaktu jam istirahat sekolah, aku sempat bertemu dengan ita di kantin, tapi ita terlihat enggak seperti biasanya, wajahnya terlihat begitu murung dan sarat dengan amarah, entah apa yang telah dialaminya, hanya saja ketika aku mencoba untuk mencari tahu sumber dari permasalah yang menyebabkan ita semurung itu, ita sempat mengatakan, bahwa dia merasa kecewa dengan seseorang….”

“ merasa kecewa dengan seseorang…?”

“ iya kang…hanya saja ita enggak mau mengatakan siapa orang yang telah mengecewakannya itu, tapi…sebelum aku berpisah dengan ita, ita mengatakan bahwa dia akan menceritakan permasalahannya itu kepada kamu kang….”

“ ya tuhann…berarti ada sesuatu yang kurang baik yang melatarbelakangi menghilangnya ita…tapi apa….?” tanyaku di dalam hati dan berbalas dengan ketidakmampuanku untuk menjawab pertanyaanku itu, jujur saja, apa yang telah dikatakan oleh ningtias saat ini, kini telah membuat rasa kekhawatiranku semakin bertambah besar

“ baiklah tias..kalau begitu aku pamit dulu, mudah mudahan sebelum sore nanti, aku sudah bisa menemukan ita…”

Selepas dari perkataanku itu, aku segera bergegas pergi meninggalkan sekolah, warna langit yang semula berwarna biru, kini mulai tersamar oleh awan hitam yang bergerak mengikuti hembusan angin

“ tolong aku ta….kamu ini sebenarnya sedang berada dimana sih….”

Diiringi dengan tatapanku yang memandang ke berbagai arah guna mencari keberadaan ita, aku terus berjalan hingga tanpa terasa langkah kakiku ini mulai berjalan semakin jauh meninggalkan lokasi dimana warga kampungku banyak memilih untuk bermukim disana, dan untuk sekedar gambaran, ada beberapa lokasi di kampungku ini yang memang dihindari untuk dijadikan sebagai lokasi tempat tinggal, salah satunya adalah lokasi yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan kecil perbukitan, hal ini dikarenakan, selain warga kampungku menganggap lokasi itu sangat rawan dengan keberadaan beberapa hewan buas, lokasi itu juga terkenal dengan keangkerannya, bisa dikatakan hampir sebagian besar dari warga kampung mempercayai, kawasan hutan kecil perbukitan itu adalah tempat tinggal dari bangsa lelembut

“ rasanya sangat enggak mungkin ita berjalan sampai ke lokasi ini…..” ujarku diantara tetesan keringat yang mulai membasahi kaos yang aku kenakan, lama kini aku terdiam dengan tatapan memandang ke arah lapangan luas yang di penuhi dengan ilalang liar yang tubuh hampir di sebagian besar area lapangan, keberadaan dari pepohonan besar yang terlihat di kejauhan, kini nampak mulai tersamar oleh redupnya sinar mentari senja yang mengantarkan turunnya butiran halus air hujan

“ situasi ini benar benar enggak bagus….bisa celaka aku jika aku memaksakan diri untuk masuk ke dalam kawasan hutan kecil itu….”

Berbagai macam cerita menyeramkan yang terhubung dengan hutan kecil perbukitan, kini mulai mengotori pikiranku dengan energi negatifnya, mendapati hal itu, aku rasa adalah hal yang tepat jika saat ini aku memilih untuk menyalurkan energi positif ke dalam pikiranku ini dengan cara berpikir bahwa ita memang tidak mungkin berada di tempat ini, apalagi sampai memasuki kawasan hutan kecil perbukitan, tapi apabila sampai dengan malam nanti ita masih belum bisa juga ditemukan, aku akan mengajak warga kampung untuk memeriksa bagian dalam dari kawasan hutan kecil perbukitan guna mencari keberadaan ita

“ ahhh sebaiknya aku pulang sekarang…sebelum hari menjadi semakin gelap…”

Baru saja genap tiga langkah aku berjalan dari tempatku berpijak tadi, secara samar aku seperti mendengar suara teriakan yang bersumber dari arah hutan kecil perbukitan, walaupun saat ini aku merasa tidak yakin dengan apa yang aku dengar itu, aku tetap menghentikan langkah kaki ini seraya memandang ke arah hutan kecil perbukitan, intensitas dari butiran air hujan yang turun semakin deras, telah membuatku sesekali menyingkirkan butiran air hujan yang menghalangi pandangan mataku

“ apa mungkin aku yang telah salah dengar….” gumamku masih dengan pandangan menatap ke arah hutan kecil perbukitan, namun kini setelah beberapa saat lamanya aku mencoba untuk memastikan bahwa suara teriakan yang telah aku dengar tadi adalah suara teriakan manusia, aku kini hanya mendapati keheningan yang sesekali terusik oleh suara gemersik dari hembusan angin yang menyapu semak ilalang, mendapati hal itu, tanpa berkeinginan untuk menunggu lebih lama lagi atas kemungkinan kehadiran seseorang di tempat ini, aku memilih untuk melanjutkan berjalan, tapi baru saja beberapa langkah aku berjalan, suara teriakan yang kembali terdengar dari arah hutan kecil perbukitan, telah membuat langkah kakiku ini kembali terhenti

“ oiiiiii…..!” teriakku lantang ke arah hutan kecil perbukitan dan berbalas dengan pergerakan dari beberapa rerimbunan semak ilalang, dan entah mengapa, begitu mendapati hal itu, aku merasa sangat yakin pergerakan dari beberapa rerimbunan semak ilalang itu, bukanlah karena ulah hembusan angin, hal ini dapat terlihat dengan adanya beberapa bagian dari rerimbunan semak ilalang yang bergerak cukup kuat, layaknya tersibak oleh keberadaan seseorang di dalamnya, dan benar saja, selang beberapa saat setelah bergeraknya rerimbunan semak ilalang, kini dari balik rerimbunan semak ilalang, terlihat kemunculan empat orang warga kampung, yang dua orang diantaranya sudah aku kenali, tapi yang cukup membuat aku terkejut begitu melihat kemunculan empat orang warga kampung tersebut adalah terlihatnya keberadaan ita diantara mereka dengan posisi tubuhnya yang tengah dibopong oleh salah seorang warga kampung, mendapati hal itu, aku segera berlari menghampiri mereka tanpa memperdulikan lagi kondisi jalan tanah yang licin karena terbasahi oleh air hujan

“ itaa..! apa yang terjadi pada ita….mengapa ita ada bersama kalian…?”

Beberapa pertanyaan yang terucap secara bertubi tubi dari mulutku ini menunjukan rasa kekhawatiranku yang tinggi atas kondisi ita saat ini

“ sebaiknya kamu tenang dulu tang, kita bicarakan semuanya ini sambil berjalan pulang, guna menghindari hari yang semakin beranjak gelap dan juga hujan yang mungkin sebentar lagi akan turun lebih deras lagi….” saran salah seorang warga kampung yang berusia lebih tua dariku, dia bernama kang ndan, mendapati saran tersebut, aku segera meminta kepada kang ndan untuk bergantian dalam membopong tubuh ita, dan kini diantara keberadaan tubuh ita yang telah berada di dalam boponganku, aku bisa merasakan rasa hangat di tubuhnya, dan hal ini telah sedikit banyak meredakan rasa kekhawatiranku atas kondisi ita saat ini

“ sial…bau busuk ini muncul lagi….” gerutu salah seorang warga kampung yang tidak begitu aku kenali, dan sepertinya apa yang telah tercium oleh warga kampung tersebut, dirasakan juga oleh warga kampung yang lain, termasuk juga aku

“ aneh juga ya…tadi itu kita mencium bau busuk ini di saat kita menemukan ita, andai memang bau busuk ini berasal dari bau bangkai hewan, bagaimana mungkin baunya bisa tercium sampai sejauh ini…”


cerbung.net

SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Enggan rasanya bagiku untuk menceritakan aib yang teramat kelam ini, namun di saat malam mulai menancapkan sisi kegelapannya dan di saat keheningan malam mulai menghadirkan suara suara tanpa raga yang silih berganti membisikan kisah kisah yang teramat sulit untuk aku terima dengan logika ini, aku hanya bisa terpaku dalam bisu dan membiarkan goresan tanganku ini mewakili jeritan hati dari suara suara tanpa raga itu…“ apakah mereka yang telah melakukan ini mbu….?” tanyaku kepada ambu diantara isak tangisnya yang terdengar begitu lirih “ entahlah tang…” “ atang yakin mbu…memang mereka yang melakukannya…”Untuk sesaat aku terdiam, bibirku bergetar hebat, semuanya ini mewakili rasa amarah yang begitu besar dihatiku ini“ atang bersumpah mbu, atang akan membalas semuanya ini….darah yang tertumpah…nyawa yang terenggut…adalah harga yang mereka harus bayar….”Sepenggal percakapan yang kini telah terpatri dalam catatan kehidupanku di dunia ini, kini telah menjadi awal sebuah petaka yang menyeretku pada sebuah pilihan untuk menyelesaikan permasalahan hidupku ini dengan jalan yang kelam…SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset