The Magical episode 14

Chapter 14

“Janjiku membawamu kembali percaya pada apa yang seharusnya tidak kamu tinggalkan” – Ibrahim Zayn

Medina Nayyara POV

Hidup itu drama yang tak berkesudahan.

Sekuat apapun aku mencoba untuk mengelak, menghindar dan berusaha keluar dari suatu keadaan yang sama sekali tidak aku inginkan, aku malah mendapati diriku terjebak di dalamnya. Lucu, ironis sekaligus menyedihkan. Dan menyampah menjadi hal terakhir yang bisa aku lakukan mengingat situasi dan kondisiku saat ini.

Aku hanya memasang wajah datar tidak memperdulikan euforia kebahagiaan layaknya sebuah pernikahan sakral sewajarnya dimana mempelai wanita duduk dengan senyum manis malu-malu menanti laki-laki yang telah berstatus sebagai suaminya yang sebentar lagi akan melewati pintu rumah itu diantara beberapa wanita muslimah lainnya yang mengenakan gamis dan khimar cantik mereka sedang bersenda gurau saling melempar senyum.

Aku bahkan tidak terlalu memperdulikan pakaian apa yang aku kenakan saat ini yang tentu saja dipakaikan secara paksa tanpa kerelaan. Gaun pengantin syar’i berwarna putih dengan hiasan brokat yang tentu saja lengkap dengan hijab yang menutup sampai dada. Sepintas aku mendengar kalau gaun ini disiapkan langsung oleh pengantin laki-laki saat Helena membantuku memakainya.

Tapi aku sama sekali tidak peduli walaupun Helena sepertinya juga tidak mempermasalahkan keterdiamanku sejak tadi pagi. Mungkin dia malah bernafas lega bahwa misinya menyeretku pulang dari Vancouver dan membuatku menikah telah sukses besar dan berharap aku tidak bertingkah saat nanti sang suami datang menemuiku. Erghhh !!!!!

“Kamu cantik sekali Nay.”

Aku menoleh sekilas tanpa senyum ke Helena yang duduk menemani di sampingku sejak tadi. Aku terlalu sibuk dengan pikiran kacauku memandangi langit di kejauhan dari jendela ruang tengah tempat di mana semua kerabat dekat yang aku tidak kenal berasal dari keluarganya siapa memenuhi setiap sudutnya.

Sejak tadi aku menemukan beragam ekspresi yang ditampilkan oleh semua wanita yang ada disana. Sebagian besar aku tahu arti dari pandangan mereka. Aku sangat membenci beberapa tatap mata yang melihatku dengan sorot mata kasihan karena mereka tahu tentang masa laluku dan aku harus berusaha mati-matian menahan diri untuk tidak mengumpat kesal yang kusadari hanya akan membuat hari pernikahanku sendiri menjadi ajang adu mulut walaupun aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Aku hanya tidak mau nama abah yang akan jelek nantinya. Sebagian lagi menatapku dengah senyuman tulus di wajah mereka yang berusaha aku abaikan.

Aku memang sengaja tidak menutupi ekspresi tidak bahagia layaknya pengantin lainnya dan hanya diam seribu bahasa dengan ekspresi datar. Aku biarkan saja semua orang mengetahuinya dan berspekulasi.

Yang bahagia disini hanyalah Helena. Yang sejak pagi sibuk mengurusi entah apa dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya.

“Bagaimana kalau kita bertukar tempat saja. Kamu bisa jadi pengantinnya dan aku akan berperan sebagai pendampingmu,”ucapku dingin.

Helena memandnagiku sesaat lalu menghela nafas. “Jangan berkata yang tidak-tidak Nay. Ini hari pernikahanmu dan seharusnya kamu bahagia.”

“Kan kamu yang menginginkannya bukan aku. Wajah bahagiamu itu cocok sekali diberi peran sebagai pengantin.”

Helena merapikan gaunku yang sama sekali tidak berantakan itu dengan tangan yang gemetaran. Aku menghela nafas melihat matanya yang mulai berkaca-kaca namun aku memilih untuk diam saja memandanginya. Untuk sesaat kami terlarut dalam pikiran kami sendiri.

“Kamu lebih dari sekedar saudara bagiku Nay. Selain kita tumbuh bersama ada banyak ikatan lainnya yang tidak bisa begitu saja aku abaikan. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu kembali mendapatkan kebahagiaan sekalipun kamu akan membenciku seumur hidupmu .”

Aku terdiam. Helena sepertinya ingin berdialog sendiri tanpa menunggu jawabanku

“Dulu kamu berusaha mati-matian merayuku yang ngambek karena kamu akan menikah dan meninggalkanku lebih dulu ke Jakarta. Kamu bilang laki-laki penuntun syurgaku akan datang sebentar lagi dan meyakinkanku bahwa siapapun dia, Allah SWT telah memberikan laki-laki diantara umatnya yang terbaik karena kita wanita yang diinginkan siapapun laki-laki yang mengutamakan Allah diatas segalanya.”

“Kamu tidak pernah meninggalkanku saat aku terpuruk. Saat Bunda pergi lebih dulu dan saat aku pernah kehilangan peganganku karena dimabuk kepayang oleh pesana seorang Kellan. Kamu menasehatiku dengan kesabaran tanpa batas. Aku memikirkan semuanya yang akhirnya menjauhkanku dengan Kellan hanya karena aku tidak yakin dengannya yang berstatus muallaf dan masuk islam karena aku. Kamu juga ada saat Mas Iqbal yang dulunya aku pikir akan menjadi suami masa depanku meninggalkanku karena kecelakaan itu tanpa sempat mengucap ijab qabul untukku.”

Dalam hati aku menangis karena aku mengingat semua hal yang dikatakan oleh Helena. Bagaimana peranku dulu untuknya. aku merasakan tangan Helena menggenggam tanganku erat dengan mata yang menatapku sendu disertai linangan air matanya namun sudut bibirnya menampilkan senyuman.

“Sekarang itu tugasku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan membiarkanmu tanpa arah sekalipun kamu akan membenciku. apa yang aku lakukan ini suatu saat nanti akan sangat kamu syukuri Nay.”

Aku mengangkat kepalaku dan menatap pintu ruang tengah penghubung ruang tamu berusaha menahan air mataku.”Entahlah.”

Hanya itu yang bisa aku katakan karena aku tidak mau menangis saat ini memikirkan masa lalu bahagia yang dulu kumiliki. Samar-samar aku mendengar keramaian di ruang depan yang semakin lama semakin terdengar jelas. kebanyakan suara laki-laki dan aku tahu apa artinya itu.

Aku semakin erat menggenggam tanganku yang mulai dingin dengan jantung yang mulai bergemuruh tidak tenang. Aku memilih menundukkan kepala mencoba untuk meyakinkan diri sendiri bahwa aku akan melewati semua hari setelah hari ini tetap seperti Nayya yang aku inginkan. Ada atau tidaknya Ibrahim, aku tidak akan memperdulikannya dan aku harap bahwa aku tidak akan terlalu bergantung padanya suatu hari nanti.

“Mempelai laki-laki sudah hadir dan menunggu Helena.”

Aku mendengar suara seorang wanita yang halus memberitahu bahwa dugaanku benar. Helena disampingku memegang sebelah lenganku dan mengelusnya membuatku memalingkan wajah ke arahnya. Jejak tangisannya masih nampak disana namun tersamarkan oleh senyuman lebarnya.

“Ayo Nay. Temui suamimu,”katanya pelan dengan pandangan mata bahagia.

Aku tidak memiliki pilihan lain saat ini. Tidak akan bijak kalau melarikan diri lagi di saat situasi sudah seperti ini dan menimbulkan drama dadakan lainnya walaupun aku sangat ingin melakukannya. Mungkin aku bisa langsung pergi ke bandara dan terbang ke Vancouver menemui Abigail dan meminta perlindungannya.

Tapi aku tidak bisa mengelak dari takdirku saat ini, jadi aku pasrah saat Helena membantuku berdiri diikuti beberapa wanita paruh baya lainnya yang merapikan gaun bawahku. Helena berdiri di depanku merapikan hijabku sesaat lalu tangannya terulur untuk menyentuh pipiku dengan lembut.

Aku tidak bisa mengalihkan tatapanku dari matanya yang bercahaya. Dia satu-satunya keluarga yang aku miliki selain abah dan aku tahu sampai kapanpun aku akan tetap menyayanginya seperti saudariku sebenci apapun aku padanya saat ini.

“Berbahagialah saudariku dan temui suamimu dengan senyumanmu.”

Aku hanya diam dengan senyuman tipis sesaat yang langsung hilang saat Helena berbalik dan menuntunku ke ruang depan. aku melangkah perlahan melewati pintu penghubung dengan pandangan yang tertunduk ke bawah dan jalan mengikuti langkah Helena di sampingku.

Aku tidak memperhatikan sekitarku dan tidak memperdulikan siapa saja yang hadir di sana. Kemudian langkah kakiku terhenti dan aku di bawa duduk bersimpuh di depan seorang laki-laki yang juga sudah duduk di hadapanku persis sepertiku. Aku hanya sepintas melihat pakaiannya yang serba putih masih tidak berani mengangkat pandanganku.

Helena lalu mundur meninggalkanku sendirian dalam keresahan yang tidak bisa aku lawan. Aku meremas kedua tanganku dan merasakan sunyi di sekelilingku. Aku masih terlalu takut dengan apa yang akan aku hadapi jika aku nekat mengangkat pandanganku ke sosok laki-laki yang sekarang berstatus sebagai suamiku.

“Medina.”

Suara lembut sehalus beledu yang menggetarkan itu tertangkap indra pendengaranku membuatku tanpa fikir panjang mengangkat kepala dan membuatku sesat menahan nafas tertahan. Mataku terpaku dan tenggelam pada sepasang mata biru yang menyorot lembut dan seulas senyuman yang terbingkai di wajahnya yang tampan.

“Nay, cium tangan suamimu dan Ibrahim akan mendoakanmu,”seruan lembut abah mengalihkan perhatianku. Sedikit tersentak layaknya robot yang kaku aku menundukkan kepalaku seraya menyentuh dan membawa tangannya mendekat ke wajahku. Aku menciumnya tangannya dengan mata terpejam rapat.

Saat aku kembali menegakkan punggungku, jarak kami yang terlalu dekat membuatku kembali di aliri badai yang tidak kumengerti. Aku melihat sebelah tangan kanannya terulur menyentuh lembut kepalaku. Untuk sesaat aku lupa caranya bernafas saat melihat senyuman lembutnya sebelum kedua matanya terpejam dan dia melafalkan sebuah doa panjang dilihat dari gerak bibirnya.

Tanpa sadar aku menundukkan wajahku dengan air mata yang sudah tidak bisa aku bendung lagi dan mengaliri wajahku. Aku seperti di bawa kembali ke kenangan lamaku saat suamiku dulu, mas Haikal juga melakukan hal yang sama seperti saat ini.

Namun bedanya, rasanya bahagia yang dulu aku rasakan berganti dengan rasa sesak yang menenggelamkan.

Aku melihat Ibrahim kembali membuka matanya lalu menurunkan tangannya membelai pipiku lembut seraya menghapus jejak air mataku. Tubuhnya maju ke arahku dan setelah itu aku merasakan ciuman lembut dan hangat di keningku yang begitu melumpuhkan membuatku hanya bisa terdiam kaku.

Di waktu dulu aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan kembali menjalani pernikahanku yang kedua sesaat setelah hilangnya kepercayaanku terhadap sang pencipta ketika keluargaku terenggut paksa. Kemarahan itu jelas masih ada di dalam hatiku dan aku tidak punya cara ataupun hal yang bisa aku bayangkan untuk menghilangkannya.

Saat ini yang aku rasakan hanya hampa. Bukan karena kesendirian yang beberapa tahun aku jalani dengan hidup bebas tapi kehampaan karena aku telah membawa seorang laki-laki yang tidak seharusnya aku biarkan menikahiku masuk ke dalam hidupku yang hanya ada penderitaan di dalamnya.

Aku berharap bahwa suatu hari nanti Ibrahim akan menyadari kebodohannya karena telah menikahiku.

—— The Magical ——

“Kamu baik-baik saja Nay ?”

Ibrahim menatap khawatir setelah melihat keterdiaman Nayya sejak mereka duduk berdua di atas pelaminan yang di hias indah dengan rangkaian bunga segar di dalam rumah Abah Sulaiman. Beberapa kerabat dekat masih nampak bercakap-cakap ringan tersebar di beberapa penjuru rumah. Ibrahim memang sengaja tidak mengadakan pernikahan secara besar-besaran dengan mengundang banyak orang karena dia tahu Nayya pasti tidak akan menyukai ide itu mengingat bahwa dia belum sepenuhnya menerima pernikahan ini. Sudah bagus dia tidak kabur dan hanya duduk diam dengan kaku di sampingnya sejak mereka bertemu untuk yang pertama kalinya sebagai sepasang suami istri dua jam yang lalu.

Nayya melirik Ibrahim sekilas lalu membuang muka seraya bergumam,”Jangan sok peduli padaku.”

Ibrahim menghela nafas sesaat ketika mendengar nada dinginnya ditambah Nayya lebih tertarik melihat kearah lain dari pada suaminya sendiri. Ibrahim tentu tidak bisa memaksa Nayya lebih jauh lagi karena itu dia harus bisa mendekati wanita itu pelan-pelan dengan kelembutan dan ketegasan dibalik gelar seorang suami yang tersemat padanya kini.

Insyallah, jika Allah mengizinkan aku untuk membawanya kembali.

Abah Sulaiman dan Abah Alfi berjalan mendekati tempat mereka berdua dengan senyuman lebar di masing-masing wajah mereka. Ibrahim balas tersenyum begitu pula dengan Nayya.

Alhamdulillah, Ibrahim. Abah akhirnya bisa bernafas lega melihat kalian menikah. Abah selama ini sudah hidup dalam kekhawatiran tentang hidup Nayya yang jauh dari jangkauan.”

Nayya tersenyum tipis menanggapi perkataan abah yang memandanginya dengan sorot mata sayang. sosok ayah kedua bagi Nayya yang menyayanginya sejak dia kecil. Ibrahim mengangguk,”Alhamdulillah abah.”

Abah alfi menepuk bahu Ibrahim pelan,”Kami mendoakan kebahagiaan kalian nak. Tetaplah ingat untuk selalu berada di jalan yang di berkahi Allah dan kalian akan selalu mendapat peelindungannya seberat apapun ujian dan cobaan yang akan kalian hadapi nanti. Abah percaya kamu bisa membimbing istrimu Ibrahim.”

Amin Ya RabbalallaminInsyallah abah. Mohon doanya. Kami akan melakukan yang terbaik agar kehidupan rumah tangga kami senantiasa di beri keberkahan.”

Abah Sulaiman dan abah Alfi mengangguk bersamaan seraya tersenyum. Tentu saja bagi Sulaiman, Nayya sudah dia serahkan kepada seseorang yang tepat untuk membawanya kembali apalagi mereka memiliki tautan masa lalu yang bisa dibilang saling berkaitan. Walaupun jauh dilubuk hatinya yang paling dalam saat melihat Nayya yang hanya memandnaginya dalam diam seperti saat ini kembali mengingatkannya pada masa kelam beberapa tahun lalu setelah kejadian kecelakaan pesawat itu terjadi.

Nayya seperti seonggok daging tanpa secercah cahaya kehidupan di awal-awal bulan kesendirinnya padahal mereka selalu ada mendampingi di sampingnya. Sejak saat itu Nayya seperti tidak teraih dan semakin tenggelam dalam amarah dan pergulatan batinnya sendiri hingga keputusan sepihaknya untuk pergi dari Indonesia semakin membuatnya semakin jauh tak terjangkau.

Sulaiman hanya menginginkan Nayyanya yang dulu kembali dan luka itu walaupun tidak bisa sepenuhnya hilang dan meninggalkan bekas namun bisa diikhlaskan dengan datangnya Ibrahim.

Nayya tersenyum tipis saat abah Sulaiman berdiri dihadapannya dan mengelus pipinya sesaat.

“Nay,abah harap kamu tidak membenci kami karena apa yang kami lakukan ini terutama Helena. Kamu tahu kan sejak dulu kami tidak pernah sekalipun bertindak memaksa seperti sekarang ini. Kamu harus tahu kalau apa yang kami lakukan agar supaya kamu bahagia Nay.”

Nayya menggelengkan kepala karena dia sama sekali tidak mau melihat kesedihan mendalam yang terlihat di mata Abah Sulaiman. Nayya langsung memeluk pria paruh baya yang selama ini sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri.

“Maafkan Nayya abah.”

“Tidak Nay. Jangan meminta maaf. Abah harap setelah ini kamu bisa belajar mengikhlaskan apa yang telah terjadi.”

“Nayya akan berusaha.”

Abah Sulaiman melepaskan pelukannya dan mengamgguk bahagia. Lalu tayapannya beralih ke arah menantunya yang tengah tersenyum.

“Dia tanggung jawabmu sekarang Ibrahim.”

Abah Sulaiman menyerahkan genggaman tangan Nayua ke Ibrahim yang langsung diambil alih seraya tersenyum,”Insyallah bah. Aku akan berusaha membuat Nayya bahagia.”

“Amin,”Abah Sulaiman dan abah Alfi menyahut bersama-sama. Lalu mereka berdua berlalu dari sana kembali berkumpul dengan beberapa ulama di area luar rumah yang sudah tidak terlalu ramai.

Nayya langsung menarik paksa tangannya dari genggaman Ibrahim dan kembali duduk lalu membuang muka. Ibrahim menarik nfas berat dan duduk diam memandangi istrinya dari belakang.

“Ehmmm.”

Ibrahim dan Nayya serempak menoleh ke arah sumber dehaman tersebut dan mendapati Keenan berdiri di sana dengan canggung. Ketidaksukaannya dengan Nayya masih tergambar jelas di wajahnya walaupun dia berusaha menutupinya. Ibrahim balas tersenyum sedangkan Nayya kembali sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Kenapa Nan ?”

Keenan terdiam sesaat sebelum menjawab.”Kedua orang tuamu sudah datang. aku akan mempersilahkan mereka masuk.”

Ibrahim berdiri disertai anggukan dan melirik samar Nayya akibat dari kode mata yang dilayangkan keenan sesaat sebelum dia berbalik keluar. Nayya memandnagiku dengan kerutan.

“Aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan kedua orang tuamu sebelum ini.”

Ibrahim tersenyum samar dan menarik Nayya berdiri di sebelahnya,”Kamu akan menemui mereka sekarang.”

“Bagaimana aku harus bersikap. Apa aku harus bersikap layaknya bitchy seperti anggapanmu dulu atau aku harus bersikap manis agar mereka tidak mengetahui kebohongan kita berdua. aku yakin mereka tidak tahu bagaimana kelakuanku sebelum ini kan ?”

“Bersikaplah manis Nay dan kedua orangtuaku tahu tentang apa yang terjadi.”

Nayya mengedipkan matanya memandangi Ibrahim takjub,”Seriously ? Bagaimana bisa mereka hanya diam saja melihat anaknya yang religius seperti ini memaksa seorang wanita urakan menerima pernikahan konyol ini dan diam saja ?”

“Apa kita harus membahas ini sekarang di hari pernikahan kita ?”tanyanya.

Nayya tertawa dan berdecak,”Pernikahan – ” telunjuknya mengarah ke dada Ibrahim dan menekannya disana “-mu. Bukan pernikahanku Ibrahim.”

Ibrahim mengabaikan tawa mengejek Nayya dan membalasnya dengan menggenggam tangannya erat. Ada kerutan samar di dahi wanita itu melihat perlakuan Ibrahim yang semakin mengeratkan genggamannya saat Nayya berusaha untuk menariknya lepas.

“Aku tidak akan melepaskannya Nay. Anggap saja ini sumber kekuatan sekaligus pijakan agar kamu tidak jatuh.”

“Jangan ngaco. Aku ngak ngerti kamu ngomong apa tapi sekarang lepasin tanganku,”desisnya pelan agar beberapa kerabat abah Sulaiman tidak mendengarnya. Ibrahim hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Nayya masih berusaha keras menariknya tapi genggaman itu sekeras batu ditambah Ibrahim yang memiringkan kepalanya memperhatikan tingkah Nayya yang membuatnya tersenyum.

“Apa aku sudah bilang kalau kamu begitu cantik mengenakan hijab ini Medina ?”

Nayya terdiam mendnegar nada memuji Ibrahim. Laki-laki itu tetap saja tersenyum hingga membuat Nayya sedikit kelimpungan akibat dari detak jantungnya yang kembali bergemuruh.

“Ngak usah sok-sok ngerayu. Dulu aja elo sama sekali ngak suka ngelihat gue.”

“Masa sih ?”

“Di pesawat itu contohnya. Aku menghabiskan berjam-jam penerbangan dalam rasa bosan karena teman seperjalananku berganti menjadi seorang ibu-ibu paruh baya,”

Ibrahim tertawa mendengarnya,”Siapa suruh kamu tidak mau menurut. Aku kan tidak suka melihatmu membuka aurat seperti itu.”

“Dasar tukang atur.”

“Walaupun begitu tapi kamu menurutiku juga kan.”

Nayya membuang pandangannya ke arah lain. Ibrahim terkekeh di sampingnya lalu tanpa disadari oleh Nayya, Ibrahim menarik Nayya mendekat di sebelahnya tepat saat dua orang paruh baya masuk ke dalam ruangan itu bersalaman dengan beberapa yang ada di sana dengan senyum canggung. Ibrahim menghela nafas dan tersenyum menyambut kedua orang tuanya.

“Nay, perkenalkan mereka adalah kedua orang tuaku,”bisik Ibrahim pelan membuat Nayya menolehkan pandangannya ke depan dan sontak membuatnya mundur selangkah dengan keterkejutan yang amat sangat kentara.

Matanya terpaku erat pada sepasang mata biru yang lain yang mirip dengan mata biru milik suaminya, Ibrahim. Matanya mengerjap dengan mulut yang terbuka dan terutup tidak tahu harus mengatakan apa. Saat tatapannya beralih pada seorang wanita cantik yang sangat mirip dengan Ibrahim yang tersenyum hangat padanya , Nayya tahu bahwa dia sudah siap terjun ke dasar jurang paling dalam sekarang juga hanya agar dia bisa keluar dari kekacauan ini sesegera mungkin.

Bagaimana bisa dia tidak menyadarinya. Tatapannya beralih dari Abigail yang menatapnya dengan sorot yang tidak bisa diartikan dan tanpa senyuman disana ke Ibrahim. Seketika itu juga keterkejutannya mengantamnya sedemikian rupa membuat pandangannya mengabur dan menggelap seketika.

Ibrahim dengan sigap langsung menahan tubuh Nayya yang melemas itu dan memeluknya erat seraya menggumamkan kata maaf sebanyak-banyaknya.


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset