The Deadly Game episode 3

Chapter 3 : The Curse Over

Kejadian kemarin malam terlalu mengerikan, aku memutuskan untuk tidak tidur pada malam hari, melainkan siang hari setelah pulang sekolah.

Tanggal 6 Juni 2006, hari yang telah kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga

KRING!! KRING!! Alarm ku menyala, tidak kusangka aku sama sekali tidak tidur dan tidak bisa menikmati suasana malam di awal bulan Juni. Terbangun hingga pagi hari dengan penuh keringat, mataku semakin merah, semakin sayu dan terasa sangat berat.

Aku langsung turun ke bawah untuk menyegarkan jasmani ku yang terpuruk ini, lalu tiba-tiba telepon berdering, aku pikir Radit meneleponku namun ternyata bukan darinya, yang menghubungiku adalah Ben, teman SMP ku dulu, dengan semangat ia mengajakku Reuni Akbar, aku menerimanya asalkan dapat pulang kerumah sebelum jam 6 soalnya aku sedang taruhan dan Ben menyetujuinya. Lantas, aku segera mandi dan bersiap-siap pergi dari rumah.

Aku tiba di rumah Ben tepat pada pukul setengah 10 siang, aku langsung menemuinya dan berbincang-bincang sebentar. Acara tersebut masih sepi, mungkin datangnya pada ngaret semua. Karena merasa ngantuk, aku pergi ke tempat yang nyaman untuk tidur. “Akhirnya, aku bisa tidur setelah sekian lama”, kataku sambil berjalan mencari lapak. Aku duduk sendirian di bawah pohon yang rindang dan tanpa sadar, mataku terpejam dan aku tertidur pulas, AKHIRNYA!! Rasanya seperti sedang ‘balas dendam’.

Waktu terbangun aku melihat teman-temanku yang ceria dan penuh semangat, mereka bersenang-senang dibawah lampu emas, namun langit mulai gelap, tiba-tiba aku teringat dengan janjiku dengan Radit. Aku langsung panik, aku berlari mencari temanku, Ben, tapi ia malah menepukku dari belakang.

“Ben, akhirnya ketemu! gua cariin kemana-mana juga”,ucapku dengan panik.

“Panik banget? Ada apa sih?”, katanya sambil senyum-senyum gak beres..

“Gua tahu ini pesta besar, tapi gua minta maaf sebelumnya, Ben. Gua harus pulang sekarang”, kataku memohon.

“Kalau lu balik sekarang, lu berarti nggak menghargai gua!”, katanya serius.

“Tapi Ben, gua…”, kataku tapi terpotong.

“Gak! gak ada pulang! Gua udah suruh bibi gua untuk mengunci pintu keluar”, katanya.

“Sorry Ben, tapi ini pen…”, kata ku terpotong lagi.

“Najis dah lu, lemah banget sih jam segini aja udah balik”, katanya meledek. Aku hanya terdiam, panas sekali mendengar ocehannya. Tanganku ingin sekali menghajarnya, tapi dia adalah temanku, aku tidak mungkin melakukannya.

“Mendingan lu gabung deh sama anak-anak, mereka baru aja dateng”, katanya mengajak ku. Tapi aku mengacuhkannya, aku berfikir untuk kabur.

“Woi! Jangan diem aja njing! Ayo si…”, tapi omongannya terpotong oleh pukulanku. BRUUUAAAKK!! Aku menghajarnya sekuat tenaga, bibirnya sobek, giginya pun retak, rahangnya membengkak. Suasana menjadi hening seketika, semua mata tertuju padaku, aku tidak sempat membalas tatapan mereka semua, karena mataku hanya fokus ke wajah Ben.

Kasihan dia, setelah kupukul, dia terjungkal sambil memegang bibirnya yang bocor, ia bangkit kembali dan mendekatiku dengan penuh emosi.

“** SENSOR ** LU!!” JDUUKKK Ben mengadu kepalanya kepada ku, aku kaget sehingga kehilangan keseimbangan, kakinya melayang di belakang kepalaku, sepersekian detik sebelum mengenaiku, aku menangkisnya BRAAAKKK Tulang kaki dan tangan kami menyilang. BRAKK BRAAKK Dia tidak puas menendangku sekali, saat ia asyik menendangku justru aku melihat kesempatan emas untuk menyerang. Tanpa sadar ia mengangkat kakinya dan kali ini gerakannya lambat, saat itu lah aku berdiri, tangan kananku menahan tangan kanannya, aku lombat dan menomponya, lutut kiri ku hantamkan ke perutnya BRUUKK Kami jatuh dan aku memukulinya saat ia tiduran ditanah. Aku memukulinya dan ia tidak bisa melawan, aku menghajar wajahnya sampai pergelangan tangan kananku patah. Lalu…

“Woi udah udah!”, seseorang meneriaki kami.

Dia adalah Kori, mantan pacar ku dan sekarang dia berpacaran dengan Ben. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, rasanya rindu sekali. Dengan penuh semangat, ia menahan tubuhku yang sedang asyik menghaj… Astaga! Apa-apaan ini?!”

“Sabar sedikit bisa gak sih?”, katannya sambil membentak ku.

Aku menggeleng-gelengkan kepala, aku sama sekali tidak sadar… ada apa denganku?

“Ben adalah temanmu sejak SMP, kalian berdua sudah seperti pasangan homo. Walaupun kau putus denganku, tapi aku tidak pernah melihatmu terpisah darinya, kenapa kau tega melakukan ini?”, katanya menceramahiku, sambil menangis haru. “Siapa kau ini?”, sambungnya.

Aku tertunduk malu, aku merasa tidak berguna. Aku ingin sekali menangis dan meminta maaf.

“Ti… tidak apa-apa”, terdengar suara rintihan yang menyedihkan. Itu adalah suara Ben. Dia tersenyum dalam keadaan muka bonyok.

Ben berusaha bangkit, “Dha!”, dia memanggil nama ku. Aku hanya nengok sedikit, aku tidak sanggup melihat mukanya yang setengah hancur karena perbuatanku.

“Maafin gua dha kalau gua punya salah”, katanya sambil menahan sakit. Aku hanya terdiam mendengarnya, jiwa ku bergetar, tidak sanggup membendung air mata.

Ben memaksakan diri untuk bangun dan menghampiri ku. “Jangan terlalu banyak gerak dulu Ben”, kata Kori menegur.

“Hoi, angkat pala lu lah. Jangan cengeng gitu”, kata Ben, suaranya begitu dekat, tidak lama ia menepuk pundak ku. Lalu menjambak rambut ku untuk mengangkat kepala ku. Aku menangis didepannya, aku malu sekali. Aku hanya bisa menutup mata ku dengan tangan ku dan menyembunyikan wajah ku lagi, tapi Ben hanya tertawa melihatku.

“Masa cowok nangis? Lu orang yang baru aja menghancurkan wajah gua loh, masa nangis sih?”, katanya meledek ku. Aku tetap menangis.

“Gua sedang taruhan”, kataku dengan suara pelan.

“Apa?!”, katanya.

“Gua sedang taruhan dengan teman sekolah gua. Gua bisa malu seumur hidup kalau gua kalah darinya Ben”, kata ku sambil menghapus air mata ku.

“Kenapa lu nggak menjelaskannya dari awal”, katanya.

“Gua udah mengatakannya di telepon kan? dan lu bilang setuju bos”, kataku kesal.

“Gua bilang iya biar cepet aja, biar lu bisa dateng. Soalnya kalau gak ada lu gak rame bos, tapi kalau taruhan lu itu begitu penting buat lu, mending lu cabut sekarang, udah jam 6 kurang 15 menit loh”, katanya penuh simpati.

“HAAAHH?!!! 15 menit lagi jam 6? Mampus deh gua!!”, kata ku panik. “Sempet gak ya sampe dirumah 15 menit?”, sambungku.

“Sempet lah, lu pake motor gua aja”, kata Ben.

“Serius?!”, tanya ku heran.

“Iya, pake gih sana! Kunci motornya lu minta sama bibi gua aja”, katanya menegaskan.

“MAKASIH BEN!!”, kataku senang. Aku langsung memeluknya erat, dia memang teman yang paling baik. Sedang asyik-asyik memeluknya, Kori meledek ku “Jangan lama-lama, nanti gua cemburu loh”.

Aku berlari meninggalkan Ben, Kori dan anak-anak yang lain. Mereka semua mendukungku, aku merasa memiliki harapan, aku tidak boleh sampai kalah, aku akan membuat mereka bangga. Ben, maafkan aku atas kebodohan ku barusan.

Diperjalanan…

Sepeda motor yang kunaiki begitu cepat, membuatku bersemangat untuk melawan angin sore. Kelelawar berterbangan dilangit mencari sarapan, sedikit demi sedikit kegelapan menyelimuti langit, awan mulai menghitam dan pandangan menjadi redup, segelintir cahaya menerangi jalan namun itu semua malah meyakinkanku kalau aku akan pulang terlambat.

Sedang asyik-asyiknya tancap gas, aku terpaksa berhenti karena lampu merah bersinar menyilaukan mataku, spontan aku melepas helm bodoh yang kupakai karena kaca helmnya membuat sinarnya menusuk mataku, sakit sekali. Dipersimpangan lampu merah, aku semakin berpikir negatif, pikiranku kacau karena terus dihantui waktu. Terlintas dipikiran ku untuk berbuat curang yaitu menerobos. Tanpa memikirkan segala resiko, dengan masa bodohnya aku menarik gas sekuat tenaga namun… Polisi lalu lintas menghadangku dan meniupi telingaku dengan peluit, kencang sekali tiupannya. Karena kaget aku menarik tuas rem, alhasil aku tergelincir dijalan, aku terseret dan terjatuh dengan keras.

BRUUUMM BRUUMMM WUUUUUSSSS! lalu melintang mobil berkecepatan tinggi persis disamping kepala ku yang terperosok diaspal, untungnya kepala ku tidak tergores sama sekali karenanya, padahal semua orang sudah berteriak ketakutan. Tapi aku tidak peduli itu, tatapanku berubah menjadi kesal kepada polisi, melihat tampangku yang menyedihkan, polisi itu malah menegurku, membuatku tambah kesal.

“Kamu ini bukannya bla… bla… bla… lampu, lain kali pakai helm bla… bla…bla… STNK gak ada tapi bla… bla… bla…”, entahlah apa yang polisi itu katakan, aku sama sekali tidak peduli. “Dasar bajingan! 100 ribu melayang begitu aja, ** SENSOR **!”, kataku kesal dalam hati.

Lampu berganti, jam pun berputar, 5 menit menuju jam 6, namun aku sudah tidak semangat lagi, aku membawa motor dengan tenang, tidak sengebut sebelumnya. Tidak lama kemudian, rumah dengan pagar putih penuh dengan sampah dedaunan itu adalah rumahku, kulihat jam ternyata masih belum, 40 detik lagi sebelum jam 6.

Aku membanting motor Ben diluar, BRUAAAKK!! Sepertinya aku lupa nurunin standarnya, tapi masa bodoh lah. Ku dobrak pintu depan dan masuk tanpa melepas alas kaki, buru-buru aku masuk kekamarku dan meraih console, ku tekan tombol “START”, tepat sekali pukul 06.00 seperti yang dijanjikan, aku langsung gemetaran walau sedang duduk, saat itu aku lupa untuk menghubungi Radit, karena dari awal aku sudah menduga kalau Radit pasti sedang duduk didepan konsolnya, sama seperti posisiku sekarang. Ketakutanku semakin memuncak saat aku mendegar alunan lagu dari game yang begitu mengerikan, lalu terdengar samar-samar suara teriakan yang menunjukan rasa kesakitan. Aku mendekatkan mukaku ke layar kaca TV lalu tiba-tiba

“WAAAAAAAARRGGGHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!”, suara keras yang menggelegar keluar dari layar kaca.

Aku terpental kebelakang, teriakan dari suara TV membuatku kaget, kalian tidak akan percaya ini, apa yang sedang aku lihat adalah sesuatu yang mengerikan.

Tiba-tiba saja TV game berubah menjadi TV horror, atau paling tidak seperti Video accident. Layar televisi berubah dari layar hitam menjadi wajah seseorang yang penuh dengan darah.

Orang itu mirip dengan Radit yang sedang terluka parah, ia berteriak minta tolong, suaranya pelan sekali, pendarahan dikepalanya pasti menyiksanya. Aku sangat takut dan tidak tega tapi apa yang bisa kulakukan? tidak ada! aku hanya bisa melihatnya sambil menelan ludah.

Mukanya hancur, darah mengalir deras dari lubang besar di tengkoraknya, muka bagian kirinya rusak parah, bahkan aku tidak melihat mata kirinya lagi, bisa dibilang wajahnya sudah remuk seperti perkedel yang ke injek truk gandeng, menyeramkan sekali. Otaknya keluar dari retakan tempurung kepalanya dan berceceran dimana-mana seperti muntahan bayi, belum lagi rahang bawahnya lepas dan terkatung-katung. Percikan darah membasahi jalan dan sebagian terlempar kelayar kaca, ia melambai-lambai seperti meminta pertolongan kepada ku namun aku hanya bisa menggigit jariku sambil terdiam sambil melotot.

Ia memang terlihat seperti Radit, tapi apa mungkin ia adalah Radit? apakah ia benar-benar Radit? siapapun dia, aku sangat takut. KRING!! KRINGG!! Berdering suara telepon, ibu ku segera menjawabnya, dengan perasaan takut aku langsung keluar dari kamarku, meninggalkan TV paling mengerikan yang pernah kulihat, sampai dibawah aku melihat ibuku yang sedang bersedih.

“Ibu? Apakah ada yang salah?”, kataku shock.

“Ada berita duka nak, telepon barusan dari kepolisian, mereka bilang teman sekolahmu Radityo Putrado dikabarkan tewas tertabrak mobil”, kata ibuku.

“Apa? Innalillahi wa inna’illaihi rajiun”, hatiku tertekuk. Tapi aku tidak mengerti, apakah yang kulihat barusan itu nyata? benarkah orang yang ada di TV itu benar-benar Radit? Aku kembali ke kamar ku dan melihat TV sekali lagi, namun yang ada di TV itu hanya tulisan yang bertuliskan,

“Selamat tinggal! Kaulah yang menang, Redha”. Lalu terjadi ledakan besar pada konsol ku sehingga konsol ku mengeluarkan asap hitam. Baik konsol maupun game didalamnya langsung rusak seketika. Aku naik ke atas kasur dan menutupi tubuhku dengan selimut, aku merasa terpukul sekali akibat kejadian ini, walaupun aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tubuhku bergetar dari ujung kaki sampai ujung kepala, mata ku lagi-lagi tidak dapat tertutup, nurani ku hancur kembali, ada apa sebenarnya? kenapa begini jadinya?

10 Tahun telah berlalu, insiden ini tidak akan pernah aku lupakan. Tanggal 6 bulan 6 tahun 2006, tanggal yang kami janjikan menjadi hari kematian Radit, perlahan-lahan, aku mulai mengerti.

Kalau diingat-ingat lagi, Radit pernah mengatakan kalau ini adalah “Game Kematian”, lalu “Kita akan bertaruh, bukan bertanding”, terlebih lagi ia bilang “Yang berhasil memainkan game ini tepat waktu, maka ia yang menang”, dan yang terakhir adalah “Pertaruhkan segenap diwa dan raga, bahkan nyawa demi kemenangan. Yang kalah, gelarnya akan dicabut”, berarti permainannya sudah dimulai saat masing masing dari kami menyimpan game itu, aku dibilang menang karena aku dapat bermain tepat waktu, iyakan? Tapi, yang dicabut bukan gelar melainkan nyawa, kalah berarti mati.

Yang menyelamatkanku dari kematian adalah Ben… Oiya!! Polisi galak yang menghadangku di lampu merah juga, kalau tidak ada dia, aku akan tertabrak mobil dan aku lah yang akan muncul di TV. Tapi karena aku yang menang dan Radit yang kalah, maka aku lah yang menyaksikan Radit sekarat melalui game itu. Mungkin tanpa sadar sang iblis telah ikut serta dalam permainan ini dan menghukum pemain yang kalah, bahkan sebenarnya belakangan ini aku baru tahu kalau 06-06-2006 atau 6-6-6 adalah angka iblis.


cerbung.net

The Deadly Game

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2013 Native Language: Indonesia
Semuanya berawal dari sebuah pertemuanku dengan seorang teman sekolah sekaligus musuh yang aku idolakan, namanya adalah Radithia Assadin. Ia adalah gamer yang cukup bersinar, pancaran sinarnya yang menyilaukan membuat orang-orang sepertiku tidak lagi dipandang. Kami berdua memiliki julukan masing-masing, kalau aku adalah "Si Jenius no 1.", kalau Radit adalah "Dewa", titik. Ia dijuluki demikian karena ia tidak pernah terkalahkan, satu kalipun. Banyak yang pernah mencobanya namun sia-sia.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset