The Magical episode 1

Chapter 1

Rasulullah bersabda,”Hubungan apakah yang ku miliki dengan dunia ini ? Aku di dunia ini seperti pengembara yang berhenti sejenak di bawah pohon rindang, setelah beristirahat kembali melanjutkan perjalanan dan meninggalkan pohon tersebut.” (HR Ahmad, HR Tirmidzi )


Vancouver, Canada 3 Tahun Kemudian,


Medina Nayyara POV

“Nay, pelanggan setia lo tuh dateng. Samperin gih.”

Aku menoleh ke arah pintu bar sesuai dengan instruksi Jade dan melihat seorang pria berumur yang memiliki badan kekar atletis sedang mengedarkan pandangannya. Mata kami kemudian bertubrukan dan aku bisa melihat tarikan bibirnya kebelakang membentuk senyuman menawan dan melangkah mantap ke arahku. Aku berdiri didepan meja bartender, menunggu. Menunggu surga duniaku datang mendekat.

Aku tersenyum dan mengalungkan kedua lenganku di lehernya saat dia telah sampai dihadapanku dan dia langsung melingkarkan kedua lengan kekarnya dipinggangku dan menarikku mendekat. Aku tersenyum genit,”Mencariku , my dolly ?” Aku merasakan hembusan nafasnya di leherku lalu naik ke telingaku,”Tentu saja my bitch. Kamu pikir aku mencari siapa lagi ?”

Aku tersenyum dan semakin merapatkan diri hingga tidak menyadari dia sudah menggendongku dan membawaku ke salah satu sudut bar yang remang duduk disalah satu sofa empuk yang tersedia. Sebagai laki-laki Jerman berumur lima puluh tahun dengan wajah yang masih saja menawan diusianya yang sudah tidak muda lagi ditambah dengan kekuatan fisiknya yang mengangumkan karena hobi pria itu yang rajin nge-gym dan aktivitasnya diranjang membuatku sangat mengidolakannya. Dia sumber uang dan kepuasan yang aku dapat selama ini. Beruntungnya aku, sejak awal tepatnya dua tahun lalu pria ini memilihku sebagai partnernya. Walaupun dengan syarat yang berat dan itu sebanding, kalau tidak aku tidak akan pernah mau.

Aku duduk diatas pangkuannya memperhatikan wajahnya yang sudah seminggu tidak aku lihat. Ada bias lelah dan frustasi didalam pandangannya,”Why ? Ada yang tidak beres ?”

Dia tersenyum lalu menghela nafas,”Tidak. Semuanya berjalan lancar dan anakku bisa menghandle semua perusahaanku di Indonesia dengan baik.”

Aku merapikan anak rambut tembaganya yang berantakan,”Lalu kenapa ekspresimu seperti itu ?”

Dia langsung menciumku sekilas, di bibir membuatku kaget setengah mati dan mencubit pipinya gemas. Dia terkekeh,”Aku merindukanmu my bitch.”

Aku berdecak,”Disana ada istrimu, memangnya dia tidak melayanimu ?”

Dia mengamati keseluruhan wajahku dengan mata birunya yang cemerlang,”Tapi dia bukan kamu. Yang liar dan menggemaskan.”

Aku memutar bola mataku keatas,”Dasar buaya. Punya istri cantik dan seksi begitu masih aja kurang.”

Dia tertawa renyah,”Aku hanya manusia biasa yang selalu merasa kurang dan ingin mencari lebih. Walaupun aku sudah memiliki segalanya, uang, kekuasaan, kehormatan dan wajah menawan. Kalau tidak mana mau kamu denganku.”

Aku tertawa dan menganggukkan kepalaku tanda setuju,”Tentu saja.”

Dia memandangiku dan kulihat sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman. Aku meleleh dan tidak menampik pesonanya. Sialan memang pria berumur ini,umpatku.
Lalu matanya menyimpit tajam memandnagiku,”Apa yang kamu lakukan disini bukannya seingatku aku sudah memfasilitasi semuanya untukmu. Aku tadi tidak menemukanmu diapartemen makanya aku kemari. Kamu tidak sedang mencari laki-laki hidung belang yang lain kan ?”

Aku tertawa dengan tangan yang bergerilya mengelus permukaan dadanya,”Aku hanya bosan dan kangen bertemu Jade jadi aku kemari.” Aku menatapnya kesal,”Kamu bilang akan pulang tiga hari lagi.”

Pria itu tertawa sambil mengelus rambut coklat bergelombangku yang indah,”Aku kabur dari mereka makanya lebih cepat pulang.”

“Kenapa ?”tanyaku heran. Dia menghela nafas,”Anak tertuaku belum memutuskan untuk menikah padahal usianya sudah kepala tiga. Maminya jadi uring-uringan.”

Aku tertawa,”Dia pasti akan menikah kalau dia ingin.”

Dia hanya tersenyum lemah. Aku merapatkan diri dan berbisik,”Apa aku tidak bisa memilikimu seutuhnya ?”

Aku merasakan ketegangan dalam dirinya sebelum dia menjawab keinginanku walaupun aku sudah tahu apa jawabannya,”Sorry. Kamu tahu kan keluargaku adalah segala-galanya bagiku. Walaupun aku seperti ini tapi aku tetap mencintai mereka.”

Aku mendnegus dan memandnagnya kesal,”Cinta ? Are you kidding me ?

“Kenapa ?”tanyanya heran memandangiku. Aku membuang pandanganku ke area bar yang semakin ramai dan berkata lirih,”Cinta itu bullshit. Kamu tidak akan menjadikanku wanita simpanan kalau kamu memang mencintai mereka, Ab.”

“Aku memang mencintai mereka, Naya.”

Aku menghela nafas kembali memandang mata birunya,”Kamu tidak mencintaiku ?”

Dia terdiam sesaat dan balas memandangiku dalam,”Kamu hanya hiburan bagiku Nay.”
Jawabannya menyakitkan. Tapi aku tahu bahwa dia benar. Apalah aku ini yang selama ini berjuang untuk tetap survive dan memilih jalan hidup hedonis seperti ini sebagai bentuk dari kemarahan dan kemurkaanku.

Aku ingin membuktikan bahwa hidupku baik-baik saja tanpa bersusah payah mengemis. Aku sudah lama membiarkan hatiku mati dan menguburnya dalam-dalam. Aku Medina Nayyara, seorang wanita simpanan dengan harta berlimpah hanya dengan mengandalkan kecantikan, kemolekan tubuhku dan aku tetap bisa hidup dengan nyaman sampai saat ini.

“Aku dan kamu terikat kontrak dan tugasmu memberiku kepuasan yang lain sampai aku sendiri yang melepasmu. Ingatkan Nay ? Sebagai gantinya aku memberimu harta yang melimpah dan tidak ada habis-habisnya. Apa semua itu masih kurang ?”

Aku tersenyum kecil,”Owh okelahhh, lupakan pertanyaan gilaku tadi. Aku hanya senang melihatmu kembali.”

Dia kembali tersenyum dan membawa tubuhku semakin rapat,”Kamu memang sangat menggemaskan. Aku menginginkanmu sekarang juga.”

Aku tertawa dan berdecak,”Dasar pria tua mesum.”

Dia menyeringai dengan kilatan jahil yang aku tahu apa artinya,”Tapi aku selalu membuatmu tidak berdaya dan menginginkan lebih.”

Aku mendengus,”Yeah, pria tua mesum yang menyebalkan.”

Tawanya membahana membuatku sedikit jengkel dengan kesombongannya itu. Setelah agak reda dia berbisik nakal,”Lebih baik kita pulang sekarang dan berpesta.”

Aku tersenyum lebar dan bediri dari pangkuannya mengamit lengannya membantunya berdiri,”Lets go my dolly. Kamu harus mengganti waktu lima hari yang kosong kamarin.”

“Semangat sekali. Aku akan membuatmu tidak bisa bangun dari ranjang besok pagi,”dia mencubit pipiku dan membawaku keluar dari bar,”Wuuuu, sereeeemmm. Tapi aku tidak takut Mr. Abigail.”

Dia tertawa kemudian membawaku masuk ke dalam mobil Aston Martin keluaran terbaru miliknya yang terparkir cantik di luar. Aku masuk dengan bersemangat dan kami berlalu dari sana.

Hidupku sudah seperti ini sejak dulu, sejak semua direnggut dari hidupku dengan sadis dan tidak berperasaan meninggalkanku sendirian dalam keterpurukan. Sejak saat itu aku berjanji pada diriku bahwa aku akan hidup dengan caraku sendiri bukan dengan cara-cara yang diajarkan padaku sejak kecil. Aku sudah tidak mempercayai apapun dan sampai kapanpun.

><

“Erghhhh,”aku menggeliat dengan tubuh yang kelelahan luar biasa. Aku perlahan membuka mata dan menangkap sinar terang dari jendela kamar yang tidak tertutup rapat membuat sinar matahari masuk ke dalam kamar memberi kehangatan. Aku menolehkan kepalaku kesamping dan menemukan pria itu yang tertidur dengan nyenyaknya setelah semalaman benar-benar membabatku habis tanpa ampun. Aku menoleh kesamping dan menemukan segalas air putih yang masih utuh. Pakaian kami sudah berserakan di area kamar dan beberapa botol minuman keras kosong yang juga tergeletak sembarangan. Aku tersenyum tipis lalu duduk bersandar pada kepala ranjang dan meminum air putih itu sampai habis.

Aku menghela nafas dan memijit area leher yang kaku sambil memandnagi lautan luas dikejauhan menembus tirai tipis yang sedikit tertiup angin. Aku keluar dari selimut berjalan ke arah kamar mandi menuju westafel dan mencuci muka agar lebih segar lalu mengambil jubah mandiku dan memakainya. Aku keluar dan berjalan perlahan ke meja riasku dan mengambil apa yang aku butuhkan saat ini dan membawanya ke beranda kamar di lantai lima belas sebuah apartemen mewah yang memiliki view lautan lepas kota Vancouver yang berkilau dan nampak tenang.

Aku duduk di salah satu kursi, mengambil satu batang rokok, menyalakannya dan bersandar nyaman menatap kejauhan. Lautan itu tenang tapi aku tahu juga mematikan. Ada alasan kenapa aku meminta apartemen ini kepada Abigail. Jawabannya ada di depan sana. Aku selalu membenci lautan yang telah merenggut semua orang yang sangat amat aku cintai. Semuanya, tanpa terkecuali meninggalkanku sendirian disini memilih hidup sebagai jalang yang telah buta segalanya. Tragedi kecelakaan pesawat tiga tahun lalu telah menjungkir balikkan hidupku seketika.

Dari sini aku bebas mengumpat dan mencaci maki siapapun, apapun yang telah menorehkan luka begitu dalam di hatiku. Aku tidak akan pernah lagi menjadi orang yang sama seperti dulu karena aku muak. Bagiku hidup ini bullshit dan aku membenci hidupku setengah mati.

Aku menghisap rokokku dalam dan menghembuskannya sambil mengangkat kedua kakiku ke atas kursi dan menatap lurus dikejauhan. Aku berusaha untuk mengusir semua kenangan buruk itu tapi tidak pernah bisa. Hari itu seharusnya kami semua berkumpul di Medan, tempat kedua orang tuaku dan sanak saudara untuk merayakan ulang tahun kedua anak pertamaku, Keenan Alfi Fadillah. Aku menyesal tidak ikut mereka dalam penerbangan itu karena dengan begitu aku tidak akan menderita seperti sekarang paling tidak aku bisa terus memeluk anakku di tempat lain, dunia lain yang dulu sangat aku percayai dan yakini. Tapi tidak sekarang.

Aku mengusap sebulir air mata yang tanpa sadar menetes jatuh ketika aku teringat dengan Keenan, anakku yang tampan dan menggemaskan yang sangat mirip denganku dan hanya mewarisi senyuman memikat, mata dalam, dan lesung pipit milik suamiku. Aku begitu merindukan mereka semua.

Aku tersadar dari lamunanku ketika mendengar ponsel yang aku letakkan diatas nakas berdering nyaring dan aku segera bangkit masuk ke dalam dan mengambilnya. Aku mendengus ketika melihat siapa yang menelepon lalu berbalik kembali duduk di luar.

“Masih belum menyerah juga ?” sapaan “halo” tidak berlaku untuk perempuan keras kepala ini. Aku menghisap kembali rokokku sambil mendengar ocehannya.

“Tidak akan pernah Nayyara. Kamu tahu bagaimana aku. Selama aku belum berhasil membawamu pulang ke Indonesia aku akan tetap menganggumu.”

Aku menghela nafas sambil meletakkan rokok yang sudah habis terbakar itu di asbak tembaga yang ada di atas meja dihadapanku,”Apa ancamanmu kali ini ?”

Aku mendengar dia terkekeh,”Abigail.”

Mataku membulat sempurna. What the hell. aku menegakkan badanku dengan geraman yang keluar dari mulutku,”Berani-beraninya kamu memata-mataiku, Helena.”

Perempuan itu menghela nafas dan berkata lembut berbanding terbalik dengan suaraku yang kasar,”Pulanglah Nay. Tinggalkan semua dosa-dosamu disana. Kembalilah seperti dulu.”

Aku berdecih,”Tidak usah mengingatkanku tentang dosa. Aku tidak peduli. Dari mana kamu tahu tentang Abigail ?”

“Allah yang menunjukkannya padaku Nay. Kamu percaya kan kalau bagiNYA tidak ada yang tidak mungkin. kamu menyimpan dan menutup serapat apapun rahasia itu aku akan tetap tahu kalau kamu adalah wanita simpanannya.”

“Persetan,”geramku. Helena membungkamku,”Apa yang kamu harapkan Nay. Apa kamu tidak bisa melihat kami semua disini mengkhawatirkanmu. kamu tidak pernah sendirian dan buang jauh-jauh pikiran bahwa hidup ini tidak adil hingga membuatmu terjerumus maksiat seperti ini.”

Aku memejamkan mata menahan gemuruh di dadaku mendengarnya,”Len, hentikan ceramahmu ini. Kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan dan jangan menghakimiku seperti itu. Aku berhak mengatur hidupku.”

“Pulang atau aku akan melakukan sesuatu,”katanya tegas. Aku terdiam dan Helena kembali membuatku terkejut setengah mati,”Aku ada di Vancouver sekarang. Aku akan menyeretmu pulang dan kami sudah mencarikanmu calon suami.”

“Kalian gila !!!!”

Aku mengumpat dan memutus sabungan telepon itu dengan kasar dan membantingnya ke meja. aku mengepalkan tangan marah dan tidak terima. apa haknya mengatur hidupku seperti itu. aku tidak akan membiarkan siapapun mengatur-aturku lagi. aku bebas melakukan apapun dan menjadi wanita simpanan adalah pilihanku saat ini. aku memejamkan mata dan melihat bayangan seorang laki-laki yang memiliki pandangan mata meneduhkan tersenyum untukku. senyuman yang sangat aku rindukan setengah mati.

Aku tidak sadar sejak kapan aku terisak dan menangis sekencang-kencangnya membuat Abigail terbangun dan kaget mendapati terduduk di lantai dengan linangan air mata, dada yang naik turun karena sesak yang menghimpit, dan rauanga keras yang mengiris hatiku.

Aku benci hidupku.

><

Sialan, perempuan itu benar-benar datang.

Aku memandanginya tajam dengan tangan terkepal menahan amarah yang siap aku ledakkan kapan saja jika dia menceramahiku saat ini juga. Aku bersyukur bahwa Abigail sudah pulang ke rumahnya sendiri setelah menginap semalam.

“Matamu bengkak Nay. Kamu menangis lagi ?”katanya smabil memandnagi wajahku dengan seksama dengan raut muka khawatir. Aku berdecih,”Ngak usah sok perhatian. Ngak ada gunanya kamu datang kesini jadi lebih baik kamu pulang ke kampungmu lagi Helena.”

Helena tersenyum lemah lalu menghela nafasnya,”Aku sangat merindukanmu.” Aku tertawa,”Tapi aku tidak.” Dia menarik tanganku masuk ke dalam apartemenku dan duduk di sofa padahal aku belum menyuruhnya duduk.

“Aku menyuruhmu pulang tapi kenapa kamu malah duduk di ruang tamuku. Kamu memang tidak sopan.” aku melihat gurat kesedihan itu di matanya. Aku membuang pandangan ke arah dapur minimalisku.

“Aku sudah berdiskusi dengan abah dan dia secara pribadi memintamu untuk pulang. Dia sudah menganggapmu seperti anaknya sendiri Naya. Apa kamu tega melukai hatinya dengan kelakuanmu seperti ini ?”

Aku hanya mampu terdiam. Helena beringsut mendekat dan mengelus pipiku dengan mata yang berkaca-kaca,”Aku menyayangimu Nay seperti adikku sendiri. Tragedi itu juga membuat kami menderita sama sepertimu tapi aku mohon kembalilah seperti dulu. Nayaku yang cantik, periang dan menyerahkan hidupnya pada sang Pencipta.”

Aku memejamkan mata sesaat menghalau air mataku lalu menepis tangannya,”Naya yang kamu bilang itu sudah lama mati. Kalian harus menerimaku yang seperti ini.”

Dia menatapku dengan linangan air mata. Aku terpaku sesaat melihat wajahnya yang bercahaya, mengenakan gamis syar’i berwarna peach, warna favoritnya. aku membuang muka gusar. kami terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing lalu tiba-tiba dia berdiri dari duduknya membuatku menoleh heran.

“Aku akan kembali dua hari lagi dan membawamu pulang. Bersiaplah. Aku tidak akan membiarkan saudariku terjerumus semakin dalam bersekutu dengan setan. Aku melakukan ini karena aku menyayangimu Nay. Ingat itu.”

Aku mengerjapkan mataku dengan mulut ternganga. apa maksud perkataannya ?

Belum sempat aku mengutarakan kebingunganku , Helena berlalu dari hadapanku keluar dari apartemen meninggalkanku dalam kebingungan. aku menatap pintu yang tertutup itu dengan berbagai macam prasangka dan praduga. Apa yang akan Helena lakukan dan kenapa dia begitu yakin bahwa aku akan dengan senang hati mengikutinya pulang. Aku terdiam cukup lama kemudian berdiri dan masuk ke dalam kamarku.

Untuk apa semua ini terjadi dalam hidupku ? Belum cukupkah Engkau mengambil semua yang dulu aku miliki dan membuatku menderita seperti ini ?


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset