The Magical episode 16

Chapter 16

“Waktu bergulir. Entah bisa diterima atau tidak.Waktu tidak akan peduli.”

Aku harap kenyataan pahit yang tadi sempat membuatku goyah hanyalah mimpi. Tapi aku tahu keinginan absurdku ini hanyalah keinginan belaka karena sejak dulu Tuhan tidak pernah lagi mau mendengarkan doa seorang Medina Nayyara dari segala kemelut hidupku sampai aku memutuskan untuk tidak lagi percaya. Atau lebih tepatnya menolak untuk kembali mempercayai.

Pandanganku yang semula kabur mulai terbiasa dengan cahaya yang ada disekelilingku. Aku mengenali langit-langit diatasku yang dilapisi warna biru laut. Lambat laun bukan biru cat dinding kamarku di ruman abah Sulaiman yang aku temukan dalam pandangan mataku tapi sepasang mata sebiru langit yang menatapku dan menenggelemkanku di dalam kekosongan.

Aku menolak untuk melihatnya bahkan berupa bayangan sekalipun karena itu aku lebih memilih memejamkan mata merasakan perih entah dibagian tubuhku yang mana. Yang pasti rasanya menyakitkan. Aku pernah mendengar bahwa kadang takdir membawa nasib kita ke batas ambang kekejaman yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan akan terjadi. Apakah semua ini memang hanya sebuah permainan takdir dalam balutan kata “kebetulan” yang banyak sekalii orang perbincangkan.

Sekali lagi aku menekankan pada diriku sendiri kalau di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Itu hanyalah kata samaran dari sebuah takdir yang akan bergerak terus mengikuti langkah kita dan bisa mengejutkan kita sewaktu-waktu.

Dalam kasusku, aku terjebak dalam permainanku sendiri. Dalam bara api yang sejak awal aku nyalakan yang akhirnya membakar diriku sendiri. Dan saat ini aku menjadi serupa abu yang lebih pantas untuk di terbangkan angin sampai aku tidak bisa disatukan lagi.

Air mataku kembali mengalir walaupun tanpa isakan. Hanya mengalir begitu saja tidak bisa aku tahan entah untuk alasan apa. Mungkin untuk menyadarkan diriku sendiri bahwa benar penderitaanku tidak akan pernah berakhir. Aku akan terus seperti ini menangisi hidupku yang berantakan. Keyakinanku goyah dan aku tidak memiliki pijakan yang akan tetap membuatku berdiri tegak sekeras apapun angin badai menghantam pertahananku.

Aku sendirian. Sama seperti sebelumnya. Aku serpihan yang tidak bisa lagi disatukan. Bahkan dengan lem super berkekuatan dahsyat.

“Don’t cry babe.”

Aku tersentak dan reflek memutar kepalaku ke samping dan lagi-lagi mata biru itu yang memerangkap jiwaku sampai lebur. Sejak tadi aku sama sekali tidak menyadari bahwa ada sessorang bersamaku. Diatas tempat tidurku. Menatapku dengan pandangan sayu walaupun senyum tipis terpahat di wajahnya yang tampan. Bagai seorang dewa yunani yang terpahat sempurna. Tidur menyamping dengan sebelah tangan menjadi alas kepalanya yang sekarang memandnagiku dalam diam.

Lagi dan lagi aku rasanya ingin menangis. Dia suamiku. Anak dari laki-laki yang pernah menemani hari-hari gelapku. Aku reflek menepis uluran tangannya yang berniat menghapus jejak air mataku dan aku bangkit dari posisi tidurku dan menyingkap selimut yang sejak tadi membalut tubuhku yang dingin dan turun dari tempat tidur. Aku merasakan pergerekan Ibrahim di belakangku.

“Kamu mau kemana Nay ?”

“Bukan urusanmu.”

“Aku akan menunggumu disini. Kita perlu bicara.”

Sayup-sayup aku masih mendengar suara Ibrahim sebelum aku menutup pintu kamar mandi dengan satu hantaman kuat yang bahkan mengangetkan diriku sendiri. Aku hanya ingin menangis tapi tidak di depan laki-laki itu.

Aku menyalakan shower membiarkannya mengalir deras agar suaranya memenuhi seluruh kamar mandi dan duduk merosot di lantai di bawahnya. Kubiarkan saja air dingin itu membasahi seluruh tubuhku yang masih mengenakan gaun pengantinku tanpa hijab. Aku tidak oeduli kalau gaun ini rusak dan basah. Aku hanya memerlukan ini. Sebuah ruang sendiri yang bisa aku gunakan untuk menenggelamkan diri. Dan menangis di bawahnya melengkapi semuanya. Sudah sejak tiga tahun lalu aku selalu melakukan ini jika aku merasa bahwa aku tidak kuat menahan sesaknya.

Rasanya menyakitkan.

Di awal kesendirianku dulu aku pernah melakukan beberapa kali tindakan percobaan bunuh diri tapi semuanya bisa digagalkan oleh abah dan Helena hingga aku bisa hidup sampai detik ini. Mungkin banyak yang berfikir bahwa aku bereaksi terlalu berlebihan terhadap hidupku hanya karena ditinggal pergi semua kelurgaku.

Tapi sekali lagi mereka tidak mengerti dan merasakan sedalam apa kesakitan itu mempengaruhi jiwaku. Selama ini aku hidup di antara mereka. Abah, bunda dan Laela. Aku tidak pernah sekalipun berpisah dengan mereka. Lalu Mas Haikal hadir dan memberiku Keenan yang tampan. Aku merasa hidupku sempurna dan kejadian itu tentu saja menghancurkan duniaku lebih dari yang bisa aku bayangkan.

Aku menolak untuk melepaskan dan semakin menggenggamnya erat tidak peduli kalau hal itu semakin menyakiti jiwaku lebih dalam lagi. Aku tahu, semua mahkluk hidup yang bernafas pasti akan mati. Kami memiliki batasan waktu. Yang hidup mengikhlaskan yang sudah kembali. Tidak ada perpisahan yang tidak menyakitkan tapi aku menolak untuk menerima.

Aku terisak semakin dalam. Kubekap mulutku agar seseorang di nluar sana tidak melihat kehancuranku sekali lagi. Aku tidak tahu bagaimana aku harus bereaksi terhadapnya. Karena mungkin mulai sekarang seorang Ibrahim Zayn akan mengingatkanku pada Abigail. Dan aku membencinya.

Tok…tok..tok…..tok

Ketukan itu menghentak kesadaranku. Suara berat dan putus asa Ibrahim terdengar dari balik pintu.

“Nayya, aku mohon keluarlah. Kamu sudah terlalu lama di dalam sayang.”

Aku mengabaikan seruannya. Ketukan di pintu semakin terdengar jelas saat tubuhku terasa bergetar karena dingin. Kepalaku di hantam godam membuatku begitu lemas. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku meringkuk seperti ini. Air yang mengalir mengaburkan air mataku dan senyuman tipisku terkembang. Aku harap aku tidak akan bangun lagi setelah ini karena aku sudah tidak kuasa mempertahankan hidupku.

Aku mengerjapkan mataku dan sayup mendengar suara gebukan keras di pintu. Aku masih sempat berfikir kalau Ibrahim bisa menghancurkan pintu itu dengan tubuhnya yang padat berotot itu. Dan tidak sampai hitungan detik pintu itu terjeblak terbuka dengan raut cemas Ibrahim disana dan juga pekikan tertahan Helena.

Aku merasakan mataku berat saat Ibrahim mematikan airnya lalu bergerak cepat mengambil handuk dan mendekatiku. Aku memandnagi kepanikannya dalam diam sambil tersenyum tipis. Dengan sigap dia membalut tubuh basahku dengan handuk itu lalu memasukkan tangannya di celah lipatan kedua kakiku dan bisa kurasakan tubuhku terangkat dengan mudahnya seakan-akan aku hanya anak berumur lima tahun manja yang sudah sering dia gendong.

“Nay, tetaplah sadar. Aku mohon.”

Suara putus asanya terdengar dekat sekali di telingaku saat dia membawaku keluar dari kamar mandi. Aku tersenyum memandnaginya.

“Ibrahim,”lirihku seraya melarikan sebelah tanganku yang lemas dengan sekuat tenaga untuk mengelus sisi wajahnya. Wajah suamiku yang luar biasa tampan.

“Ya Nayya,”jawabnya.

“Kamu tampan sekali……”

Sesaat Ibrahim memandnagiku dengan sorot heran. Aku mengabaikan tatapannya. Sbeelum tubuhku di letakkan di atas tempat tidur aku melanjutkan lagi kalimatku yang terputus.

“……tapi mengingatkanku dengan Abigail, pria tua berengsek !!!”

Aku sempat melihat keterkejutannya yang kubalas dengan senyuman sinis lalu merasakan kegelapan menarikku sekali lagi.

——- The Magical ——

“……tapi mengingatkanku dengan Abigail, pria tua berengsek !!!”

“Apa di matamu sekarang aku nampak seperti papiku,Nay ?”

Aku duduk di kursi samping tempat tidur berusaha untuk tetap tenang saat mulai berbicara dengan Nayya setelah dia menghabiskan satu mangkok bubur yang aku siapkan tadi. Dia pingsan untuk yang kedua kalinya karena mandi malam-malam dalam keadaan perut kosong.

Tentu saja dia tidak makan dengan penuh suka cita dan kerelaan. Kalau saja abah Sulaiman tidak menungguinya makan hingga habis, aku yakin sebelum suapan pertama bubur itu masuk ke mulutnya dia akan langsung melemparnya jauh-jauh. sorot matanya nampak dingin padahal sebelum pingsan tadi, dia tersenyum walaupun samar.

Dan ucapan terakhir yang kudengar sebelum dia pingsan tadi mempengaruhiku sedemikian rupa.

Nayya menatapku sekilas sebelum mengalihkannya ke jendela kamar yang tertutup rapat tapi aku biarkan tirainya terbuka hingga malam pekat tanpa bintang di luar sana masih bisa terlihat.

“Apa kamu mau membahasnya sekarang ? di malam pengantin kita ?”

Nayya kembali menatapku masih dengan tatapan dinginnya. Aku menghela nafas sesaat kemudian tersenyum.

“Tentu masih banyak yang harus kita bicarakan tapi karena kamu sudah menyinggung hal itu aku ngak keberatan membicarakannya besok pagi. Tentu aku lebih memilih untuk melakukan malam pengantinku,”jawabku lugas dan aku hampir tertawa melihat reaksinya.

Mulutnya ternganga sesaat sebelum menarik selimut tebalnya menutupi badannya sampai ke leher.

“Lagakmu aja sudah kayak ulama tapi otak masih tetap jalan kalau urusan beginian,”desisnya tajam.

Well istriku. Lelaki akan tetap lelaki. Respon dan nalarnya akan tetap jalan untuk hal semacam itu tapi bedanya….”

Aku melotot ke arahnya menghentikan rentetan kata-kata yang akan keluar dari mulut sexynya itu,”…tapi bedanya aku tahu dengan siapa aku menginginkannya. Tentu saja aku punya hak merayu istriku sendiri bukan istri orang lain.”

“Kamu menyindirku Ibrahim Zayn ?” tatapan tajamnya mengarah padaku. Aku terpaku sejenak masih saja merasakan nyeri itu saat dia lagi-lagi menyinggungnya padahal maksudku tadi tidak seperti itu.

“Tentu kita harus membahas ini. Dengarkan aku baik-baik Nayya.”

Aku mengamati reaksinya yang hanya diam. sembab di kedua matanya terlihat jelas akibat dari menangis di bawah guyuran air yang dia lakukan tadi sore. Aku tahu bahwa hal ini juga pasti sangat menyakiti dan membingungkannya.

“Aku tidak bisa memafkan papiku karena telah memanfaatkan lukamu untuk kepentingannya sendiri dan merayumu hingga mau melakukan hubungan gelap itu…”

“Kamu ngak jijik ngelihat aku ? Akan terlihat lebih manusiawi bagiku melihat kamu marah-marah atau memakiku atau sekalian saja menceraikanku saat ini juga dari pada membicarakan hal gila ini dengan wajah tenang seakan-akan kita sedang membicarakan masalah lain yang tidak penting.”

AKu terdiam sesaat sebelum menggelengkan kepala,”Ini penting buat kita. I know. karena itu malam ini aku mau semuanya selesai sehingga besok pagi kita bisa memulai sesuatu yang baru sebagai sepasang suami istri.”

Nayya tertawa terbahak-bahak seraya merapikan anak rambutnya yang terjuntai. aku ingin sekali membelai rambut halus dan indah itu di tanganku. Aku menghela nafas mencoba menghilangkan pikiran sesat yang tidak seharusnya aku pikirkan saat ini.

“Apa ada yang lucu ?”tanyaku heran.

Nayya menganggukkan kepalanya,”Yap. kamu lucu banget.”

“Dimana letak kelucuannya Medina ?”tanyaku geram.

Nayya berhenti tertawa dan menatapku serius,”Aku memang terhasut dengan bujuk rayu papimu yang macho, tampan dan kaya raya itu dan hubungan kami berjalan hampir setahun lamanya. Kami berbagi banyak hal kecuali masa lalu tentu saja tapi yang aku sayangkan kenyataan yang semula aku pikir tidak penting seperti engetahui siapa saja anak-anaknya membuatku menyesalinya saat ini. OH astaga coba lihat matamu itu. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya bahwa kalian berasal dari gen yang sama.”

Rasanya menyakitkan mendnegar kejujurannya seperti itu tapi aku tahu bahwa memang ini yang harus kami selesaikan.

“Oke, aku mengerti dan jangan membuatku bertambah geram dengan kelakuan papiku itu. Aku sudah memastikan bahwa papi tidak akan pernah lagi mencarimu sebagai kekasihnya tapi aku yakin kamu akan tetap bertemu dengannya….”

Helaan nafas berat yang kukeluarkan seperti sebuah beban negara yang tiba-tiba saja berada dipundakku. Rasanya melelahkan membicarakan aib seperti ini. Nayya mengangkat alisnya menunggu lanjutan kata-kataku.

“…sebagai menantunya karena dua minggu lagi kita akan porgi ke Vancouver untuk mengambil semua barang-barangmu yang ada di sana dan bertemu keluargaku terutama kedua adik kembarku.”

Nayya memalingkn wajahnya ke arah lain. Membuatku bisa mengambil nafas panjang karena dihimpit rasa sesak. Ini mungkin ujian pertamaku tapi aku jelas tidak akan pernah menyerah.

“Apa segampang itu kah kamu menerima aku yang bekas papimu ini ?”lirihnya.

Aku terdiam sesaat karena jujur saja aku pernah memikirkannya sesaat setelah aku mengetahui fakta itu tapi jika aku tidak bisa menerimanya temtu saja saat ini aku tidak akan berstatus sebagai suaminya.

“Apa kamu sekarang peduli dengan pendapatkun?”

Nayya langsung menatapku dan mendnegus,”Aku sama sekali tidak peduli. Itu maumu sendiri.”

“Aku ingin menghapus jejak nya darimu Nay,”aku mengamati reaksinya. Nayya nampak kaget dan mengerutkan kening.

“Apa maksudmu ?”

Aku bergerak berpindah dari tempat dudukku semula masuk ke dalam selimut nyaman dan hangat itu yang masih aja betah nangkring nutupin badan Nayya mungkin takut kalau sewaktu-waktu aku bakalam nerkam diam kayak harimau lapar. Mungkin iya kalau aku masih menjadi diriku dulu yang playboy dan hanya dalam sekejap mata mampu membuat seorang wanita menyerah terpesona dan berkahir di bawah badanku pasrah diapain aja ngak peduli bahwa besok pagi saat dia bangun aku sudah menghilang dan dia menjadi salah satu partner one night stand ku yang tidak akan pernah aku sentuh untuk yang kedua kalinya.

Bejat memang tapi aku sudah mendapatkan karmanya sekarang.

Nayya terbelalak dan menggeser badannya mundur,” Mau apa lo ?!!!” Aku tidak memperdulikannya dan tetap mendekatinya. Nayya makin histeris,”Kuperingatkan sekali lagi Ibrahim Zayn jangan macam-macam denganku. Aku akan berteriak biar abah gebukin kamu karena memaksakan kehendak liarmu itu,”desisnya.

AKu terdiam sesaat di depannya sangat berdekatan. Nayya sudah memeluk bantalnya bersiap untuk menghajarku kalau saja aku maju lebih dekat lagi. alasan satu-satunya dia tidak lari keluar dari ranjang pasti karena dia masih lemas dan sakit kepala. aku memperhatikan wajahnya dan mengabaikan tatapan mengancamnya.

Wajahnya pucat, matanya sembab dan dia terlihat lelah luar biasa. Entah karena pingsan dua kali atau karena beban lukanya selama ini tapi aku berharap akulah yang bisa menghapusnya pelan-pelan.

Aku tersenyum. Sejujurnya aku hanya ingin mencoba apakah pesonaku ini masih mempan terhadap wanita terutama Nayya. Aku tidak akan menyentuhnya kalau dia masih belum bisa menerimaku.

Tanganku terulur untuk membelai rambut coklat panjangnya. Seperti perkiraanku rambutnya halus walaupun belum sepenuhnya kering. Aku merasakan sensai aneh menjalar dari telapak tanganku ke setiap sudut tubuhku yang bereaksi tidak seperti biasanya hanya karena menyentuh dan membelai rambutnya.

Erggghhh, sepertinya aku harus menghentikan ini. Nayya masih nampak kaget dan shock dengan apa yang aku lakukan walaupun untuk sesaat tadi aku melihat semburat merah di pipinya yang pucat dan mengerjapkan matanya nampak seperti terpesona karena sekarang wanita itu menatapku garang dan menepis tanganku di rambutnya.

“Jangan macam-macam Ibrahim Zayn,”desisnya mengingatkan.

Tanganku yang ditepisnya kusandarkan di kepala ranjang masih di belakang kepalanya dan hanya menatapnya dalam diam tanpa ada niatan untuk mengalihkannya ke tempat lain karena bagiku sekarang Nayya adalah objek paling menarik untuk digoda.

Nada ketus dan dinginnya itu sudah menjadi tameng sejak dia mendapatkan luka yang bertubi-tubi dan aku mengerti dengan sangat bahwa tidak mudah menerima semuanya tapi tugasku sekarang adalah mengingatkannya untuk bisa mengihklaskan masa lalunya.

Begitulah semesta bekerja walaupun kita sangat membencinya. Waktu akan tetap berjalan tidak memperdulikan jeritan banyak orang yang ingin waktu berhenti karena mengambil sesuatu yang amat berharga dari mereka. Kalau tidak bisa mengikuti maka dia selamanya akan tertinggal. Konsep setiap pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan masih banyak orang yang belum memahaminya apalagi menerimanya. Dalam kasus ini Nayya yang masih erat menggenggam keluarganya tidak memperdulikan waktu yang tidak memperdulikannya tertinggal di belakang.

“Aku tidak akan bisa semudah itu melupakan apa yang telah kalian lakukan dulu tapi aku berusaha untuk mengabaikannya. Semua itu sudah menjadi masa lalu baik dan buruknya. Aku tidak akan pernah bisa mengubahnya Nay seingin apapun aku.”

Nayya hanya diam memandangiku. aku membelai pipinya yang halus dan tersenyum,”Aku ingin sekali menghilangkan jejak nya tapi itu tidak akan aku lakukan kalau kamu tidak mau. Jadi lebih baik sekarang kamu istrirahat saja. aku tahu kamu pasti lelah.”

Nayya menundukkan wajahnya dan menggenggam erat bantal yang di pegangnya,”Kamu membuatku merasa sangat hina sekali dengan bersikap seperti ini.”

“Jangan berfikiran seperti itu. Kamu istriku sekarang jadi menurutlah apa kataku.”

Nayya mendengus sesaat dan memalingkah wajah. Aku tersenyum dan menarik wajahnya agar kembali menghadapku. Walaupun nampak kaget dia tidak melawan. Aku mengelus pipinya pelam lalu mencium keningnya dengan doa-doa yang aku lafalkan dalam hati untuknya.

Semoga saja kebekuannya segera mencair dan dia kembali seperti dulu lagi. Amin Ya Rabbalallamin.


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset