Spasi episode 16

-- 16 --
Aku membuka mataku saat Nara menghentikan mobilnya.“Mang Dede, punten mau pinjem kunci belakang!” Nara memanggil seseorang yang sedang duduk-duduk di sebuah gardu poskamling.
“Eh Neng Nara! Kirain Mamang siapa!” Seorang pria berkalung sarung yang tadinya sedang main gaple bersama empat orang temannya segera mendekati mobil. Jam yang terletak di gardu poskamling sudah menunjukkan pukul 1:15.
“Mang ambil kuncinya dulu di rumah ya Neng?”
“Udah Mang bareng aja, mangga naik!”

Pria yang bernama Mang Dede pun naik ke mobil. Nara kembali menjalankan mobilnya meskipun pelan. Jalanan perumahan tak cukup lebar dan banyak gundukan polisi tidur.
“Malam sekali atuh Neng pulangnya?”
“Iya Mang tadi ada kuliah sampe sore. Kenalin Mang ini Disha, temen Nara.”
Mang Dede mengulurkan kedua tangannya dengan hormat padaku.
“Satu kampus sama Neng Nara, Neng Disha?”
“Enggak Mang, dia sekampus sama Papa haha!” Jawab Nara.
“Oh muhun! Eyang sudah tidur atuh Neng, mau dibangunkan?”
“Jangan Mang jangan! Nanti yang ada Nara yang gak bisa tidur kalo Eyang bangun!”
“Oh muhun Neng muhun!”

Mobil berhenti di depan sebuah rumah bercat putih yang sangat sederhana namun halaman depan juga samping kanan kirinya sangat luas. Rumahnya juga dikelilingi teras yang luas dengan beberapa kursi kayu juga satu meja di teras depan. Di samping rumah ada pohon besar dengan ayunan yang terbuat dari ban bekas. Mang Dede membuka pintu pagar yang tidak tinggi dengan sangat pelan, Nara memasukkan mobil ke dalam halaman, tepat di bawah pohon besar.

Mang Dede pergi keluar pagar sebelum kembali lagi beberapa saat kemudian. Ia membuka pintu yang terletak di samping belakang.
“Gimana kabar anak-anak Mang?” tanya Nara.
“Sehat Neng! Neng Nara sehat?”
“Nara mah begini-begini aja Mang!”
“Ada yang diperlukan lagi Neng?”
“Enggak Mang, makasih ya Mang!”
“Muhun Neng! Selamat beristirahat Neng Nara dan Neng Disha!”

Mang Dede menutup pintu pagar dan menguncinya lagi. Nara memasang kunci ganda pada setir mobil sebelum mengajakku masuk ke dalam rumahnya.

“Ini rumah Eyang gue. Udah besok aja berisiknya karena kalo sampe Eyang gue bangun kita bakal gak tidur semaleman, sekarang cuci muka dan tidur, OK?”
“Eyang kamu galak?”
“Bukan! Dia bakal langsung masak dan nyuruh kita makan sampe pagi!”

Aku tertawa cekikikan dan langsung membungkam mulutku saat Nara meletakkan telunjuknya di depan bibirnya sambil melotot. Tak banyak yang bisa aku lihat dalam ruangan rumah yang gelap. Penerangan hanya berasal dari lampu luar yang menembus masuk dari balik tirai. Mataku menangkap sosok dalam foto dalam bingkai besar di dinding. Tak jelas tapi ada tiga orang disana.

Aku mengikuti Nara memasuki ruangan kamarnya. Ruangannya lebih luas dari kamar kosnya yang baru. Ada satu dipan besar, satu lemari baju, satu meja belajar yang sangat rapi susunan buku-bukunya dan empat lemari besar berisi penuh buku.

“Ini buku kamu semua?” Aku menghampiri rak yang berjajar.
“Yep.”
“Udah kamu baca semua?”
“Yep. Udah buruan tidur! Eyang gue berisik kalo pagi, ntar lo malah kecapekan kurang tidur!” Nara menekan-nekan remote AC lalu langsung membanting tubuhnya ke kasur tanpa ganti pakaian. Aku pun mengikutinya berbaring, namun karena aku sudah sempat tertidur di mobil tadi, sekarang aku tidak terlalu mengantuk. Aku mengamati buku-buku di rak dari tempat tidur dan membayangkan Nara sudah membaca semua buku itu. Apa yang ada di dalam otak Nara?

Aku terhenyak saat kokok ayam jago seakan berasal tepat dari luar jendela kamar Nara. Sudah lama aku tidak mendengar kokok ayam dan kini terkejut saat mendengarnya lagi. Sudah terang di luar jendela. Nara masih tidur. Dinginnya AC membuat aku ingin buang air kecil, ingin kubangunkan Nara namun tak tega, mungkin ia kelelahan menyetir semalam. Akupun memutuskan keluar kamar sendiri.

Ada suara memasak dari dapur dibarengi aroma makanan yang membuat perut seketika keroncongan saat aku buka pintu kamar.

Sudah jam 6:30. Semua jendela berikut tirainya sudah terbuka. Aku bisa melihat foto semalam dengan jelas. Aku paham sekarang darimana wajah cantik Nara berasal, Papa Mamanya sangat tampan dan cantik, terutama wajah Sang Mama yang diwarisi oleh Nara.
“Temannya Nara ya?” Sapaan seorang Nenek mengejutkan lamunanku.
“Oh eh, iya Nek, saya Disha. Semalam kami datang.” Langsung aku ulurkan tangan untuk menyalaminya. Tubuhnya tak tinggi, hanya sebatas bahuku, juga kurus dan rambutnya sudah memutih. Namun senyum yang selalu terkembang di bibirnya seakan tak pernah ia tarik sejak ia terlahir dulu hingga keriput wajah mengikuti jejak ramahnya. Wajahnya sangat adem dan menenangkan, hangat tangannya yang tak kunjung ia lepas dari tanganku juga merambat ke dalam hatiku dan membuatku merindukan kampung halamanku, merindukan Mbah Putri yang jauh disana.

“Saya Eyangnya Nara, Ibunya Papa Nara, itu fotonya!” Suaranya yang nyaring dan ramah terdengar akrab seketika. Aku menoleh lagi ke foto Papa Nara. Aku juga melihat kemiripan di wajah mereka berdua, senyum yang sama, mata yang sama.
“Disha satu kampus sama Nara?”
“Enggak Nek…”
“Panggil Eyang saja seperti Nara!”
“Oh iya, enggak Yang, kami gak sekampus.”
“Oo begitu. Disha makan dulu ya, nasi gorengnya sudah matang! Tadi Eyang ke kamar kalian, terkejut lihat ada mobil di luar, tapi masih kelelahan rupanya. Sini-sini!” Eyang menarik tanganku ke meja makan yang terletak di dapur.
“Saya mau ke kamar mandi dulu ya Eyang!” Tolakku saat rasa ingin pipis sudah tak bisa aku tahan lagi.
“Aduh! Iyaya, bangun tidur pipis dulu, yasudah silahkan!” Eyang mengantarku hingga ke pintu kamar mandi sambil tertawa. Ia sangat ramah. Kalimatnya selalu diselingi senyum dan tawa renyah. Seketika aku betah disini.

Ada dua rak kecil dalam kamar mandi dengan satu rak bertuliskan “Perlengkapan untuk tamu”, ada pasta gigi berukuran kecil juga sikat gigi yang masih terbungkus, ada benang pembersih gigi yang baru, ada sabun mandi batangan yang juga baru, serta handuk terlipat rapi di bagian bawah rak.

Lengkap sekali persediaannya. Aku mengambil pasta gigi dan sikat giginya karena baru aku ingat kalau aku lupa tidak membawa perlengkapan mandi. Bodohnya Disha!

Eyang sedang menyapu halaman belakang saat aku keluar dari kamar mandi. Halaman belakangnya juga luas.
“Sudah selesai? Nara masih belum bangun ya.”
“Iya Eyang, mungkin lelah nyetir semalam.”
“Aduuh itu anak perempuan kalau sudah bawa mobil kuat sekali. Nyetir sendiri kemana-mana! Sini-sini duduk, makan duluan saja, kalau menunggu Nara nanti kelaparan!”

Eyang mengambil piring dari rak dan menuangkan nasi goreng disana.
“Sudah Eyang saya ambil sendiri aja!”
“Ehhh jangan! Eyang ambilkan! Anak perempuan suka sungkanan kalau makan, padahal lapar tapi makannya sedikit karena malu atau diet! Makan harus tetap banyak biar sehat dan pintar belajarnya!”

Aku pun pasrah saat Eyang menyendok centong demi centong nasi goreng ke piringku. Eyang juga menambahkan satu telor dadar yang sangat tebal, lalu irisan tomat dan timun juga.

“Nara suka makan tomat dan timun! Disha juga kan?”

“Siapa bilang!” Suara Nara mengejutkan kami berdua. Eyang langsung menghentikan kegiatannya dan memeluk cucunya dengan erat. Tubuh pendeknya tenggelam di dada Nara.

“Nara kok tidak kasih tau Eyang kalau mau pulang?”
“Karena Nara pulangnya malam Eyang, kalo Nara bilang, Eyang akan tunggu Nara sampe Nara dateng! Lagian ada Mang Dede kan yang punya kunci belakang.”
“Itu Nara bawa mobil Ravi lagi?”
“Iya Yang.” Nara duduk di sampingku dan menuang teh hangat ke gelasnya.
“Kalo Papa tau nanti Nara dimarah lagi.”
“Jangan kasih tau Papa dong, Yang.”
“Nara sering dimarahi Papanya, Disha. Suka bandel tidak mau dengar nasehat Papanya.” Eyang mengambilkan nasi untuk Nara. Sama denganku, Eyang juga meletakkan potongan tomat dan timun di piring Nara.
“Sudah habiskan sarapannya, Eyang mau buatkan pisang goreng, mau beli pisangnya dulu. Nara suka pisang goreng, Disha. Disha juga pasti suka.” Lalu Eyang pergi keluar meninggalkan kami berdua.

Nara melahap nasi gorengnya dan mengembalikan timun juga tomat ke piring sayuran lagi.
“Kamu gak suka tomat sama timun?”
“Gue gak suka tomat dan timun, tapi suka dipaksa makan itu sama Eyang.”
“Kamu makan?”
“Enggak, gue buang haha!”

Kami melanjutkan makan lagi. Porsiku sangat banyak, dua kali lebih banyak dari sarapanku biasanya. Milik Nara lebih banyak lagi. Aku sudah merasa kenyang, namun aku tidak ingin mengecewakan Eyang juga Nara.

“Kamu habis itu Ra?” Aku melihat ke piringnya. Nara menjawab dengan gelak tawa.
“Lo pasti bakal kaget liat porsi makan gue kalo di rumah. Gue makan kayak sapi!”
“Kok badan kamu tetep kurus?”
“Entahlah haha! Heran gue juga! Gue makan sehari bisa lima kali Dish, tapi badan gue segini-gini aja!”
“Eyang kamu baik ya Ra.”
“She’s blind!”

“HA? BUTA??”
Nara mengangguk berkali-kali.
“Eyang kamu gak bisa liat??”
Nara mengangguk lagi dan terus sibuk mengunyah tanpa melihatku.
“Ra serius??”

Nara menelan makanannya dan meneguk teh di gelas.

“Dia selalu mengundang siapapun buat makan di rumah, gak peduli orang itu siapa. Bahkan orang yang baru ia kenal di pasarpun akan dia bawa pulang ke rumah dan dia masakin.”

Nara melempar pandangannya ke halaman belakang rumahnya.

“Beberapa orang gak bisa liat garis perbedaan yang ada pada antar individu. Garis tipis yang bedain gue dan lo, straight and gay, theist dan atheist, kaya dan miskin, cantik dan jelek, ada orang-orang yang gak bisa lihat that thin-line. Nah Eyang gue salah satunya, dia buta akan perbedaan haha!”

Aku menghela nafas lega. Bertepatan dengan habisnya makanan di piring, Eyang datang.

“Itu Papa Mama kamu?” Aku menunjuk ke foto di dinding. Nara melihatnya sebentar lalu mengangguk.
“Kamu gak punya sodara kandung?”
“Enggak, gue anak tunggal.”
Aku hampiri beberapa foto kecil yang mengelilingi foto besar, aku tebak mereka adalah foto keluarga Nara yang lain. Ada foto Papanya yang masih muda berseragam SMA.
“Mereka dimana sekarang? Kerja?”
“Mereka gak tinggal disini.” Jawab Nara singkat. Ia sedang sibuk memencet-mencet hapenya.
“Dimana?”
“Somewhere.”

Aku tidak bertanya lagi. Nara memang tidak pernah memberitahuku dimana Papa Mamanya tinggal. Aku melihat buku-buku di kamar Nara. Aroma pisang goreng disertai panggilan Eyang membuatku keluar kamar lagi.

Orang Jawa dikenal dengan orang-orang yang perasa, mereka juga biasanya dipasangkan dengan rasa sungkan dan inggah-inggih. Setidaknya begitulah yang Bapak ajarkan padaku. Aku merasa sungkan untuk tidak memakan suguhan yang sudah dibuatkan Eyang meskipun perutku sudah sangat kekenyangan. Nara masih sibuk dengan hapenya sehingga aku juga sungkan untuk bertanya-tanya.

“Nara mau pake baju mana Nak?” Tanya Eyang dari dalam kamar Nara.
“Yang kuning Yang! Yang gambar anjing! Celananya yang pendek aja, yang jeans biru, yang dibeliin Mama!”
“Sepatunya yang mana?” Tanya Eyang lagi.
“Yaaaaaanggggg………….item, yang ada talinya putih!” Jawab Nara.

Aku hanya mengamati Nara dan Eyang yang kelihatan dari tempatku duduk. Eyang meletakkan pakaian Nara di atas kasur lalu sepatunya di bawah dipan. Eyang merapikan kamar yang menurutku sudah rapi, ia kencangkan lagi spreinya dan membentangkan selimut di bagian kaki. Eyang juga mengelap meja Nara dan semua buku di rak sebelum menyapu lantainya.

“Baju kamu diambilin sama Eyang? Kan kamu bisa ambil sendiri Ra?”
“Eyang gue memang begitu Dish, kalo gue gak mau dia akan sedih! Kamar gue dibersihin tiap hari, seprei diganti tiga hari sekali, selimut juga, kamar itu gak pernah debuan meskipun gue gak balik sebulan haha!”

Aku hanya mengamati Eyang yang sedang di halaman belakang. Ia sayang sekali pada cucunya. Tubuhnya yang sudah tua tidak renta, ia masih sigap bergerak kesana kemari. Kami meninggalkan rumah tepat pukul setengah sembilan.

“Eyang kamu gak diajak Ra?”
“Lah! Jalan-jalan sama Nenek-Nenek? Bukan jalan-jalan tapi duduk-duduk yang ada!”

Kami pergi ke sebuah mal bernama Taman Anggrek. Nara mengajakku berkeliling dan menemaninya membeli beberapa barang. Perut yang masih kenyang membuat kami menunda jajan ini-itu. Namun rasa haus akhirnya memaksa kami untuk duduk di salah satu kafe yang cukup ramai dan memesan minuman dingin.

“Kamu sering kesini Ra?”

Nara mengangguk. Ia buka tasnya mengeluarkan pensil kesayangannya juga rokok berikut koreknya. Ia gelung rambutnya seperti biasa sebelum menyalakan rokok.
“Temen gue ada yang tinggal disini.”
“Dimana?”
“Di Calypso, belakang mal ini. Belakang mal ini yang gedungnya tinggi-tinggi, itu apartemen Dish.”
“Temen kamu masih kuliah apa udah kerja?”
“Macem-macem, yang kerja banyak, yang kuliah juga banyak. Lo belum pernah ke diskotik? Mau tau dalemnya diskotik? Kita bisa kesana ntar malem.”
“Enggak Ra, aku belum pernah ke diskotik.”
“OK kita kesana ntar malem.”

Aku menyeruput lagi minumanku.

“WOY TANYONG!” Teriak Nara tiba-tiba sambil melambaikan tangan ke arah belakangku. Aku menoleh. Tania bersama dua orang gadis lainnya juga beberapa pria melihat ke arah Nara. Lalu beberapa orang dari mereka mereka sontak menjawab lambaian tangan Nara.

Tania?

cerbung.net

Spasi

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Kata orang, persahabatan yang sukses adalah saat aku dan kamu menjadi kita dan kita saling menjadi buku yang terbuka.Tapi tidak ada yang bercerita tentang apa isi dalam bukunya. Bagaimana jika buku itu berisi bahasa yang berbeda dalam aksara yang juga purba? Bahasa yang aku dan kamu tidak mengerti cara membacanya. Akankah kita bisa mencapai nirwana yang kamu sebut Valhalla? Mungkin tidak ada surga di ujung jalan kita karena surga itu mungkin ada disini. Namun kita saja yang tidak pernah mau melihat lebih dekat. Mungkin juga tidak ada neraka yang menunggu kita karena bisa jadi apa yang kita tinggali saat ini adalah neraka.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset