The File episode 12

The File : is it done already?(The End)

Bastian mengejar Alvin dan Clarrisa, Chika dan Marlene beriringan mencari jalan keluar dari bangunan putih ini.

“Kau lebih mengenal tempat ini Chika, ayolah kau pasti tahu pintu daruratnya”
“Sebentar, aku akan mengecek semua rute bangunan ini” Chika menyalakan handphone menelusuri sebuah peta digital didalamnya.

“Warning… All door sealed already. Self destruction activated in 10 minutes” suara alarm peringatan berulang sampai berkali-kali. Mereka terlihat semakin tergesa-gesa ditambah pemandangan sekitar yang mulai mendekat, tak lain adalah zombie-zombie dari hasil mutasi virus yang menginfeksi Clarrisa.

“Dor dor dor” tedengar suara 3 kali senapan ditarik pelatuknya. Terlihat sesosok pria lain berlari tanpa mengenakan baju hanya celana putih kain pendek menyebrangi posisi dua wanita yang sedang sibuk mencari jalan keluar.

Sontak tanpa instruksi dari siapapun mereka berdua mengejarnya.

“Masih ada survivor lain, mungkin dia tau jalan keluar” ucap Marlene sambil berlari.

Di satu gang buntu didapatinya pria itu sedang melawan zombie yang hendak mengigitnya. Chika mengambil seonggok besi batangan alat pel yang tergeletak di ujung ruangan langsung menancapkan pada kepala makhluk itu.

“Albert?” Marlene kaget.
“Albert? Itukah namaku?” Pria itu kebingungan saat marlene menyebut nama Albert.
“Apakah kau Albert?” Sangat mirip sekali dengan Albert, polisi muda yang telah bermutasi di kapal beberapa minggu yang lalu.
“Aku mendapatkan jalan keluar, Gas storage, disana ada jalan keluar, Marlene. Kita harus cepat”
“Entahlah kau Albert atau bukam, kau ingin selamat bukan, lekas ikuti kami, kita harus krluar dr tempat ini”
“Chika, berapa menit tersisa?”
“7 menit 32 detik, aku menemukan jalan pintas, diruangan sebelah kanan ada jalan pembuangan kebawah menuju gudang penyimpanan gas, ku harap Sebastian dan Alvin sudah disana agar kita tidak kehabisan waktu”

Mereka bertiga lari sesuai komando Chika, arah yang dituju tepat tak sampai memakan waktu lama mereka sudah berada di ruang penyimpanan ratusan gas barrel.

“Alvin” ucap Chika saat melihat nya sedang terduduk dengan muka pucat.
“Marlene? Chika?”
“Dimana sebastian, dia memancing Clarrisa ke gas yang terhubung dengan selang di sana” jelas anak malang itu sambil menunjuk ke suatu tempat.
“Albert?” Alvin melanjutkan sepatah kata tanpa dilanjut lagi, dia mencoba berdiri paksa langsung memeluk Pria itu, wajahnya terlihat senang walaupun entah itu Albert atau bukan.
“Nanti kujelaskan” lanjut Marlene memandang wajah orang yang sedang dipeluk Alvin sambil menangis.
“Disana” tunjuk Chika mengarah ke pintu lipat.
“Disana ada lorong keluar bangunan ini yang tidak terkunci” lanjutnya.
“Tapi sebastian?” Marlene memotong sebelum.langkah mereka dimulai.
“Aku akan membantunya, ajak Alvin keluar. Setidaknya aku sudah tahu jalan keluarnya” ucap Pria yang mereka namai Albert.
Langkah lanjutan merujuk ke arah yang dimaksud. Mereka bertiga mencoba keluar dari sana. Nyaris mendekati pintu yang dimaksud nampak 2 ekor anjing berselulit urat tubuh seperti Clarissa muncul di hadapan mereka.

Albert berusaha menemui Sebastian, tanpa tahu wajah nya ataupun ciri-cirinya. Yang dia tahu Sebastian seorang pria bukan zombie.

“Sisa tiga peluru, tapi terlalu berbahaya menggunakan senjata api di tempat seperti ini” hatinya berucap saat melihat isi senapannya.

“Sebelah sini Clarrr!!!” Teriak pria yg pastinya adalah Sebastian.
“Sebastian, tak ada waktu banyak, bangunan ini segera meledak, kita harus segera keluar, jangan gegabah, teman-temanmu dalam perjalanan keluar kita harus segera menyusulnya” teriak Albert ke Sebastian.
“Siapa kau?”
“Aku…” Suaranya melemah, bahkan dia tidak tahu dia siapa,
“Aku Albert” lantang dilanjut oleh pria bertubuh kekar itu, dia menggunakan nama yg sedari tadi disebut oleh teman baru bagi nya.
“Ohoho, my dear son, kau sudah bangun?” Ucap Clarissa sambil merubah arahnya menuju Albert.
Sulurnya menjalar pelan tanpa niat melukai ke arah pria tak beridentitas.
“I clone you perfectly, like natural human, Son. Mari kita bangun rumah kita bersama dan musnahkan umat manusia yang bodoh itu” wajahnya menggeram sambil menengok ke arah Sebastian.
“Craaatt” darah keluar dari kepala Clarissa sebatang pisau menancap tepat di dahinya.
“Sebastian lariii….”
“Aaarggghhh, apa yang kau lakukan. Dasar boneka peliharaan bodoh. Kau kuciptakan untuk mebantuku, bukan melawanku, Aaaarrgghh” sambil menutupi luka dahinya dan merasa sskit Clarissa terus menggeram.
Dan “dorr dorr” dua kali letusan tertembak ke dahi Clarissa.
“Aku harap kalian sudah diluar, dan ini letusan terakhir untuk mengakhiri semuanya”
Tepat sepersekian detik saat Albert hendak menarik pelatuk senjata tangannya, sulur Clarissa menarik kaki pria itu. Senapan terlempar beberapa meter dan dia ditariknya begitu saja oleh wanita monster dihadapannya.
“Bodoh kau, kau kira mudah menghabisiku? Kau yang akan kuhabisi terlebih dahulu sebelum teman-teman tololmu, dasar tak tahu terima kasih. Manusia tetap saja bodoh” gerutu Clarissa berdiri menghadap Albert yg terjatuh telentang.

“Nitrogen kering” Entah kebetulan, keberuntungan ataukah kesempatan yang menolong Albert tepat disampingnya ada beberapa barrel gas nitrogen. Dia memprrcepat langkahnya menghindari serangan pertama musuhnya, berdiri tepat didepan barrel nitrogen dam berharap Clarissa segera menyerangnya lagi. Benar saja sesuai rencana sulur tajamnya dihindari Alvert menembus barrel besi di belakangnya dan dalam beberapa detik sulurnya membeku dipatah hancurkan denfan tangan kosong. Gas pembeku terus menyembur ke arah Clarrisa membuatnya kelabakan membeku perlahan dan lebih pelan saat Albert hendak melarikan diri.

Entah tersisa berapa detik lagi, tak ada notifikasi di ruangan itu tentang self destruction. Albert mencoba keberuntungan kedua untuk keluar dari bangunan ini. Jika beruntung maka kesempatan masih ada, jika tidak adalah pilihan terakhir mati bersama makhluk-makhluk ini.

Pintu terbuka terlihat dua ekor anjing mutant mati tergeletak dilumuri darah dengan beberapa daging berwarna merah gelap berceceran di lantai, di ujung lorong terlihat ada pintu besi berindikator hijau tanda tidak terkunci.

“Access Granted” pintu terbuka dan Albert keluar tersenyum melihat ke empat temannya terduduk di batu agak jauh dari bangunan dengan keadaan hujan membasahi tanah mengguyur mereka semua.

Baru saja pintu tertutup dan “booom” dari bangunan paling atas terlihat ledakan menjalar ke seluruh bangunan disekelilingnya dan menghabisi isi didalamnya.

Alvin terbopong memaksa menghampiri Albert.

“Kau tepat waktu, ku fikir aku akan kehilanganmu lagi” ucapnya sambil mengusap air mata dengan sebelah tangannya.


cerbung.net

The File

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Cerita yang ber-temakan dunia saat diancam oleh virus yang mampu merubah tubuh manusia yang sudah mati menjadi seolah-olah hidup kembali.Mutasi virus terus terjadi yang menyebabkan munculnya varian zombie baru yang lebih ganas daripada yang disebabkan oleh virus biasa.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset