Terlambat Menentukan Pilihan episode 1


BAGIAN  1   Masa Muda

Astuti, seharian ini kerjaannya hanya melamun, merenungi nasib yang menimpanya…. dia sadar itu karena olahnya sendiri yang suka bermain api dengan terjun kedunia kemaksiatan…yaaahhh..dengan meneguk kenikmatan yang semu ia korbankan ayah , ibu , dan saudara-saudaranya Astuti meninggalkan keluarga yang menyayanginya…dan memilih bersama Hendra laki-laki yang sudah beranak istri, Astuti takut mengatakan keterlambatan menstruasinya…..takut kalau Hendra meninggalkannya…Astuti menunggu Hendra membelikan rumah untuknya dan akan mengatakan kehamilannya.

” Mas…aku ingin menikah secara resmi..dan memiliki rumah yang mungil dengan anak yang manis yang akan kujaga untuk pelipur laraku” Astuti menggelayut di pelukan Hendra

” Sebentar lagi kau akan memilikinya sayang…dan besok kita akan ke Jember meninggalkan Lamongan dan hidup tenang disana ”

” Tapi kita harus menikah secara agama dulu mas…aku takut dosa menyelimutiku…” tangis Astuti manja Astuti mengajak ke Haji Nassir sahabat ayahnya di pesanten Nurul Iman di Lamongan. Dengan mengendarai civic wonder Hendra dan Astuti akan minta bantuan menikahkannya, Pak Haji Nassir memberikan wejangan atau nasihat kepada mereka berdua..

” Saya akan menelepon ayahmu dulu, karena ayahmu itu sahabatku..tak enak kalau saya melangkahi beliau, paling tidak saya harus memberitahukan keadaanmu. tapi sungguh amat menyedihkan jawaban  Haji Mastur ayah Astuti : Hai Hassir….sohibku di alam fana ini…aku amat malu dengan Allah karena memiliki anak wanita perusak Rumah Tangga orang lain, Astuti seorang Pelakor biarkan  keduanya menemui azabnya sendiri..aku sudah merelakannya aku tak pernah mengusirnya tapi dia yang memilihnya  untuk pergi , karena sudah dewasa dan aku harus merelakannya…sambil menangis Haji Mastur  menceritakan anak ketiganya itu, Haji Mastur sudah berusaha memisahkan kedua nya tapi mereka begitu sulit dipisahkan dan selalu berzina di setiap tempat yang ia singgahi. Istri Hendra Maemunah adalah jebolan santriwati di Nurul Khasanah sini dan memperkenalkan Hendra ketika bersilaturahmi bersama kedua putranya yang masih kecil-kecil . Hendra itu cinta pertama Astuti putri ketiganya yang merupakan anak bungsu pasangan Haji Mastur dan Hajah Siti Aminah sebagai pendiri Pondok Pesantren Nurul Khasanah di Lamongan. Astuti sudah tahu dengan tata tertb santri makanya dia keluar dari pondok pesantren dan meninggalkan kami. Haji Nasir Nikahkanlah putri bungsuku dengan ridho Allah  dan aku tak bisa menghadirinya jika harus merusak tatanan pesantren karena secara lahiriyah aku tak merestuinya..maafkan aku nikahkanlah dia untuk dirinya sendiri agar halal di mata Allah sahabatku Haji Nassir. Demikian jawaban Haji Mastur dan diiringi tangisan Hajah Siti Aminah.

Haji Nassir menikahkan anak sahabatnya secara Islam sambil berurai air mata, selesailah ijab dan kobul  antara Astuti Binti  Mastur dan Mahendra Bin Darmawan dengan mas kawin seperangkat peralatan shollat. Istri Haji Nassir memberikan nasihat kepada Astuti . ” Jika suamimu Hendra ada di rumahmu maka dia milikmu sebaliknya apabila dia diluar rumahmu dia milik orang lain karena tak ada ikatan yang secara tertulis Hendra itu milikmu jika Hendra tak memberimu nafkah baik lahir maupun batin selama tiga bulan berturut-turut maka itu adalah talak kamu, kecuali kamu menerima tidak dinafkahi . Saat ini kamu sudah menempuh kehidupan barumu, dan setiap wanita tak ada yang mau dimadu…seandainya Hendra menikah secara sirih lagi kepada perempuan lain lagi  maka kamu juga harus mengiklaskannya tanpa banyak suara seperti yang engkau lakukan saat ini.” Begitu nasihat Hajjah Nassir seperti nasehat ibunya Hajjah Siti Aminah.

Hendra menuju Jember dan akan menunjukkan rumah mungil untuk istrinya Astuti, karena capek maka mereka beristirahat di pom bensin di Probolinggo selama dua jam kemudian  melanjutkan perjalanan lagi dan sampai di Jember  jam tujuh pagi mereka mandi di Pom bensin bergantian. Sampai di rumah di jalan Singosari Perumahan Permata Permai. Rumah itu sudah ada perabotannya lengkap tapi sederhana dengan dua kamar. ” Sayang…ini sudah cukup untuk kamu belum…? bisik Hendra mesra di telingan Astuti sambil mencium dan memeluknya membuat Astuti kegairahan…” Aaahhh…maaas…dan Hendra menarik masuk kamar dan mencumbu istrinya…nafsu Hendra semakin berkobar….Astuti melayaninya dengan penuh semangat..dan begitu hangat….

Hendra langsung tidur pulas, Astuti bangun dan mandi dia melihat-lihat dapur dan mengecek isi dapur, lalu ia keluar membeli beras dan telur serta sayur yang sudah matang dan bumbu dapur. Astuti menanak nasi , menghangatkan sayur dan membuat telur dadar dan mie goreng, lalu menatanya di meja makan. Astuti membersihkan diri dan berkaca menata lagi dandanannya dan memakai parfum sedikit biar suaminya Hendra bangun.

” Maaass…ayuuk makaann…” bisik Astuti sambil mencium Hendra, bau badan Astuti yang wangi membangunkan nafsu Hendra…dan mereka beradu birahi sekali lagi…sampai keringat Hendra mengalir… sepertinya mereka tak puas-puasnya memadu kasih… dan Hendra begitu puasnya menikam Astuti… yang tersengal-sengal…

Mereka makan sambil bergurau ” Sayang…kamu begitu hebaat, …habis ini kita ke mall ya beli pakaian kita untuk sehari-hari..dan pakaian kotor kita nanti kita cuci bersama ya…?” kata Hendra

” Bagaimana sudah kamu cek isi rumahnya…? dan sertifikat juga sudah dibalik nama atas nama kamu sayang….sertifikat ada di tas paling depan sendiri ” kata Hendra

” Iya sayang sudah cukup lengkap ada televisi 36 inci , mesin cuci , dan untuk menjemur pakaiannya juga ada tempatnya aman tertutup rapat.

BAGIAN KE : 2  Menghindar dari jeratan

Telepon genggam Hendra berbunyi , itu dari Maemunah istri Hendra di Lamongan, ” Pah ini pesanannya pak Tukijo belum nyampek meja ukirnya..kapan mau diselesaikan dia menghubungi kamu tapi tak aktif… ini pasti kamu masih sama perempuan itu…dasar gatel…”

” EEhh ..mah..jangan gitu dong…nanti aku telepon pak Tukijo ..pokoknya beres…” begitu setiap mendapat telepon dari Maemunah pasti kena marah terus, Hendra segera menghubungi pak Tukij0

” Maaf gan…, agak telat nih..masih repot saya..” seru Hendra

” Waaahhhh…penganten baru….selamat ya…dengan istri keduamu…asal usaha jalan terus mau istri berapapun bisa begitu kan boss…” sahut pak Tukijo

” He..he…yaahhh..begitulah..menikmati hidup pak Tukijo ”

” Okey dilanjut sampai poel kukuruyuknya, minggu depan sudah bisa kirim lagi kan boss..?”

” Beres pak minggu depan sudah aktif lagi..terima kasih ucapannya ..ni ada salam dari Astuti istriku di Jember.” Astuti yang dari tadi mendengarkan lansung ngomong ” Siapa yang kasih salam sama orang gak ku kenal…jangan begitu mas…nanti dia terus kesini gimana…? kan aku juga yang susah …kalau ada mas Hendra sih gak papa …la kalau mas Hendra pas di rumah mbak Maemunah di Lamongan  kan bisa berabe aku…!”

” Sabar ya sayang cuma hari ini biar dia tak marah kiriman meja ukirnya telat..”

Hendra sebenarnya masih ingin bermesraan dengan istri keduanya tapi dari pada diomelin Maemunah maka ia menelepon Sobri di Jepara, ” Sob..meja ukirnya bagaimana kok belum ada kabarnya..? sudah ditunggu nih…?

” Iya ini sudah di pak-pak tinggal kirim di tokonya pak Tukijo kan Boss..?

” Iya kabari aku kalau sudah dikirim ke Besuki , sekalian siapkan untuk Bondowoso dan Lumajang dia minta dua stel  masing-masing….udah itu saja dulu nanti hubungi aku kalau sudah tertikirim ke Pak Tukijo Besuki yoo…jok lali..” Sobri yang posisi di Jepara segera menyiapkan kerjaan baru kali ini agak banyak karena pak Hendra memesan untuk dua toko.

Telpon genggam Hendra beberapa kali berdering tapi tak diangkat karena asyik masgul dengan Astuti, dan di buka setelah makan siang, ternyata Maemunah mengabarkan kalau anaknya Hengky  masuk rumah sakit dan mondok di Rumah Sakit Intan Medika Blawi Lamongan  karena terserang DB  saat ini sedang endemik, Hendra baru tersadar dengan sakitnya Hengky ia ingin segera pulang dan pamit pada Astuti.

” Malam-malam begini kau berangkat ke Lamongan mas…? ”

” Ah gak apa…ini aku tinggalin uang untuk keperluanmu di Jember, nanti aku kabari ya sayang..?” Hendra tanpa ragu pulang ke Lamongan, dan Astuti ditinggal di Jember sendirian . Astuti jengkel jam tiga pagi ditinggal sendiri, Ia mencuci pakaian kotor dan bersih -bersih, Ia Tak akan telpon suaminya kalau Hendra tak menelepon dulu.

Jam enam pagi terdengar panggilan dari Hendra ” Yang..aku dah sampai Surabaya, kamu masih apa yang..?”

” Aku dah cantik mau shoping ke mall sayang,…”

” Yang bener saja…mall mana yang buka pagi begini sayang…?”

” pokoknya aku mau jalan-jalan karena kemarin dah janji tapi sekarang pergi…” jawab Astuti ketus

“Kok  gitu to… kamu marah padaku ya…ini aku masih sarapan bubur ayam ” hape tiba-tiba mati  dan Hendra mencoba menghubungi  lagi malah di rijek. Hendra heran begini saja sudah marah apalagi aku tinggal keliling Jawa…?  repot deh bini satu ini…Hendra penasaran di telpon sekali lagi hape sudah mati. Hendra menelepon Maemunah :” Mah ini aku sudah sampai Surabaya, jam sembilanan nyampek Lamongan nanti sabar ya….”

” Mas Hengky  minta di belikan bubur kacang hijau bisa…?” tanya Maemunah

” Tentu mah…aku belikan ”

” Mas kamu sama Astuti kesininya..?”

” Enggak laahhh…dia di Jember… gak mau aku terganggu dengan kehadirannya ”

” Ohhh …baik ..aku tunggu mas..” Maemunah dengan nada senang menunggu suaminya  sampai ke  rumah sakit. Dokter datang, dan memeriksa Hengky… “Hemm bagus sekali kesehatan Hengky…semoga tiga hari lagi sembuh..dan bisa pulang ya …?”

” Iya Dokter terima kasih…Hengky  kangen sama papah…”

” Wow..papah nya Hengky ke  Luar Kota ya Bu Mae…?”

” Iya pak dokter cari kayu untuk makan…?!”

” Bisnis di kayu apa mebelan Bu…?”

” Ya Mebel ya Kayu…pak dokter ”

” Kalau saya butuh mebel bisa dibantu bu….?”

” Tentu pak dokter, ini suami saya sudah menuju Lamongan dari Surabaya…”

” Semoga besok bisa ke temu ya Bu…?’ Dokter meninggalkan Hengky setelah bergurau sebentar dan sarapan sudah disiapkan di meja, tapi Hengky gak mau makan dan menunggu bubur kacang hijaunya datang. ” Hengky.. kalau obatnya belum diminum , nanti ketemu papah Hengky akan sakit lagi tentu papah sedih dong….ayuuk dimakan dulu sedikit terus minum obat ya..” Hengky menuruti nasihat ibunya dan mau disuapin. Maemunah mandi di kamar mandi rumah sakit, ketika Hendy anak sulungnya datang dan membantu mengupaskan buah jeruk, Hape Maemunah berbunyi dan diangkat Hendy,

” Papah….mamah sedang mandi…papah sampai mana..?”

” Hendy anak papah yang cakep…ni papah sebentar lagi nyampai rumah sakit, Hendy berangkat sama siapa tadi ke rumah sakitnya..?” tanya Hendra pada anak sulungnya

” Dianter bibik Ambar pah…pakai motor…papah jadi beli bubur kacang hijau..?

” Iya ini sudah beli papah, tunggu sebentar ya sayang…?”

” Oke pah… Hendy tunggu..” Hendy senang sebentar lagi papahnya nyampai. Jam sembilan tepat Hendra sampai umah sakit, dan membawakan bubur kacang hijau, dan nasi urap untuk istrinya dan Hendra juga bibik Ambar.

” AsalamuAllaikum …”

” WaAllaikum salam, Maaasss…..kamu dah sampai..Alhamdulillah….” Maemunah memeluk suaminya dan mengajak ke anak-anaknya.

” Papaaaahhhhh….Hengky kangen papah…..” tangis Hengky

” Hendy juga kangen papah…” Peluk Hendy…dan Hendra duduk dekat Hengky dan menciumi anak- anaknya.

” Bapak perginya jangan lama-lama….” anak-anak Hendra begitu sayang sama dia,..dalam hati Hendra merasa berdosa pada mereka…” Maafkan papah ya nak..papah janji tak akan pergi lama-lama lagi kecuali pergi sama mamah kamu saja. Mendengar pembicaraan Hendra sama anak-anaknya Maemunah terharu ternyata suaminya masih menyayangi dirinya dan meminta maaf pada anak-anaknya tak akan meninggalkan lama-lama. Hendrapun berjanji sama istrinya Maemunah tak akan menyakitinya lagi, Maemunah tersenyum,” Mas kamu tlah berjanji sendiri tanpa kuminta dan tanpa diminta anak-anak, jadi jangan kau sakiti lagi perasaannya” begitu ucapan Maemunah lirih..takut didengar anak-anaknya.

BAGIAN KE  : 3        Wanita Nakal

Astuti sendirian ia merasa kesepian, dan sering keluar malam seperti dulu lagi, sudah seminggu Hendra tak meneleponnya, dan Astuti juga tak berharap menerima teleponnya, Dia berkenalan dengan orang Jember dan mengajaknya tidur di rumahnya. Seorang pria tampan ..kaya dan tajir masuk kepelukan Astuti dan sulit untuk melepaskan Astuti, dari malam ke malam hanya uang yang jadi incaran Astuti, dan uang itu dikumpulkannya secara tunai juga ada yang masuk ATM , ” Aku sudah dapat rumah dari mas Hendra dan aku harus dapat mobil dari mas Luky, dan akhirnya kesampaian juga dia dibelikan mobil Honda Brio sesuai dengan badannya yang mungil. Tapi perut Astuti mulai agak berubah meski masih kecil, dan ia mengatakannya pada Luky bahwa ia hamil sama Luky..terang saja Luky marah.

.”Aku baru satu bulan bersamamu tapi kenapa kamu bilang aku menghamilimu”  bentak Luky

” Tak ada laki-laki selain kamu yang meniduriku mas ! ” bentak Astuti

” Gak mungkiin !! kamu pasti bohong..!!” balas Luky

” Tidak mas…atau aku akan bunuh diri kalau kamu tidak mau mengakui ini anak kamu..” ancam Astuti

” Gugurkan saja kandunganmu…aku sudah punya istri kenapa kamu begitu bodoh…Tut..?!”

” Ini aku kasih uang, dan gugurkan saja kandunganmu”

” Kalau tiga puluh juta masih kurang mas…”

” Ini sepuluh juta lagi dah cukup itu ” Nada Luky dengan marah lalu pergi. Astuti tersenyum sambil mengibas-ibaskan uang itu. Santai saja mas..aku tidak butuh akuan kamu , ini anak mas Hendra dan Biar Hendra yang yang menerima perbuatannya. Perut dan seluruh tubuh Astuti masih bagus dan ia harus menjaga tubuhnya selalu tampil seksi.

Kali ini Harjono kontraktor yang setengah baya mendekati Astuti yang begitu imuut..dan Astuti selalu di hotel kalau melancarkan aksinya…biar dia tidak capek dan uang terus mengalir. ” Wow..kamu bener- bener hebat Astuti…” sambil mengerang pak Harjono menggigit buah dada Astuti yang montok.  Dan uangpun mengalir lumayan diterima Astuti. Harjono kalau datang seminggu dua kali dan selalu di rampok Astuti. Lama-lama pak Pak Harjonopun malas karena jatah untuk anak istrinya berkurang. Dan pak Harjono lari dari Astuti kembali ke istri syah nya.

Begitulah Astuti hidup dari pelukan laki-laki satu kepelukan laki-laki laiinnya, Astuti dibelikan sepeda motor dan perhiasan oleh pak Hasan yang berumur lima puluh tahun. Karena selisih umur mereka jauh sehingga pak Hasan merasa untung dapat wanita muda pemuas nafsunya. Astuti begitu kenyal dan enak dipelintir dan selalu menjaga tubuhnya di salon langganannya, mambuat pak Hasan betah, dan ketika Astuti mengatakan kalau dirinya hamil karena  perbuatannya, pak Hasanpun tak perduli dia hanya butuh tubuh Astuti yang lainnya bisa dibayar dengan uang, itu saja.

Pak Hasan membawa bandot tua dan mereka ngerjain Astuti yang begitu kuat nafsunya sampai thele-thele. Selanjutnya pak Hasan tak kelihatan lagi dan tinggal Bandot Tua itu yang angkrem kepelukan Astuti. ” Gila bener bandot tua ini sudah lima jam gak capek-capek…sampai Astuti capek dan minta mandi. Bandot tua itu tak mau ketinggalan ikut mandi bareng dan menghabisi tubuh Astuti , menerkam sambil menggeram ke enakkan. menggigiti seluruh tubuh kenyal Astuti sampai Bandot itu teler…

BAGIAN KE : 4    kena batunya.

Bandot tua yang bernata Johnatan itu selalu datang kerumah Astuti dan dia tahu Astuti sedang hamil tetap saja minta dilayani meskipun Astuti agak jijik dengan perlakuan Johnatan yang aneh-aneh tapi dia tetap melayaninya dengan senang hati yang membuat Johnatan semakin ketagihan. Johnatan yang seorang single dengan anak delapan dan tak beristri yang berbisnis di eksportir sangat mampu sekali kalau hanya mengurusi wanita macam Astuti. Anak-anaknya ia yang mengurus dan mendidiknya, ibu dari anak-anaknya adalah orang nakal-nakal seperti Astuti.

Johnatan tak mau memikirkan itu anak siapa saja dan Johnatan mau mengurus anak-anak mereka yang tidak punya dosa, dia membesarkan dan menyekolahkan sampai dewasa.Perut Astuti semakin membuncit dia menelepon ibunya Hajjah Siti Aminah dan menangis-nangis karena ditinggal Mas Hendra yang kini dia sudah hamil tua, dan Hendra balik ke istri lamanya, dalam hati ibu Hajjah Siti Aminah bersukur karena Hendra balik lagi dengan Maemunah yang kuat agamanya, tapi kini Astuti anaknya baru sadar kalau sekarang ia ditinggal sendirian. Ibu Hajjah Siti Aminah menghubungi Maemunah menanyakan keadaannya, dan dijawab kalau “Mas Hendra sudah dua belas  bulan atau setahun meninggalkan  Astuti di Jember dengan segala fasilitasnya serta uang, dan  kembali kepada saya dan anak-anaknya di Lamongan, bagaimana bu, anak Astuti sekarang sudah berumur berapa bulan…? karena sejak Hengky sakit mas Hendra tak pernah ke Jember lagi dan mengurusi anak-anaknya sekolah”

” Ibu belum tahu keadaannya dan syukurlah kalau kalian sudah kumpul lagi, maafkan Astuti ya Mae sudah merusak Rumah Tanggamu semoga ia baik-baik saja dan mendapat pria yang baik pula.”

” Amiin ibu Hajjah, terima kasih sudah menghubungi kami .”  Maemunah senang dihubungi kepala sekolah pondok pesantren Nurul Khasanah . Johnatan mengantar Astuti ke Ponpes Nurul Khasanah sambil menggendong perutnya yang menggunung itu dan menemui ibunya, Astuti takut menemui ayahnya dan kakak-kakaknya karena perbuatannya. Dan Johnatan mau mengakui itu anaknya asalkan bayi itu iya yang bawa kalau sudah lahir.” Untuk sementara biarlah Astuti disini dulu dan nak Johnatan bisa menginap disini kalau mau,’ begitu kata Ibu Hajjah Siti Aminah.

” Maaf bu kami akan menginap dihotel saja, nanti malam kami akan kesini lagi, terima kasih bu .” Johnatan mengajak pergi menginap di hotel Truntum lima kilo dari Ponpes.  Di hotel Truntum itu Johnatan sudah tak kuat menahan birahinya dan menyetubuhi Astuti bertubi-tubi sampai benar-benar puas, Astuti menangis… “mengapa aku diciptakan menjadi wanita seperti ini…menjadi budak nafsunya setan, aku perempuan penggoda … perusak ..perebut..istri orang…ampuni aku Ya Allah….” tangis Astuti memohon ampunan Gusti Allah. Perut Astuti kesakitan rupanya ia hendak melahirkan, dan Johnatan membawa Astuti ke Rumah sakit Ibu dan anak Fatimah di Lamongan. Astuti melahirkan anak perempuan dan suaminya Johnatan begitu aku Astuti agar dibuatkan akte,  dan Johnatanpun tak keberatan .

Johnatan menghubungi ponpes dan mengabarkan keadaan Astuti, Ayah dan ibunya ikut Johnatan ke rumah sakit dan menemui Astuti.

BAGIAN KE :5       Keputusan terbaik

Ibu Hajjah Siti Aminah membawa bayi mungil Astuti yang diberi nama Arofah Jhanneta ke ponpes, setelah Hajji Mastur ayah Astuti menikahkan Johnatan dan Astuti untuk hidup berumah tangga. Astuti dan Johnatan meninggalkan Rumah Sakit setelah sehat betul dan pulang ke Jember.

Arofah kini berusia lima tahun dan dididik secara Islami di Ponpes, Arofah cantik seperti Astuti waktu kecil lincah dan pandai, Astuti datang berkunjung bersama Johnatan dan memberikan santunan untuk pesantren dan melihat Arofah dari jauh, hatinya begitu teriris pingin sekali Astuti mencium putrinya tapi dilarang orang tuanya dan segera disuruh menjauh, Arofah dididik oleh iparnya Astuti Nyi Retno Mustofa dan Nyi  Endang  Safi’i di ponpes itu sampai lulus SMP dan melanjutkan kembali ke ponpes di Pamekasan Madura.  Astuti ingin sekali menengok putrinya tapi sudah terlambat, Karena Arofah sudah berangkat ke Pamekasan, Air mata membasahi pipi…tak pernah ia mencium pipi putrinya sejak lahir dia cuma bisa melihat foto dan kegiatan putrinya di pesantren ketika memimpin drum band SMP Nurul Khasanah dan sekarang berada di Pondok Pesantren Banyuanyar, Astuti bersalah atas kelakuannya dan menghiyanati pondok pesantrennya sendiri…tapi ia begitu rindu ingin bertemu ketika Astuti di fonis kena kanker kandungan suaminya Johnatan memohon untuk mempertemukan putrinya Arofah dan Astuti, dan hanya diberikan foto-foto Arofah Jhanneta ketika berpidato dan membaca Alquran serta diberikan VCD ketika lomba baca ayat suci Alquran dan juara pertama se Pamekasan.

Anakku Arofah, ibu bangga padamu….seharusnya ibu seperti kamu tapi karena ibu salah jalan sehingga harus menanggung segalanya, hidup didunia memang sangat singkat dan menjalaninyapun harus benar-benar lurus dan ibu bangga sama nenek dan kakekmu yang begitu tegas mengaturmu. Terima kasih Mas Mustofa dan Mas Safi’i  istri-istrim sudah membantu Arofah berkat amalan kamu anakku menjadi kebanggaanku. Badan Astuti semakin kurus karena penyakitnya dan Johnatan pun semakin tua.

Ketika Arofah akan dinikahkan oleh Kyainya di Banyuanyar Kakeknya Kyai Haji Mastur dan Hajjah Siti Aminah mewakilinya atas nama pondok pesantren dan Astuti serta  Johnatan  menghadirinya. Air mata Astuti  dan Johnatan mengalir deras….. dicium  dan dipeluk Arofah Jhanneta dengan mesranya.

T  A  M  A  T


cerbung.net

Terlambat Menentukan Pilihan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Astuti, seharian ini kerjaannya hanya melamun, merenungi nasib yang menimpanya.... dia sadar itu karena olahnya sendiri yang suka bermain api dengan terjun kedunia kemaksiatan...yaaahhh..dengan meneguk kenikmatan yang semu ia korbankan ayah , ibu , dan saudara-saudaranya Astuti meninggalkan keluarga yang menyayanginya...dan memilih bersama Hendra laki-laki yang sudah beranak istri, Astuti takut mengatakan keterlambatan menstruasinya.....takut kalau Hendra meninggalkannya...Astuti menunggu Hendra membelikan rumah untuknya dan akan mengatakan kehamilannya." Mas...aku ingin menikah secara resmi..dan memiliki rumah yang mungil dengan anak yang manis yang akan kujaga untuk pelipur laraku" Astuti menggelayut di pelukan Hendra" Sebentar lagi kau akan memilikinya sayang...dan besok kita akan ke Jember meninggalkan Lamongan dan hidup tenang disana "" Tapi kita harus menikah secara agama dulu mas...aku takut dosa menyelimutiku..." tangis Astuti manja Astuti mengajak ke Haji Nassir sahabat ayahnya di pesanten Nurul Iman di Lamongan. Dengan mengendarai civic wonder Hendra dan Astuti akan minta bantuan menikahkannya, Pak Haji Nassir memberikan wejangan atau nasihat kepada mereka berdua..

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset