The Magical episode 17

Chapter 17

Some people come in your life as blessings, other come in your life as lessons


Medinna Nayyara POV

Aku melangkahkan kaki mendekati sebuah saung kecil pinggir sawah yang dulu sering aku datangi bersama Helena. Matahari masih nampak malu-malu di balik peraduannya. Kumandang Adzan sudah sejak tadi terdengar dan mungkin sekarang jama’ah sholat subuh di masjid besar tidak jauh dari sana sudah selesai dilaksanakan. Aku merapatkan cardigan yang menempel di tubuhku menghalau sengatan hawa dingin yang menembus kulit. Bukan jenis dingin yang menggigilkan tapi menyegarkan.

Aku duduk di sana sendirian melihat padi-padi yang siap panen. Sejak dulu, desa ini sudah menjadi salah satu desa penghasil beras terbaik. Walaupun zaman semakin kian berubah dan teknologi semakin tidak terkendali, tapi desa ini tetap sama menjadi desa yang menghasilkan santri-santri terbaik didikan Abah Sulaiman.

Tadi aku terbangun karena kaget mendapati Ibrahim tidur nyenyak dibagian sisi lain tempat tidur. Aku sempat terhenyak sejenak menatap wajahnya yang sangat tampan dengan nafas naik turun yang teratur. Perasaan asing itu menjalar karena aku sudah tidak ingat kapan seseorang tidur menemaniku semalaman seperti ini. Aku hanya terpaku menatap Ibrahi, sampai tidak sadar kembali tertidur lalu terbangun sesaat sebelum laki-laki itu keluar dari kamar untuk pergi ke masjid melaksanakan sholat shubuh.

Yang membuatku membeku adalah sikap manisnya. Dia sempat mencium keningku sesaat dan mengelus kepalaku sebelum dia bergegas keluar kamar. Dia nampak berbeda mengenakan sarung, baju koko dan peci. Jauh lebih mempesona dari pada biasanya.

Untuk menghalau pikiranku yang semakin tidak jelas, aku memutuskan mandi lalu berjalan-jalan sendirian hingga sampai di tempat ini.

“Apa yang sedang kamu pandangi,Nay ?”

Aku tersentak mendengar suara itu. Kutolehkan kepalaku ke samping dan menemukan Helena dengan mukena putihnya duduk dan tersenyum di sebelahku.

“Kunang-kunang ? Ah, aku sudah lama tidak melihat mereka.” Helena tersenyum lalu menunjuk kejauhan,”Biasanya banyak di sana, di dekat perbukitan. Lebih banyak sembunyi dan sedikit yang terlihat.”

Aku mengeryit,”Mereka masih ada ?”

“Mereka tidak pernah pergo bahkan saat kita tidak ingat lago bahwa kunang-kunang itu ada. Mereka hanya tidak menampakkan diri. Karena kadang kehadiran mereka tidak diperhatikan oleh anak-anak zaman sekarang. Berbeda dengan zaman kita dulu kan ?”

Aku mengangguk,”Aku masih ingat memasukkan kunang-kunang pertama hasil tangkapan kita ke dalam gelas kaca. Setelah malam menjelang kita menggunakannya untuk pergi ke….” kalimatku terputus karena sedikit tercekat ketika kembali mendapati diriku menggali memori masa kecil kami yang bahagia.

Helena tersenyum bahagia,”Ya. Kita menggunakannya sebagai penerang jalan untuk sampai di masjid saat maghrib, isya, dan shubuh. Sangat-sangat membantu.”

“Ya.”

“Begitu juga Allah Nay. Disaat kita melupakan kehadirannya dan melalaikan kewajiban, DIA akan tetap ada disana mengamati dan memperhatikan. Tetap ada untuk memberi kita jalan kalau kita memang sungguh-sungguh memintanya.”

Aku hanya diam memandangi kejauhan tidak menjawab. Helana kembali mengoceh,”Kunang-kunang bisa menjadi penerang jalan walaupun kita hanya memiliki satu buah. Bayangkan kalau lebih banyak.”

“Lebih baik kamu kembali ke rumah Helena,”jawabku dingin. Helena menggeleng,”Aku ingin sekali bisa menemanimu di saat terpuruk dan bahagia. Supaya kamu tahu, kalau kamu ngak pernah sendirian Nay.”

“Aku tidak tahu,Hel. Rasanya masih terlalu menyakitkan untuk aku terima. Seumur hidup aku dihantui penyesalan. Kalau boleh memilih, aku lebih baik ikut mati bersama mereka saat itu dari pada hidup seperti ini.”

“Allah memberimu kesempatan untuk melakukan banyak hal,Nay.”

Aku tertawa sarkas dan memandanginya,”Contohnya apa ?”

“Yayasan milikmu masih ada. Mereka merindukanmu.”

Tawa di wajahku memudar. Aku memalingkan muka dengan pikiran berkecamuk.

“Aku tidak bisa. Selama aku belum bisa berdamai dengan diriku sendiri, aku tidak bisa kembali ke sana.”

“Sekali saja. Mereka hanya ingin bertemu denganmu. Banyak yang terjadi setelah kamu pergi Nay.”

“Mereka tetap baik-baik saja bukan ?”

Helena terdiam sesaat lalu menghelq nafas,”Ya.”

“Baguslah kalau begitu.”

“Bukan seperti itu Nayya. Mereka memang baik-baik saja tapi mereka merindukanmu. Tidakkah kamu sekali saja mengingat mereka ?”

Aku memilih untuk tidak menjawab.

“Beri mereka sedikit kebahagiaan karena kedatanganmu sebelum kalian pindah ke Jakarta.”

“Hanya kesedihan yang akan datang bersamaku Helena. Biarkan saja mereka seperti itu.”

“Tapi….”

“Lebih baik kamu pulang duluan.”

“Kamu juga harus pulang,”Helena menghela nafasnya pelan.”Nanti mas Ibrahim bingung nyariin kamu.”

“Biarkan saja.”

Setelah itu hanya ada keheningan diantara mereka. Saat perlahan matahari muncul merambat naik, udara sudah tidak sedingin sebelumnya, rumah-rumah perlahan terbuka dan berbagai macam kesibukan mulai nampak di sana. Kehidupan mereka yang nampak biasa-biasa saja tapi dikelilingi oleh keluarga tersayang.

Aku tidak pernah menginginkan hal seperti ini terjadi padaku. Memiliki kisah cinta kedua yang terjalin dengan seseorang yang berparas rupawan seperti Ibrahim Zayn. Aku tidak menginginkannya sama sekali. Aku berharap memiliki hidup seperti mereka yang lain. Hidup biasa-biasa saja tapi selalu merasa lengkap dan bahagia.

Sekarang mustahil semua itu bisa aku miliki. Aku tidak akan segampang itu membiarkan Ibrahim menyentuhku. Walaupun kami memang melakukannya, aku sanksi kalau kami akan memiliki anak untuk melengkapi hidup kami yang suram ini.

Aku tidak mau berharap dan memberinya harapan. Dia harus menerima semua yang aku putuskan walaupun secara sepihak karena aku tetap sebagai seseorang yang dirugikan akibat perkawanin yang memaksa ini.

“Terlepas dari masa lalunya, Ibrahim adalah laki-laki yang baik. Aku yakin dia akan membahagiakanmu Nay.”

“Ya..ya..ya kita lihat saja nanti. Aku berani bertaruh bahwa dia tidak sekuat itu. Mungkin dibanting beberapa kali, dia akan menyerah lalu mundur dan melepaskanku pergi disertai penyesalan mendalam karena telah menikahiku.”

“Tidak. Dia tidak seperti itu. Dia mungkin akan berusaha keras untuk tetap mempertahankan diri ada di sampingmu.”

“Dia sudah gila.”

“Bagaimana kalau kita pulang. Kuta harus memasak untuk orang rumah.”

Helena berdiri dari duduknya. Aku menggelengkan kepala,”Kamu aja. Aku masih mau disini.”

Helena tidak menjawab tapi setelah beberapa saat dia akhirnya menyerah,”Oke baiklah, aku akan kembali ke rumah dan kamu jangan pergi terlalu jauh.”

“Hmmm.”

“Kamu tidak akan bisa menemukan kunang-kunang seperti dulu Nay tapi kamu sudah memilikinya satu di genggamanmu yang bersedia menjadi penunjuk jalan.”

Helena lalu pergi setelah mengeluarkan kalimat yang tidak aku mengerti artinya itu. Aku terdiam merasakan apa yang sedang terjadi di sekitarku. Aku memilih jalan yang ekstrim. Memilih agar dunia mengabaikanku. Karena aku tidak yakin lagi bisa merasakan kebahagiaan .

——- The Magical ——-

Ibrahim POV

Langkahnya pelan. Kepalanya tidak berhenti bergerak ke kanan dan kiri memperhatikan sekitarnya. Sepanjang jalan banyak yang menyapanha tapi dia hanya tersenyum singkat dan mengangguk. Langkahnya pasti seakan akan dia tahu kemana tujuannya. Aku mengikutinya dalam diam beberapa meter di belakangnya. Hingga langkah kakinya berhenti di sebuah rumah asri dua lantai yang terawat indah. Entah apa yang sedang dipikirkannya, karena dia terpaku sesaat di sana. Tidak bergerak, hanya diam saja.

Aku ikut memperhatikan rumah itu baik-baik. Lalu ingatanku melayang ke sebuah foto yang aku temukan di jurnal milik Nayya. Foto sebuah keluarga bahagia yang lengkap dengan latarnya di depan rumah putih itu.

Aku sekarang mengerti kenapa dia berdiri termangu seakan jiwanya tidak berada di sana. Karena memang saat ini, jiwanya mengembara di antara masa lalu yang ingin dia lupakan sekaligus yang paling dia rindukan. Aku melihat perlahan tubunya bergetar. Dia telah dikuasai oleh rasa rindunya yang teramat dalam seningga hanya dengan melihat rumah itu saja seakan mengoyaknya pelan-pelan.

Bahunya bergetar dan dia menundukkan kepalanya. Tidak lama dia jatuh ke bawah dengan derai air mata dan tangisan pilu yang bahkan membuatku tidak bisa bergerak di tempatku sekarang untuk sekedar mendekatinya dan memberinha bahuku untuk bersandar menumpahkan semua yang dia pendam.

Aku hanya diam memberina kesempatan untuk meluapkannya karena aku berjanji dalam hati untuk berusaha mengganti semua lukanya dengan sesuatu yang baru. Walaupun bukan bahagia seperti yang dulu pernah doa kecap, tapi setidaknya dia tidak akan merasa sesakit ini ketika mengenang masa lalunya dan keluarganya. Aku berharap cepat atau lambat dia akan sadar dan kembali bersujud di hadapan sang pencipta mendoakan segala hal untuk seluruh keluarganya yang telah pergi.

Rasanya seperti mustahil, tapi tidak ada yang tidak mungkin. Sekeras apapun batu setelah sekian lama terendam air, dia akan terkikis dengan sendirinya. Begitu juga dengan hati manusia walaupun tidak akan mudah melakukannya.

Nayya menangis disana. Air matanya dia biarkan jatuh ketanah bebatuan di bawahnya. Aku tidak tahu seperti apa rasanya tapi aku yakin sangat-sangat menyakitkan. Berada dibawah bayang-bayang kelam masa lalu yang belum bisa diajak berdamai, bisa membuay siapapun kehilangan jati dirinya sendiri.

Nayya menangis sesugukkan untuk beberapa saat sebelum kesadarannya berangsur menghilang dan dia terbsring di semen dingin setelah menangis dengan hebatnya disana. Aku bergerak bahkan lebih terasa seperti belari ketika menghampiri tubuhnya yang sudah lunglai dengan mata terpejam dan sisa-sisa air mata yang belum mengering,

Perlahan aku mengangkat tubuhnha berharap bahwa rasa hangat menyelimutinya. Agar dia sedikit lebih baik dari sebelumnya. Aku membawanya pulang dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk. Aku harus mengambil keputusan itu lebih cepat. Aku merunduk memandangi wajahnya yang terlihag lelah. Aku mencium keningnya dan memeluknha semakin erat tidak berniat untul sedikit melepaslan rengkuhanku.

Aku akan membawanya kembali ke Jakarta. Ke satu-satunha tempat yang aku yakin, ceoat atau lambat bisa merubah perangainya. Karena di sana bukan hanya sekedar rumah tapi dunia dimana aku bisa melepaskan sejenak semua permasalahan dunia dan melihat segala sesuatunya dengan cara fikir yang lebih sederhana.

Bahagia itu sederhana. Kalau kita lebih bisa banyak mensyukuri nikmat yang telah ada.

—— The Magical ——

“Nan, tolong persiapkan semua penghuni rumah karena nanti sore aku dan Nayya akan kembali ke Jakarta ?”

Keenan di sebrang sana terdiam sesaat.

“Secepat itu ? Katanya beberapa hari lagi ?”

“Aku berubah pikiran. Akan lebih baik kalau Nayya menjauh dulu dari sin.”

“Oke baiklah. Mereka semua sudah siap kok hanya menunggu kalian datang. Kabari aku kalau kalian sudah akan berangkat.”

“Oke. Makasih Nan.”

“You’re welcome bro,”

Aku berbalik kembali ke dalam rumah setelah memasukkan ponselku ke saku celana dan menemukan Helena yang sedang meletakkan dua cangkir teh di atas meja juga beberapa cemilan ringan lalu kembali kekesibukannya di dapur. Abah yang duduk di salah satu kursi menyuruhku mendekat dan duduk di sebelahhnya.

“Jadi kalian akan kembali nanti sore ?”

Aku mengangguk,”Iya bah. Aku merasa akan lebih baik untuk kesehatan Nayya kalau kami secepatnya pulang.”

Abah Sulaiman mengangguk,”Abah juga berfikir seperti itu. Disini dia terlalu banyak menangis dan pingsan. Abah juga jadi khawatir.”

“Kalau nanti kalian kangen, tinggal hubungi saja Ibrahim bah. Nanti kita siapkan semua akomodasinya.”

“Iya gampang aja kalau seperti itu. Lagian bulan depan kalian akan kesini lagi kan untuk melihat pernikahannya Aisyah ?”

Aku tersenyum dan mengangguk,”Insya Allah iya bah.”

“Alhamdulillah syukurlah kalau begitu.”

Aku tersenyum lalu tanganku bergerak untuk mengambil cangkir teh itu dan meminumnya perlahan. Rasa hangat menjalar di rongga mulutku. Aku letakkan kembali di atas meja dan mendapati abah Sulaiman memandangiku.

“Kenapa bah ?”

Abah tersenyum,”Ngak apa-apa. Abah masih belum percaya aja sudah punya menantu. Sebentat lagi malah ada dua. Abah sudah menyerahkan anak-anak abah yang cantik-cantik ini.”

“Iya bah. Bagaimana dengan keluarganya Kellan ?”

Abah terlihat menghela nafas,”Kamu kan tahu kalau keluarganya kebayakan non muslim tapi yang patut disyukuri bahwa kedua orang tua Kellan menerima Aisyah terutama agamanya. Dan dia ngak memeprmasalahkan tentang perbedaan prinsip ini.”

Aku mengangguk,”Kellan juga laki-laki yang baik kok bah.”

“Baik seperti apa ? Baik itu relative Ibrahim, tergantung bagaimana kita melihat.”

“Saya tahu awalnya masuk islam karena Aisyah, tapi saat pertama kali saya melihatnya, saya tidak melihat jejak muallaf itu di dalam matanya. Saya melihat seorang laki-laki dengan tekad yang kuat bergerak maju untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Dia mengerti dengan baik segala aturan dan tanggung jawab yang seharusnya dimiliki seorang laki-laki muslim sejati. Dia belajar dan saya menghargai usaha dan kerja kerasnya.”

Abah mengangguk,”Saya juga melihatnya. Mungkin perlu banyak belajar tapi saya yakin dia bisa membimbing Aisyah. Sama seperti nak Ibrahim.”

“Perjuangannya sungguh luar biasa bah. Islam hanya akan sekedar islam bila seseorang yang memegangnya itu tidak mengamalkan apa yang seharusnya. Intinya aku hanya ingin menjadi sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.”

“Apa sebelum ini kamu pernah membayangkan akan melakukan atau mencapai titik ini Ibrahim ?”

“Sama sekali tidak bah. Semuanya tidak terbayangkan.”

Abah Sulaiman tertawa lalu meminum teh di cangkirnya,”Hidup itu misteri kan ? Satu jam yang lalu bisa saja kita menjadi seorang pencuri di jalanan tapi satu jam berikutnya kuta mendapati diri sudah berubah. Hanya karena kejadian di rentang waktu satunjam tersebut.”

Aku mengangguk setuju. Tidak ada yang akan bisa memprediksi masa depan bahkan apa yang akan kita lakukan satu jam dari sekarang.

“Gimana hapalanmu ?”

“Alhamdulillah bah sudah hampir 30 juz.”

“Alhamdulillah kalau begitu. Pertahankan sampai akhir dan amalkan.”

“Iya bah. Insyallah.”

“IBRAHIMMM !!!!”

Suara teriakan Nayya dari dalam rumah seketika mengagetkanku dan abah. Aku berdiri dan bergegas masuk ke dalam mengarah ke kamar tamu. Sampai di ambang pintu, aku terpaku mendapati Nayya sudah membongksar semua isi di dalam kopernya dan menatapku tajam,

“Apa hakmu melakukan ini semua ?”desisnya.

Aku mendekatinya perlahan,”Kita harus kembali Nay.”

“Kemana ? Ke neraka yang terdalam ?”

Aku sontak membeku dengan bibir kelu,”Apa yang kamu bicarakan Nay ?”

Nayya berdiri dan menuding wajahku dengan telunjuknya,”Aku belum menyetujui apapun. Keputusan sepihakmu ini tidak bisa aku terima. Aku masih mau di sini ngak akan ikut kamu kemana pun.”

“Tapi Nay. Kita punya rumah di sana.”

Nayya berdecak,”Itu rumahmu. Aku ngak mau dikurung disana.”

“Kenapa kamu berfikiran begitu ? Aku suamimu bukan mau menawanmu Nay. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”

Nayya menggelangkan kepala,”Ngak. Aku ngak mau ikut. Aku ngak mau ketemu keluargamu. Aku ngak mau ketemu ABIGAIL yang brengsek itu !!!!”jeritnya.

Aku mengerjapkan mata. Kakiku terasa kebas saat kupaksa untuk berjalan mendekatinya lalu menariknya kepelukanku, Nayya memberontak tapi aku tetap tidak melepaskannya.

“Aku membencimu Ibtahim Zayn. Aku membenci Abigail. Aku ngak mau ikut kalian,”isaknya.

“Kita akan pulang ke rumahku bukan rumah orang tuaku. Aku yakin kamu akan suka ebrada disana.”

“Kenapa kamu bisa seyakin itu ?”

Aku tersenyum semakin memeluknya erat,”Karena di sana tempat di mana semua para malaikat kecil berkumpul. Kamu akan menyukai mereka.”

Nayya melepaskan diri,”Maksudmu ?”

Akypu tersenyum,”Kamu akan tahu saat berada di sana. Jadi aku mohon ikut aku pulang dan kita akan membangun kehidupan rumah tangga kita disana.”

Nayya diam tidak bergeming dan aku tersenyum hangat menenangkan walaupun di dalam diriku sendiri rasanya ada ribuan jarum kecil yang menusuk secara bersamaaan.


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset