Semakin Dewasa Semakin Asing episode 1

Chapter 1

Di umur yang semakin dewasa ini, semakin asing diri saya. Entah saya benar atau tidak. Yang jelas, saya merasakan banyak hal yang berubah dari hidup saya. Keluarga, teman, rutinitas, percintaan, pekerjaan. Dan saya merasa asing dengan itu semua.

Pertama keluarga, setelah saya beranjak dewasa, bukan tatapan hangat atau sapa manis yang saya terima dari beberapa orang di keluarga besar saya. Ya.. Mengingat saya bukan anak kecil lagi dan sudah pandai melawan. Hehe. Tapi saya kira itu hal yang wajar, ketika ayah atau ibu kita didera masalah pelik tapi saudara hanya bisa menggunjing di belakang. Tentu saja saya sebagai anak tidak tinggal diam. Saya berusaha melindungi keluarga dengan cara saya sendiri. Seperti yang sudah saya duga, banyak pihak yang mungkin benci atau kesal dengan sikap saya. Tak apalah, selama saya benar, saya akan tetap melindungi orang-orang yang saya cintai.

Kedua, teman. Satu… Dua… Tiga… Hmm… Saya rasa, saya tidak memiliki teman. Hahaha. Dari sekian banyak teman di following dan followers instagram saya dan beberapa kontak list di LINE saya, hanya ada sekitar 3 sampai 4 orang yang benar-benar saya anggap ‘teman’. Yang lainnya….. Hanya sebatas saya mengenal dia dengan baik, dan dia mengenal saya dengan baik. Cukup. Saya tidak mau terjerumus lebih dalam atau masuk ke dalam hidup orang-orang itu.

Di dasari oleh rasa trauma yang hebat, karena dulu… Saya bisa dibilang, seorang pendengar yang baik. Pemberi nasihat yang saya sendiri belum tentu bisa menjalaninya. Hehe. Tapi untuk orang-orang terdekat pada waktu itu, segala kritik dan saran yang bersarang di otak saya, akan saya keluarkan demi terciptanya jalan keluar yang baik untuk si pencurhat yang notabenenya teman saya. Bukan hal yang mudah, karena saya tentunya akan memikul beban yang sama dengan si pencurhat.

Perlu kalian ketahui bahwa menyimpan cerita/rahasia yang berkenaan dengan seseorang itu rasanya sama seperti menyimpan bom waktu yang siap meledak kapanpun dan dimanapun. Disinilah semuanya bermula, saya tidak lagi jadi yang ‘dipercaya’ ketika cerita/rahasia itu kecolongan atau tersebar luas sementara saya hanya diam dan menutup mulut rapat-rapat. Uh.. Rasanya seperti korban atas hal yang sebenarnya tidak saya lakukan. Padahal bisa saja si pencurhat itu menceritakan masalahnya tidak hanya pada satu orang dan bisa saja salah satu dari mereka yang meledakkan bom waktu tersebut.

Membela diri? Saya tidak terbiasa ‘ngotot’. Biarkan saja orang-orang di luar sana men-cap saya dengan kata-kata yang mereka inginkan. Yang jelas, saya kapok. Beberapa kali mencoba membantu, beberapa kali pula punggung saya ditusuk sebilah pisau.

Sekarang, saya memilih ‘bodo amat’ dengan urusan mereka. Kalaupun masih ada yang curhat, saya meladeninya dengan kata ‘Oh ya? Sabar ya,’ hihi. Saya rasa itu lebih baik.

Begitu juga saat berada di kesulitan. Rasanya sulit menemukan yang mau membantu. Berbeda ketika mereka yang saya kira teman membutuhkan bantuan. Selama saya mampu, saya akan mencoba membantu. Sayangnya… Ketika saya sedang berada di titik terendah dalam hidup saya, saya sendirian. Maka dari itu… Teman saya hanya… Satu… Dua… Tiga…
“Oh ya? Sabar ya,” hihi.

Yang ketiga, lingkungan pekerjaan. Percayalah… Ketika kamu memasuki dunia pekerjaan, kamu akan menjadi manusia yang paling banyak melakukan kesalahan. Ini nyata. Seperti saya. Begini salah, begitu salah. Sampai-sampai saya tidak tahu standar kebenaran apa yang mereka terapkan di lingkungan kantor saya. Hahaha. Karena hampir semua yang saya lakukan di mata mereka adalah sebuah kesalahan. Ketika salah, oh tentu saja akan menjadi bahan gunjingan seisi kantor. Untungnya kuping saya tebal. Hanya saja, ketika sudah ada yang mengusik ketenangan pribadi, saya tidak akan tinggal diam.

Saya pikir, ini hanya terjadi di sinetron, ternyata saya mengalaminya sendiri. Seseorang yang saya kira partner kerja, karena kami satu divisi dan satu buyer, yang bahkan sudah saya anggap adik sendiri, mampu menjatuhkan saya di mata atasan. Mau tak mau, nama saya tercoreng dan saya… Terpaksa dipindah divisi karena judge-judge buruk yang ‘partner’ saya katakan pada atasan. Ini lucu… Selang beberapa bulan dari saya pindah divisi, ia langsung naik jabatan jadi supervisor. Luar biasa. Saya kagum. Benar-benar kagum, mulut mautnya ternyata mampu membawanya menjadi seorang supervisor.

Keempat, percintaan. Ya… Kita akan mengalami fase ini. Fase di mana kita akan tumbuh dewasa lalu benar-benar mengerti arti cinta. Tidak terbersit dalam benak untuk bermain-main lagi. Bahkan menoleh untuk mencari yang lebih kaya, lebih mapan, lebih ganteng, tidak ada. Yang saya rasakan hanya.. Nyaman. Saya nyaman berada di samping laki-laki ini.

Tapi semuanya tentu tidak berjalan semulus paha Nabillah JKT48. Ujian demi ujian, saya lewati. Pada saat hadirnya perempuan yang lebih baik dari saya. Saya akui, saya hanya perempuan biasa yang tidak memiliki apa-apa. Dengan sifat yang introvert, agak susah berteman, saya bukan orang yang ceria setiap waktu. Dan mungkin, perempuan itu memiliki apa yang tidak saya miliki.

Hampir 2 bulan saya berusaha membangun kembali tembok yang ia runtuhkan. Dengan modal keyakinan, saya yakin ia akan kembali pada saya. Entah ini perasaan apa, yang jelas… Saya tidak ingin kehilangannya. Dengan sabar, saya lalui ini. Meski harus menangis setiap hari ya. Hehe.

Saat itu pilihan saya hanya dua. Maju atau mundur. Kalau maju, teruskan saja sampai masuk jurang. Istilahnya begitu. Kalau perlu sampai merangkak, dan mati di tempat. Filosofi ini membuat saya geli sebenarnya. Tapi benar juga.. Ketika kita menginginkan sesuatu, jangan ada kata setengah-setengah. Jalani sampai tuntas. Jangan lekas menyerah.

Tapi kalau mundur, terima saja resikonya. Konsekuensinya. Jauhi ia perlahan-lahan dan tutup kisahnya. Ya seperti itu. Seperti dipaksa. Dan memang harus dipaksa jika saya memilih mundur.

Akhirnya saya memilih maju.

Tuhan tidak pernah tidur ternyata. Perempuan itu ternyata mengalah. Ia mengaku salah karena memisahkan saya dengan kekasih saya. Ia membiarkan saya maju, memiliki laki-laki yang saya cintai.

Belum cukup sampai disitu, ternyata kekasih saya tidak sepenuhnya menginginkan saya. Ia masih memikirkan si perempuan tadi. Hingga… Sebuah ujian kembali mendatangi kami.

Kekasih saya kecelakaan kerja, jarinya putus dan harus diamputasi. Saya yang saat itu sedang di kantor, langsung bergegas pulang menuju rumah sakit tempat kekasih saya dirawat. Saya menangis. Mengapa semua jadi begini? Tapi sungguh, apa yang terjadi tidak menyurutkan langkah saya untuk tetap mempertahankan kami. Saya tetap menemaninya, merawatnya, memeluknya ketika ia hilang arah.

Akhirnya… Berkat kegigihan saya, ia luluh. Ia menghargai usaha saya selama ini. Tidak ada yang sia-sia dari apa yang saya lakukan. Dan saya masih bersamanya hingga saat ini.


cerbung.net

Semakin Dewasa Semakin Asing

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
"Dunia tidak berputar sesuai kemauanmu , ayo beradaptasilah !" itulah yang dikatakan orang-orang kepada pribadi yang introvert , benarkah dunia tidak berputar sesuai keinginan kita ?Luka , benci , yang diakibatkan dari sebuah penghianatan...benarkah dunia berubah seperti ini? apakah aku dapat bahagia  ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset