SANTET – Dendam Berakhir Petaka Episode 6

Chapter 6

“ sudah…sudah…jangan berpikir yang enggak enggak….hembusan anginlah yang telah membawa bau busuk ini sampai kesini…” ujar kang ndan, mencoba untuk mengusir energi negatif dari pikiran kami, hingga akhirnya selepas dari perkataannya itu, kang ndan mengajak kami untuk segera pergi meninggalkan wilayah kampung yang berbatasan dengan kawasan hutan kecil perbukitan

“ kang atang….untung saja tadi itu, kita menemukan ita…kalau enggak, aku enggak bisa membayangkan bagaimana keadaan ita jika harus berada seorang diri di kawasan hutan kecil perbukitan itu….” ujar salah seorang warga kampung yang bernama deden, keberadaan dari sangkar burung yang berada di tangan deden dan juga di tangan salah seorang warga kampung yang lain, mengindikasikan bahwa keempat warga kampung tersebut tengah beraktifis melakukan perburuan burung di kawasan hutan kecil perbukitan, dan tanpa sengaja mereka menemukan ita

“ jadi kalian itu menemukan ita di kawasan tengah hutan…?”

“ enggak kang…kami menemukan ita di saat kami memutuskan untuk pulang, saat itu ketika posisi kami sudah berada di kawasan pinggir hutan, tanpa sengaja kami melihat keberadaan ita yang tengah berjalan diantara pepohonan besar….” jawab deden seraya mengadahkan wajahnya ke arah langit, sepertinya saat ini deden mulai merasa terusik dengan semakin derasnya curah hujan

“ sebaiknya kita berteduh dulu, kasihan adiknya si atang kalau kita memaksakan diri untuk terus berjalan…”

Tatapan mata kang ndan terlihat memandang ke arah beberapa tanah garapan milik warga kampung yang lokasinya berada tepat di sisi jauh kiri jalan, keberadaan sebuah gubuk kecil yang terselimuti oleh kegelapan, tidak luput dari tatapan mata kang ndan, dan kini tanpa mengeluarkan sepatah katapun, kang ndan melangkahkan kakinya menuju ke arah gubuk kecil, melihat hal tersebut, aku beserta tiga orang warga kampung lainnya, segera berjalan mengikuti langkah kaki kang ndan, hingga akhirnya setibanya kami di gubuk kecil, kang ndan memintaku agar meletakan tubuh ita di atas rangkaian beberapa bambu panjang yang di fungsikan sebagai lantai dari bangunan gubuk kecil

“ tenang tang…akang yakin adik kamu itu baik baik saja, tapi jujur saja saat ini akang agak sedikit bingung…akang masih bertanya tanya, apa sebenarnya tujuan adik kamu berjalan ke kawasan hutan kecil perbukitan…karena bukanlah hal yang normal jika adik kamu sengaja menempuh perjalanan jauh menuju ke hutan kecil perbukitan dengan tujuan bermain….” ujar kang ndan diantara pergerakan tanganku dalam meletakan tubuh ita di lantai bambu

“ kang ndan…apa kang ndan ingat…sewaktu kita menemukan ita tadi, diantara ekpsresi kepanikannya…ita sempat mengatakan…”

“ den…” gumam kang ndan memotong perkataan deden, entah apa alasan kang ndan memotong perkataan deden, tapi yang pasti, hal itu telah menimbulkan kecurigaan di hatiku, bahwa ada sesuatu yang tengah berusaha di tutupi oleh kang ndan

“ tolong lanjutkan perkataan kamu itu den…memangnya ita telah mengatakan apa…?”

Dengan wajah yang merasa bersalah karena telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakannya, deden mengarahkan tatapan matanya ke wajah kang ndan, tapi begitu melihatku yang juga mengarahkan tatapan mata ini ke wajah kang ndan, dengan sangat terpaksa, deden kembali melanjutkan perkataannya, sungguh apa yang telah dikatakan oleh deden saat ini, kini telah membuatku berpikir tentang apa sebenarnya yang telah menimpa ita hingga ita mengatakan perkataan itu

“ apakah benar kang ndan dengan apa yang dikatakan oleh deden itu…?”

“ iya tang…memang benar ita mengatakan itu, pada waktu ita mengatakan…jangan..saya enggak akan menceritakannya…jangan bunuh saya…, di saat itu akang berpikir apakah ita telah melihat sesuatu ataukah ada sesuatu yang telah di dengar oleh ita, karena pada saat ita mengatakan perkataan itu, ita menutupi telinganya dengan memasang ekspresi wajah ketakutan…”

“ ya tuhannn…apakah mungkin ini semua karena efek dari kelancangan ita yang telah memasuki kawasan hutan kecil perbukitan, hingga membuat penunggu di kawasan hutan kecil perbukitan itu merasa terusik dengan kehadiran ita, karena dari apa yang kita semua ketahui, hutan kecil perbukitan itu terkenal dengan keangkerannya….” ucapku seraya memandang ke arah wajah ita, rasa iba yang tengah kurasakan ini kini telah mengantarkan pergerakan tanganku dalam membelai kening ita

“ kamu ini bicara apa sih tang…apa yang kamu katakan itu sama sekali belum terbukti kebenarannya, keangkeran hutan kecil perbukitan itu hanya di yakini oleh sebagian besar warga di kampung kita, dan itu enggak berlaku bagi kami, karena selama kami menjalankan aktifitas berburu burung di hutan kecil perbukitan, kami sama sekali enggak pernah menjumpai sesuatu yang menyeramkan, bahkan suatu saat, kami pernah merasa penasaran dan mencari keberadaan curug yang ditinggali oleh dukun sakti, yang konon katanya berkedudukan di kawasan hutan kecil perbukitan…tapi apa hasilnya ?…semuanya itu hanya omong kosong tang, kami enggak pernah menemui keberadaan curug itu di dalam hutan…”
Selepas dari perkataannya itu, kang ndan mengembangkan senyumnya seraya menepuk nepuk bahuku

“ percayalah tang….semua perkataan adik kamu itu enggak lebih hanyalah efek dari rasa lelahnya…dan akang yakin, pasti besok…adik kamu itu sudah kembali normal lagi…”

“ aamiin kang…aamiin….”

Rasa lega yang dipaksakan, sepertinya kalimat itulah yang bisa menggambarkan suasana hatiku saat ini, senyum yang mengembang di wajahku ini, seperti terbelenggu oleh rasa kekhawatiranku yang merasa ada sesuatu yang janggal dari kejadian yang telah ita alami. Hingga akhirnya setelah hampir kurang lebih tiga puluh menit lamanya kami berteduh di gubuk kecil, mendapati curah hujan yang mulai mereda, kami memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanan menuju ke kampung, dan setibanya kami di kampung, beberapa warga kampung yang melihat kedatangan kami ini, seketika mengerumuni keberadaan kami, hal ini di sebabkan karena mereka merasa terkejut melihat aku yang tengah membopong tubuh ita, berbagai macam pertanyaan yang terucap dari mulut mereka, mengindikasikan bahwa saat ini mereka sangat khawatir dengan kondisi ita saat ini. Ingin rasanya saat ini aku menjawab jujur mengenai penyebab dari mengapa ita menjadi seperti ini, tapi isyarat mata yang diberikan oleh kang ndan, deden, dan juga dua warga kampung lainnya, telah membuatku memilih untuk berdiam diri karena aku takut jawabanku ini akan membuat panik warga kampung

“ sebaiknya kamu pulang tang, biar kami yang menenangkan warga kampung…”

Selepas dari perkataannya itu, kang ndan, deden, serta dua orang warga kampung lainnya, mencoba untuk menenangkan warga kampung, mendapati hal itu, aku segera bergegas menuju ke rumah, dan mendapati keberadaan ambu yang tengah menanti kepulanganku dan ita di teras rumah, dan kini begitu melihat kehadiranku yang tengah membopong tubuh ita, ambu langsung berlari menghampiriku diiringi dengan ekspresi kepanikannya

“ apa yang terjadi pada adik kamu tang….?” tanya ambu dengan suaranya yang bergetar

“ atang enggak tahu mbu…atang mendapati ita sudah berada dalam kondisi seperti ini, dan yang menemukan ita pun bukannya atang mbu, tapi empat orang warga kampung…mereka menemukan ita tengah berada di kawasan hutan kecil perbukitan….”

“ hahh…hutan kecil perbukitan….?”

Selepas dari perkataannya itu, ambu mengajakku untuk memasuki rumah, keadaan ita yang belum juga sadarkan diri, membuatku merasa sulit untuk mencari keterangan dari ita guna menanyakan atas apa yang telah dialaminya

“ kamu keluar dulu tang…biar ambu mengganti pakaian ita yang basah itu…” pinta ambu begitu aku meletakkan tubuh ita di atas tempat tidur, mendapati permintaan ambu tersebut, aku segera keluar dari dalam kamar guna membersihkan diri dan juga berganti pakaian

Uap hangat dari segelas air jahe yang telah disajikan oleh ambu di meja makan, kini menemani kesendirianku di dalam menanti abah yang belum juga pulang, waktu yang telah menunjukan pukul sembilan malam, menghadirkan suasana hening diantara siraman air hujan yang kembali turun membasahi bumi

“ bagaimana keadaan ita… mbu…?” tanyaku begitu melihat ambu keluar dari dalam kamar ita

“ masih belum siuman juga tang….andai sampai besok, kondisi ita masih seperti ini, kita harus segera mencari pengobatan agar kondisi ita enggak berlarut larut seperti ini…”

“ iya mbu…sebaiknya kita mencari pengobatan yang terdekat terlebih dahulu, ambu kan tau sendiri…dokter yang terdekat dari kampung kita ini, berjarak sangat jauh dari kampung kita ini….”

Ambu menganggukan kepalanya, segelas air jahe hangat yang diperuntukan bagi dirinya kini direguknya

“ rencana atang sih…kalau sampai besok kondisi ita masih seperti ini, atang akan membawanya ke rumah ibu diswaya, bagaimana mbu…apakah ambu setuju…?”

“ ambu setuju saja tang…walaupun pengobatan yang dilakukan oleh ibu diswaya kepada ambu enggak menampakan hasil…tapi hal itu mungkin enggak berlaku kepada ita, bisa jadi pengobatan yang dilakukan oleh ibu diswaya, sangat cocok untuk ita….”

Selepas dari jawaban ambu tersebut, aku kembali melayangkan tatapan mata ini ke arah jam, nampak terlihat waktu telah berjalan lima belas menit dari pukul sembilan malam

“ abah sebenarnya ada urusan apa ya mbu…sampai dengan larut malam seperti ini, kok masih belum juga pulang…”

“ ambu enggak tahu tang, sudah hampir empat hari belakangan ini, abah kamu pulang malam terus…setiap ambu tanya, abah kamu selalu bilang…sedang ada urusan penting yang harus segera diselesaikannya…”

“ urusan penting…urusan penting…semoga saja kejadian yang menimpa ita ini dianggap oleh abah sebagai urusan penting….”

“ hushhh…kamu enggak boleh berkata seperti itu kepada orang tua …enggak baik tang, mungkin abah kamu memang sedang ada urusan penting…”

Selepas dari perkataannya itu, ambu beranjak bangun dari duduknya lalu berjalan memasuki kamar mandi, namun baru saja beberapa saat ambu berada di dalam kamar mandi, ambu kembali keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju ke kamar ita

“ mbu…biar malan ini, atang yang menjaga ita, sebaiknya ambu istirahat aja….” ujarku begitu melihat ambu yang tengah memutar gagang pintu kamar ita

“ gayamu itu tang…mau menjaga ita, memangnya kamu mampu untuk menjaga ita…”

Tanpa sedikitpun menolehkan pandangannya ke arahku, selepas dari jawabannya itu, ambu berjalan memasuki kamar ita lalu menutup pintu kamar, mendapati hal itu, entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang janggal dengan perkataan ambu, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyusul ambu ke dalam kamar ita, tapi baru saja beberapa langkah aku meninggalkan meja makan, suara teriakan ambu yang terdengar dari arah dalam kamar mandi, telah membuat langkah kakiku ini terhenti sejenak dalam rasa bingung, namun semuanya itu tidak berlangsung lama, seiring dengan kembali terdengarnya suara teriakan ambu yang memanggil namaku, rasa kekhawatiranku yang tinggi atas apa yang mungkin telah terjadi kepada ambu, kini telah mengantarkan langkah kakiku menuju ke pintu kamar mandi

Hening…yaa momen itulah yang tercipta saat ini, tidak ada lagi aku mendengar suara teriakan ambu yang berteriak memanggil namaku, dan kini diantara degup jantungku yang serasa menggetarkan dada ini, aku hanya bisa terpaku menatap ke arah pintu kamar mandi dengan hati yang penuh kebimbangan, sungguh..situasi ini menempatkan diriku pada dua buah pilihan yang teramat sulit, apakah saat ini aku harus menuruti rasa takutku yang pada akhirnya akan menempatkanku pada rasa penyesalan apabila kejadian yang buruk memang benar benar terjadi dan menimpa diri ambu, ataukah aku harus memberanikan diri memasuki kamar mandi dan mendapati sesuatu yang mungkin akan melonjakan rasa takutku pada titik tertingginya

“ brengsekk…mengapa aku harus berada dalam situasi ini…”

Seiring dengan kalimat makian yang terucap di dalam hatiku, aku memutuskan untuk memberanikan diri mengetuk pintu kamar mandi seraya memanggil ambu, dan rupanya apa yang aku lakukan ini kini berbuah dengan terdengarnya suara rintihan kesakitan dari dalam kamar mandi, mendapati hal itu, entah mengapa kata hatiku mengatakan agar aku berhati hati di dalam mengambil sebuah keputusan di saat aku terjebak di dalam situasi yang tidak menguntungkan seperti ini, dan kini diantara keberadaanku yang telah kembali menjauhi pintu kamar mandi, tatapanku memandang ke arah celah besar yang berada di bawah pintu kamar mandi akibat dari jarak yang lebar antara pintu kamar mandi dengan lantai

“…..tang…tolong ambu…tolong…”

Lirih dan penuh dengan pengharapan akan adanya pertolongan, sepertinya itulah yang bisa aku tangkap dari suara rintihan yang kembali terdengar dari arah dalam kamar mandi, mendapati hal itu, kini tidak ada pilihan lain bagiku selain aku harus mengalahkan rasa takutku, karena aku tidak mau jika nantinya aku akan hidup dalam rasa penyesalan karena telah mengabaikan sebuah kejadian buruk yang mungkin saat ini tengah ambu alami

“ jangan takut tang…jangan sampai rasa takutmu itu akan membuatmu menyesal di kemudian hari…”

Diantara perkataanku yang terus terucap secara berulang ulang di dalam hatiku ini, gerak langkah kakiku, kini mengantarkan keputusanku yang memilih untuk mencari tahu atas apa yang telah terjadi di dalam kamar mandi melalui celah besar yang berada di bawah pintu kamar mandi, hingga akhirnya seiring dengan pergerakan tubuhku yang telah mengambil posisi layaknya seseorang yang tengah bersujud, aku mengarahkan tatapan mata ini ke arah bagian dalam kamar mandi , dan di saat itulah aku mendapati sebuah kenyataan bahwa keputusan yang telah aku ambil, memanglah sebuah keputusan yang tepat, dan aku tidak akan pernah hidup dalam rasa penyesalan

“….tolong ambu….tolong ambu tang….”

Entah apa yang tengah dialami oleh ambu saat ini, hanya saja keberadaan tubuh ambu yang membelakangi tubuhku dengan posisi kedua tangannya yang tengah memegangi dinding, tengah berdiri dengan tubuh yang gemetar, bagian kepalanya yang terkulai lemas ke depan, mengantarkan jatuhnya butiran darah yang menetes begitu deras ke lantai kamar mandi, mendapati hal itu, tanpa berpikir panjang lagi, aku segera bangkit dari posisiku sekarang ini, keberadaan dari tangan kananku yang telah memutar gagang pintu kamar mandi, mengiringi terjangan bahuku pada pintu kamar mandi, dan hal ini telah menyebabkan terbukanya pintu kamar mandi secara paksa, dengan meninggalkan kerusakan pada bagian gerendel pintu kamar mandi yang terlihat sudah berkarat

cerbung.net

SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Enggan rasanya bagiku untuk menceritakan aib yang teramat kelam ini, namun di saat malam mulai menancapkan sisi kegelapannya dan di saat keheningan malam mulai menghadirkan suara suara tanpa raga yang silih berganti membisikan kisah kisah yang teramat sulit untuk aku terima dengan logika ini, aku hanya bisa terpaku dalam bisu dan membiarkan goresan tanganku ini mewakili jeritan hati dari suara suara tanpa raga itu…“ apakah mereka yang telah melakukan ini mbu….?” tanyaku kepada ambu diantara isak tangisnya yang terdengar begitu lirih “ entahlah tang…” “ atang yakin mbu…memang mereka yang melakukannya…”Untuk sesaat aku terdiam, bibirku bergetar hebat, semuanya ini mewakili rasa amarah yang begitu besar dihatiku ini“ atang bersumpah mbu, atang akan membalas semuanya ini….darah yang tertumpah…nyawa yang terenggut…adalah harga yang mereka harus bayar….”Sepenggal percakapan yang kini telah terpatri dalam catatan kehidupanku di dunia ini, kini telah menjadi awal sebuah petaka yang menyeretku pada sebuah pilihan untuk menyelesaikan permasalahan hidupku ini dengan jalan yang kelam…SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset