The Magical Prolog

Chapter 0

Pesawat Air Bus 888-400 tujuan Jakarta – medan yang semula terbang mulus tanpa kendala itu berada di ketinggian 35 ribu kaki atau 10,600 meter di atas permukaan laut selama hampir setengah jam ketika bencana itu terjadi. Tidak ada yang menyangkanya bahkan sang Pilot , Co-Pilot dan awak pesawat yang saat itu sedang bertugas. Bagaimana tidak, diluar sana terhampar langit sore yang sangat cerah dengan awan-awan cantik aneka bentuk tanpa ada satupun tanda bahwa badai akan datang. Namun nyatanya, bencana itu memang ditakdirkan untuk terjadi dan tidak ada yang bisa menghindarinya.

“Periksa semua kerusakan pesawat, mesin dan bahan bakar. Aku akan berusaha untuk tetap menjaga kendali sampai kita mendarat darurat,”Captain Alam Ferdinand berusaha untuk tidak panik setelah kendali autopilot tidak berfungsi sebagai mana mestinya.

Co-pilot muda yang sudah memiliki jam terbang tinggi itu dengan sigap mengecek semuanya dan menemukan beberapa kejanggalan. Dia berusaha untuk tetap tenang agar semuanya terkendali namun dia tahu dengan pasti bahwa pesawat yang sedang mereka terbangkan ini memiliki 90% kemungkinan untuk terjatuh. Salah satu mesin pesawat disayap kanan mati total dan sistem autopilot tidak berfungsi normal membuat pesawat semakin lama semakin menukik turun.

“Mesin di sayap kanan mati Capt. Kita tidak akan bisa bertahan lama,”katanya gusar. Sang pilot menoleh dengan kerutan dalam didahinya,”Bukankah sebelumnya sudah dilakukan pemeriksaan meyeluruh dan setahuku semuanya baik-baik saja.”

Dia mengangguk juga tidak mengerti. Dia menghela nafas pelan disela kepanikan dalam dirinya,”Kegagalan mesin Capt.”

Sebelumnya mereka telah memberi sinyal darurat kepada bandara terdekat perihal permasalahan mereka. Mereka harus berjuang mengendalikannya sampai pendaratan darurat terjadi dan memperkecil jatuhnya korban jiwa.

Dia berusaha memberitahu awak pesawat dan penumpang perihal status pesawat dengan setenang mungkin tapi dia tahu dengan pasti kodrat manusia jika dihadapkan dengan proses kematian yang akan terjadi dan tidak terhindarkan yang begitu mendadak ini , panik dan hilang kendali.

Dia memejamkan mata mengingat keluarganya. Maminya yang belum dia beri cucu karena sibuk mengurusi kariernya, Papinya yang mengharapkannya mengikuti jejaknya sebagai seorang pengusaha tapi dia malah ngotot ingin menjadi seorang Pilot, kedua adik remajanya yang sedang puber. Dan terakhir kekasih hatinya yang rencananya akan dia nikahi dua bulan lagi. Semua terbayang didalam kepalanya saat ini.

Pesawat semakin hilang kendali dan menukik turun membawa semua kekalutan dan kepanikan yang terjadi disana. Kesatu-satunya pilihan yang mereka punya. Lautan luas tak terbatas yang akan menjadi landasan mereka nanti.

“Aku pernah mengalami hal yang jauh lebih mengerikan dari pada ini Ab. Nyatanya aku selamat seperti sebuah keajaiban.”

Dia menoleh dan melihat ketenangan dalam pandangan dan senyuman Capt. Alam disampingnya. Dia terdiam,”Apa Capt yakin kali ini kita semua akan selamat lagi ?”

Laki-laki paruh baya itu tersenyum tipis sambil memengang kendali pesawat,”Tidak Ab. Kita membawa banyak penumpang. Entah berapa banyak dari mereka yang akan menghadap Sang Pencipta dalam tragedi kali ini. Bisa saja aku dan kamu juga termasuk didalam daftarNYA.”

Dia menggertakkan gigi dan memejamkan mata. Dadanya bergemuruh hebat. Ini adalah salah satu resiko yang sudah dia katahui dengan pasti ketika mendaftar menjadi seorang pilot. Ironisnya ini adalah pertama kalinya dia mengalaminya dan kegusaran jelas menguasainya, kepanikan melandanya dan ketakutan menghinggapinya. Walaupun dia berusaha menyembunyikannya.

“Berdoalah Ab, agar kita semua masih bisa selamat,”Capt Alam berkata pelan sambil memejamkan mata. Lautan luas nampak berkilau dibawah sana. Dia mendengus kasar dan mengusap peluh keringatnya. Capt Alam menoleh memandanginya sesaat kemudian tersenyum. Dia membuang muka.

“Tidak pernah pergi ke gereja lagi Ab ?”

Dia meringis,”Aku terlalu sibuk Capt. Sibuk mengejar karier dan sesekali datang hanya untuk setor muka dan duduk merenung sampai selesai lalu keluar dan pulang. Sudah lama aku seperti itu.”

“Tidak kah sekarang kamu menyesal ?”

Dia menoleh dan memandangi seniornya itu dengan tatapan tidak percaya karena dia benar. seluruh kesadarannya kali ini mengatakan bahwa dia menyesal telah mengabaikan Tuhannya. Andai dia diberi kesempatan sekali lagi. Kadang antara hidup dan mati yang akan terjadi di depan mata bisa membuat otak kita menayangkan kembali setiap epsiode dalam kehidupan sebelumnya. Begitu banyak penyesalah, kesedihan , kebahagian dan kemurkaan.

Dia mencengkram erat kemudi pesawat melihat tempat mendarat mereka semakin terlihat jelas. Dalam hitungan menit mereka akan membentur lautan luas tak berdasar itu. Semakin mendekati ajal dan masuk ke tahapan kehidupan selanjutnya yang banyak diabaikan banyak manusia. Pada saat-saat seperti inilah mereka akan menyadarinya.

“Carilah kedamaian di tempat lain jika hatimu masih saja gusar Ab. Nanti jika kamu ternyata diberi kesempatan kedua. Seperti aku di masa muda dulu dan sekarang aku siap melangkah lebih jauh. Sampai jumpa Ab. Aku senang bekerja sama denganmu, Anakku,”Capt. Alam mengulurkan sebelah tangannya dan mengelus kepalaku lalu menepuk bahuku pelan sebelum memandang ke depan.

Dia tanpa sadar meneteskan air mata mendengar kalimat perpisahan dari Capt. Alam. Laki-laki paruh baya yang taat beragama, sangat mencintai keluarganya yang saat ini tengah menatap ajalnya dengan penuh senyuman. Wajahnya tidak menyiratkan ketakutan seperti dirinya saat ini. Entah dari mana semua itu berasal.

Enam puluh detik sebelum benturan, dia mendengar dengan jelas suara lirih Capt. Alam yang menyeruakan kalimat seperti ” AllahuAkbar” berulang kali dan dilanjutkan dengan kalimat panjang yang akan dia ingat dengan sangat jelas sebelum benturan keras terjadi dan menenggelamkan segalanya.

‘Asyhadu an laa ilaaha illallāh wa asyhadu anna Muhammad Rasuulullāh.’


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset