Simfoni Hitam episode 1

Chapter 1

Kota yang meninggalkan luka, kota yang melupakan tentang ‘aku’ ketika semua pergi tanpa pamit. Di sudut kota, kusimpan kisah yang singkat tentang hangatnya cinta, suara penuh kelembutan di bawah langit malam dengan cahaya remang lampu jalanan. Ya … di sini aku menepi menahan kesakitan, tanpa arah dan tanpa tahu ke mana aku menuju. Dengan serta merta memeluk tubuhku sendiri dengan suara cacing yang berdemo.

“Kamu mau roti?”

Ada seseorang selain aku di gang sempit ini? Siapa yang memerhatikan orang sepertiku? Cacing dalam perutku lagi lagi berdemo. Lapar sekali rasanya, sejak pagi perutku belum diisi apa-apa.

“Hey, apa kamu akan terus seperti itu? Apa kamu tak ingin menerima roti? Maaf, aku hanya punya ini.”

Aku mendongak, kutemui seorang perempuan mengulurkan roti padaku.

“Ambillah untuk mengganjal perutmu. Aku melihatmu sejak pagi dan posisi tubuhmu tak berubah, tetap meringkuk di gang ini. Pasti kamu belum makan, ‘kan?” Perempuan itu ambil posisi bersandar pada tembok yang sudah terkelupas warnanya. “Ini, ambilah, kamu nggak boleh mati karena kelaparan.” Dengan senyuman, dia menawarkan roti yang belum kuambil.

Aku mengambilnya, “Terima kasih sudah perhatikanku.” Kulihat guratan senyum yang sudah lama tak kutemukan pada segelintir orang ketika melihatku. Ternyata Tuhan masih menyisakan hati yang peduli padaku.

Wajahnya menatap langit dan menengadah. “Gerimis yang menenangkan. Apa kamu sudah lama berada di sini?”

“Rara.” Seseorang berdiri di tengah gang, kegelapan membuatnya tak jelas memanggil seseorang.

“Maaf, aku harus pergi. Jika ada kesempatan kita akan bertemu lagi, Daaah!” Ia bergegas pergi tanpa lupa melambaikan tangan. Ia menghampiri seorang berdiri ditengah gang.

“Kamu bertemu teman baru?”

“Iya.” Sekali, dia menengok dan tersenyum seraya berjalan beriringan dengan seseorang yang memanggilnya.

*****

Telah ditemukan mayat berjenis kelamin perempuan dengan berapa sayatan di wajahnya, beberapa tusukan di sekitar dada, mulut yang dibungkam dengan kain di lokasi–” Sepintas pendengaranku menangkap sebuah berita saat melintas toko elektronik. Aku kembali, menyimak berita yang di siarkan.

“Sadis sekali!” seru seorang.

Aku melirik asal suara, pemilik suara menoleh.

“Hay, kamu sudah baikan?” sapanya. Ternyata perempuan kemarin pemberi roti.

“Ya, terima kasih atas kemarin.” Berkat roti pemberiannya memberikan sedikit energi untuk bangun.

“Sama-sama. Oh, ya aku Rara, kamu cukup panggil nama itu,” balasnya. “Bagaimana kita ngobrol-ngobrol di sana sambil menunggu temanku, Rey yang kemarin bersamaku,” serunya sambil menunjuk bangku kosong di taman. “Kamu tahu akhir-akhir ini banyak peristiwa menakutkan, selalu terjadi pembunuhan dimana-mana, apakah orang yang sama atau berbeda? Itu membuatku takut.”

Aku mendengarkan apa yang ia bicarakan serta melihat gerakan kecil saat ia bicara. Padahal baru semalam pertemuan itu, namun terasa sudah pernah kenal. Ia menceritakan banyak hal, tanpa sadar mataku memandanginya terus, kemudian wajahnya berubah menjadi seorang yang familiar.

“Misa,” sebutku lalu mengucek kedua mataku jika salah melihat. Misa tersenyum menatapku.

“Hey, Rey. Kamu lama sekali menemukanku di sini dan apa yang kamu bawa saat ini?” Suara Rara menghilangkan wajah Misa dari pandanganku.

Anak lelaki yang di panggil Rey berdiri di samping Rara, ada sebuah kantong plastik di tangannya.

“Ada masalah tadi di jalan, makanan kesukaanmu tentunya kubawa.” Rey duduk di samping Rara dan membuka kantong plastik. Matanya melirikku, namun aku merasa seperti tak asing.

“Waah … sandwich, sudah lama tak makan roti isi!” seru Rara tampak riang menatap roti berisikan salad. “Dan ini buat kamu, Rey membawa sandwich lebih, cukup untuk kita bertiga,” Rara memberikan sandwich satunya kepadaku.

“Ah, terima kasih banyak.”

Langit mulai pancarkan warna kemerahan, udara mulai berubah dingin. Cukup lama kami duduk di bangku taman menghabiskan roti isi yang sudah cukup mengganjal perut.

“Ah iya, aku lupa menanyakan soal namamu?” pandang Rara dengan memiringkan kepalanya.

“Aku Bayern,” jawabku.

“Dan ini Rey, dia teman yang selalu menemaniku,” Rara perkenalkan Rey yang di sebelahnya.

Rey menyimpulkan senyum, “Hay, Bayern salam kenal. Semoga kamu terbiasa dengan sikap Rara yaa….”

“Apa sih Rey?! Emang sikapku kenapa, dah?”

“Sok kenal sok dekat,” Rey menunjukkan deretan giginya yang rapi.

Pluuk … Rara menempel daun salada dari roti isi ke wajah Rey yang mencandainya.

“Hay, kamu tak tahu aku mendapatkannya bagaimana?” Rey memungut lalu memakan daun salad itu. Rara memandang serius. “Dengan jasa pastinya,” kali ini Rey tersenyum lebar.

Mereka tampak seperti kekasih, mesti Rara mengatakan Rey adalah temannya.

“Sial, kota ini semakin menakutkan saja. Selama psikopat itu belum tertangkap akan banyak korban lagi.”

“Dan Akhir-akhir ini korban bertambah dan kematian korban pun sama, yaitu sayatan di wajah, dada penuh tusukan, mulut di bungkam kain, dan lagi korban di ikat gantung penuh lumuran darah. Tampak di siksa lebih dulu sebelum dibunuh. Jelas itu perbuatan seorang psikopat.”

“Pagi ini pun ditemukan lagi jasad perempuan di gang buntu samping toko roti.”

Percakapan dua orang yang melintas di taman mengalihkan obrolan kami, Rara yang lebih banyak bicara tak dengar lagi suaranya dan raut wajahnya tertekuk. Lampu taman mulai menerangkan sebagian, awan pun berarak kelabu dan langit yang kemerahan menjadi gelap.

Rey menggenggam tangan Rara, “Keadaan akan baik-baik saja, tak usah takut.” Rey melirikku seakan mengatakan dia dan Rara ingin pamit untuk pulang. “Bayern, maaf kami tak bisa lama di sini, kamu tak apa ‘kan sendiri?”

“Ya, tak apa. Aku sudah biasa sendiri, kalian pergilah.” Mataku teralih pada sorot mata Rara yang berbeda dari sebelumnya. Apa mendengar percakapan tadi yang mengubah dirinya seketika? Apa dia takut?

Rey menjawab dengan sunggingan lalu melenggang pergi, tangannya menggenggam tangan Rara. Dan akhirnya aku kembali sendiri saat langkah mereka menjauh. Entah, setelah ini apa yang harus kulakukan? Berjalan tanpa arah lagi atau tenggelam pada kenangan yang menyakitkan.

Akhirnya kuputuskan menyisir kegelapan kota, di bawah lampu jalan yang remang. Aku melangkah mencari tempat yang layak untuk tidur jauh dari keramaian kota. Tak seorangpun yang melintas. Benar-benar sepi. Aku bersandar pada dinding jembatan tua yang sudah berkarat, menatap langit yang pekat. Jika saja kecelakaan itu tak terjadi dan pengkhianatan itu tak pernah ada, mungkin saja hidupku tak seperti gelandang menyedihkan. Malam ini mungkin duduk bersama Mama, Ayah, dan Adik atau bersama Misa duduk di balkon menatap bintang. Namun, Misa menghilang saat kejadian kecelakaan itu merenggut semua orang kusayang. Orang perusahaan mengkhianati dan mengambil keseluruhan harta Ayah dan aku menilai kecelakaan itu pasti rencana pembunuhan mereka untuk menguasai harta Ayah.

“Bayern.”

“Misa.” Panggilku dan segera menghampirinya. “Aku merindukanmu dan mencarimu. Aku tak punya siapa-siapa lagi, mengapa kamu menghilang?” kugenggam tangannya. “Tolong jangan pergi tinggalkan aku lagi, Misa.”

Misa memelukku. “Maaf, Bayern. Kamu harus bangun, bangun, adikku dalam bahaya! Bangun Bayern!”

“Raraaa!” Suara teriakan membangunkanku dan menghilangkan Misa dari pelukan.

Sebuah pukulan mendarat di wajahku hingga tubuhku terjerembab. Di samping itu tubuh perempuan tergeletak penuh lumuran darah di dekatku. Tersentak penampakan itu membuat aku segera bangkit dan menjauh. Kulihat Rara dengan sorot mata takut dan tak bergeming. Ada bercak darah menyelimuti pakaiannya, dan pipinya tergores cukup dalam.

Rey memeluk Rara, “Ra, maafkan aku.”

“Apa yang terjadi? Dan kemana Misa? Dan-”

“Jadi, kamu yang lakukan semua itu? Kamu pelaku psikopat dalam berita itu, aku tak akan biarkan yang kedua kalinya setelah kematian Misa.” Kata Rey menatap tajam penuh amarah. Sebilah pisau tergenggam di tangannya.

Tunggu, barusan dia menyebut Misa? Dia kenal Misa dan … dan dia bilang ‘kematian’? Apa dia tahu tentang Misa? Semua ini membuatku tak bisa berpikir dengan baik. Rey semakin dekat dengan tangan mengengam erat benda tajam, urat-urat menonjol.

“Rey, aku takut. Bawa aku pergi dari sini!” tangis Rara menghentikan langkah Rey yang tampak ingin membunuhku.

“Rara adalah adiknya Misa. Namun, jiwa Misa berada dalam dirinya hanya untuk ingin … melihat keadaanmu untuk terakhir kalinya. Sayangnya dalam dirimu hidup seorang psikopat, seharusnya Misa tak sembunyikan hal ini padaku. Sebaiknya kau pasung dirimu atau aku akan membunuhmu.” Ucap Rey menatap dengan tajam mengurungkan diri untuk membunuh. Jika Rara tak berteriak mungkin pisau itu sudah menancap.

Pikiranku seperti benang tak beraturan menghadapi situasi yang tak bisa kumengerti saat ini hingga tak mampu mencerna perkataan Rey barusan. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang tidak kuketahui?

“Kenapa harus Bayern, Rey? Kenapa harus dia menjadi pelakunya dan-”

“Aku pun nggak tahu, kakakmulah yang membawa dirimu padanya, ragamu di ambil alih, dan semua itu terjadi di depan matamu, dialah yang membunuh kakakmu.” Potong Rey memalingkan pandangan.

“Kakak?”

Rey membopong Rara menjauh dari tempatku berada, apakah benar ada jiwa psikopat dalam diriku? Kuperhatikan mayat perempuan yang tak jauh dariku, mirip persis seperti mayat-mayat dalam berita. Jadi, selama ini akulah pelakunya? yang sadis melakukan pembunuhan biadab itu. Sebuah memori melintas di otakku ketika melihat punggung Rey di ujung jalan sambil membopong Rara.

“Rara, apa sebenarnya terjadi? Kenapa kamu seperti ini?”

“Kakak … kakak, Rey.”

“Misa!” Rey berlari ke tubuh Misa yang tergeletak tak jauh dari Rara, bersimbah darah dan tusukan. “Ra, Raraaa!” Rey kembali melihat kondisi Rara yang tergeletak dan segera menekan tombol handphone.

Rey membopong Rara dan lari tergesa-gesa menuju rumah sakit yang tak begitu jauh dari tempat kejadian. Misa sudah tak bernyawa hanya di tungguin oleh warga yang baru berdatangan untuk menunggu Ambulance datang.

“Tidak! Tidak mungkin aku akan yang melakukannya! Sial, ada apa denganku?” Pisaupun terjatuh. Aku menatap kedua telapak yang tak kusangka sebagai pelaku. Aku ingat tamparan Misa yang membuat rasa sakit, tubuhnya kena berapa tusukan menatapku dengan iris mata yang penuh genangan air mata.

“Akhirnya kamu sadar juga, Bayern. Aku tahu yang melakukan itu bukan kamu, tetaplah jadi dirimu kukenal, Bayern. Jangan biarkan dia mengambil alih tubuhmu. Kamu tetap Bayern, Bayern! Dan segeralah pergi dari tempat ini!” lirihnya sambil memejamkan matanya.

“Misa!”

Aku berlari menjauh setelah apa yang kulakukan. Bukan! Bukan aku yang lakukan tapi seorang dalam tubuhku. Aku bersembunyi di balik dinding. Berusaha untuk melawan kantuk, mungkin saat aku tertidur dia bangkit dan melakukan pembunuhan yang sadis lalu menghapus identitas. Menyepi di sudut kota, menjauh dari sekeliling orang hingga semua melupakan tentang diriku. Dan Rara melihatku tanpa mengingat siapa aku? Ramah dan penuh senyuman seperti Misa. Ah, bukan memang selama ini dia Misa yang mengaku dirinya Rara dan berpura-pura untuk bisa menemaniku dalam tubuh Rara. Mungkinkah aku telah membuat Kematiannya tak tenang hingga dia merasuki adiknya dan menyadarkan diriku akan kepribadian ganda yang mengerikan.

Aku telah mengingat semuanya, tak hanya kota ini pembunuhan itu terjadi tapi di kota-kota kusinggahi sebelumnya berita kematian biadab itu terjadi. Lalu, bagaimana caranya aku bisa lakukan itu tanpa meninggalkankan jejak membuat polisi tak bisa menangkapku sejauh ini? Mengapa ini harus terjadi?!

Sial! Aku mengepal tangan yang tertutup sarung tangan terbuat dari kulit. Kutatap sarung kupakai, “jadi, begini caramu menghapus jejak jari?”

“Aaarrgh!” jeritku akan kesakitakan kurasa, darah mengucur, dan lenganku terputus. Dan rasa sakit itu menjalar ke tubuh yang lain, “Lebih baik sebelah tanganku tak ada daripada menjadi tanganmu dasar psikopat!” umpatku merugikan jiwa lain. “Kau telah menghancurkan dan membunuh orang kusayangi, kenapa kamu harus tinggal di tubuhku?!”

“Jangan bergerak!” polisi mengacungkan pistol ke arahku. Dua polisi lainnya menyergap.

Aku tertangkap atas semua kejahatan yang dilakukan oleh jiwa seorang dalam tubuhku. Tubuhku di giring ke dalam mobil. Di perjalanan kulihat bayangan Misa di samping Rey merangkul Rara, memandangiku dengan senyum.

“Tetap jadi dirimu, Bayern.”


cerbung.net

Simfoni Hitam

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Cerita pendek berkisahkan seseorang yang kerasukan roh psikopat namun sudah terlambat untuk menyadarinya.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset