Suamiku Diguna-guna Pelakor episode 1

Namaku Mentari Senja, orang-orang biasa menyapa Tari, umur 35, memiliki dua putri yang sangat cantik. Yang sulung kelas 1 SD sedangkan yang kedua umur 4 tahun. Kehidupanku nyaris sempurna sebelum iblis berbentuk perempuan masuk ke dalam rumah tanggaku, memporak porandakan tatanan kehidupanku tanpa ampun, tanpa jeda, terseok-seok, hingga hancur berkeping-keping. Tapi, kuatnya iman dalam dada mampu membuatku bertahan untuk tetap menjalani kehidupan.

Alfin, nama suamiku. Seorang karyawan BUMN di Jakarta. Dia tidak tampan, biasa saja menurutku, masih banyak lelaki yang lebih tampan darinya, mantan pacarku saja jauh lebih tampan darinya. Tapi, aku sangat mencintainya, entahlah, mungkin karena sikapnya yang selalu baik terhadapku dan anak-anak. Bahkan ia tidak pernah sekali pun marah padaku. Serius!

Dia menjadikan aku wanita paling bahagia di bumi.

Namun, itu tidak berlangsung lama sampai perempuan bernama Zulfa muncul. Perempuan itu adalah teman SMA suamiku, mereka bertemu lagi saat reunian. Dari sana komunikasi mereka berlanjut, tapi saat itu belum ada yang berubah dengan sikap Mas Alfin.

Suatu hari aku mulai merasakan sikap suamiku berubah, dingin, dan seolah enggan menatapku. Aku bingung, tapi aku mencoba berbaik sangka dulu, mungkin dia lelah.

“Mas, mau aku bikinin kopi?” tawarku sambil menyentuh pundaknya. Saat itu dia sedang duduk di teras, serius mengetik pesan di ponselnya, entah siapa yang sedang berkomunikasi dengannya.

“Enggak. Sudah, jangan ganggu Mas. Sana masuk!” bentaknya. Hatiku sakit. Baru kali ini dia membentakku.

Aneh, ada apa dengannya? Padahal selama ini dia tidak pernah membentakku seperti itu.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, sikap Mas Alfin semakin aneh, dia terlihat gelisah setiap malam, bakan enggan menyentuhku, padahal sebelumnya dia sangat suka menyentuhku, menggodaku, dan melakukan hubungan suami istri. Yang lebih parah adalah dia seperti tidak nyaman berada di rumahnya sendiri. Ia semakin tidak peduli dan mendiamkanku, aku sempat menduga apakah ini sifat aslinya? Baik dan perhatian hanya awal-awal pernikahan saja.

Yang paling bikin aku syok adalah ketika tidak sengaja bersentuhan denganku, dia langsung mengibaskan tangan, seolah aku adalah binatang menjijikan. Feelingku bilang, ada yang tidak beres dengan Mas Alfin. Ini beneran udah enggak wajar. Aku harus berbuat sesuatu.

Keanehan yang terjadi pada Mas Alfin aku ceritakan pada ibu dan mertuaku. Tidak aku duga ternyata sikap Mas Alfin berubah tidak hanya kepadaku saja, tapi pada ibunya dan keluarganya juga. Sekarang aku semakin yakin ada yang tidak beres dengan Mas Alfin.

Lalu, mertuaku menyarankan untuk bertanya pada orang pintar. Dari sana aku tahu bahwa memang benar, Mas Alfin ada yang ngeguna-guna. Untuk tambah meyakinkan lagi, aku bertanya pada orang pintar yang lainnya dan jawabannya juga sama, Mas Alfin ada yang ngeguna-guna.

Aku heran kenapa ada orang seperti itu pada Mas Alfin, siapa dia? Lalu dari salah satu Kyai aku pun tahu jawabannya, dia adalah seorang wanita yang ingin merebut Mas Alfin dariku dan semua harta kami.

Harta? Asal kalian tahu, kami bukan orang kaya. Memang, kami punya mobil dan rumah yang bisa dibilang besar. Hey, kami mendapatkan semua itu dengan susah payah, tidak instan, benar adanya istilah kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Kami berusaha mati-matian untuk mendapatkan semua itu. Lalu sekarang ada orang yang dengan entengnya ingin merebutnya dengan jalan yang dilaknat Allah? Aku benar-benar marah dan sedih.

Entah benar atau tidak, kata orang pintar itu, dalam pandangan Mas Alfin, aku itu seperti monster buruk rupa yang menjijikan, sedangkan wanita itu cantik bak bidadari. Padahal kalau aku bilang ya, kenyataannya terbalik, pelakor yang belakangan tahu bernama Zulfa itu sangat jelek, aku jauh lebih cantik darinya. Ini serius! Bahkan teman-temanku heran, kok bisa sih, Mas Alfin kepincut nenek-nenek? Iya, mereka bilang si Zulfa itu kayak nenek-nenek, kulit kendur, kusam, hitam, peot, pokoknya enggak banget lah, padahal dia seumuran denganku.

“Tari, ayo kita cari obat penangkal buat Alfin,” ajak mertuaku satu hari.

“Iya, Ma. Kemana?” tanyaku.

“Ke Banten, kata Om Ario ada orang pintar di sana yang bisa menyembuhkan orang yang kena guna-guna,” jawab ibu mertua.

Kalau ngomongin soal ibu mertuaku, dia sudah seperti ibu peri buatku. Serius. Dia wanita yang sangat baik dan penyabar. Sebenarnya, orang yang paling terluka dengan adanya kejadian ini selain aku adalah dia. Berkali-kali dia jatuh pingsan karena meladeni si iblis betina itu. Ibu mertua pernah datang ke rumah si Zulfa ngelabrak, tapi yang didapat hanya hinaan dan makian.

Aku pun pernah ngelabrak si pelakor itu, tapi ujung-ujungnya aku malah ditampar oleh suamiku di depan pelakor itu, aku syok banget. Keesokan harinya aku dilaporkan ke polisi oleh kerabat si Zulfa dengan tuduhan pencemaran nama baik karena aku mengatai iblis betina itu pelacur. Padahal apa bedanya dia dengan pelacur, bukan?

Kalian tahu bagaimana perasaanku saat itu? Hatiku hancur! Benar-benar hancur! Aku bahkan sudah tidak bisa mengeluarkan air mata, mungkin sudah kering karena aku tidak henti-hentinya menangis.

Selama kenal Mas Alfin dia tidak pernah kasar sekali pun. Tapi, hari itu aku ditampar olehnya karena dia membela Zulfa. Sakit fisik tidak seberapa, tapi hati jauh teramat sakit, apalagi ketika melihat pelakor itu tersenyum senang melihat aku ditampar suamiku sendiri karena membelanya. Oh, Alloh ….

“Siap-siap kamu mendekam di penjara, Tari!” seru si pelakor itu padaku sebelum aku berlalu dari sana. Benar saja seminggu kemudian aku dipanggil oleh polisi, tapi alhamdulillah aku tidak ditahan.

Kalau kalian masih belum percaya ada iblis betina di dunia nyata, nih, aku kenalkan pada kalian perempuan bernama Zulfa. Dia bahkan lebih buruk daripada iblis. Laknatullah!

Keluargaku marah tidak terima mendengar aku ditampar Mas Alfin, lalu ayah dan ibuku marah padanya, tapi tidak ada raut penyesalan di wajah suamiku. Dia malah haha hihi enggak jelas, berkilah, pokoknya sangat menyebalkan!

Aku lelah, terluka sudah pasti, apalagi kalau melihat Mas Alfin bersama iblis betina itu. Menangis saja sudah tidak mampu melegakan dada yang sesak. Entah harus bagaimana. Solat malam, zikir, rutin aku lakukan berikut apapun yang Kyai katakan padaku untuk mengembalikan Mas Alfin. Tapi, sampai saat ini belum ada hasil. Alloh … harus bagaimana lagi? Aku kasihan pada anak-anak yang menanyakan di mana ayahnya, apalagi si sulung Nazwa. Air mataku jatuh tiap kali dia bertanya seperti itu.

Mas Alfin benar-benar sudah tidak peduli pada kami, tapi untungnya dia masih ingat dengan uang susu anaknya, setidaknya dia masih menjadi lelaki yang bertanggung jawab dalam urusan nafkah.

Dari Banten, kami tahu bahwa guna-guna yang pelakor itu pakai sangat kuat, karena jaminannya adalah nyawanya sendiri. Kalau guna-guna itu hancur, otomatis dia mati. Jujur, selama ini aku tidak begitu percaya dengan hal-hal seperti itu, tapi sekarang aku percaya karena aku mengalaminya sendiri.

Puncak kesedihanku adalah ketika tiba-tiba ada kiriman dari pengadilan berupa surat cerai. Ketika mendapatkan surat itu, aku jatuh pingsan. Ini benar-benar diluar dugaan. Mas Alfin sampai menceraikan aku gara-gara perempuan hina itu. Tapi, dengan pertimbangan keluarga, perceraian itu ditahan dan Mas Alfin setuju.

“Aku sudah tidak mencintaimu, Tari. Aku hanya mencintai Zulfa,” kata Mas Alfin tanpa menatapku sama sekali.

“Aku tidak bisa hidup tanpa Zulfa,” sambungnya. Demi Alloh saat mendengar itu, aku benar-benar sakit! Memang benar sekarang Mas Alfin dalam pengaruh guna-guna laknat itu, tapi tetap saja itu sangat melukai hatiku.

Untuk sekadar informasi, ciri-ciri orang yang terkena jenis guna-guna yang pelakor itu pakai adalah, wajah si penderita seperti orang linglung, planga-plongo, bloon lah istilahnya. Tatapan matanya juga berbeda dari sebelumnya. Aku sudah tidak menemukan Mas Alfin lagi dalam dirinya, dia sudah jadi orang asing.

Pernah satu ketika, mungkin efek guna-gunanya mulai kendor, Mas Alfin datang padaku sujud sambil nangis meraung-raung meminta maaf. Alhamdulillah, sepertinya semua akan kembali seperti sedia kala. Tapi, itu tidak berlangsung lama dia kembali linglung bahkan semakin menjadi-jadi.

Berbulan-bulan aku hidup bersuami, tapi tanpa suami. Aku bahkan sudah disebut janda oleh tetangga yang bermulut usil. Aku sangat mencintai Mas Alfin, tapi aku tidak bisa terus hidup seperti ini, dalam pandangan agama pernikahanku telah jatuh talak, karena sudah tidak mendapat nafkah lahir maupun batin.

Demi Alloh, aku menghormati keluarga suamiku yang menginginkan pernikahan kami tetap utuh, tapi aku tersiksa! Tidak ada yang bisa merasakan bagaimana perasaan ini selain diriku sendiri.

Di sisi lain aku juga harus mencari uang untukku dan anak-anak, walaupun masih ada uang susu dari Mas Alfin, tapi kadang itu tifak cukup. Aku harus kerja atau apapun itu untuk menghasilkan uang dan untuk menghibur diriku sendiri, mungkin dengan adanya kesibukan aku tidak terlalu sedih lagi, aku tidak boleh terkungkung dalam satu keadaan yang jelas-jelas sudah tidak ada harapan.

Aku harus survive! Aku harus bangkit, demi anak-anak.

“Tari, kamu pasti bisa!”

Usut punya usut ternyata korban si Zulfa bukan hanya suamiku, sebelumnya sudah banyak. Dan motifnya sama. Harta. Perempuan itu banyak hutang, jadi dia mengincar siapa saja yang menurutnya berekonomi baik. Sialnya suamiku kena. Sudah terkenal di lingkungannya bahwa dia adalah pelakor, tapi tanpa malu dia malah unjuk gigi kesana kemari, menunjukan harta yang dia miliki hasil merebut dari orang lain. Nauzdubillah.

Suatu hari aku benar-benar sudah tidak kuat dengan semua ini. Teror demi teror membuatku menyerah, akhirnya dengan pikiran yang matang aku layangkan gugatan cerai ke pengadilan. Sekarang, aku sudah berpisah dengan Mas Alfin. Bukankah aku juga berhak bahagia? Berpisah dengan Mas Alfin mungkin itu yang terbaik untukku dan anak-anak.

Sekarang harus berpikir bagaimana mencari nafkan untukku sendiri dan anak-anak. Segala peluang sudah kucoba dari berjualan tas online, kerudung, baju dan makanan. Tapi, Alloh maha baik, beruntung aku memiliki keluarga yang tidak henti-hentinya mendukung. Aku pun diberi satu petak kios di pasar. Sekarang aku berjualan aneka plastik di sana. Alhamdulillah wasyukurilah hasilnya lumayan dan lebih berkah rasanya.

Sekarang aku tidak tahu lagi kabar Mas Alfin dan si pelakor itu. Entahlah, aku juga sudah tidak mau tahu. Yang terpenting sekarang adalah anak-anak. Aku akan membesarkan mereka dengan segenap kemampuanku. Aku akan memberikan apapun yang terbaik untuk mereka, karena mereka adalah alasanku untuk hidup di dunia. Nazwa dan Natasha, dua bidadariku.

Kejadian ini adalah pelajaran berharga bagiku. Sedahsyat apapun cobaan hidup menimpamu, jangan sekali-kali jauh dari Sang Pencipta. Mintalah padaNya. Karena Dia adalah satu-satunya penolongmu. Enggak ada yang lain.

Jangan sekali-kali mencintai apapun melebihi cintamu padaNya. Karena kalau Dia cemburu, Dia bisa mengambilnya atau menghilangkannya kapan saja. Dulu aku sangat mencintai Mas Alfin, sampai aku menceritakan pada orang-orang bagaimana baiknya dan sempurnanya dia di mataku. Tapi, rupanya itu membuat Alloh cemburu, lalu memberi aku cobaan seperti itu.

Saat aku mendengar teman-temanku bercerita, “Hei, suami si itu selingkuh loh.” Atau, “Hei, suami si anu kabur enggak bertanggung jawab padahal istrinya sedang mengandung.” Aku berkata dalam hati, Mas Alfin tidak mungkin seperti itu, dia kan sangat mencintaiku, kejadian mengerikan itu tidak mungkin terjadi padaku.

Tahukah kamu itu adalah sifat takabur. Aku terlalu takabur! Dan sifat itu adalah yang paling dibenciNya, Akhirnya Alloh pun menegurku dengan cara seperti ini agar aku tersadar.

Wahai saudaraku, sesulit apapun kehidupanmu, jangan sekali-kali kamu merebut milik orang lain, jangan iri, dan janganlah menyakiti hati sesama kaummu. Carilah jalan yang lebih berkah, karena hidup di dunia itu hanya sementara, enggak selamanya. Ingat, sesungguhnya siksa Alloh itu sangat pedih.

Satu lagi yang harus kalian ingat wahai pelakor, karma itu ada dan tidak semanis kurma. Semoga aku bisa menyaksikan kamu mendapatkan karma itu di dunia. Aku sangat menunggunya.

***

Mas, aku rindu berdiri satu saf di belakangmu.
Aku rindu membentangkan sajadah di sepertiga malammu.
Aku rindu lantunan ayat-ayatNya yang keluar dari bibirmu.

Ya Allah, bolehkah sekarang aku rindu pada orang yang bukan mahramku lagi?
Seandainya ada kata yang bisa mewakili perasaan rinduku, mungkin ribuan kata takan bisa menanggungnya. Rangkaian kalimat takan mampu menjabarkannya.

Oh Allah, sampaikan rasa rinduku melalui embusan angin malamMu.

Semoga kamu baik-baik aja, Mas. Walau luka yang sudah kamu torehkan padaku sangat dalam, aku tidak akan melupakan sejuta kebaikan yang sudah kamu berikan untukku begitu saja.

Dan jika suatu saat Allah memberikan jodoh lagi untukku, posisimu sebagai ayahnya anak-anak tidak akan tergantikan. Doakan aku agar bisa melupakan kamu, Mas.

La tahzan Tari. Kamu pasti kuat. Allah akan selalu menyertaimu. Pasrahkan semua padaNya. Curahkan semua padaNya. Hidup dan matimu ada dalam genggamanNya.

Tamat.

cerbung.net

Suamiku Diguna-guna Pelakor

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Namaku Mentari Senja, orang-orang biasa menyapa Tari, umur 35, memiliki dua putri yang sangat cantik. Yang sulung kelas 1 SD sedangkan yang kedua umur 4 tahun. Kehidupanku nyaris sempurna sebelum iblis berbentuk perempuan masuk ke dalam rumah tanggaku, memporak porandakan tatanan kehidupanku tanpa ampun, tanpa jeda, terseok-seok, hingga hancur berkeping-keping. Tapi, kuatnya iman dalam dada mampu membuatku bertahan untuk tetap menjalani kehidupan.Alfin, nama suamiku. Seorang karyawan BUMN di Jakarta. Dia tidak tampan, biasa saja menurutku, masih banyak lelaki yang lebih tampan darinya, mantan pacarku saja jauh lebih tampan darinya. Tapi, aku sangat mencintainya, entahlah, mungkin karena sikapnya yang selalu baik terhadapku dan anak-anak. Bahkan ia tidak pernah sekali pun marah padaku. Serius!Dia menjadikan aku wanita paling bahagia di bumi.Namun, itu tidak berlangsung lama sampai perempuan bernama Zulfa muncul. Perempuan itu adalah teman SMA suamiku, mereka bertemu lagi saat reunian. Dari sana komunikasi mereka berlanjut, tapi saat itu belum ada yang berubah dengan sikap Mas Alfin.Suatu hari aku mulai merasakan sikap suamiku berubah, dingin, dan seolah enggan menatapku. Aku bingung, tapi aku mencoba berbaik sangka dulu, mungkin dia lelah."Mas, mau aku bikinin kopi?" tawarku sambil menyentuh pundaknya. Saat itu dia sedang duduk di teras, serius mengetik pesan di ponselnya, entah siapa yang sedang berkomunikasi dengannya."Enggak. Sudah, jangan ganggu Mas. Sana masuk!" bentaknya. Hatiku sakit. Baru kali ini dia membentakku.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset