The Deadly Game episode 2

Chapter 2 : The Delusions to Play

Sepulang sekolah…

Hari ini cukup melelahkan, begitu tiba dirumah, aku langsung menaiki tangga dan masuk ke kamar tidur, berharap tidak ada yang mengganggu ku. Banyak yang bilang aku cowok yang aneh, karena kamar ku sangat bersih dan serba tersusun rapih, tidak ada noda atau debu yang berani menempel bahkan di pojok ruangan sekali pun.

BRUKKK!! Sebelum aku membuka pintu kamar, aku mendengar suara keras, seperti sesuatu terjatuh dan asal suaranya dari kamar tidur ku. Dengan penasaran, aku membuka pintu kamar ku tapi, aku malah dikagetkan dengan kondisi kamar ku yang berantakan seperti kapal pecah, semua barang-barang ku bertebaran kesana kemari, aroma busuk tercium di seluruh penjuru ruangan. Kalau kita memasuki ruangan yang kotor dan mengerikan, entah kenapa kita pasti jadi merinding sendiri, sama halnya ketika aku masuk kekamar ku sendiri. Saklar lampu rusak, seperti habis dipukul oleh seseorang sampai retak-retak gak jelas, saat aku ingin menekannya, keluar aliran listrik yang membuatku takut untuk menyentuhnya.

Seluruh koleksi buku kebanggaan ku menjadi lantai pijakan, saking banyaknya dan bertebaran sembarangan di lantai. Berapa kali aku mencoba untuk merapihkan, namun semuanya pasti kembali seperti sedia kala, mengherankan sekali. Dinding dan atap ruangan menjadi pudar, seperti bangunan tua yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Dalam hati ku, aku begitu ketakutan, aku ada dimana? ini seperti bukan kamar tidurku.

“Ma? siapa yang masuk ke kamar ku?”, teriak ku, namun tidak ada yang menjawab. Aku lempar tas ku ke atas kasur dan meninggalkan ruangan ini dengan berlari kencang tanpa menutup pintu, aku merasa ada yang aneh dirumah ini. Saat kaki ku pergi beranjak keluar kamar, semua barang-barang ku baik itu buku-buku pelajaran, majalah, komik, mainan dan hiasan-hiasan yang tadinya bertebaran di lantai kamar, kini beterbangan satu persatu dan kembali ke tempat asalnya, tanpa suara, sehingga aku tidak menyadarinya, lalu dengan perlahan pintu kamar ku ketutup sendiri, dan lagi-lagi tanpa suara.

Didapur, ibu ku sedang sibuk mengutak-ngatik kompor.

“Jadi mama dari tadi disini?”, 
tanya ku.

“Iyalah, mama kan selalu sibuk masak buat makan malam nanti. Kamu sudah pulang? kok nggak ada suaranya sih?”, 
tanya ibu heran. “Kok nggak ada salam-salamnya”, sambung nya.

“Maaf deh ma, soalnya hari ini Redha capek banget”, 
kata ku. “Kamar Redha kok jadi ancur gitu yah?”, tanya ku.

“Masa sih? Mama udah beresin kok, coba kamu check lagi”, 
kata Mama.

“Mama aja deh yang nge-check, Redha takut”, 
kata ku.

“Dasar! Udah gede tapi masih aja takut sama kamar sendiri”, 
kata Mama ku meledek. Mama ku meninggalkan masakannya dan menghampiri ku. Kami berdua beranjak pergi ke kamar ku tapi, aku dibodohi oleh kamar ku sendiri. Saat ibu ku membuka kamar, ternyata kamar ku jadi rapih dan bersih seperti sedia kala, nyaman sekali melihatnya.

“Tuh kan, Mama udah rapihin kok, apanya yang berantakan coba?”, 
ujar Mama heran.

“Sumpah ma, tadi tuh berantakan banget, Redha sendiri aja kaget, soalnya gak biasanya kamar Redha hancur begitu”, 
kata ku alasan.

“Udah ah Mama tinggal dulu, masih banyak kerjaan di dapur. Kalau kamu ngerasa masih berantakan juga, kamu bersihin aja sendiri”, 
kata Mama sambil pergi meninggalkan ku dan turun kebawah.

“Oke Mam”, 
jawab ku polos dan masuk ke kamar.

Tanpa perasaan curiga, aku duduk diatas kasur ku, meraih tas ku berniat untuk merapihkan buku pelajaran. Namun, aku dibuat penasaran oleh game pemberian Radit, tiba-tiba aku jadi ingin memainkannya. Secara spontan, aku menyalakan Televisi dan konsol, ku tatap game ini baik-baik, mata ku pun melotot tidak karuan.

KREK Keluarlah suara asing saat aku membuka kaset, dengan cepatnya ku pasang game tersebut, aku melakukannya tanpa sadar, seperti sedang terhipnotis. Sekarang hanya tinggal menekan tombol “START” dan hilang sudah semua rasa penasaranku, namun CKLAKK SYUUUT! Suasana berubah menjadi gelap gulita, tiba-tiba saja mati lampu dan saat itu juga aku tersadar di kegelapan.

“ASTAGA! Apa-apaan ini?!”, 
kataku heran sambil memegang stik console. BRUKK! Aku melemparnya jauh-jauh, tanganku gemetar, saking takutnya aku langsung melompat ke atas kasur dan bersembunyi dibalik selimut. Didalam hatiku yang ketakutan, aku terus berteriak, “Tidak boleh! Gua harus sabar… ya… benar… gua harus bersabar, tapi gimana kalau Radit curang? Bagaimana kalau Radit sedang asyik memainkan game ini?”


“Sudah cukup, hentikan! Gua bukanlah pecundang, gua harus menang dengan jujur, gua sudah terlanjur bertaruh dengan Radit, jadi gua harus sabar”. Ku buang semua rasa penasaranku, aku berusaha menahan godaan untuk bermain game sekeras mungkin sampai tanggal 6 tiba.

BONUS SCENE

Entah kenapa, malam cepat sekali tiba dan aku terbangun tepat jam 12 malam. Aku berniat untuk ke kamar mandi karena sudah kebelet, tapi aku tidak dapat menggerakan tubuhku. Rasanya seperti sedang di tindih oleh seseorang, raga ku terasa berat, terkadang aku tidak bisa bernafas. 15 menit lebih aku seperti ini, membuat aku semakin takut. Lalu tiba-tiba BRUUUAAAKKK Pintu kamar ku terbuka dengan kasar, aku hanya bisa melirik ke arah pintu.

Jadi, pintu kamar ku berada di pojok ruangan, sementara kasur ku berada disebelah pintu dan menghadap ke arah jendela. Pintu kamar ku berada di sebelah kanan kalau posisi tidur ku normal.

Walaupun pintu kamar ku terbuka, namun tidak ada siapa pun yang masuk atau pun keluar, aku terus melihat pintu itu baik-baik namun semakin aku melihatnya, semakin aku takut pula, bayangan-bayangan yang menakutkan muncul dan menghantui pikiran ku. “Tidak mungkin angin yang membuat pintu ku terbanting seperti itu, ini pasti perbuatan seseorang”, pikirku.

Mengedipkan mata adalah hal yang wajar, baik itu reflek mau pun tidak. Tapi, aku menyesal melakukannya. Karena awalnya, tidak ada siapapun yang masuk ke kamar ku sebelum aku mengedip, ketika aku membuka mata, aku melihat sesosok wanita berambut panjang mengenakan gaun indah berwarna hitam yang tembus pandang dari bahu sampai pergelangan tangannya. Karena aku kaget, aku langsung menutup mata ku lagi, dan hanya itu yang bisa aku deskripsi kan.

Aku menghitung sampai 30 detik, kalau tidak ada suara maka situasi aman dan aku akan membuka mata ku. Saat aku membuka mata, untung lah ‘dia’ sudah tidak di posisinya semula, aku merasa tenang. Namun dari arah jendela, aku melihat rambut hitam panjang seperti sedang melambai-lambai. Ternyata dia berpindah posisi, kali ini dia berada di depan jendela kamar ku. Aku melihat matanya yang merah bersinar tanpa kelopak mata, mulutnya tersenyum lebar sampai ke telinga, lehernya yang panjang meliuk-liuk seperti ular kobra, benar-benar menakutkan. Aku tidak bisa memandangnya terlalu lama, aku segera menutup mata ku dan berpikir apakah ini halusinasi ku atau bukan, yang pasti wanita itu tampak mengerikan.

Panik? Iya, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa, tubuhku sama sekali tidak bisa digerakan. Lalu apa yang harus ku perbuat disituasi seperti ini? jawabannya adalah Tidak Ada. Walaupun menakutkan, tapi aku harus melawan rasa takut ku. Kalau kata pepatah, “Bukan setan yang kau hadapi disituasi yang menakutkan, tapi dirimu sendiri”. Berbekal keberanian yang apa adanya, aku membuka mata ku dan JREENNNGG!! Dia terbang terbalik tepat di atas ku, wajahnya yang begitu menyeramkan hanya berjarak sejengkal dari wajahku, rambutnya yang panjang mengibas-ngibas raut wajah ku yang ketakutan, kami bertatapan muka satu sama lain, lalu dia tertawa cekikan, suaranya menusuk telinga ku, aku menggeram ketakutan, menangis, berontak, namun belum cukup, aku ingin sekali kabur dari tempat ini tapi tidak bisa. Semakin aku takut, wanita itu semakin menggodai ku, dia membelai wajah ku dengan tangannya yang kotor dan dingin, dia mencengkram wajah ku dengan kuku-kuku jari nya yang panjang dan tajam, perlahan ia mendekatkan jemarinya ke mata ku lalu CRUAAASS!! ARGGHHHHH!!!!!! Aku bangun dengan penuh hentakan, dari jendela kamar aku dapat melihat cahaya mentari sudah menerangi ku, menyilaukan mata ku. Yang barusan seperti mimpi buruk, walaupun mimpi, tapi terasa begitu nyata bagiku, kalau kata Mama ku, aku baru saja terkena rep-repan.


cerbung.net

The Deadly Game

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
Semuanya berawal dari sebuah pertemuanku dengan seorang teman sekolah sekaligus musuh yang aku idolakan, namanya adalah Radithia Assadin. Ia adalah gamer yang cukup bersinar, pancaran sinarnya yang menyilaukan membuat orang-orang sepertiku tidak lagi dipandang. Kami berdua memiliki julukan masing-masing, kalau aku adalah "Si Jenius no 1.", kalau Radit adalah "Dewa", titik. Ia dijuluki demikian karena ia tidak pernah terkalahkan, satu kalipun. Banyak yang pernah mencobanya namun sia-sia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset