Spasi episode 7

-- 7 --

Beberapa hari sebelum aku melihat Gadis Tanpa Alas Kaki:

Aku menelepon Tari suatu malam. Lama terhubung namun tak juga diangkat, lalu putus. Aku ulangi lagi.“Halo! Maaf Disha! Tari tadi sedang mandi, ada apa?”

Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan Tari dengan nada yang terdengar tak terkejut dengan teleponku. Setidaknya aku mengharapkan teriakan terkejut nan manjanya yang seperti dulu. Telepon malam itu adalah telepon pertama yang aku buat setelah Tari melewati bulan ospeknya. Selama ia ospek SMSku hanya dijawab dengan singkat dan aku mengerti Tari sedang sibuk maka tidak aku ganggu lagi.

“Tari apa kabar?”

“Tari baik. Kamu?”

“Aku juga baik. Sabtu ini sibuk gak Tari? Kalo enggak, pergi main yuk!”

“Aduh, maaf Disha! Tari ada tugas kelompok!”

“Minggu?”

“Minggu ada kumpul unit.”

“Senin? Kita bisa nomat!”

“Tak bisa Disha, Tari kuliah sampai jam enam dan ada kumpul himpunan. Maaf ya Disha. Mungkin lain kali.”

Ajakan mungkin lain kali itu tidak terdengar seperti janji yang menarik bagi Tari. Satu tahun lebih bersamanya, membuat aku hafal pada intonasi bicara Tari dan Alin. Pembicaraan malam itu tidak seperti seorang Tari yang dulu selalu ceria dan bersemangat.

Mungkin Tari sudah memiliki teman-teman baru. Tari adalah anak yang mudah disukai siapa saja dan dia tidak akan kesepian. Jika ia sedih, ia bisa bercerita pada siapa saja yang ia mau dan pasti akan selalu ada yang memberikan bahu untuk Tari menangis.

Karena Tari menyenangkan. Karena Tari baik pada semua orang.

Alin lebih tidak bisa aku hubungi. Bukan hanya SMS yang tidak pernah dibalas, tapi juga telepon yang tidak pernah tersambung.

Mungkin Alin juga sangat sibuk, atau berganti nomer hape, tapi kenapa tidak mengabariku? Ah mungkin Alin sangat sibuk.

Tari tidak pernah menghubungiku lagi. Permintaan ijinku untuk main ke kosannya juga tidak pernah ia iyakan.

Seandainya aku masuk himpunan dan ikut unit, mungkin aku juga begitu, akan menjadi sangat sibuk hingga sepi pun tak punya kesempatan untuk singgah. Mungkin aku juga akan punya teman baru yang membuat aku lupa pada mereka yang pernah sua.

Jika aku punya teman-teman baru dengan kesibukan-kesibukan mahasiswa pada umumnya, mungkin halaman coklat binderku tidak akan terus bertambah.

Mungkin saja aku tidak merasa sendiri, tidak sangat ingin berteman karena teman datang dengan sendirinya, tidak perlu sibuk menyampaikan bahasaku karena aku ingin dimengerti oleh bahasa mereka.

Aku pernah mendengar dari salah satu dosenku bahwa Matematika adalah bahasa alam semesta. Bahasa yang seyogyanya dimengerti oleh semua mahasiswa Sains. Tidak mudah, tapi harus dimengerti, butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengerti, tapi bisa dimengerti.

Bahasa angka tidak mudah, namun tidak bercabang artinya seperti kata. Matematika tidak seperti puisi yang membangun belantara.

Saat membahasakan kode alam semesta, puisi dan Matematika memiliki cara unik dalam berseni. Puisi dengan deret kata, Matematika dengan deret geometri (fraktal).

Puisi membuat satu pohon dengan pohon lainnya berkaitan dengan deret katanya, sehingga saat satu pohon roboh, ada daun, dahan, bahkan pohon lain yang ikut roboh.

Matematika sebaliknya, akan memetakan deret dalam grid, barisan angka-angka hingga matriks yang garis, baris, dan kolomnya berada dalam batas yang jelas.

Namun, ada kesamaan dalam bahasa puisi juga deret angka. Keduanya memiliki jarak beberapa milimeter antara deret kata juga deret angka yang bisa dilihat namun tak dilihat.

Spasi.

Dalam puisi, spasi adalah ruang untuk bersenandika.
Ruang untuk merenung atas kata yang tak terucap,
rasa yang tak terungkap,
tanya yang tak terjawab,

sekaligus menjadi ruang untuk melegakan diri atas diam yang terungkap,
rasa yang bebas perangkap,
dan jawab dari tanya yang tak terucap.

Spasi seperti ruang diantara setiap pohon dalam hutan, ia menunjukkan batas individual, spasi memberi bentuk utuh atas suatu citra pohon yang menyusun hutan.

Spasi dalam Matematika juga menjadi ruang yang memperjelas arti pada angka dan membatasinya dengan angka berikutnya. Spasi mempertegas arti hubungan antara angka dalam deret.

Pohon dengan batang utama, batang utama yang bercabang menjadi dua dahan besar, dahan besar yang bercabang menjadi dua dahan kecil, dahan kecil yang bercabang menjadi dua dahan kecil, ranting yang bercabang dua menjadi ranting yang lebih kecil, dan seterusnya, itu adalah contoh fraktal. Matematika juga bisa menyenikan alam semesta dengan bahasanya.

Namun ada bahasa yang tidak memiliki bentuk, tidak memiliki angka, tidak memiliki kata, juga tidak memiliki suara. Bahasa purba yang bisa dimengerti tanpa perlu dicitrakan dalam bentuk. Bahasa yang sangat kompleks dan dimiliki semua manusia: kesadaran (consiousness).

Puisi dan fraktal, keduanya indah, membuai dan misterius dengan caranya masing-masing. Kata dan angka yang dapat melakukan pendekatan terhadap kesadaran dengan cara yang berbeda.

Bahasa yang sama seperti saat aku melihat Gadis Tanpa Alas Kaki.

Apakah ada yang melihat aku seperti aku melihat Gadis Tanpa Alas Kaki?
Adakah yang tersenyum lebar dan ingin tertawa bahagia saat melihatku seperti aku melihat Gadis Tanpa Alas Kaki?
Apakah Tari merasakan seperti apa yang aku rasakan saat melihatku, seperti saat aku melihat Gadis Tanpa Alas Kaki?

Aku tidak tahu.

Aku tidak tahu apakah ada yang menyadari eksistensiku meskipun ragaku tak hadir selain Bapakku.
Aku tidak tahu apakah ada yang mengagumiku saat pertama kali melihatku, yang tidak melakukan apa-apa namun dengan bahasa kesadaran mereka, mereka bisa membaca yang tidak terbaca dan melihat aku memiliki potensi untuk dikenali.

Mungkin ada banyak yang seperti aku di dunia ini. Mungkin ada beberapa dari orang-orang yang selalu berjalan sendiri juga merasa sepertiku. Mungkin ada orang lain yang ingin aku lihat, seperti aku yang berharap untuk dilihat, namun aku luput tatap.

Mungkin aku memang sendiri dalam kompartemenku, namun tidak di lingkunganku, tidak di muka bumi ini. Di suatu tempat, mungkin ada yang sepertiku.

Aku tidak tahu.

Ketidaktahuan dan ketidakberdayaan selalu membuat aku takut dan tertunduk. Tapi hari ini, ketidaktahuanku membuat aku berani melepas sepatu dan kaos kaki, lalu aku buka payung dan kutembus jalanan yang sama dengan Gadis tadi.

Aku berkali-kali menangis sepanjang perjalanan.
Mungkin aku menangis karena kehilangan Tari dan Alin.
Mungkin aku menangis atas rasa sendiri dan dosa pada Bapak yang mulai gerogoti hati.
Atau mungkin aku menangis atas alasan yang tidak aku tahu sama sekali.

Seandainya jalan ini bersalju, aku akan tapakkan kaki di bekas tapakmu, mengikuti kemanapun tapakmu menuju.

Aku berjalan kaki dari kampus hingga asrama. Tidak ada yang bertanya mengapa. Tidak juga ada yang menatap heran. Tapi itu tidak jadi masalah lagi padaku, untuk kali pertama aku merasakan ringan dalam langkah juga hatiku. Siapapun Gadis tadi, dia telah membantu membuat hatiku tenang dan hangat malam ini.

Aku memiliki teman baru di Fisika, ia bernama Gita. Kami dipertemukan dalam sebuah tugas presentasi dan tidak menjadikan kami akrab juga, namun karena kemiripan kami yang sama-sama selalu sendiri membuat kami sering duduk bersama mengerjakan tugas atau laporan. Gita tidak banyak bicara dan selalu memalingkan matanya dari mata lawan bicaranya saat bicara, termasuk aku. Gita pintar menggambar dan ia selalu menggambar karakter kartun Jepang di bukunya meskipun sedang pelajaran.

Aku lebih awas saat berada di kampus. Aku lebih sering mengamati satu persatu wajah yang aku jumpai di jalanan kampus, mencari sosok Gadis Tanpa Alas Kaki. Beberapa kali aku juga berdiri di pelataran fakultas untuk duduk di tangga dan menunggunya. Mungkin dia akan lewat sini lagi atau menunggu temannya disini lagi seperti hari itu.

Aku tidak pernah melihatnya lagi.

“Lo ikut unit apa Dish?” Tanya Gita saat kami sedang mengerjakan tugas.
“Gak ikut apa-apa Git.”
“Lo gak ikut himpunan dan gak ikut unit? Lo sibuk apaan? Ngajar?”
“Um, enggak. Aku gak sibuk apa-apa. Kalo kamu?”
“Gue ikut Kesenian Jepang, jarang dateng juga sih. Sama ngajar.”
“Ngajar apa?”
“Ngajar anak SMA, privat gitu. Lumayan buat jajan. Ada lowongan di grup gue kalo lo mau. Kemaren pengajarnya ada yang mundur satu.”
“Anak SMA?”
“Iya SMA, dua orang.”

Aku menimbang tawaran Gita.

Aku juga mengajar anak-anak SMP sewaktu di desa dulu, mungkin ini bisa aku jadikan pengalaman yang sama. Dulu aku hanya sekedar membantu guru dan mendapat uang yang cukup untuk jajan tanpa harus meminta Bapak. Saat ini aku butuh menabung untuk membeli laptop sendiri karena tugas kuliah juga laporan yang semakin banyak tak jarang memaksaku pergi ke warnet yang letaknya jauh dari asrama. Sering aku harus pulang jam 10 malam hanya untuk mengerjakan laporan.

“Woy gak gitu juga kaleee Nyiing! Sini-sini gue bantuin!” Suara ribut Wahyu dan kelompoknya yang terdiri dari dua pria (termasuk Wahyu) dan tiga perempuan. Mereka hampir dipastikan selalu bersama-sama kemanapun mereka pergi, bahkan kuliah pilihan sekalipun. Kelimanya ada di kelas yang sama, sama denganku juga, dan mereka selalu ribut.

Wahyu sudah bukan Wahyu yang dulu.

Mungkin kalau aku merubah cara bergaul dan bicara seperti Wahyu, aku akan memiliki banyak teman seperti dia?

Wahyu hanya melihatku sebentar dan berlalu sambil mengutak-atik rubrik di tangannya. Wahyu sudah mahir bermain rubrik. Berkali-kali ia adu kecepatan dengan beberapa teman di kelas dan sering menang. Lalu di woohoo-woohoo oleh kelompoknya.

Dandanannya juga berubah. Ia tidak lagi bujang dengan celana bahan dan kemeja, kini ia selalu mengenakan jeans juga kaos yang dibalut kemeja tanpa dikancingkan. Rambut ikalnya yang dulu selalu tersisir klimis dengan belahan di kiri, kini telah diacak-acak dengan minyak rambut dan sisiran jari tangan. Dia lebih seperti artis pria kota di tivi-tivi. Penampilan berantakan namun tetap tampan.

Aku mengirim pesan kepada Lara, koordinator tim pengajar Gita. Tak butuh waktu lama, Lara mengajak aku bertemu sepulang kuliah hari ini, menanyaiku tentang IPK, kuliah yang aku ulang, juga pengalamanku mengajar. Jawabanku tampak membuat Lara cukup yakin akan kemampuanku sehingga akupun diajak bergabung.

Murid yang aku ajar adalah dua orang siswa kelas dua SMA. Satu laki-laki dan satu perempuan bernama Edgar dan Angel. Mereka sekolah di sekolah yang sama hanya berbeda kelas. Kami selalu belajar di perpustakaan kampusku setiap hari Selasa dan Kamis mulai dari pukul empat hingga pukul enam. Edgar dan Angel sama-sama aktif. Mereka banyak bertanya sehingga aku tidak perlu kikuk untuk memulai sesi kami. Bahkan keaktifan mereka membuat waktu cepat sekali berlalu.

Satu semester sudah berlalu. Aku memilih tidak pulang lagi di semester ketiga karena aku mengambil kesempatan mengajar privat yang semakin padat menjelang ujian sekolah. Meskipun kuliahku tak gemilang setidaknya aku berhasil lulus tanpa perlu mengulang mata kuliah.

“Kak Disha, kalo Kamis ini belajarnya di McD jam 8 malem mau gak Kak? Aku traktir Kakak deh!” Pinta Edgar.
“Kenapa harus di McD?”
“Aku mau pergi sama pacar aku sorenya, dia ulang tahun Kak.”
“Oh gitu, ya udah gak apa-apa. Gak usah nraktir aku juga gak apa-apa kok Ed!”
“Pacar aku juga mau ikut belajar Kak, boleh gak? Bayarnya COD dah!”
“COD?”
“Cash on Deal Kak, bayar habis belajar. Tapi jangan bilangin Kak Lara, kalo Kak Lara tau bisa ditegor Kak.”

Lara memang membuat aturan untuk tidak menerima siswa tambahan diluar yang terdaftar. Semua siswa baru harus ijin kepada Lara.

“Um…”
“Pacar aku rumahnya jauh Kak, kalo aku nganterin dia pulang dulu, bisa-bisa jam 9 baru sampe sini lagi.”

Aku pun melanggar aturan Lara. Aku iyakan permintaan Edgar.

“Tapi cuma sampe jam setengah sepuluh ya Ed. Aku mau upload laporan sebelum pulang ke asrama.”
“Deal Kak! Aku anter Kakak kemana juga deh!”

Di hari yang ditentukan, aku tiba di McD yang kami janjikan sebelum pukul delapan. Aku tidak pernah makan di McD sebelumnya apalagi belajar di McD. Aku hanya pernah membeli es krim lewat jendelanya dan menikmatinya di angkot. Aku hanya melihat ruangannya dari luar jendela dan tidak tahu sama sekali tentang lantai dua yang sudah tersohor menjadi tempat belajar para mahasiswa.

Aku memesan Sundae coklat dan duduk di salah satu kursi di lantai satu.

Edgar, Angel dan pacar Edgar tiba pukul 8:15. Edgar memimpin naik ke lantai dua karena katanya disana lebih kondusif untuk belajar.

Lantai dua cukup ramai namun tidak penuh. Ada dua ruang terpisah, ruang untuk merokok dan tidak untuk merokok yang dibatasi oleh dinding kaca. Ruang merokok langsung berbatasan dengan udara luar yang malam ini cukup berangin.

Kami memilih di dalam saja.

Setelah makan (Edgar memaksa membelikan aku makan malam) kami pun mulai belajar. Aku berikan soal-soal yang sudah aku siapkan dan mereka mengerjakan dengan semangat sambil bertanya ini itu.

Tidak terasa sudah hampir jam sepuluh malam. Aku harus pergi ke warnet untuk menyelesaikan dan mengirim laporan sebelum pukul dua belas malam ini.
“Jadi Kakak mau ke warnet dulu aja ini? Gak langsung pulang ke asrama?” Edgar menggandeng tangan pacarnya turuni tangga sementara aku dan Angel berjalan di belakang mereka.
“Iya aku mau ke warnet dulu.”

Bersamaan dengan tangga yang sedikit berbelok, aku melihatnya lagi.

Gadis Tanpa Alas Kaki.

Tatap mata kami bertemu karena ia hendak naik ke lantai dua dan di tangga yang cukup sempit ini, salah satu kelompok harus mengalah untuk berhenti dan memberi jalan.

Tidak hanya menatap kedua mataku, ia juga tersenyum.

Aku kehilangan sosoknya di balik belokan tangga. Hati ingin kembali dan melihatnya lagi, namun laporan yang belum selesai memaksa aku untuk tetap pergi.


cerbung.net

Spasi

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Kata orang, persahabatan yang sukses adalah saat aku dan kamu menjadi kita dan kita saling menjadi buku yang terbuka.Tapi tidak ada yang bercerita tentang apa isi dalam bukunya. Bagaimana jika buku itu berisi bahasa yang berbeda dalam aksara yang juga purba? Bahasa yang aku dan kamu tidak mengerti cara membacanya. Akankah kita bisa mencapai nirwana yang kamu sebut Valhalla? Mungkin tidak ada surga di ujung jalan kita karena surga itu mungkin ada disini. Namun kita saja yang tidak pernah mau melihat lebih dekat. Mungkin juga tidak ada neraka yang menunggu kita karena bisa jadi apa yang kita tinggali saat ini adalah neraka.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset