Sebuah Rasa episode 1

Chapter 1

“Gue mau nikah.”

Perempuan itu berujar senang. Tersenyum memamerkan belahan dagu seolah menyatakan ia memang tercipta begitu sempurna. Matanya berbinar senang seiring ungkapan yang baru saja ia katakan. Tak ada beban seolah ia begitu bahagia. Sesekali terdengar tawa halusnya yang menjadi khas saat ia bercerita mengenai kebahagiannya tersebut.

Aku ikut tersenyum, akan tetapi bukan sebagai penghormatan untuk hari bahagianya itu. Melainkan untuk dirinya, seperti yang selalu kukatakan. Aku turut senang jika pun ia demikian. Memangnya, apalagi yang patut diberikan oleh seseorang yang bertitle sebagai sahabatnya ini? Mengharap ia batal menikah dan kemudian mengajakku hidup bersama dengan menyatakan ia mencintaiku seperti aku mencintainya?

Mustahil Adham!

Kami berteman semenjak menduduki bangku SMA enam tahun lalu. Semanjak hari itu hubunganku dengan Hanan Kayra semakin dekat. Di sekolah dulu, aku hanya punya teman Kayra seorang. Sedangkan teman lain akan lebih dulu berpikir jika ingin berteman denganku. Mengingat keadaan badanku yang beda dengan murid lainnya.

Hampir di seluruh anggota badanku terdapat warna hitam legam berbentuk bulat. Bukan daging, melainkan memang warna yang berbeda dengan kulit pada umumnya. Seperti tinta yang tepercik pada baju. Tetes-tetesnya tidak merambat, hanya menguar di beberapa tempat. Seperti halnya badanku. Legam di bagian alis kiri, di lengan kanan juga di bagian leher. Dengan ukuran sama besar meski di satu titik saja.

Tak ada yang mengganggu dengan keadaanku sebenarnya. Aku bukan cacat, aku manusia normal pada umumnya. Berjalan dengan kaki sendiri dan mampu berbicara dengan lancar. Hanya saja warna legam hitam tersebut menjadi bahan ejekan teman yang juga kala itu menjulukiku dengan sebutan ‘Adham kodok’.

Saat itu, hanya Kayra yang sudi berteman. Menguatkanku juga memberi semangat dengan setiap pelajaran yang kukerjakan. Uluran semangat darinya membuatku seolah termotivasi untuk fokus belajar tanpa harus pusing mendengar ejekan dari teman lain. Sehingga seiring kebersamaan itu, sampai umur beranjak naik, aku menaruh rasa pada Kayra sampai sekarang, tentunya dalam diam.

“Kapan?” tanyaku.

Kayra meletakkan sendok ice creamnya, mendongak menatapku. Lalu, tersenyum sambil menjawab.

“Masih tiga bulan lagi, Am. Banyak persiapan yang harus diurus.”

Aku mengangguk sambil menatapnya dalam. Memperhatikan seluruh inci wajah yang menarik perhatianku itu selama dua tahun belakangan ini. Hidungnya tidak begitu mancung, dengan mata sipit juga sedikit putaran kecil di samping bibirnya ketika ia tertawa.

“Kenapa, Am?” tanyanya.

Aku terkekeh kemudian menggeleng cepat. Malu ketika ia menangkap basah perhatianku.

“Mau hujan, Ra. Kita pulang, ya?” ucapku kemudian.

Ia mengangguk, ikut beranjak mengikutiku dari belakang. Setidaknya aku masih bisa memuaskan diri dengan kebiasaan yang ia lakukan, sebelum tiga bulan mendatang itu mematahkan harapan.

***

“Wee, Kayra mau nikah itu beneran?”

Rama berteriak heboh mendengar ucapanku tentang Kayra. Ia tanpa sadar menduduki kakiku yang tengah berbaring pada kasur mengistirahatkan badan. Aku tak menjawab, memilih memejamkan mata dengan lengan di atas kepala.

“Lu belum ngomong soal perasaan lu, Am?” Kali ini, suara Rama terdengar hati-hati. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

Kami sama terdiam, tak ada yang saling berbicara. Jikapun aku mengungkapkan segalanya pada Kayra, apa itu dapat mengubah keputusannya untuk menikah?

Seperti ucapan Ibu Kayra beberapa waktu lalu saat aku berkunjung ke rumahnya.

‘Kamu salah satu manusia beruntung yang dipilih Kayra sebagai teman.’

Aku tersenyum kala itu, meski perih namun memang begitu adanya. Cinta hanya berlaku untuk manusia sempurna.

“Kayra teman kita, Ram. Apapun yang dia lakukan harus kita dukung.”

Pelan, kutepuk bahu Rama yang masih terdiam. Ia menatapku dengan pandangan heran, seolah ingin bertanya namun sejurus kemudian hanya mengangguk.

“Gih, sono. Balik ke kasurmu! Aku mau tidur!” usirku.


cerbung.net

Sebuah Rasa

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
"Gue mau nikah."Perempuan itu berujar senang. Tersenyum memamerkan belahan dagu seolah menyatakan ia memang tercipta begitu sempurna. Matanya berbinar senang seiring ungkapan yang baru saja ia katakan. Tak ada beban seolah ia begitu bahagia. Sesekali terdengar tawa halusnya yang menjadi khas saat ia bercerita mengenai kebahagiannya tersebut.Aku ikut tersenyum, akan tetapi bukan sebagai penghormatan untuk hari bahagianya itu. Melainkan untuk dirinya, seperti yang selalu kukatakan. Aku turut senang jika pun ia demikian. Memangnya, apalagi yang patut diberikan oleh seseorang yang bertitle sebagai sahabatnya ini? Mengharap ia batal menikah dan kemudian mengajakku hidup bersama dengan menyatakan ia mencintaiku seperti aku mencintainya?Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera baca cerita ini...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset