The Magical episode 11

Chapter 11

“Allah tidak akan memberi hambanya cobaan melebihi kemampuan. Yang dibutuhkan hanya kesabaran dan keyakinan bahwa semuanya pasti memiliki jalan keluarnya.”

Medina Nayyara POV

Dulu aku tahu bagaimana rasanya mengecap bahagia hanya karena hal-hal kecil yang sederhana. Setiap sore setelah sholat ashar, aku akan berbenah rumah agar rapi lalu memandikan Keenan setelah terbangun dari tidur siangnya. Setelah itu kami akan duduk-duduk dipinggir kolam ikan koi peliharaan suamiku di belakang rumah sembari menyuapi Keenan makan. Junior kecilku yang menggemaskan itu suka sekali melihat ikan yang berlalu lalang di bawah kakinya membuatnya makan dengan lahap.

Bel rumah akan berbunyi nyaring saat jarum jam menunjukkan jam lima sore. Aku akan menyambut suamiku dengan senyuman lebar begitupula Keenan yang sudah menggeliat dalam gendonganku tidak sabar untuk bermain dengan abinya.

Aku selalu suka bagaimana suamiku memberiku perhatian yang walaupun tidak seromantis laki-laki lain yang membawa sebuket bunga, cincin emas berkilo-kilo gram atau membelikanku sepatu mahal. Dia hanya membawakanku kue Cheesecake bertabur gula halus dan hiasan Strawberry dalam ukuran besar, kue favoritku dan aku akan senang bukan main atau membawa ikan kepala kakap, makanan kesukaan kami berdua. Jangan tanya bagaimana adegan bahagia yang tercipta selanjutnya karena semua itu hanya akan membuatku seketika nelangsa hanya karena mengingat setiap detailnya dalam keadaan jiwa dan batin yang sudah hancur berserakan seperti saat ini.

Sejak kejadian tragis itu, setengah tahun aku habiskan untuk mengenang segala hal manis yang terjadi dihidupku sebelumnya dari aku kecil hingga detik terakhir aku beecengkrama dengan mereka lalu berharap bahwa takdir akan berbaik hati mengembalikan mereka semua kepadaku.

Setengah tahun selanjutnya aku habiskan dengan mengumpat, mengeluarkan amarah, meneriaki segala macam hal yang beehubungan dan juga tidak berhubungan dengan satu hal tragis yang mengubah hidupku dan membawaku pada titik paling dasar yang manusia mampu hadapi dan mengurung jiwaku yang berserakan didasar kegelapan selama-lamanya.

Aku mengusap air mataku dengan punggung tangan yang entah sejak kapan sudah mengalir deras seraya tertawa sarkas. Selama-lamanya. Apa memang itu sudah menjadi hukuman bahwa kegelapan ini akan memenjarakanku selama itu ?

Rasanya semua hal yang aku lamunkan tadi terasa sangat singkat jangka waktunya. Tiga tahun lalu semuanya hilang tidak berbekas dibawa gelombang laut dalam di samudra luas. Pemicu semua kenangan itu menyeruak kembali dalam kepalaku berada dalam jarak tidak jauh dariku. Disudut taman, ditengah padatnya kota Jakarta pada sore yang cerah pada sbeuah keluarga bahagia yang sedang bercengkrama.

Mereka keluarga muda yang dikaruniai seorang anak laki-laki gempal nan menggemaskan yang saat ini tengah berusaha berdiri dengan sempoyonagan dan dengan terpatah-patah pelan tapi pasti melangkah maju dengan senyuman lebar khas anak kecil. Dalam langkahnya yang kelima, si anak terhuyung kedepan dan langsung terjatuh dalam pelukan sang ayah yang sejak awal berlutut tidak jauh didepannya merentangkan tangan dan memberi dukungan. Si ibu muda tidak kalah bahagianya dengan langkah pertama putranya yang langsung dia abadikan dalam kamera ponselnya sejak awal.

Aku hanya bisa terpaku disudut lain taman duduk dalam diam memandangi mereka. Melihat bagaimana mereka tertawa lepas, saling berangkulan erat, menghujami si kecil dengan ciuman disela-sela tawa yang tercipta. Hanya satu kata yang muncul dalam kepalaku tentang apa yang saat inu tengah aku perhatikan.

Bahagia.

Aku menengadahkan kepalaku ke atas menatap langit biru dihiasi awan putih berusaha mengembalikan air mataku agar tidak kembali merebak. Aku iri, lemah , sengsara dan tidak berjiwa.

Bahagia itu terenggut begitu saja. Tanpa ada peringatan tanpa ada firasat. Lenyap tidak berbekas.

Aku kembali menatap kelurga kecil bahagia itu yang kini tengah berjalan menjauhiku. Pemandnagan hangat itu menohokku sedemikian rupa. Si anak tertawa-tawa dalam gendongan sang ayah sedangkan tangan satunya yang bebas menggenggam erat jemari istrinya.

Aku berdiri sudah tidak tahan lagi melihatnya. Aku kembali melangkahkan kakiku tidak tentu arah seperti sebelum aku terdampar dalam taman tadi. Aku emngedarkan pandangan disekitar area perumahan yang padat dan ramai orang berlalu lalang.

Sendirian dan tersesat.

TIIIIINNTTT….

Aku tersentak kaget tidak menyadari posisi berjalanku yang hampir ketengah jalan.

“Woiiii mau mati lo, kalau jalan pake mataa !!!!”

Aku hanya tersenyum miris mendengar makian pengendara motor itu. Aku bahkan tidak pedulo jika aku mati. Lebih bagus malah, mempercepat akhir dari penderitaanku. Aku menghela nafas dan memijit pelipisku merasa sedikit pusing.

Aku mengedarkan pandnagan dan kembali berjalan kearah sebuah mini market tidak jauh didepan dipinggir jalan besar. Aku baru sampai di Jakarta tadi pagi dan menginap dihotel tidak jauh dari sini. Aki tidak bisa pergi kerumah Stephanie karena aku yakin Helena pasti akan mencariku disana. Jadi aku memutuskan untuk sendirian entah sampai kapan.

Aku tidak peduli mereka mencariku atau tidak. Yang pasti aku tidak berniat untuk kembali kesana jika hanya membuatku menikah dengan Ibrahim.

Ah, laki-laki itu. Apa aku boleh berharap bahwa dia akan senang mendengar kabar bahwa aku menghilang. Semoga saja.

Aku mempercepat langkah kakiku karena merasa haus luar biasa. Aku merapikan anak rambutku yang diterbangkan angin. Keluar dari area perumahan aku bergerak semakin mendekati pintu kaca mini market sambil meronggoh kantong jaket yang aku kenakan berniat mengambil dompet.

“Pokoknya cari disemua tempat. Hotel, stasiun, terminal. Ahh jangan lupa cek juga di bandara. Aku harap dia……BUK!!!!!”

“AWWW,”pekikku kaget ketika seseorang menabrak bahuku sebelah kiri hingga dompet yang berhasil aku ambil dari saku jaketku terjatuh kelantai. Aku langsung merunduk mengulurkan tangan ke bawah sebelum menyemprot siapa pun oknum yang menabrakku.
Namun aki kalah cepat dari lelaki itu yang sudah lebih dulu merunduk dan mengambil dompetku.

“Maafkan aku tidak sengaja menabrakmu.”

Aku menegakkan punggung kemudian terbelalak kaget begitu juga dengan cowok yang ada dihadapanku. Sial,umpatku.

“Medina.”

Suaranya terdengar amat lega. Aku hanya bisa terdiam lalu mundur kebelakang. Kenapa aku harus bertemu dengan orang yang saat ini ingin sekali aku hindari.

Ibrahim berusaha maju mendekatiku dan aku reflek langsung balik badan dan melupakan kenyataan bahwa apa yang ada dibelakangku adalah jalan raya. Aku berlari ketengah lalu stersentak kaget saat sebuah mobil melaju dengan cepat kearahku. Aku bisa mendengar suara klakson yang di tekan berulang-ulang kali dan teriakan xeseorang tidak jauh dariku tapi nyatanya kakiku kaku tidak bisa digerakkan.

Aku menatap horor sesuatu yang bergerak semakin mendekat saat tanganku tiba-tiba ditarik oleh seseorang dan menyeretku dalam dekapannya saat hantaman itunkurasakan dengan hebatnya.

CIIIIITTT !!!!! BRAKKKKK !!!!

Aku terlempar kebelakang dan setelah itu merasaka kepalaku membentur sesuatu yang keras. Aku masih bisa merasakan dekapannya, aroma maskulinnya, dan suaranya yang serak dan bergetar memanggio namaku.

“Medina….Medina….”

Perlahan pandanganku menggelap dan suara itu terdengar semakin samar-samar kemudian menghilang.

Aku mohon ambil saja nyawaku agar aku tidak merasakan kesakitan lagi, jeritku frustasi.

——- The Magical ——-

Mimpiku sangat indah. Begitu terasa nyata dan hidup.

Aku menemukan kedamaian ditempat dimana aku berpijak saat ini. Tentu saja berada ditengah keluargaku yang sudah lama aku rindukan. Aku tersenyum hangat membalas senyuman Haikal di hadapanku. Wajahnya masih tetap tampan seperti yang terakhir kali aku ingat dan senyumannya meneduhkan mampu membuatku melupakan kegelisahanku.

“Jangan pandangi aku seperti itu mas ?”tegurku malu sambil memeluk erat Keenan. Mas Haikal hanya tersenyum kemudian membelai lembut puncak kepalaku.

“Mas punya permintaan. Nayya bisa kabulkan ?”tanyanya.

“Apa itu mas ?”tanyaku dengan bingung.

“Jangan bersedih.”

Senyumanku memudar dan dekapanku semakin erat. Tidak lama air mata itu kembali merebak kali ini aku membiarkannya saja tumpah. Aku ingin Mas Haikal tahu bahwa aku menderita, aku tidak baik-baik saja.

“Jangan menangis Nayya,istriku yang bagaikan bidadari penghuni syurga. Aku tersiksa melihatmu seperti ini. Mas minta untuk melembutkan hatimu sepeti dulu Nayya.”

Aku menggelengkan kepalaku dengan kuat,”Aku takut mas. Aku sudah tidak memilikimu dan Keenan.”

“Kamu masih memiliki keyakinan dan Allah Nay.”

Aku berdiri dan entah bagaimana Keenan sudah tidak ada lagi didalam dekapanku. Aku menggelengkan kepala semakin cepat dan terisak semakin lirih. Haikal memandnagiku dengan sorot mata sendu. Kesedihan nampak muncul disana.

“Selama ini aku tidak pernah meragukannya. Aku ikhlas menjalaninya aku terima dan berusaha melakukan yang terbaik tapi kenapa kita harus terpisah seprti ini mas ? Aku sama sekali tidak mengerti dan aku tidak semudah itu bisa menerimanya.”

Haikal tersenyum tipis,”Apa kamu lupa kalau Allah tidak akan memberikan umatnya cobaan yang melebihi batas kemampuan hambanya Nay. Kamu hanya harus mengikhlaskan semuanya dan kembali menjalani hidupmu.”

“NGAK !!!!!”

“Aku bukan wanita setangguh itu mas. Aku lemah dan ngak berdaya karena bagiku kalianlah sumber kekuatanku. Nagaimana aku bisa hidup kalau cahaya dan penopangku saja sudah tidak ada.”

Aku merasa frustasi. Aku menatap nanar Haikal yang hanya diam tidak bergerak ditempatnya berdiri. Lalu tiba-tiba suara seseorang yang aku kenal terdengar di indra pendnegaranku.

“Medina….Medina…aku mohon kembalilah.”

Aku mengangkat kepalaku dan mengedarkan oandangan mencoba mencari dimana asal suara itu dan mencoba mengingag siapa yang memanggil namaku. Kepalaku tiba-tiba saja terasa sakit.

“Kamu dengar suara itu Nay ?”

Aku kembali memandang ke depan. Haikal tersenyum hangat dengah Keenan didalam dekapannya. Aku memqndangi mereka nanar dengan penuh perasaan rindu.

“Suara siapa itu ?”tanyaku dengan tangan memegangi kepala.

Haikal maju mendekat kearahku membawa serta Keenan yang ada didalam dekapannya. Aku hanya diam tidak bisa bergerak. Haikal memegang tangan kecil Keenan dan membawanya kewajahku lali membelai pipiku. Air mataku tumpah ruah.

“Keenan tidak mau melihat ibunya terus seperti ini begitu juga denganku Nay.”

Sekarang gantian Haikal yang mengelu pipiku dan membelai kepalaku. Suaranya selembut sutra dan senyumannya sehangat matahari.

“Suara itu adlaah suara hidupmu Nay. Jalan keluar untukmu. Allah tentu tidak akan membiarkan hambanya yang taat diberi cobaan tanpa jalan keluar. Jadi mas minta lembutkan hatimu dan terimalah.”

Aku terdiam lalu melihat Haikal berjalan menjauhiku bersama Keenan. Aku bergerak tidak rela mereka kembali menghilang. Aku berusaha menggapai mereka tapi tidak terjangkau.

“TIDAAAAAAAKKKKKKK !!!!! AKU MOHON JANGAN TINGGALKAN AKU!!!!!!”

Aku berteriak frustasi saat tubuhku tersedot dan menarikku menjauh dari sana masuk kedalam kegelapan. Aku tersentak dan terdampar disebuah tempat yang sunyi dan dingin. Suara denyut jantung terdengar jelas ditelingaku. Lalu satu titik cahaya dikejauhan membuatku silau.

Aku tersadar dan membuka mataku seraya mencoba beradaptasi dengan cahaya menyilaukan yang nampak dihadapanku. Aku mengerjapkan mata dan melihat dinding putih dan suara denyut jantung itu semakin terdengar begitu jelas.

Namun suara yang paling aku dengar dan kenali datang dari arah sebelahku. Suaranya bergetar dan kembali mencoba memanggil namaku dan terselip ucapan rasa syukur darinya.

Apa seseorang sudah menungguku,batinku penasaran.

Aku menolehkan kepalaku dan bertemu pandang dengan mata penuh keteduhan yang saat ini tengah menatapku khawatir.

Mata biru secerah langit diangkasa. Menghipnotis dan membuatku tenggelam didalamnya dan tanpa sadar bibirku yang semula terkunci rapat membuka dan mengelurkan suara lirih.

“Ibrahim…Ibrahim.”

Ibrahim tersenyum dan menganggukkan kepalanya,”Aku disini Medina. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”

Aku tersenyum sesaat merasa hangat akan janji tersirat dalam ucapannya barusan.

Suaraku bergetar dan airmataku kembali turun,”Ibrahim ?”

“Ya ?”

“Tolong aku.”

Setelah itu kegelapan sekali lagi mengambil alih kesadaranku.

—— The Magical ——

Ibrahim POV

Aku mengabaikan rasa sakitnya. Rasa sakit fisikku tidak sebanding dengan sayatan dalam yang kembali tertoreh di hatiku saat melihat Medina dalam keadaan seperti ini. Setelah melewati masa kritis dan hampir saja kehilangannya akhirnya dia kembali lalu sadar membuatku begitu lega.

Namun disela kesadarannya, dia juga nampak seperti seseorang yang tidak sama dengan Medina yang aku kenal, panggilan lirihnya memebuat hatiku sepeti diremas dengan kuat lalu yang membuatku tertohok dengan teramat menyedihkan adalah permintaannya yang dia ucapkan dengan lirih dan tanpa daya.

“Tolong aku.”

Aku menutup mulutku dengan tanganku yang tidak digips dan memandnagi Medina yang sudah jatuh tertidur dengan damainya. Kecelakaan itu membuat kepalanya terbentur aspal keras walaupun aku sudah berusaha untuk melindunginya dengan tubuhku hingga mendapati lenganku diperban karena patah tulang.

Aku tidak peduli asal wanita ini selamat lalu memperbaiki hidupnya yang berantakan. Pertemuanku yang tidak aku duga tadi membuatku semakin yakin bahwa aku memang harus secepatnya melaksanakan niatku.

“Mas Ibrabim.”

Aku berdiri dari dudukku dan berbalik ketika melihat Aisyah sudah berdiri dibelakangku dengan mata yang sembab. Abah Sulaiman dan mami juga ada diluar sedang mengobrol. Setelah mengabari kalau Nayya kecelakaan mereka langsung bergegas datang.

“Aisyah, aku rasa sebaiknya kita percepat saja hari pernikahannya. Apa kamu bisa mengurus berkas-berkasnya ?”

Aisyah mendekat dan tersenyum kemudian mengangguk,”Bisa mas. Aku sudah menyiapkannya dan Abah juga sudah menjadi walinya. Aku rasa semua bisa diurus.”

Aku tersenyum lega lalu kembali mengalihkan tatapanku ke Medina. Aisyah mendekat dan berdiri disamping ranjang Medina dan merapikan anak rambut wanita itu.

“Terimakasih mas. Aku berhutang budi sama mas.”

“Tidak Aisyah. Memang sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga Medina.”

Aisyah tersenyum dan aku kembali duduk di kursi yang sedari tadi aku duduki. Kami memandnagi Medina dalam diam.

“Pengorbanan mas ini sungguh luar biasa. Mas tidak mencintai Nayya tadi bersedia untuk menikahinya.”

Aku tersenyum,”Aku mencintai Allah Aisyah. Niatku semua karenaNYA dan aku sama sekali tidak merasa terbebani. Aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik dan pengertian untuk Nayya.”

“Setelah menikah, perjuangan mas akan lebih ekstra lagi.”

“Tidak apa-apa. Aku bersedia tapi Aisyah apa kamu dan Kellan tidak masalah mengundurkan pernikahan kalian ?”

Aisyah menggeleeng,”Tidak usah pikirkan hal itu mas. Kami bisa menikah setelah kalian.”

Aku mengangguk seraya mengambil ponselku dan mencari nama Keenan yang sibuk mengurusi masalah administrasi.

“ZAYN !!!!”

Aku reflek menoleh kemudian berdiri dari dudukku melihag siapa yang baru saja melewati pintu dan saat ini tengah menatapku dan Medina dengan ekspresi kaget. Aku menghela nafas dan tersenyum.

“Jangan teriak-teriak Pap. Calon istriku sedang tidur.”

Aku tidak tahu apa yang terjadi ketika mwndapati papiku, Abigail Redrevick tengah menatap Medina dengan pandangan shock. Begitu pula dangan Aisyah yang mematung tidak jauh dihadapanku.


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset