The Magical episode 13

Chapter 13

“Biarkan aku menjadi penyembuhmu begitupula sebaliknya kamu bagiku. Karena kita manusia yang memiliki luka masa lalu.” – Ibrahim Zayn

Medina Nayyara POV

Flashback

Aku tahu aku tidak bisa menghindar lagi. Setelah tertidur semalaman akibat dari obat tidur dosis kecil yang diberikan oleh dokter, aku terbangun dengan tubuh segar walaupun kepalaku masih berdenyut. Hal pertama yang kulihat setelah menyadari aku masih di rumah sakit adalah seorang laki-laki tampan dengan rambut coklatnya yang berantakan, sebelah tangan di gips sedang tertidur di sofa panjang tidak jauh dari ranjangku di kamar VVIP.

Untuk sesaat aku hanya bisa mengerjapkan mata melihat pemandangan yang tidak kusangka akan kujumpai ketika aku terbangun. Wajahnya nampak lelah namun dari nafasnya yang naik turun dengan teratur membuatku yakin dia tidur dengan nyenyaknya di sana.

Aku masih memikirkan semua kejadian yang membawaku sampai ke titik ini. Ibrahim yang awalnya berniat untuk menolak keinginan abah Sulaiman lalu fakta yang diketahuinya tentang masa laluku yang membuatnya akhirnya berniat menikah denganku. Aku tentu sama sekali tidak menyangka tapi setiap aku bertatapan mata dengannya, aku bisa melihat kesungguhan itu di sana.

Dia tidak main-main dengan rencananya itu dan setelah usaha melarikan diri yang berakhir sia-sia belaka karena justru sehari setelahnya kami kembali dipertemukan tanpa sengaja. Apa aku tidak bisa menghindarinya agar kami berdua bisa kembali hidup tenang dan tidak terjebak dalam permainan konyol ini. Aku bisa kembali ke hidupku di Vancouver sedangkan laki-laki itu melanjutkan apapun hidup yang dijalaninya sebelum ini.

Aku mencoba untuk bangkit dari tidurku sambil memegangi kepalaku yang berdenyut dan merasakan pusing itu menyergapku. Sambil terduduk di atas tempat tidur aku memindai sekitarku. Sepi tidak ada orang hanya Ibrahim yang tertidur. Perlahan aku menurunkan kedua kakiku ke bawah berniat turun. Setelah merasa yakin mampu berdiri sendiri aku mendekati nakas dan melihat segelas air putih di sana dan beberapa buah-buahan. Aku menjulurkan tangan ingin mengambil gelas itu namun sudah ada tangan lain yang terjulur mengambilnya yang tidak kusadari kedatangannya.

Ibrahim dengan senyuman menawannya, wajah muka bantalnya yang menggemaskan, rambut undercutnya yang berantakan membuatku seketika hanya mampu terdiam memandanginya. Ibrahim berdiri di depanku, membuka tutup gelasnya dan mengambil tanganku meletakkan gelas itu disana.

“Minumlah Nay.”

Seperti tersihir aku melakukannya masih dengan menatap wajah itu, menelitinya dan mencoba mencari pembenaran logis yang bisa diterima otakku saat ini. Aku masih belum bisa mencerna alasan sesungguhnya dia mau menikah denganku selain karena mungkin rasa bersalahnya itu.

Ibrahim tetap memegangi gelas itu disisi lainnya dari tanganku sampai airnya habis tidak bersisa. Dia tersenyum lalu mengembalikan gelas itu kembali ke tempatnya. Aku merapikan anak rambutku yang terjuntai tidak beraturan dan berdiri bersandar di tepi ranjang.

“Ayo, kubantu kamu naik. Seharusnya tadi kamu membangunkan aku saja Nay,”katanya kemudian.

Dia memagangi pergelangan tanganku membantuku duduk di atas ranjang dengan kedua kaki yang terjuntai ke bawah. Ibrahim lalu duduk di sebelahku dengan menaikkan paha kirinya ke atas tempat tidur membiarkan kaki satunya menapak lantai.

Pandangannya masih lurus menatapku. Aku membuang muka melarikan tatapan ke pintu kamar inap yang tertutup. Matanya sedalam milik Abigail,pikiran kusutku memikirkan kemungkinan yang rasanya mustahil.

“Bagaimana keadaanmu ?”

“Mendingan,”jawabku apa adanya. Aku tetap tidak ingin terlalu ramah pada laki-laki ini. Calon suamiku. Erghhgg, aku menahan geram.

“Kepalamu masih sakit ?”tanyanya.

Reflek aku memegang kepalaku,”Ngak terlalu.” Aku masih belum berniat kembali menatapnya yang membuatku kesulitan berfikir.

Kami sama-sama terdiam lalu hembusan nafasnya terdengar olehku.

“Tanganmu gimana ?”tanyaku melihat gips itu.

Ibrahim menundukkan wajahnya melihat tangannya lalu kembali memandangiku,”Tinggal penyembuhan aja.”

“Kamu bodoh, ikut-ikutan celaka menemaniku,”dengusku,”Tapi terimakasih banyak walaupun aku tidak masalah kalau harus mati saat itu jugs.”

Ibrahim terlihat menggertakkan giginyw,”Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi Medina Nayyara.”

Aku mengalihkan tatapanku ke gelas kosong di depanku,”Kamu tidak perlu melakukan ini semua Ibrahim ? Hidupmu perlu kembali normal sebelum kits bertemu dan aku tetap bisa menikmati hidupku sebelumnya,”kataku lirih. Belum memiliki kekuatan untuk menyeruakannya dengan nada tinggi.

Ibrahim hanya diam dan aku menolehkan kepalaku dan menemukan kembali tatapannya yang intens tidak tergoyahkan. Aku seketika terhanyut.

“Aku perlu melakukannya Nay. Agar aku bisa memaafkan hidupku sebelum ini dan aku membutuhkanmu.”

Aku mengeryit heran,”Apa maksudmu ?”

“Aku membutuhkanmu Nay untuk kestabilan jiwaku yang masih saja merasa bersalah dan aku juga tahu kamu membutuhkanku.”

“Aku tidak butuh kamu,”kataku menyela.

Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menyapukan jemarinya ke rambutnya yang lebat.

“Kamu akan membutuhkanku nanti.”

Hanya itu yang dikatakannya. Aku diam tidak ingin menanggapi. Aku menundukkan kepala dan meremas jemariku yang bertaut.

“Kamu tahu, aku sudah terlalu jauh untuk diselamatkan. Aku punya lubang hitam yang kuciptakan sendiri sebelum ini dan aku tidak mau menyeretmu. Kamu masih bisa menghindar. Aku memberimu pilihan untuk pergi selagi bisa.”

“Aku tahu. Aku sudah memikirkannya sebelum ini. Bertanya-tanya apa memang semua harus seperti ini dan aku tidak memiliki pilihan lain.”

Aku menggeser tubuhku sedikit menyerong ke arahnya,”Kamu masih bisa pergi Ibrahim.”

Ibrahim kembali menoleh ke arahku dengan senyuman tipisnya,”Sayangnya aku tidak mau Nay.”

“Kenapa ?”

“Apakah sulit bagimu untuk mencerna kalau aku sudah setuju untuk menikahimu. Allah mengirimku padamu dan banyaknya tanda yang dikirimkanNYA padaku, aku tahu kalau aku harus bersamamu.”

“Tanda apa maksudmu ?”

“Aku akan menceritakannya nanti setelah kamu menikah denganku. Jumat depan.”

Aku ternganga mendnegarnya dan mengerjapkan mataku memandnaginya dengan tatapan tidak percaya. Ibrahim tersenyum membuatku ingin sekali bisa kembali ke hidupku yang dulu. Aku hanya takut tergoyahkan.

“Are you kidding me ?”tanyaku tidak percaya.

“Nope. I’m seriously. We are getting merried next friday. I don’t take a risk you gone, again.”

“You’re stupid Ibrahim.”

Aku menarik nafasku lalu menghembuskannya perlahan,”Kamu pantas untuk mendapatkan yang terbaik selain aku ? Kamu pantas pendapatkan Aisyah-Aisyah yang lain dan itu bukan aku. Pikirkan baik-baik !!!! Jangan hanya karena merasa kasihan padaku kamu tidak bisa memikirkan pilihan lain.”

“Sebelumnya aku juga berpendapat seperti itu.”

Aku melihat tatapanannya sendu.

“Tapi setelah itu aku menyadari bahwa hidupku dulu jauh lebih tidak bermoral dari apa yang telah kamu lakukan membuatku merasa bahwa aku belum bisa berdamai dengan masa lalu walaupun aku sudah meninggalkannya jauh di belakang dan menebusnya.”

“Kamu datang sebagai penyembuh dan begitu juga sebaliknya aku bagimu. Setelah kita menikah aku akan memastikan kita bisa saling menyembuhkan diri. Sama-sama beribadah.”

Aku tertawa dan berdecak,”Aku tidak peduli dengan luka masa lalumu tapi jangan harapkan aku untuk menuruti apapun katamu itu. Jikapun kita menikah, aku akan tetap menganggap bahwa apapun keputusan yang aku buat tidak ada sangkut pautnya denganmu.”

Ibrahim tersenyum memandangiku,”Kamu masih mencintai almarhum suamimu Nay ?”

Aku menoleh kaget dengan pertanyaannya. Dia memandnagiku sekilas dengan tatapan sendunya itu dan tangan yang tidak digips terlihat meronggoh saku celana jeansnya. Aku diam memperhatikan kesibukannya sampai dia mengeluarkan sebuah kalung.

“Aku menganggap ini keajaiban.”

Ibrahim mengangkat tangan kanannya, menjatuhkan kalung rantai emas itu hingga terjuntai ke bawah hingga aku bisa melihatnya dnegan jelas dan aku terpaku shock melihat bandulnya.

Aku tidak bisa memikirkan bagaimana caranya sampai benda itu bisa disimpan oleh Ibrahim. Mulutku terbuka dan tertutup tidak mampu untuk berksta-kata. Aku hanya merasakan badanku bergetar, air mataku sudah tidak bisa terbendung lagi dan tanganku yang terulur begitu gemetaran.

Ibrahim menarik tanganku dan menggenggamnya mencoba meredakan getarannya lalu membuka telapak tanganku. Dengan tangan yang satunya aku menutup mulutku mencoba untuk meredam tangisanku.

“Nay, menikahlah denganku dan ini akan kembali menjadi milikmu,”lirihnya.

Ibrahim meletakkan kalung itu di genggaman tanganku dan aku sudah tidak bisa membendung apapun lagi. Tangisku menggema diseluruh ruang rawat inapku. Menggenggam separuh hidupku dulu yang kusadari telah hilang dan tidak mungkin kembali namun ternyata cintanya masih bisa sampai kepadaku hari ini.

Aku membawa kalung dalam genggamanku ke dada dan menuntaskan sesak di dadaku yang sedari tadi bergemuruh.

“Aku mencintaimu mas Haikal. Saat ini , esok dan sampai kapanpun. Aku mohon tolong jaga anak kita disana,”lirihku dalam hati.

Aku sudah tidak menyadari sejak kapan aku menangis dalam pelukan hangat dan menenangkan Ibrahim Zayn.


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset