The Magical episode 15

Chapter 15

“Bukan hidup namanya jika tidak diwarnai dengan cobaan.”

Flashback

Ibrahim Zayn POV

“Medina Nayyara….”

Aku melihat bias keterkejutaan yang amat nyata di raut wajah Papi saat memandangi Nayya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Lalu tatapannya beralih bergantian antara aku dan Aisyah dengan kerutan dalam di wajah tampannya. Aku balik menatap Papi dengan kebingungan yang teramat nyata tapi tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Wanita ini……”tanyanya sambil memandangiku lekat,”Calon istri yang kamu ceritakan itu Zayn ?”

“Iya Pap. Apa Papi mengenalnya ?”

Abigail menampakkan ekspesi keras di wajahnya seraya bergerak cepat kearahku. Sesaat aku berpaling ke Aisyah tapi wanita itu berubah kaku dan pucat. Tiba-tiba perhatianku langsung teralihkan ke cekalan tangan papi di lenganku.

“Tidak !!!! Sampai kapapun aku tidak akan menyetujui hal ini,”desisnya. Aku tersentak kaget mendapati kemarahan itu nampak jelas disana. Aku menarik lenganku seraya mundur.

“Apa papi mengenal Nayya ?”

“Tidak penting Papi mengenalnya atau tidak tapi papi tahu dengan pasti bahwa wanita ini tidak pantas untukmu Zayn.”

“Zayn tanya sekali lagi Pap. Apa papi kenal sama Nayya ? Jawab Pap ?”

Aku mengamati perubahan wajah Papi yang semula marah lalu berganti menatapku sendu. Ada banyak skenario yang berputar di kepalaku saat ini dari cara papi membicarakan Nayya. Jelas kalau sebelum ini mereka memang sudah saling mengenal dan kemungkinan terbesar yang bisa aku simpulkan adalah mereka tidak bertemu di Indonesia melainkan di Vancouver.

Melihat keterdiaman papi aku menyadari pasti ada sesuatu yang lebih besar telah terjadi diantara mereka.

“Aku tahu pasti papi mengenalnya. Dia siapanya papi ?” Aku menahan mati-matian rasa geram di dadaku ketika menanyakan hal itu.

Papi tersentak kaget dan samar-samar aku mendengar suara terkesiap dari Aisyah yang berdiri di sisi lain Nayya memperhatikan kami.

” Zayn dengarkan papi. Ya aku memang mengenal Nayya di Vancouver,”suaranya tercekat. AKu hanya diam.”Aku sangat tahu kalau dia ini wanita ngak benar. Kamu harus menjauhinya Zayn”

Tubuhku berubah kaku dan keterkejutan jelas menghantamku. Dari cara papi mengatakan kalau Nayya wanita ngak bener, Papi pasti sangat mengenal Nayya lebih dari yang bisa aku pikirkan.

Selama ini bagiku Papi sosok kepala keluarga yang sempurna. Sangat mencintai mami dan ketiga anaknya tanpa batas walaupun kadang keras kepalanya begitu menjengkelkan tapi secara pribadi Papi adalah seorang ayah yang penuh kasih. Selama ini aku tidak pernah melihat kedua orang tuaku bertengkar karena masalah orang ketiga karena aku pasti akan mengetahuinya dan melihat bagaimana mami masih menatap papi dengan tatapan cinta meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja. Entah kenapa sekarang aku jadi meragukan hal itu.

Apa memang selama ini aku yang tidak peka melihat perubahan papi atau memang pria paruh baya ini yang sangat pintar menembunyikannya. Tentu saja semua ini hanya berupa asumsi belum tuduhan dan aku masih memiliki banyak opini terkait perkenalan mereka.

Aku langsung melayangkan protes keras,”Wanita ngak benar ? Apa alasan papi menuduhnya seperti itu ?”

Abigail terlihat tidak bisa berkata-kata. Tanpa diduga papinya mundur dan membuang muka,”Jangan paksa papi untuk bercerita. Yang pasti papi melarang keras kamu menikahinya Zayn. Masih banyak wanita di luar sana yang bisa kamu jadikan calon istri.”

Aku menggeleng keras. Untuk kedua kalinya sejak aku mulai bertaubat aku menentang keinginan papi.

“Maaf pap. Aku ngak bisa menuruti keinginan papi untuk hal yang satu ini. Zayn sudah melamarnya dan kami akan segera menikah,”aku berusaha mengontrol suaraku agar tetap tenang. Kulihat raut wajah papi memucat dan penuh amarah. Tatapannya bergantian melihatku dan Nayya.

Aku maju mendekatinya,” Pap, Zayn butuh penjelasan kenapa papi melarang Zayn untuk menikahinya ?”

Abigail hanya menatapku tepat di manik mata mencoba mencari sedikit saja keraguan itu sampai helaan nafas beratnya terdengar. Dia memalingkan wajah dariku dan berpindah berdiri di depan Nayya berpegangan erat pada tepi ranjang.

“Wanita ini….”

Aku menunggu lanjutan kalimatnya dalam diam. Kulirik sekilas Aisyah yang nampak menahan linangan air matanya dan menggigit bibir bawahnya.

“Dia….”

“Wanitamu di Vancouver, right ?”

Suara bergetar itu datang dari Aisyah yang sudah berurai air mata. Sontak aku tersentak kaget begitu juga dengan papi. Kalimat itu membuat kakiku bergetar dan tanpa sadar aku mengepalkan erat kedua telapak tanganku menahan gejolak yang menghimpit berusaha keras untuk meredakan amarah itu. Aku menatap papi dengan pandangan terluka yang amat sangat. Bagaimana bisa laki-laki yang aku hormati selama ini melakukan sesuatu yang buruk seperti ini.

Tidak ada yang bersuara setelahnya hanya isak tangis tertahan Aisyah yang telah menundukkan wajahnya. Aku maju mendekati papi dan menarik kerah bajunya dengan kemarahan yang menggelegak. Papi hanya diam saja tidak menepisnya.

“Apa itu benar pap ?”tanyaku.

Matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. “Jadi selama ini diam-diam papi mengkhianati mami ?”

“Maafkan papi Zayn.”

Kalimat itu menjelaskan segalanya. Cengkramanku makin erat dengan tatap amarah yang tidak mampu aki sembunyikan. Satu-satunya hal yang tak termaafkan disini adalah Papinya telah mengkhianati maminya entah sudah berlangsung berapa lama. Aku tidak peduli tapi aku akan memastikan setelah ini semuanya harus selesai.

“Bagaimana bisa papi melakukan pengkhianatan seperti ini padahal papi memiliki seorang istri dan juga anak-anaknya yang sangat mencintaimu ?”lirihku.

“Kenapa wanita itu harus Nayya Pap ?”tanyaku lagi tanpa sekalipun mengalihkam tatapanku.

“Papi tidak setuju Zayn menikahi Nayya apa karena papi ingin memiliki Nayya ?”

“Tidak Zayn. Mamimu tetap segalanya buat papi.”

Aku tertawa sarkas sambil menggelengkan kepala,”Kalau segitu berharganya mami, papi ngak mungkin ngelakuin ini sama kami ?”desisku.

“Maafkan papi.”

Abigail menundukkan wajahnya memutus kontak mata mereka dengan suara lirih. Aku melepaskan cekalanku dan mundur dengan goyah. Bagiku ini sebuah kesalahan fatal yang tak akan semudah itu termaafkan tapi aku menyadari bahwa kami sekali lagi hanya manusia biasa yang selalu bisa berbuat khilaf sesempurna apapun hidup yang sebelumnya dimiliki. Aku bisa melihayt jelas wajah penuh penyesalan dan kesedihan itu membayang di wajah papi yang semakin menua.

Harta, tahta dan wanita.

Lelaki mampu menjadi lemah dengan tiga kata iti dipadukan menjadi satu.

Saat lelaki memiliki harta melimpah ruah entah karena kerja keras atau warisan dan segala macamnya maka lelaki itu juga akan mendapatkan ketenaran, kepopuleran dan kehormatan. Semua itu memabukkan dan menyilaukan. Hal berikutnya yang mengikuti adalah wanita. Yang terakhir inilah yang kadang bisa membuat seorang laki-laki hancur tak bersisa. Semuam itu bukan lagi asumsi belaka tapi sudah berupa kenyataan yang tak jarang menjadi gaya hidup hedonis bagi sebagian laki-laki.

Termasuk aku di masa-masa mudaku yang gemilang.

“Aku dan Nayya akan tetap menikah. Hubungan apapun itu diantara kalian harus berakhir agar mami tidak semakin tersakiti. Mulai hari ini papi harus belajar melihat Nayya sebagai menantu bukan kekasih. Dan tolong jangan pandang rendah Nayya seperti itu karena memang dia bukam wanita yang seperti itu. Dia seperti itu karena luka masa lalunya.”

“Restui kami pap,”lirihku.

Aku menundukkan wajah mencoba untuk menghalau sengatan tajam itu di dadaku yang mulai menusuk. Astagfirullah,astagfirullah. Puluham kali aku melafalkan istigfar agar nyala kemaraham itu berangsur padam.

Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara. Kami sibuk tenggelam dengan pikiran masing-masing dengan mata lurus tertuju pada seseorang yang tengah tertidur nyenyak.

——- The Magical ——

Beberapa bulan sebelum kedatangan Helena ke Vancouver untuk menjemput paksa Nayya, seseorang meneleponnya. Wanita itu mengaku sebagai teman dekat Nayya di Vancouver dan mengetahui kedekatannya dari cerita Nayya dan dia berusaha untuk mencari kontak langsung Helena secara diam-diam. Wanita itu bernama Jade.

Awalnya Helena tidak pernah menyangka bahwa dalam komunikasi itu, Jade menceritakan perilaku Nayya yang bebas. Walaupun bukan menjadi wanita penggoda yang hobi nangkring di pub dan pulang dengan cowok random sampai ke atas ranjang setiap malamnya tapi tetap saja menjadi simpanan dan selingkuhan seorang pria paruh baya yang kaya raya dengan istri cantik dan tiga orang anak sontak membuat Helena langsung menangis ketika mendengarnya.

Malam, ketika Jade pertama kali menghubunginya, wanita itu menceritakan semua hal yang terjadi di hidup Nayya setahun terakhir di Vancouver.

“Aku benci harus melakukan ini secara diam-diam Aisyah tapi aku tidak punya pilihan. Nayya sudah berubah lebih tidak terkendali sejak bertemu dengan Abigail,”lirih Jade saat itu.

“Apa yang mereka lakukan ?”

Aisyah harus berusaha menahan air matanya seraya fokus mendengarkan semua cerita wanita itu.

“Dia bertemu dengan seseorang disini saat sedang menemaniku bekerja di pub. Aku pikir Nayya tidak akan peenah tertarik dengan laki-laki seperti itu tapi ternyata aku salah. Abigail walaupun sudah tidak muda lagi tapi sempurna. Tampan, kaya dan terlihat penuh kasih. Beberapa minggu setelahnya aku baru mengetahui kalau ternyata pertemuan mereka malam itu sudah berlanjut hingga hubungan saling menguntungkan di atas ranjang.”

Saat itu Helena langsung menumpahkan tangis yang sempat ditahannya. Jade harus menunggu lebih lama hingga Helena tenang dan kembali fokus berbicara dengannya.

“Apakah itu berarti mereka sudah melakukan hubungan terlarang itu ?”

Aisyah mencoba bertanya ulang berharap bahwa Jade akan membantahnya tapi satu kata “ya” yang keluar dari mulut wanita itu membuat semua sendi otot tubuhnya melemas dan pikirannya kacau tidak karuan. Helena memang tidak bisa mengubungi Nayya beberapa bulan sejak kepergiannya ke Vancouver tapi kabar menyakitkan yang diterimanya ini tetap membuatnya sulit untuk berfikir.

Bagaimana mungkin Nayya bisa begitu mudahnya melakukan semua perbuatan terkutuk itu selama setahun lamanya ?

Dan Helena tahu bahwa sudah saatnya dia bertindak untuk mengeluarkan Nayya dari kumbangan dosa yang takutnya semakin hari semakin menjeratnya hingga ke dasar dan tidak bisa di selamatkan bahkan oleh Abahnya sekalipun dan hanya Allah yang mampu membuka mata hatinya agar mau kembali.

Sejak malam itu, Helena mengurus segala keperluannya untuk pergi ke Vancouver berkat informasi dari Jade yang diam-diam mengamati setiap pergerakan Nayya tanpa wanita itu ketahui.

“Kenapa kamu begitu peduli padanya Jade ?”tanya Helena saat mereka duduk saling berhadapan di sebuah cafe beberapa jam setelah kedatangannya ke Vancouver. Helena bisa melihat dnegan jelas bahwa Jade adalah seseorang yang lembut dan penuh kasih. Namun kesedihan mendalam yang menyertainya juga secara tidak langsung memberitahu Helena bahwa wanita tenang dan cantik itu juga memiliki kisah masa lalu yang kelam.

Jade dengan hembusan nafasnya yang nampak berat kemudian menceritakannya.

“Aku bertemu dengannya beberapa minggu setelah kedatanganku ke Vancouver untuk menata ulang hidupku setelah aku di campakkan mantan kekasih atau tunanganku yang membuatku terpuruk. Malam itu aku menangis sendirian di sebuah pusat pertokoan saat hujan deras melanda. Kamu tahu bagaimana tipikal orang barat yang cuek dan tidak mahu tahu apalagi saat itu kondisiku bisa dibilang mengenaskan.”

Helena hanya diam mendnegarkan. Ada getar dalam suara Jade yang tidak bisa disembunyikannya bahwa masa lalunya begitu masih mempengaruhinya sedemikian rupa.
Jade meminum softdrinknya dalam sekali teguk dan melanjutkan ceritanya.

“Dari ujung jalan dia datang menghampiriku. Memberiku naungan di bawah payungnya yang lebar dan membantuku. Dia membawaku keapartemennya dan merawatku beberapa hari sampai nampak lebih sehat.”

“Kamu tahu Hel, wanita itu membuatku menyadari bahwa ternyata pahit yang aku alami tidak sebanding dengan kelamnya penderitaan yang dia perlihatkan dari matanya. Dia hidup tapi tak berjiwa walaupun kepeduliannya padaku saat itu membuatku tercengang. Dan setelah itu kami dekat dan bersahabat sampai sekarang. Dia membantuku bangkit, mencari pekerjaan dan bisa hidup lebih baik.”

“Dia memang wanita yang seperti itu. Lembut dan penuh kasih seperti dulu saat-saat kehidupannya begitu bahagia.”

“Karena itulah aku menbhubungimu. Maaf kalau mungkin aku kurang cepat tapi percayalah aku melakukan ini karena merasa bahwa tindakan ini memang yang seharunya aku lakukan sejak awal. Lagian aku tidak suka melihat keintiman Nayya dengan pria paruh baya itu.”

Kepergian Helena kesana ternyata bertepatan dengan taushiyah seorang laki-laki di kedutaan besar Indonesia yang selama beberapa bulan sebelumnya Helena ikuti dalam diam setelah mendengar kisah inspiratifnya bisa lolos dari maut yang rasanya tidak mungkin jika dipikir oleh nalar namun keajaiban itulah yang terjadi. Tentu saja laki-laki itu Ibrabim Zayn. Laki-laki rupawan pemilik mata sebiru langit dan lautan yang mempu menenggelamkan siapa saja yang mencoba menatapnya untuk jatuh ke dalam pesonanya.

Entah itu sebuah kebetulan atau pertanda yang Allah tunjukan padanya karena keterkaitan masa lalu yang secara tidak langsung saling menghubungkan antara mereka berdua.

Helena begitu mudah menemukan Nayya berkat bantuan Jade begitu pula dengan segala informasi terkait Abigail, pria beristri yang ternyata aslinya menetap di Indonesia. Namun sekali lagi saat itu Helena sama sekali tidak mengetahui kalau ternyata anak tertua Abigail adalah seorang Ibrahim Zayn, muallaf yang saat ini lebih fokus untuk memperbaiki ibadahnya yang dia minta dengan segenap hati nya untuk bisa membawa kembali Nayya ke jalan yang seharusnya.

Takdir sekali lagi kembali memcoba memporak porandakan kehidupan Nayya bahkan di awal pernikahannya dengannya Ibrahim Zayn.

Helena mengusap sisa air matanya seraya mengelus lengan Nayya yang masih terbaring setelah pingsan beberapa saat lalu. Penyebabnya sudah sangat jelas. Abigail. Pada seseorang yang mengetahui kelamnya kehidupan Nayya dan tempatnya berbagi kasih dan kehangatan selama berada di Vancouver. Jelas sekali hal itu menimbulkan sengatan tersendiri untuk Nayya. Dan Helena tidak berani membayangkan apa yang akan dikatakan wanita itu ketika bangun nanti.

“Aisyah.”

Panggilan itu membuat Helena reflek menoleh dan menemukan Ibrahim berdiri di ambang pintu kamar Nayya dengan senyuman tipis terpahat di wajahnya dibalut kabut penyesealan dan kesedihan. Aisyah berdiri dari duduknya ketika melihat Ibrahim berjalan mendekatimya dengan mata yang tak pernah lepas memandnagi Nayya yang tertidur.

“Apa mereka sudah pulang ?”

Ibrahim mengangguk samar. Helena bisa melihat bias lelah dan tertekan Ibrahim dari raut wajah laki-laki itu dan rambutnya yang nampak acak-acakan. Bagaimanapun juga yang paling menderita dari terkuaknya kenyataan pahit ini pasti adalah seorang Ibrahim Zayn. Laki-laki yang berusaha tegar saat mengetahui bahwa calon istrinya merupakan selingkuhan dari ayah kandungnya sendiri selama beberapa tahun.

Beberapa hari setelah Nayya keluar dari rumah sakit, Ibrahim menutupi semua itu dengan sangat baik di depan Nayya.

“Aku harus berhadapan dengan Nayya setelah ini dan aku sejak tadi sudah membayangkan berbagai macam skenario gila yang bisa kepalaku susun terkait reaksi Nayya,”lirihnya.

Helena hanya diam bahkan saat Ibrhaim duduk di pinggir tempat tidur Nayya dan merapikan anak rambut wanita itu dengan jari-jarinya. Setelah itu Ibrahim mengusap wajahnya sendiri dengan kedua tangan. Helena menundukkan kepala karena merasa ikut andil karena dulu membiarkan Nayya pergi.

“Apapun yang terjadi mas harus sabar menghadapinya. Nayya memang nampak seperti wanita yang keras tapi sifat sesungguhnya tidak seperti itu. Aisyah hanya bisa mendoakan semoga saja mas bisa menyentuh titik itu lagi dan mengembalikan Nayya seperti dulu.”

Ibrahim hanya mengangguk,”Itu sudah tugasku Aisyah.”

Aisyah menghela nafas sesaat dan memandnagi Nayya sebentar sebelum berbalik dan keluar dari sana dalam diam meninggalkan Ibrahim dalam kesendiriannya bergulat dengan pikiran berkecamuk. Ibrahim masih memandangi Nayya yang tertidur ketika mendnegar seruan azan Ashar berkumandang.

Ibrahim menghela nafasnya lalu berdiri dan mendekati Nayya. Tangannya terulur menyentuh pipi halus wanita itu dengan senyuman sedih.

“Jangan pernah merasa sendiri lagi Nay karena aku akan membuatmu mencintai kehadiranku.”

Ibrahim mengecup sekilas kening Nayya lalu berbalik keluar dari sana untuk memenuhi panggilan sang pencipta sekaligus ingin mengurangi rasa sesak di dadanya yang menghimpit sejak diketahuinya satu fakta itu.

Ibrahim sangat tahu bahwa hanya mengadu kepada Allah lah dan meminta petunjukNYA menjadi jalan satu-satunya yang dia miliki saat ini.

“Inna ma’iya rabbi sayahdin.” Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” ( Asy-Syu’ara [26]:62).


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset