The File episode 16

The Missing File #3 : The Real Hive(Alvin's POV)

Langkahku dan Kak Marlene tak karuan berlari sekencangnya, saking terburunya kami bahkan rasa nyeri luka di perutku tak dapat kurasakan lagi, entah darah masi mengucur atau tidak aku terus berlari dan berlari bersama Wanita jelang 30 tahun ini.

Kami berdua memang berlari beriringan selama entah berapa menit, sayangnya larian inilah yang menuntun makin dalam ke tengah hutan. Ya, kami tersesat dikepung entah puluhan atau ratusan pohon baik yang rendah maupun tinggi.

“Alvin, setidaknya kita sudah jauh dari makhluk itu, aku yakin Albert bisa menanganinya, sekarang yang lebih penting adalah kita mencari jalan keluar”

“Tapi terlalu gelap untuk kita mengetahui arah jalan, Kak. Andai saja ada sedikit penerangan”

“Kita harus bergegas, Aku khawatir Sebastian sudah menunggu kita sedari tadi” lanjutnya,

“Lalu, bagaiman dengan Albert?”

“Aku yakin dia akan segera menemui kita”

“Kak, disana ada nyala cahaya, mungkin kita bisa menggunakannya untuk penerangan menuju keluar” kutunjuk sebias cahaya remang di tengah kegelapan entah berasal dari mana.

Langkah kaki kami perlahan pasti sambil berjaga-jaga jika saja makhluk itu muncul tiba-tiba. Diiringi suara jangkrik dan serangga-serangga lainnya mengusik suara malam ditengah hutan ini.

Keberuntungan masih ada di tangan ku dan Kak Marlene, tak ada serangan dari apa bahkan siapapun sampai kami berhenti di sebuak kabin berdinding kayu yang terlihat pijar lampu pelita di dalamnya.

Pintunya terbuka begitu saja, udaranya lebih lembab daripada ditengah hutan malam yang baru saja menyelimuti kami dengan rasa dinginnya.

“Bekas darah segar” gumam Kak Marlene,

“Masih sekitar beberapa menit lalu, tidak lain ada orang selain kita ditengah hutan ini, Vin. Kita harus lebih waspada, entah ini darah hewan ataupun manusia lebih aman jika kita tetap bersama” lanjutnya dan kuikuti melihat beberapa percikan darah di lantai kayu rumah yang kita masuki.

“Lebih baik kita bergegas, Kak. Perasaanku tidak enak” lontarku berbisik pelan.

“Kita keluar dari sini sekarang juga” ajak Wanita berperawakan kurus tinggi yg sedari tadi bersamaku,

“Lampunya?”

“Tinggalkam saja, kali ini lebih baik kita mengikuti intuisi, jika kita bawa penerangan itu akan mempermudah mereka menemukan kita, Vin. Lagian apa kau takut dengan gelapnya hutan?”

“Hmm..”

“Kita sudah berkali-kali dapat melewati ini semua, aku yakin kali ini pun tidak akan gagal Dan kau akan selalu bersama kami seperti sebelumnya” aku terdiam mendengar ucapan Kak Marlene, benar juga jika lampu ini kami pakai penerangan pastinya mempermudah mereka menemukan kami.

Aku mengangguk kecil dan segera bergegas keluar mengikuti langkahnya. Tepat saat kami berdiri di mulut pintu suara ledakan terdengar dari kejauhan, awan menyala merah dari satu arah, kami melihatnya. Ya, ada kobaran api disana. Mungkin itu arah keluar dari sini.

Kutarik tangan Kak Marlene yang masih berdiri memperhatikan arah asal api berkobar, dia tersentak kaget saat aku berlari sambil menggandeng tangannya.

“Aku yakin itu dari arah pesisir pantai Kak, ada yang tidak beres”

Sebisa mungkin secepatnya kami berlari kesana. Semakin dekat dan dekat.

Seorang pria berperawakan tinggi besar terlihat siluetnya tergelapkan oleh cahaya kobaran api. Ya, itu Sebastian.

“Sebastian…!!!” Teriakku sambil berusaha segera keluar dari hutam ini yang hanya tersisa beberapa meter saja.

“Krakkk….” Aku dan Kak Marlene terperosok ke sebuah lubang. Tepatnya adalah seperti saluran pipa. Terlalu panjang turun kedalam dengan kemiringan yang tak terlalu curam. Di ujung penghabisan terlihat cahaya terang dan kami terjatuh begitu saja.

Harusnya aku sudah bertemu Kak Sebastian, Sial. Malah terperosok ke tempat antah berantah seperti ini.

“Kak, kau baik-baik saja?” Tanyaku,

“Sepertinya kakiku terkilir, arghh..”

Semakin terasa sulit dan lelah semua perjalanan ini. Berputus asa juga bukanlah suatu jawaban, aku selalu mengingat orang-orang yang tak pernah berhenti berjuang menyelamatkan diri sebelumnya, Kak Randy, Kak Tina, serta Edena.

Ruangan ini begitu terang, herannya mengapa ada ruang bawah tanah seperti ini tepat dibawah hutan yang lebat. Pasti ini adalah ruangan tersembunyi.

Disini adalah ruang pembuangan angin, banyak hexaust besar terpasang berjejer. Tidak lain aku dan Kak Marlene terjatuh di pipa ventilasi udara. Untung saja diatur sedemikian rupa. Andai saja tepat baling-baling angin di ujung lubang sudah pasti kami berdua jadi potongan kecil santapan serangga hutan.

Memang berangin tapi sangat gerah, ku bopong Kak Marlene melangkah bersamaku mendekati sebuah pintu besi yg berdiri sekitar beberapa meter di sebelah kami.

Sial, harus menggunakan pass code, 3 kali ku coba tetap salah, sisa 2 kali lagi atau mesin seperti ini biasanya akan mendeteksi adanya sabotase dan membunyikan alarm jika dipaksakan.

Aku mencari akal, kududuk kan bersandar di dinding sebelah pintu tubuh Wanita yang menahan sakit di kakinya ini.

Aku mencari-cari potingan besi pipih yang mungkin bisa kujadikan pengganti obeng sekaligus cutter. Sialnya tak terlihat benda seperti yang kucari.

“Alvin,” panggilnya,

“Iya kak, ada apa?” Jawabku, dikeluarkannya sebuah liontin kalung yang berbentuk pipih terbuat bukan dari besi biasa ataupun emas,

“Ini lempengan paladium milik Rudi kekasihku yang meninggal saat bertugas, mungkin ini bisa kau gunakan, dia akhirnya membantu kita dari Surga” sodornya sambil tersenyum dengan wajah yang pucat.

“Kak…” Aku terdiam sejenak memperhatikan wajahnya dengan penuh iba,

“Kita harus selamat, akan kulakukan yang terbaik” aku mencoba membuka kotak yang menempel tombol-tombol angka padanya dengan lempengan paladium keras itu.

“Krak” berhasil, untung saja sengatan listriknya lemah, aku ceroboh tidak melapisi tanganku. Ku otak atik beberapa kabel di dalamnya. Rumit, lapisan kabel tipis dan kecil terlalu banyak, tak mudah aku mencari tahu kabel utamanya, sampai aku memakan waktu beberapa puluh menit hingga akhirnya terdengar suara notifikasi bahwa pintu bisa terbuka.

“Tiiiitt.. Access Granted”
Pintu terbuka otomatis dan terlihat cahaya yang silau dari dalam sana. Kak marlene juga terlihat sempat beristirahat, rona wajahnya kembali memerah. Kubopong dia memasuki ruangan itu dan jelas terlihat puluhan tabung kaca berukuran besar memelihara makhlul-makhluk aneh di dalamnya. Aku tertegun, kaki ku kaku tak dapat melangkah lagi.


cerbung.net

The File

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Cerita yang ber-temakan dunia saat diancam oleh virus yang mampu merubah tubuh manusia yang sudah mati menjadi seolah-olah hidup kembali.Mutasi virus terus terjadi yang menyebabkan munculnya varian zombie baru yang lebih ganas daripada yang disebabkan oleh virus biasa.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset