Sister List episode 2

Bagian Dua

Detektif Judy bertanya di mana detektif Ryan menemukan buku ini. Dia menjawab di kamar pertama tepat di depan tangga. Mereka masuk, kamar ini sangat perempuan. Banyak pernak-pernik lucu di sini, detektif Judy membuka lemari yang ada satu persatu untuk menemukan lagi barang yang bisa dijadikan petunjuk.

“Bisa tolong kamu periksa kamar lain?” detektif Judy meminta detektif Ryan memeriksa kamar lainnya.

“Ya..tentu saja,” detektif Ryan berangkat menuju kamar lain.

Di sini detektif Judy menemukan sebuah buku diary, dia buka halaman pertamanya di situ tertulis nama Lisa Stamford. Kemungkinan besar buku diary ini adalah miliknya, dia membuka lemari pakaian. Lagi-lagi detektif Judy menemukan hal menarik, yaitu sebuah kotak coklat. Ketika dia buka isinya adalah kertas-kertas yang berisi gambar dua anak perempuan bermain bersama. Setelah menemukan cukup barang yang bisa dijadikan petunjuk mereka berkumpul di ruang tengah.

“Di kamar sebelah aku tidak menemukan barang yang menarik, hanya beberapa buku catatan perkuliahan saja. Kotak itu?” menunjuk ke kotak yang dibawa oleh detektif Judy.

“Kotak ini berisi gambar-gambar saja, namun aku penasaran mungkin ada hubungan dengan kasus ini.”

Mereka berdua menyudahi investigasi di rumah itu, detektif Judy memberitahu detektif Ryan jangan mengikutinya lagi dan menyarankan agar kembali saja ke kantor. Sebelum pergi menaiki mobilnya detektif Judy berpesan tuk mengambil laporan autopsi badan korban alias Lisa Stamford dan menyimpannya di meja kerjanya itu juga jika detektif Ryan tidak keberatan. Namun detektif Ryan mengerti dan akan melakukan apa yang detektif Judy minta.

“Oh ya satu lagi, jika ada info terbaru dari kakak korban ini kamu bisa memberitahuku,” langsung masuk kemobilnya sebelum detektif Ryan memberi jawaban.

Detektif Judy menginjak pedal gas lalu pergi meninggalkan detektif Ryan dibelakang. Dia menyetir sambil melihat buku besar yang ditemukan oleh detektif Ryan. Dia membuka halaman depan buku itu.

“Hallstreet…baiklah.” Memacu mobilnya dengan kencang.

Perjalanan yang dilakukan detektif Judy cukup panjang, dia harus menjalankan mobilnya bermil-mil untuk sampai ke Hallstreet. Cuaca kurang mendukung saat ini, hujan mulai turun dan semakin lama semakin deras. Dia memacu mobilnya pelan sambil mengamati nomor-nomor dari bangunan di sini. Mobilnya berhenti tepat dibangunan nomor 92. Sebuah bangunan yang cukup besar dan ada penanda dari batu yang bertuliskan Saint Joan rumah panti asuhan.

Dia memakirkan mobilnya tepat dihalaman rumah panti asuhan ini, dia berjalan menuju pintu masuk. Dia mengetuk beberapa kali pintu masuk yang ada kacanya, berharap seseorang membukakan pintu untuknya. Selang beberapa menit seorang perempuan pendek membukakan pintu. Dari tampilan seorang perempuan ini layak disebut ibu karena mungkin usianya sudah tua.

“Ada yang bisa saya bantu?” setelah mempersilahkan detektif Judy masuk.

“Ya…, bisa anda tolong ceritakan tentang Lisa dan Julie Stamford?”

Dia terhenyak sebentar lalu mempersilahkan detektif Judy untuk menunggunya di ruang depan, dia permisi kebelakang untuk mengambilkan minuman untuknya. Kini mereka duduk saling berhadapan, dipisahkan oleh meja kaca bundar ditengah-tengah mereka. Dua buah minuman hangat tersaji di atas meja.

“Lisa dan Julie ya…sebelumnya perkenalkan saya Rose Hayes, pengurus rumah panti asuhan ini. Namun saya bukan pemilik dari rumah panti asuhan ini, saya dipekerjakan oleh seseorang,” melihat keluar melalui jendela disamping. “mereka berdua anak yang malang, saat Julie berusia sepuluh tahun dia harus menjadi orang tua bagi adiknya Lisa.”

“Maaf, apa saya boleh tahu kejadian apa yang menimpa orang tua mereka?”

Bu Rose menceritakan kejadiannya, orang tuanya mengalaminya kecelakaan hebat tertabrak kereta api. Kondisinya begitu mengenaskan badan mereka terjepit di mobil dan polisi harus menggunakan gergaji mesin untuk mengeluarkan mereka. Usia Lisa saat itu baru dua tahun. Karena kerabat mereka tidak mau mengurusnya mereka menitipkan keduanya di rumah panti asuhan Saint Joan. Di jaman seperti sekarang jarang sekali orang tua yang menginginkan anak dari panti asuhan, anak-anak yang dititipkan di sini juga tidak banyak.

“Hm…bagaimana keadaan mereka sekarang? Apa mereka baik-baik saja?” Tanya Bu Rose.

“Lisa…lisa sudah tiada, dia ditemukan tewas dirumahnya sedangkan keberadaan Julie belum diketahui,” Bu Rose kemudian menangis sejadi-jadinya ketika tahu Lisa sudah meninggal. “saya sungguh menyesal atas kejadian ini, menurutmu apa Julie kakak yang baik bagi Lisa?”

“Ya!…ya…dia sangat baik,” lalu melihat detektif Judy dengan tatapan tajam. “tidak! Tidak mungkin! Julie tidak mungkin melakukannya!” Bu Rose menangkap apa yang dibicarakan detektif Judy, dia mengira Julie adalah pelakunya.

Dalam keadaan yang masih menangis detektif Judy meninggalkan bu Rose sebentar, dia pamit keluar sebentar untuk mengambil sesuatu dari mobilnya. Ketika kembali bu Rose belum membaik, matanya masih berlinang air mata. Detektif Judy menaruh kotak berwarna coklat dan buku diary yang dia temukan di tkp.

“Apa anda tahu tentang kedua benda ini?”

Bu Rose mengelap air matanya lalu melihat buku diary, “Saya tidak tahu buku ini, Lisa hanya sampai umur tujuh tahun di panti ini sebelum mereka berdua diadopsi oleh orang tua asuh,” bu Rose mengambil kotak coklat lalu membukanya, air matanya kembali pecah saat melihat kertas-kertas yang ada gambarnya. Dia tidak sanggup berkata-kata lagi.

Sambil menunggu kondisi bu Rose membaik dan sudah bisa memberikan keterangan detektif Judy mengamati rumah panti asuhan ini. Bangunannya baik dan terawat, hari menjelang sore keadaan panti ini sangat sepi. Dia tidak melihat satu anak pun berkeliaran. Lalu bu Rose mulai bisa memberikan keterangan lagi.

“Ini…adalah gambar-gambar yang digambar oleh Lisa, dia sangat senang menggambar.”

“Apakah dua anak perempuan digambar tersebut adalah Lisa dan kakaknya?”

“Bukan…Julie tidak mau merepotkan panti, jadi dia melakukan pekerjaan sampingan saat remaja untuk membantu kondisi keuangan panti ini. Efek dari itu dia jarang menemani Lisa saat pagi hingga sore. Sosok anak perempuan satu lagi digambar ini adalah Christy…” mengucapkan dengan lirih.

“Christy? Teman satu panti?”

Bu Rose kembali bercerita, Lisa sudah senang menggambar saat usianya beranjak 4 tahun. Dia senang menggambar apa saja walaupun kebanyakan hasil gambarnya berupa abstrak. Gambarnya berubah menjadi dua anak perempuan saat usianya sudah menginjak 7 tahun, di mana Julie jadi jarang menemani Lisa karena disibukkan oleh pekerjaan sampingannya. Suatu hari bu Rose sedang menemani Lisa dikamarnya. Lisa sedang menggambar.

“Lisa…menggambar lagi?” tanyanya hangat.

“Iya…lihat hasil gambar saya bu,” memamerkan hasil gambarnya, bu Rose memujinya. “Christy lihat bu Rose memujiku lagi, dia bilang gambar ini sangat bagus,” sambil melihat keujung kamar.

“Christy? Siapa?”

“Temanku bu, dia sedang berdiri tersenyum di sana. Dia mirip denganku!” kembali menunjuk ke ujung kamarnya. Bu Rose tidak ingin menanggapinya terlalu serius dia hanya tersenyum saja dan berharap mereka berteman baik-baik.

Detektif Judy terkejut mendengar cerita dari bu Rose, dia seakan-akan tidak percaya dengan cerita itu. Detektif Judy sendiri tidak terlalu percaya dengan hal-hal berbau paranormal, dia menganggap semua itu hanya ilusi dan tidak nyata.

“Terima kasih atas informasi dan waktu yang anda berikan, saya izin pamit pergi,” detektif Judy kemudian pergi dari rumah panti asuhan Saint Joan.

Waktu sudah sore tetapi hujan belum juga berenti, dia pergi memakai mobilnya melaju pelan keluar dari pelataran panti asuhan. Mobilnya sudah berbelok keluar dari panti asuhan. Dia menjalankan mobilnya pelan melewati sisi-sisi samping panti. Di pinggir jalan dia melihat sosok remaja perempuan, dia melewati remaja perempuan itu. Beberapa meter dari situ dia menghentikan mobilnya, dia baru tersadar bahwa sosok remaja perempuan itu mirip dengan Lisa. Dia melihat melalui spion samping sosok itu menghilang begitu juga melalui spion belakang.

Dia sudah mengalami ini beberapa kali, tepatnya setelah menyelidiki kasus ini. Dia masih berpikiran positif dan menganggap bahwa itu semua ilusi karena dia kelelahan saja. Ketika dia mau menginjak gas lagi terdengar suara dari kursi belakang mobilnya.

“Dia!…dia pelakunya!” suaranya lantang

Detektif Judy melihat dari spion belakang, sosok Lisa Stamford duduk di kursi belakang mobilnya menatapnya dengan penuh kebencian. Mukanya sangat pucat dan dari matanya keluar air mata berwarna merah seperti darah. Detektif Judy hanya bisa diam terpaku, dia sampai tidak bisa mendengar bunyi hujan di luar mobilnya.


cerbung.net

Sister List

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Detektif Judy , seorang detektif yang bertugas untuk menangani kasus pembunuhan misterius yang menimpa gadis remaja bernama Lisa. Karena minimnya bukti bekas pembunuhan hal ini membuat semua kecurigaan jatuh ke saudari korban , yang berada dirumah disaat Lisa terbunuh.Misteri apa yang akan terungkap di cerita ini? yuk dibaca kisahnya !

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset