Senja Di Vjikvernaz episode 1

Chapter 1 (Oneshot)

Pulau  Vjikvernaz  hanyalah salah satu dari sekian banyak pulau kecil yang ada di Negara Katalysium. Jarak tempuh untuk menuju pulau ini kurang lebih tiga jam perjalanan dari Ibu kota Negara apabila menaiki satu-satunya jenis kapal penyebrangan berukuran sedang dengan kapasitas  maksimal 25 penumpang yang  melayani rute pulang-pergi tiap harinya.

Pasir sepanjang pantai di pulau ini tampak putih mengkilat, serta air lautnya yang jernih dengan gradasi warna hijau kebiruan. Tak heran sebab jaraknya yang cukup jauh dari Ibu kota negara, berbeda dari pasir pantai Ibu Kota yang berwarna coklat pekat begitupun dengan warna air lautnya yang sudah sangat tercemar akibat imbas dari  proses pembangunan mega proyek reklamasi pulau buatan yang sudah berjalan 5 tahun lamanya sampai hari ini.

Tiap akhir pekan, pulau ini pun jadi tujuan wisata bahari favorit warga ibu kota maupun kota lainnya, bukan hanya karena keasrian serta keindahannya saja melainkan di pulau ini juga terdapat satu peninggalan sejarah tertua di  Katalysium. Sebuah Prasasti yang terbuat dari bongkahan batu andesit berdiameter satu pelukan orang dewasa dengan tinggi menjulang hampir dua meter yang di permukaan depannya terpahat sebuah aksara palawa kuno memuat angka tahun 522 Masehi.

Para ahli Epigraf mengartikan jika beberapa baris kalimat tulisan disana menjelaskan keterangan satu kejadian bencana alam maha dasyat awal abad ke 5, yaitu ketika meletusnya Gunung Api purba yang ada di Selat Sheva. Gunung bernama Amarta yang memuntahkan lahar dan seolah lahar itu di telan utuh oleh langit  seluruhnya sehingga sejak bencana alam tersebut  sampai saat ini membuat langit di Katalysium tidak pernah lagi ada senja.

Tidak pernah tampak  perpaduan langit  berwarna jingga serta kuning keemasan itu, yang ada langit tetap biru cerah walau matahari telah tenggelam ke peraduan. Pergantian antara sore dan malam hanya ditandai dengan kilapan cahaya putih yang mengerjap selama kurang dari satu menit, lalu hari pun tiba-tiba saja telah berganti malam.

Satu sore di Dermaga Utara, warga sekitar pulau lebih sering menyebutnya dermaga lama, sebuah dermaga yang terbuat dari kayu pohon kelapa yang menjorok sepanjang 20 meter dari bibir pantai dan lebarnya sekitar 3 meteran. Beberapa papan kayu kelapa dermaga itu sebagian tampak sudah tidak utuh lagi. Ada beberapa papan kayu yang terlepas dan pondasi penahan kayu di bagian tengahnya terkikis karena usia serta empasan ombak.

Sepasang kekasih berusia remaja tengah duduk menghadap dermaga utara itu, menyandar pada sebongkah batu karang setinggi seratus centi. Sang perempuan menyandarkan kepalanya tepat di bagian depan dada kekasihnya, kedua kaki perempuan itu jatuh lurus ke depan, kulit betis kakinya menyentuh langsung diatas pasir putih yang lembut dan sehalus gula.

“Katya, di Negeri lain, mungkin saat ini telah masuk waktu senja. Sayangnya selama ini kita tidak pernah melihat secara langsung bagaimana indahnya langit saat senja tiba.” ujar sang lelaki, sambil kedua telapak tangannya menggengam erat telapak tangan kekasihnya yang bernama Katya.

“Ya, Rhega. Sayang banget ya? Selama ini aku cuma tau langit senja itu di youtube. Aku sering melihat tayangan langit senja di negara lain disana.” Ia memiringkan sedikit kepalanya ke kanan, rambutnya yang hitam berkilau sepanjang empat jari dibawah bahu dibiakan tergerai. Bagian depan rambutnya sesekali bahkan tampak terempas  angin yang berembus pelan.

“Tapi entah kenapa Katya, aku yakin! suatu saat senja pasti datang dan kita bisa melihat keindahannya itu bersama. Aku yakin katya!” tegas Rhega.  Sambil menoleh sedikit kearah kekasihnya.  “Aku selalu suka dengan aroma wangi rambutmu, bikin aku tenang.” Bisiknya lirih.

Katya hanya membalasnya dengan seutas senyum.

“Kalo kamu yakin, aku mesti yakin juga Rhega. Sebab barangkali keyakinan kita yang bersatu suatu saat semoga  Tuhan akan mengabulkannya.”

Rhega tersenyum lebar mendengar ucapan Katya “Setuju. Aku sependapat denganmu, Katya.”

Waktu menunjukan pukul setengah enam sore kala katya melirik ke arloji berwarna perak yang melingkar di pergelangan tangan kananya.

“Sebentar lagi hari mulai gelap, kita balik yuk? Biar nggak kena omel Ibu Lezie, kepala pengurus panti yang terkenal judes itu.”

Rhega tertawa, lalu melepaskan genggaman telapak tangan kirinya, perlahan ia bangkit dari duduk serta menarik pelan tangan kanan katya, menuntunnya untuk berdiri.

Baru saja mereka membalikan badan untuk berjalan, tiba-tiba tubuh katya terhuyung sedikit ke kiri.

“Rhega, kamu ngerasain nggak? Ini gempa!”

“Ya, aku ngerasain. Tetap pegang erat  tangan aku Katya!” Rhega sedikit berteriak, tangan kirinya menopang batu karang yang jadi tempat bersandar mereka tadi.

Baru saja gempa berhenti sekitar beberapa menit, dari kejauhan tampak gulungan ombak setinggi lebih dari dua meter mendekat ke arah mereka. Rhega berusaha berlari dan menuntun Katya kekasihnya namun Tsunami itu bergerak lebih cepat dan tubuh mereka pun seketika terempas ombak, menyeret mereka jauh ke tengah lautan. Rhega sempat beberapa kali berusaha menjangkau tangan katya namun tubuhnya melemah dan katya tampak terombang-ambing menjauhi Rhega.

Keesokan paginya pasca tsunami melanda pulau Vjikvernaz, beberapa warga tampak ilir mudik mencari anggota keluarga mereka yang hilang. Adapula sebagian warga lainnya  telah memenuhi puskesmas serta beberapa tenda darurat. Segera saja bencana ini menjadi berita nasional. Petugas badan penanggulangan bencana alam berdatangan bersamaan banyaknya para relawan yang membantu mengevakuasi serta memberi pertolongan pada korban yang terdampak.

Katya, perempuan itu di ditemukan oleh warga, sekitar dua puluh meter dari batu karang dekat dermaga utara. Kaki kirinya patah serta terdapat beberapa bagian tubuhnya goresan-goresan luka. Namun naasnya, Rhega sang kekasih menghilang atau lebih tepatnya belum ditemukan di sekitar pantai. Katya dievakuasi oleh warga lalu segera diberi tindakan pengobatan oleh relawan medis di dalam tenda darurat, ia masih belum sadarkan diri, praktis ia belum mengetahui perihal keberadaan kekasihnya yang hilang tersebut.

***

Satu tahun pun berlalu. Kini Katya hanya seorang diri. Selama itu pula tak ada satupun kabar mengenai kekasihnya Rhega. Beberapa teman dan warga meyakini jika Rhega telah tiada, jasadnya jelas kemungkinan besar hilang ditelan oleh lautan luas, serupa dua puluh jasad korban lain yang juga tidak ditemukan hingga saat ini. Mereka menyarankan Katya  untuk sebaiknya mulai perlahan mengiklaskan kekasihnya itu. Jauh di dalam hati Katya meyakini jika Rhega selamat dan mungkin terdampar di suatu tempat. Hatinya selalu berbisik jika sampai kapanpun ia tidak akan pernah menganggap jika Rhega telah tiada.

Selama satu tahun itu pula ia tidak pernah absen untuk mengunjungi dermaga utara tiap sore hari. Ia selalu duduk termenung menghadap lautan lepas. Kadang-kadang terlihat di dermaga namun seringnya ia duduk bersandar di batu karang tempat kenangan terakhir bersama kekasihnya itu.

Katya dan Rhega sama-sama yatim piatu. Mereka tumbuh besar di panti asuhan Saint Kievr, satu-satunya panti asuhan yang ada di Pulau Vjikvernaz. Benih-benih cinta tumbuh diantara mereka seiring berjalannya waktu hingga keduanya sama-sama berusia 18 tahun. Seandainya Rhega ada, minggu depan di pertengahan juni usia keduanya sama-sama menginjak 19 tahun, sebab tanggal  serta tahun lahir mereka yang sama.

Sepeninggal Rhega, Katya banyak menghabiskan waktu pagi hingga sore pukul tiga bekerja sebagai pegawai honor di perpustakaan umum setempat, sorenya karena ia tinggal di panti, ia ikut membantu Ibu Lezie mengurus panti. Di akhir  pekan ia pun turut bekerja menjemur rumput laut. Salah satu budidaya yang banyak dilakukan mayoritas warga pulau ini selain sebagai nelayan. Tak terkecuali panti Saint Kievr yang mencari tambahan biaya operasional panti dengan ikut membudidaya serta menjual rumput laut.

Suatu sore di bulan juni yang dingin dan sepi saat Katya tengah duduk di atas dermaga sambil membiarkan kedua kakinya menyentuh air laut, sebuah botol plastik berwarna hijau polos menyentuh ujung telapak kaki kirinya. Katya memandang sejenak ke arah botol hijau polos bening tersebut. Ia melihat gulungan kertas di dalam botol itu, di dorong rasa penasaran, ia meraih botol plastik tersebut dengan tangan kiri, perlahan ia buka tutup botolnya lalu mengeluarkan kertas yang ada di dalam, terdapat sebuah tulisan disana.

Deggghhh….

Dadanya tiba-tiba terasa sesak.

Kepada siapapun yang menemukan surat ini, aku Rhega. ku mohon sampaikan pesanku pada gadis bernama Katya. Ia tinggal di panti Saint Kievr, bilang padanya jika aku masih hidup. Kini aku terdampar di sebuah pulau dengan nama yang sama, Vjikvernaz. Mungkin ini terdengar seperti lelucon, namun ku mohon, jika aku bersunguh-sungguh memberitahu perihal nama dimana aku tinggal sekarang. Aku mohon dengan sangat, sampaikan pula padanya untuk setia dan sabar menantiku sebab, jika ramalan tetua adat disini benar maka enam bulan lagi senja akan tiba dan portal akan terbuka serta saat itu aku baru bisa menemuinya. Sekali lagi ku mohon dengan sangat. Tolong untuk membiarkan ini menjadi rahasia, cukup kau, siapapun yang menemukan surat ini dan Katya yang boleh tau perihal keberadaanku.

Tiba-tiba saja air mata hangat jatuh dan membasahi pipinya. Perasaannya bergemuruh usai membaca surat yang ternyata dikirim oleh kekasihnya, Rhega. rasa haru, sedih sesak berpadu menjadi satu. Semenit kemudian tangisnya pecah, tangannya yang masih bergetar hebat berusaha menggulung surat itu serta memasukan kembali  ke tempatnya semula.

“Rhegaaaaa!!!!!” Katya berteriak, kedua telapak tangannya mengatup diantara mulut seraya memanggil kencang nama kekasihnya itu. Ia berdiri lalu seketika jatuh bertumpu pada kedua lutunya yang menyentuh pasir pantai. Dengan ini ia semakin yakin jika penantiannya tidaklah sia-sia, kepercayaan pada firasatnya yang menyakini hal itu menjadi sebuah kebenaran.

Perlahan namun pasti, sikapnya yang setahun belakangan murung dan sendu berubah menjadi riang serta ceria. Ibu Lezie, teman sepanti, teman kantor serta warga yang mengenal Katya penasaran atas perubahan sikapnya yang drastis itu. Mereka meyakini itu  semua terjadi mungkin karena Katya perlahan telah bangkit dari perasaan duka. Mereka tidak tahu jika sebenarnya perubahan itu lahir dari sebuah rahasia mengenai keberadaan Rhega yang disembunyikannya erat-erat.

***

Satu tahun, dua tahun, tiga tahun sampai tiba enam puluh tahun kemudian…

“Senja! Senja! Lihat! Lihat!! Senja akhirnya muncul di langit Vjikvernaz!”

Riuh suara-suara ramai warga menyerukan hampir kalimat yang serupa. Perihal fenomena langit yang sejak lebih dari setengah milenium hilang kini mendadak muncul ke permukaan langit. Katya, perempuan yang kini berusia 79 tahun ini sontak bangkit dari tidurnya di kamar panti. Ia yang kini menjadi kepala pengurus panti terhenyak begitu mendengar suara perihal penampakan senja dari anak-anak di dalam panti yang seketika berhamburan keluar.

Dengan perasaan yang sangat pilu, ia meraih tongkat yang biasa dikenakan untuk membantunya berjalan. Perlahan ia melangkah keluar. Kedua matanya menengadah keatas langit. Dengan perasaan yang sulit di gambarkan oleh apapun ia melanjutkan langkahnya yang tergopoh hendak menuju dermaga utara. Begitu tiba dan berjarak kurang dari sepuluh meter dari posisi berdiri, disana dari kejauhan seorang lelaki muda tampak mengayuh perahu kecil berukuran tak lebih dari tinggi sebuah pintu. Langkah Katya terhenti, lelaki itu sandarkan perahunya di dermaga, ia turun sambil mengaikatkan tali tambang perahu pada kayu penopang dermaga.

Lelaki itu berdiri melihat seorang nenek tua yang kedua telapak tangannya bertopang pada gagang tongkat kayu warna coklat. Pandangan mata pria itu terpusat pada kalung warna perak yang ujungnya berhias sebuah batu karang putih seukuran jari kelingking yang melingkar di leher wanita tua itu. seketika ia tersadar akan kalung buatannya yang pernah diberikannya pada sang kekasih dan ia pun terhenyak.

“Katya!? Kau….”

Belum sempat melanjutkan kalimatnya, lelaki itu berlari kearah Katya, di peluknya tubuh wanita renta itu dengan erat hingga tongkatnya terjatuh.

“Rhega, apakah ini benar-benar kau? Apakah ini mimpi?” sebuah tanya terucap lirih dari bibir Katya

“Apakah aku sekarang sedang berada di akhirat?” lanjutnya.

“kamu tidak mimpi Katya, Ini aku katya!” Ia tak kuasa membendung tangisnya. Ribuan pertanyaan seolah memenuhi seluruh kepalanya. Ketika menyadari bahwa enam bulan di Vjikvernaz di tempatnya terdampar serupa enam puluh tahun lamanya waktu di Vjikvernaznya Katya.

Rhega tidak mampu membayangkan betapa pedihnya penantian Katya selama ini. Rhega tak kuasa menahan perasaannya yang hancur seketika merasakan derana yang menaungi Katya selama ini. Rhega tak pernah menyangka atas apa yang terjadi akibat dari paradoks waktu.

Dalam peluknya, Katya kelu. Hanya air mata yang jatuh serta membasahi pundak kemeja krem yang di kenakan Rhega senja itu.

“Akhirnya senja tiba Rhega, akhirnya kita bertemu.” suara serak Katya terbata dalam pelukan kekasihnya.

“Aku kesini menjemputmu, Katya. Ikutlah ke Vjikvernaz ku. Disana, seluruh kehidupan jauh lebih sederhana dibandingkan disini, tak ada kapal bermotor, tak ada listrik, yang ada hanya kedamaian.” pinta Rhega sambil menghirup napas dalam.

“Aroma rambutmu masih wangi serupa dahulu Katya, aku sangat mencintaimu.” Rhega mengusap pelan rambut Katya yang hampir tiap helainya beruban.

Rhega memapah Katya dan memandunya duduk diatas perahu yang ia bawa tadi. Usai melepas ikatan kait tambang, Rhega duduk memangku Katya. Rhega perlahan mulai mendayung perahunya menjauh dari dermaga utara. Kabut mendadak muncul menyelimuti udara sekitar perahu mereka. Perahu masih berjalan pelan ketika tiba-tiba wajah serta seluruh tubuh Katya berubah kembali menjadi muda.

“Sebentar lagi kita  tiba di  Vjikvernaz ku, Katya! Lihat? Itu, disana dermaga selatan. Ya, Katya. Disini dermaga selatanlah dermaga tua yang tidak lagi terpakai, kebalikan dari Vjikvernaz mu.”

***

Satu sore yang tenang di dermaga utara. Kala langit  senja sedang cantik-cantiknya. Cahaya jingga berpadu oranye keemasan seolah memantul ke permukaan air laut.

“Hey, lihat! di botol plastik itu seperti ada sesuatu di dalamnya.” ujar lelaki remaja pada perempuan kekasihnya itu.

“Maksudmu, semacam surat kaleng?”

“Lebih tepatnya surat botol, kali.”

Mereka pun tertawa.

Secara bersamaan sepasang kekasih yang tidak diketahui namanya itu mengambil botol plastik hijau yang mengambang dan tersangkut pondasi kayu kelapa di bawah dermaga. Perlahan sang lelaki memutar tutup botolnya berlawanan arah jarum jam kemudian mengambil kertas yang ada di dalamnya.

Disana, tampak sebuah kertas undangan pernikahan berwarna abu-abu tua dengan gambar potret saling berhadapan memeluk mesra. Di bagian depan undangan tertera nama pasangan kedua mempelai yang ditulis dengan  tinta warna emas.

Rhega Nourman & Katya Vereina

 

“Bukankah nama pengantin wanitanya serupa dengan nama Ibu kepala panti kita yang hilang sepuluh tahun lalu?” ujar mereka serempak.

-The End-
Kepada Seandainya Yang Tak Ku Pahami
sebentuk mimpi hanya mematut di hening malam
ingin segera ku akhiri namun pada entah yang kesekian kali.
Di keremangannya ada monolog yang tersimpan, rapat.
melarangku mengasihani gelatar masa lampau
yang membuat waktu tidak ingin berdetak cepat-cepat
dari suatu gengaman yang terpaut erat.

Aksara mencoba menjelma jadi kata namun
yang setiap kata namun itu kelak meluapkan
dirinya bersama jejak – jejak yang tertinggal.

Namun, kau dan aku telah dipertemukannya
dalam satu ruang yang tak terelak oleh takdir sekalipun,

Namun semua terjadi begitu cepat – memoar dibuat
tanpa kita ingin menjadi kisah yang pedih kelak.

Namun, akhirnya menjadi kerak, dalam ruang-ruang
hatiku mungkin juga hati engkau.

Namun, jika segala akan bermuara di sisi-sisi beda
biarkanlah seperti apa adanya.

Layaknya embun pagi yang mengecup daun
dan waktu berjalan lagi tanpa ketiadaan kau juga aku
di dalam puisi ini.


Senja Di Vjikvernaz

Senja Di Vjikvernaz

Score 8
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2022 Native Language: Indonesia
Kepada seandainya yang tak kupahami, sebentuk mimpi hanya mematut di hening malam ingin segera ku akhiri namun pada entah yang kesekian kali. Di keremangannya ada monolog yang tersimpan, rapat. melarangku mengasihani gelatar masa lampau yang membuat waktu tidak ingin berdetak cepat-cepat dari suatu gengaman yang terpaut erat. Aksara mencoba menjelma jadi kata namun yang setiap kata namun itu kelak meluapkan dirinya bersama jejak – jejak yang tertinggal. Namun, kau dan aku telah dipertemukannya dalam satu ruang yang tak terelak oleh takdir sekalipun,

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset