The Deadly Game episode 1

Chapter 1 : The Vow to Start

Suatu hari, Radit menghadangku dikoridor kelas dan menyapaku dengan senyum penuh hinaan yang selalu terlukis diwajahnya. Aku melewatinya dan hanya sekedar menatapnya dengan penuh gengsi siang itu. Tapi, tiba-tiba ia menarik baju ku dan kembali menghadangku, padahal aku sudah sangat ingin melahap roti yang baru saja kubeli dikantin, sialan!

“Buru-buru sekali sepertinya, mau kemana sih?”, tanyanya gak nyantai.

“Ya kekelas lah, gua udah laper banget”, kataku sambil menunjukan seplastik roti isi coklat, “Ada perlu apa sih dit?”, tanyaku dengan kesal.

“Mauku? Semua kemauanku sudah terpenuhi dha, itu karena ayahku adalah Mafia”, jawabnya dengan tenang.

JDAAAARRRR!! Ada sesuatu yang meledak dari telingaku, mungkin karena syaraf telingaku tidak kuat menerima statement barusan. Aku sudah berteman dengannya 2 semester ini tapi aku baru tahu kalau ayahnya adalah seorang mafia. Ragaku merinding disko, roti yang ada digenggamanku nyaris saja lepas, hebat juga dia untuk menjatuhkan mental seseorang.

“Ma…Mafia katamu?”, ujarku panik.

“Ya, tapi jangan bilang siapa-siapa karena ini adalah rahasia, bisakan?”, 
katanya memohon.

“Ya tentu saja”, 
ucapku sambil tersenyum menyembunyikan rasa takutku. Walaupun takut tapi aku harus terlihat berani didepannya, aku harus memperlihatkan padanya kejantananku, karena aku tidak mau diremehkan olehnya.

“Woii kenapa diam aja? Sariawan ya?!”, 
katanya tapi aku mengacuhkannya.

Aku menatapnya serius sambil bicara didalam hati. “Ayahnya yang anggota mafia, dia hanyalah anak kecil biadab yang sombong, aku bisa saja membantingnya dan mematahkan tangannya, tapi kalau dia mengadu pada ayahnya maka aku akan ma… Akhh tidak! Seluruh keluargaku akan mati, tentu saja termasuk aku”.

“Baru lu doang yang ngacangin anak Mafia loh, gua aduin ke ayah baru tahu rasa lu”, 
katanya meledek.

“MA’AF! MA’AF! AKU TIDAK BERMAKSUD!! MA’AF”, 
kataku panik saat dia bicara begitu.

“Yaudah slow aja dong ngomongnya ahaha. Oiya, lu suka main game kan? Gua punya hadiah spesial untuk lu”, 
katanya serius sambil mengambil sesuatu dari tas kecilnya.

Tiba-tiba ia memperlihatkan padaku dua game console yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

“Ini adalah game terlangka didunia, game ini baru terliris 3 disc, yang memilikinya hanya si pembuat game, gua dan satu lagi adalah lu, ini adalah pemberian dari gua untuk lu”.


“Serius dit?”, 
dengan sangat gembira aku menerimanya. “Terima kasih, hutang budi pasti gua balas, sepulang nanti gua akan langsung memainkan game ini”.

“JAAAAANGAAAAAAANNNNN!!!”, 
tiba-tiba ia berteriak keras dengan nada ketakutan, membuatku kaget. Nggak apa-apa sih sebenernya tapi kuahnya itu loh nggak nyantai.

“Memangnya kenapa? lu memberinya memang untuk dimainkan kan?”, 
tanyaku heran.

“Ya, gua memang memberinya untuk itu, tapi gua punya maksud lain, kita akan bertaruh. Siapa yang terhebat maka dia yang akan menang”, 
katanya semakin serius, sedangkan aku malah tambah heran. Bertaruh hanya untuk game? dia sungguh gila. Tapi aku mulai mengerti, dia mungkin ingin mengajak ku bertanding, siapa yang dapat menamatkan game ini paling cepat maka ia yang menang, iyakan?

“Baiklah, tapi kenapa?”, 
aku bertanya penasaran.

“Masih belum mengerti juga? Baiklah akan gua jelaskan! Begini kawan, lu dan gua sama-sama pemain game hebat di kampus ini, lu dijuluki jenius dan lu tahu apa julukan gua? Gua dijuluki Dewa, itu karena gua ganteng… akhhh salah! Karena gua hebat maskudnya”, 
terucap perkataan sombong liarnya dan aku sudah menduganya.

“Baiklah, akan gua uji sedewa apa lu dalam bermain game”,
 kataku meledeknya.

“Ya ampun bos! Harusnya gua yang bilang begitu”, 
sambil tersenyum licik.

“Lalu, bagaimana caranya bertarung dengan adil?”, 
tanyaku.

“Begini, gua akan mengatur semuanya, tolong dengarkan ucapan gua baik-baik. Kita akan bermain game hari Sabtu depan, pada tanggal 6, mumpung ini bulan Juni maka akan pas dengan rencana gua. Kita main saat tanggal menunjukkan angka 06-06-2006 atau 6-6-6”, 
ia menjelaskan dengan sangat serius, membuat jantungku berdebar-debar.

“Kita harus bermain tepat pada pukul 6 sore, tak boleh kurang, tak boleh lebih, bahkan detiknya pun harus tepat menunjuk kearah angka 12”, 
sambungnya.

“Baiklah”, 
beda dihati beda di lisan. Aku berfikir untuk langsung memainkannya sepulang dari kampus.

“Bermainlah jujur kawan, mainlah pada tanggal yang sudah ditetapkan, itu namanya aturan, patuhi aturan itu”, 
katanya serius.

Aku langsung shock, daritadi ku perhatikan, dia sepertinya tahu apa yang sedang aku pikirkan. “Baik, tapi kenapa harus serba enam sih?”, tanyaku penasaran.

“Lihat judulnya, maka lu akan mengerti, kita ini sedang membicarakan game kematian”.

Karena penasaran aku langsung melihat cover game itu. Cover paling aneh dan tidak menarik sama sekali untuk dimainkan. Tidak ada tokoh utamanya, entah game horor atau bukan. Latar belakang hitam dengan gambar lingkaran dan angka 666 berbentuk segitiga dan bertuliskan “Game Kematian” ditengahnya. Anehnya, dibalik itu semua terdapat siluet muka yang sedang tertawa, tapi itu tidak seperti wajah manusia, kalau dilihat baik-baik justru tampak seperti wajah iblis saat sedang tertawa.

“Ya… ya… gua mengerti, semoga yang terbaik yang menang”, 
kataku dengan sinis.

“Ya… gua setuju, tapi dengarlah, simpan baik-baik game ini, jangan sampai hilang ataupun rusak dan jangan main sebelum waktunya, gua tahu lu amatlah penasaran dengan game ini, begitu juga dengan gua”, 
katanya, mendengarnya bicara membuatku mulai muak.

“Oiya, lu harus tahu, sebenarnya pembuat game ini meninggal sebelum menguji coba gamenya.”, 
katanya menakutiku.

“Meninggal katamu? yang benar saja?”, 
tanyaku sok-sok takut.

“Iya, awalnya beliau mengalami kecelakaan biasa, mobil yang dikendarainya ditabrak oleh truk, namun tabrakan itu membuat mobilnya terpental dan menabrak pembatas jalan sehingga beliau beserta mobilnya jatuh kedasar jurang yang lumayan dalam. Warga sekitar tidak bisa membantu apa-apa, yang mereka lakukan hanyalah menonton dari bibir jurang. Beliau terperangkap didalam mobilnya sendiri, tapi saat dia hampir berhasil keluar dari mobil, mobilnya malah meledak dan menghanguskannya”.


“Oiya? Mengerikan sekali”, 
kataku mulai sedikit takut.

“Kabarnya, siang itu ia terpaksa pulang kerumahnya lewat rute lain. Naasnya, beliau malah ditabrak dan jatuh. Padahal ia berjanji kepada asistennya kalau akan menguji coba gamenya bila sudah sampai di rumah. Ia janji memainkan game buatannya tepat pada pukul 14.00 tapi ternyata ia malah tewas menggenaskan, 5 menit sebelum waktu yang telah ia janjikan dan akhirnya yang menguji coba game ini adalah asistennya. Dan kau tahu apa yang dia lihat?”.

Aku ketakutan dan hanya bisa menggelengkan kepala.

“Gua juga tidak tahu ahaha, tapi ia bilang kalau game ini adalah game yang terlarang keberadaannya, keberadaan game ini akan menimbulkan ketakutan dan trauma bagi seluruh pemainnya, game yang akan memenuhi matamu dengan genangan air mata kengerian. Gua tidak begitu mengerti tapi dia serius mengatakan demikian”, 
katanya serius.

“Menyeramkan, tapi cukup menarik! Gua akan berusaha keras untuk memainkan game ini”, 
kataku bersemangat.

“Baiklah, sama halnya dengan gua, gua akan pertaruhkan segenap jiwa dan raga bahkan nyawa gua demi memenangkannya”, 
katanya.

“Biar tampak menantang, bagaimana bila yang kalah julukannya akan dicabut?”, 
sambungnya menantangku.

“Baiklah, bersiaplah! Katakan selamat tinggal pada ‘julukan’-mu itu”, 
kataku nantangin balik.

“Kita lihat saja! Oiya, telepon gua kalau sudah nyaris jam 6, gua sudah membatalkan semua janji gua pada siapapun pada hari itu, jadi gua tinggal menunggu datangnya jam 6 saja didepan konsol, tapi belum tentu dengan lu, lu memiliki banyak teman kan? Telepon lu itu menandakan bahwa lu ada dirumah dan bersiap untuk bermain game, selamat tinggal!”.


“Baik, selamat tinggal” .

Disaat kepergiannya, ia masih menatap ku dengan tersenyum licik, seperti iblis di kover ini. Sesampainya dikelas, aku langsung duduk dibangku paling belakang, aku menaruh game konsol itu diatas meja, lalu aku segera memakan roti coklat yang nikmat, tapi ada sedikit masalah disini, seharusnya aku melihat siluet iblis di kover jelek itu, namun sekarang aku tidak dapat melihatnya lagi. Jangan-jangan aku sedang mengigau saat melihatnya, tapi itu tidak mungkin, jelas-jelas aku melihatnya sedang tertawa gembira. Tapi ya sudahlah, tidak terlalu penting juga.


cerbung.net

The Deadly Game

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
Semuanya berawal dari sebuah pertemuanku dengan seorang teman sekolah sekaligus musuh yang aku idolakan, namanya adalah Radithia Assadin. Ia adalah gamer yang cukup bersinar, pancaran sinarnya yang menyilaukan membuat orang-orang sepertiku tidak lagi dipandang. Kami berdua memiliki julukan masing-masing, kalau aku adalah "Si Jenius no 1.", kalau Radit adalah "Dewa", titik. Ia dijuluki demikian karena ia tidak pernah terkalahkan, satu kalipun. Banyak yang pernah mencobanya namun sia-sia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset