The Magical episode 2

Chapter 2

“Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan gunakanlah masa hidupmu sebelum datang kematianmu” – HR Bukhari

Ibrahim Zayn Redrivck POV

Kedutaan besar Indonesia di Vancouver, Canada

“Terimakasih banyak Nak Ibra, jauh-jauh dari Indonesia dan harus terbang berjam-jam hingga sampai disini untuk menceritakan kisah inspirasinya bagi warga muslim di Vancouver. Tentu pengorbananya tidak mudah.”

Aku tersenyum menenangkan untuk seorang pria paruh baya dengan aura kebapakan dan pandangan matanya yang meneduhkan. Bapak Risjad, seorang diplomat dan wakil Indonesia di Vancouver yang terkenal ramah dan religius.

“Pengorbanan itu sebanding dengan antusiasme warga tanah air yang dari tadi menyimak semua kisah saya Bapak. Saya hanya berharap bahwa kisah saya bisa dijadikan salah satu contoh dari sekian banyak kebesaran dan keagungan Allah SWT yang bisa mereka ambil hikmahnya. Lagian saya sudah belajar memasrahkan diri saya untukNYA, kalaupun saya harus mengalami hal itu untuk yang kedua kalinya lagi saya ikhlas dan senang telah diberi kesempatan kedua untuk bertaubat,”Aku menjelaskannya perlahan sambil meminum air putih yang sejak tadi disediakan di hadapanku. Pak Risjad menganggukan kepalanya dengan senyuman lebar merekah di wajahnya,”Sungguh Nak Ibra pemuda yang luar biasa.”

Aku tersenyum,”Sebelum ini saya hanya pemuda yang penuh dosa Pak.”

“Selalu ada alasan kenapa semua hal itu bisa terjadi Ibra dan kamu menyikapinya dengan sangat luar biasa. Saya sungguh terharu mendnegarnya,”Pak Risjad tersenyum seraya menepuk pundakku pelan. Aku menganggukkan kepala dan mengedarkan pandangan. Beberapa pria paruh baya duduk berkelompok dmemenuhi auka tempat diadakannya tausiyah bulanan terlihat saling berdiskusi, nampak beberapa pemuda yang terlihat serius mengikuti pembicaraan, juga beberapa yang sibuk mencari kenalan dan bertukar berita. Mereka semua adalah musafir. Jauh dari keluarga, jauh dari tanah kelahiran. Sebagian untuk bekerja, sebagian untuk hal yang lainnya. Aku senang melihat mereka semua masih aktif menyambung silaturahmi antar warga muslim seperjuangan.

“Silahkan dinikmati Nak jamuan alakadarnya dari kami,”Pak Risjad menunjuk sebuah meja prasmanan tidak jauh dariku. Aku mengangguk,”Terimakasih pak, semuanya harus tetap dsyukuri.”

Pak Risjad tertawa,”Tentu Nak. Selalu bersyukur salah satu bukti cinta kita untuk Sang Pencipta.” Pak Risjad mengambil kue apem disalah satu piring dihadapannya yang katanya kue favoritnya karena yang membuatnya adalah istri tercinta beliau sendiri dan melanjutkan obrolanya,”Jadi Nak Ibra tidak berniat untuk menikmati Vancouver ? Padahal sudah jauh-jauh datang kesini.”

Aku tertawa,”Setelah ini rencananya saya mau bertemu beberapa client juga Ayah saya yang kebetulan berada disini lalu pulang Pak.”

Pak Risjad mengangkat alisnya,”Ayah Nak Ibra tinggal disini ?”

“Sebagian waktu beliau dihabiskan disini Pak dan juga di Indonesia. Maklum pengusaha jadinya kemana-mana.”

Pak Risjad mengangguk paham,”Pasti pengusaha sukses kalau dilihat dari keterampilan Nak Ibra berwirausaha. Bakat turunan rupanya.”

Aku tersenyum,”Begitulah pak.”

“Assalamualaikum Pak Irsjad dan Pak Ustad.” Seorang laki-laki memberi salam dan duduk bersila disampingku bergabung dengan orbrolan ringan kami. Aku mengenalnya sejak datang kesini.

Aku tertawa,”Walaikumsallam. Panggil aja Ibra, Nat.” Nathan, cowok berdarah Jawa-Padang yang sudah lima tahun menetap di Vancouver untuk bekerja terlihat mengeryitkan alisnya dan berseru,”Ngak sopan dong ah nanti Pak Ustad.”

Aku terseyum sambil menggelengkan kepala dan menepuk bahunya lalu melirik kesebelah kirinya ke arah seorang laki-laki yang terlihat masih muda duduk dan tersenyum kearahku. Nathan menyadari arah pandanganku dan sedikit bergeser memberi akses padaku untuk memperhatikan wajahnya.

“Kenalkan Pak Ustad, teman baru saya disini namanya Kellan. Dia mualaf Pak Ustad.”

“Alhamdulillah,”Aku dan Pak Risjad mengatakannya bersama-sama. Kellan tersenyum dan mendekati kami berdua dan mencium tanganku dan Pak Risjad,”Salam kenal Pak Ustad dan Pak Risjad. Saya senang sekali bisa bertemu dan mendnegarkan kisah Pak Ustad tadi.”

“Panggil saja Mas Ibra ya,” aku meralatnya. Aku laki-laki yang belum bisa sepenuhnya mencapai level itu karena masih banyakna kekurangan pada diriku. Aku mengamati keseluruhan penampilan Kellan. Wajahnya khas keturunan Jawa dengan rambut ikal berwarna hitam pekat dan bisa dikatakan cukup tampan. Mengenakan setelan yang bisa dibilang cukup berkelas.

“Boleh saling aharing tidak Mas ?”katanya. Aku mengangguk,”Tentu Kellan dengan senang hati.”

“Saya tidak menyangka ketika mendnegar kisah Mas Ibra yang begitu membuat saya terharu dan menginspirasi hingga memutuskan untuk memperdalam agama setelah Allah memberi kesempatan kedua.”

Aku tersenyum,”Sebelum ini saya juga sama sekali tidak pernah menyangka akan mengalami kejadian paling buruk itu sekaligus kejadian paling luar  biasa yang terjadi dalam hidup saya. Tentu karena Allah pasti mencintai saya yang sebelumnya selalu mengabaikanNYA dengan hidayah yang sangat luar biasa itu. Sekarang saya merasa snagat bersyukur.”

Kellan dan Nathan menganggukkan kepalanya mendnegarkan. Kellan tersenyum tipis,”Saya jadi malu sendiri Mas.”

Aku emngangkat alis heran,”Kenapa ?”

Dia tersenyum samar,”Saya masuk islam karena seorang wanita yang saya kira dulu akan saya cintai seumur hidup saya Mas.”

Aku terdiam melihatnya menundukkan kepala. Aku menepuk bahunya membuatnya mengangkat kepala,”Allah punya banyak cara untuk memberi umatnya hidayah. Mungkin untuk kasus Kellan, lewat perantara wanita itulah Allah menunjukkan jalannya. Jadi kamu sudah menikah ?”

Kellan menggelengkan kepalanya,”Tidak Mas. Wanita itu pergi meninggalkan saya karena mendapat pinangan dari laki-laki lain yang agamanya jauh lebih baik dari saya.”

Aku tersenyum,”Jangan berkecil hati. Luruskan niatmu dan mendekatkan diri kepadaNYA labih intens. Allah pasti sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu Kellan.” Aku tersenyum dan melanjutkan, “Rasulallah SAW bersabda,”Sesungguhnya amal-amalan itu tergantung niatnya. Dan bagi tiap orang apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrah kepada Allah dan RasulNYA, maka pahalanya karena Allah dan RasulNYA. Dan barang siapa yang hijrah karena dunia atau wanita yang dinikahinya, maka pahala hijrahnya itu apa yang dihijrahi.” ( H.R Al-Bukhari )

Kellan dan Nathan menganggukkan kepala mengerti dan Pak Risjad tersenyum menatap kami bergantian. Aku mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk aula serba guna dengan pandangan menerawang. Sudah bertahun-tahun sejak peristiwa mengerikan itu, hanya aku habiskan dengan beribadah, mendalami ilmu agama, membangun beberapa yayasan yatim piatu dan anak-anak terlantar disamping bekerja sebagai seorang pengusaha real estate, jaringan hotel dan resort. Tapi itu bukan fokusku karena aku tidak ingin terikat dengan urusan dunia seperti kekayaan yang aku miliki saat ini. Aku melakukannya hanya karena itu adalah adalah satu syarat yang diajukan ayahku dulu ketika aku berniat untuk hijrah.

Bagiku sekarang, bisa diberi kesempatan kedua untuk berubah adaalh sebuah mukjizat teesendiri. Kekosongan batin yang aku alami bertahun-tahun silam akhirnya menghilang seiring keyakinanku yang semakin dalam pada ajaran Rasulullah SAW mencintai Sang Pencipta. Aku bisa merasakan perbedaan besarnya saat ini.

Aku masih ingat dengan apa yang dikatakan oleh Abah Alfi dulu ketika awal mula aku hijrah memfokuskan diri untuk mendalami agamaku.

“Kehidupan duniawi itu hanya sekedar sarana untuk mencapai tujuan kita Ibra. Hanya sarana bukan tujuan akhir. Ia adalah sesuatu yang hanya akan kita lewati begitu saja. Perumpamaannya seperti sebuah kapal.”

Aku mengeryit bingung,”Kapal ?”

Abah Alfi mengangguk dan memandnagiku dengan sorot mata dalam ketika berbicara menjawab keherananku.”Dunia ibarat laut. Kita akan tenggelam jika air laut memenuhi kapal dan tidak bisa lagi mengendalikannya. Allah SWT berulang-ulang merujuk bahwa dunia dalam Al-Quran sebagai mata’a yang berarti – sarana bagi kesenangan duniawi yang sementara. Ia jalan – bukan tujuan.”

Seketika aku paham maksud dari penjelasan Abah Alfi saat itu yang mengubah csra pandangku terhadap dunia membuatku teringat dengan kehidupanku sebelum tragedi itu hingga membuatku nmenangis semalaman diatas sajadah menyesali diri. Sekarang aku bisa menjalani pemisahan itu dengan ikhlas.

“Mas bagaimana caramya agar saya bisa fokus beribadah tanpa dipengaruhi dnegan segala hal urusan duniawi yang sering kali membelokkan niat kita semula ?”tanya Kellan. Aku tersenyum karena pernah menanyakan pertanyaan serupa. Aku memfokuskan pandanganku ke Kellan dan salut dengan kesungguhan yang nampak di dalam matanya.

“Kembali lagi kita harus meluruskan niat. Lalu lakukanlah rukun islam dengan konsisten sampai kita paham bahwa dunia dan segala urusannya hanya keterikataan palsu yang mencoba menjadikan kita budak dibawah hawa nafsu kita sendiri.”

“Rukun islam Mas ?”tanyaa Nathan yang juga menyimak. Aku menganggukkan kepala dan mulai menjelaskan,”Rukun islam itu pada dasarnya adalah pemisahan. Syahadat (keimanan) itu dasar dari keyakinan kita tentang segala hal tentang Sang Pencipta. Sholat, lima kali sehari kita harus melepaskan diri dari urusan duniawi fokus ke satu-satunya objek keterikatan yang sejati yaitu Allah SWT.  Puasa, melalui puasa kita dipaksa untuk melepaskan diri dan mengendalikan fokus kita pada dunia. Zakat,memisahkan diri dari uang untuk mencari rida Allah. Terakhir naik haji,kita peziarah yang harus meninggalkan kenyaman dunia untuk berkelana ditempat yang paling diberkahi olehNYA.”

Aku mengamati ekspresi mereka berdua yang tekun menyimak. Semoga mereka menjadi pemuda-pemuda yang menang melawan nafsu dunia,”Kosongkan bejana hati kalian dan isilah hanya dengan cinta kepada Sang Pencipta. Insyallah, dunia ini todak akan memenjarakan klian.”

Pak Risjad menganggukkan kepalanya setuju begitu pula dengan Kellan dan Nathan. Kellan mendekat,”Terimakasih Mas penjelasanannya. Saya mengerti sekarang. Saya akan mencoba untuk memperbaiki diri karena Allah dan doakan saya bisa dapat jodoh yang sholeha ya mas.”

“Amin Ya Rabbalallamin. Untuk yang terakhir sepertinya kita harus saling mendoakan,”aku meringis. Pak Risjad tertawa,”Apa yang kamu tunggu Nak Ibra ?”. Kellan menyahut,”Jadi mas juga belum menikah ?”

Aku menggeleng dan melihat sorot heran di mata Kellan,”Menunggu Allah menunjukkannya Pak. Saya merasa bahwa saya masih harus disuruh menunggu sebentar lagi.”

Pak Risjad mengangguk dan berdiri. Kami juga ikut berdiri bersama beliau,”Jodoh bisa menunggu tapi makanan enak itu tidak bisa menunggun lama. Kita makan dulu nanti obrolannya dilanjutkan lagi. Ayo semuanya kita makan jangan sungkan-sungkan. Kalau mau nambah juga boleh. Semuanya istri saya yang membuatnya.”

Aku terkekeh sambil mengikuti Pak Risjad bersama Nathan dan Kellan dibelakangnya ke arah meja prasmanan,”Wah bapak sungguh beruntung ya memiliki Nyonya Tiara.”

Pak Risjad berbalik dnegan senyuman mengembang diwajahnya,”Saya sudah menyadari hal iti dari dulu.”

Aku tertawa bersama yang lainnya mendnegar nada kagum dan cinta yang disampaikan beliau. Aku seidikit iri melihat beliau begitu beruntung memiliki istri yangc cantik, sholeha dan pintar memasak seperti Ibu Tiara. Jika dibolehkan, aku juga ingin memiliki istri yang seperti itu. Tentu akan sangat membahagiakan. Setelah tersadar aku mengucapkan Astagfirullah karena mencoba untuk berandai-andai. Aku percaya pada pilihan Allah dan aku hanya harus menunggu dia datang.

Kami sampai dimeja prasmanan dan masing-masing sibuk dengan nasi dan lauk pauknya ketika aku mendengar sebuah salam diucapkan dibalik bahuku.

“Assalamualaikum Nak Ibra.” Aku menoleh dan melihat Ibu Tiara tersenyum padaku sambil menangkup kedua telapak tangannya di dada. “Walaikumsallam Bu.” Kemudian kulihat seorang wanita cantik bergamis syar’i berwarna peach sedikit menunduk di balik punggung Bu Tiara. Aku sedikit tertegun ketika dia sedikit mengangkat kepalanya dan mata kami saling beradu pandang. Aku terkesima. Sangat cantik. Kemudian dia menunundukkan pandangannya dan aku tersenyum.

“Namanya Aisyah. Dia baru tiba di Vancouver kemarin pagi dan menguinap disini selama tiga hari. Dia ingin berkenalan dneganmu Nak Ibra ketika mendengar kisahmu tadi,”Bu Tiara menjelaskan sambil tersenyum hangat.

Nathan menyikut lenganku pelan dan berbisik,”Bidadari Mas.”

Aku tertawa mendnegarnya. Aku memandanginya yang kadang melirik ingin tahu,”Bagaimana kalau kita makan dulu Bu setrlah itu kita bisa berbincang. Bagaimana Aisyah ?”

Aisyah menatapku sekilas sebelum menundukkan pandangannya dan mengangguk. Bu Tiara setuju lalu mendekati suaminya mengambil lauk pauk dan Aisyah berdiri mengambil makanannya berjarak sepuluh jengkal dariku. Aku mengamati gerak geriknya yang anggun dan gemulai lalu mengalihkan pandangan. Melihatnya membuatku merasa melihat matahari pagi. Menyilaukan dan menghangatkan.

Tanpa sadar aku tersenyum dan dalam hati berdoa semoga Allah mengirimnya untuk menjadi separuh pelengkap agamaku. Jika memang begitu, aku kan langsung mengkhibatnya dan menjadikannya istriku.

Sekali lagi manusia hanya bisa berencana tanpa tahu skenario seperti apa yang telah disiapkan Allah untuknya nanti.

><

Ternyata aku akhirnya menikmati sore yang cerah di Vancouver. Kakiku melangkah di area taman Stainley Park dengan pandangan mata yang tidak berhenti kagum memandnagi keindahannya. Stainley Park berada di tengah kota dengan luas kira 405 hektar. Benar-benar taman yang besar. Banyak hal yang bisa dilihat di dalam taman ini. Hutan kecil, aqurium terbesar di Canada bernama Vancouver Aquarium, ada danau dengan latar belakang gedung – gedung tinggi. Walaupun sendirian tapi aku menikmatimya.

Setelah bertemu dengan client tadi, aku akhirnya mampir kesini sambil menunggu ayahku menyelesaikam urusannya dan menjemputku. Aku mengamati
Lion’s gate bridge dan  North Vancouver dari Prospec Point, tempatku berdiri saat ini seperti yang dikatakan ayahku agar dia tidak bingung mencariku. Aku duduk dan memandnagi jembatan panjang iti dengan kagum.

Kagum karena kebesaran dan kemurahan hati Sang Pencipta yang memberi akal pada manusia membuat semua hal ini. Kalau tidak mana mungkin jembatan itu berdiri kokoh menjadi sarana darat penghubung antar tempat.

“Zayn,”aku menoleh ke arah sebuah panggilan familiar di belakangku dan mnemukam seprang pria paruh baya yang msih gagah walaupun usianya sudah lima puluhan berjalan mendekatiku. Aku tersenyum dan memeluk ayahku erat walaupun beberapa hari yang lalu kami sudah bertemu di Jakarta menyaksikan drama lebay Ibuku.

“Gimana Vancouver. Indah bukan ?”

Aku mengangguk,”Pantas saja Ayah betah tinggal disini.”

Ayahku tertawa smabil mengajakku berjalan lurus ke arah kebun mawar sambil emngobrol,”Banyak hal yang harus kamu lihat disini Zay. Ayah heran kenapa ibumu susah sekali diajak tinggal disini.”

“Ibu berasal dari Indonesia, yah. Wajar kalau ibu ingin berada disana.”

“Ah itu hanya alasan. Dia hanya ngak mau jauh dari kedua anak remajanya itu. Lagian kamu juga kapan sih berencana menikah ? Ayah belum tenang apalagi ibumu dan dramanya itu.”

Aku tertawa dan menyaksikan bunga mawar cantik aneka warna yang mekar sempurna. Kami berjalan semakin me dekati English Bay, pantai cantik yang menjulur disepanjang samudra pasifik untuk menikmati sunset. Keenan bilang, sunset kota ini adalah yang terindah dengan latar belakang laut lepas dan hamparan awan dan langit yang berubah jingga. Aku penasaran jadi aku meminta ayahku menemani untuk melihatnya.

“Sabar yah. Aku sudah menemukan satu yang cocok dengan hatiku. Rencananya aku akan langsung mendatangi orang tuanya setelah kembali ke Jakarta.”

Aku tersenyum ketika mengingat seulas wajah dengan senyuman menawan yang kemarin membuatku jatuh hati. Aku tahu rumahnya karena ternyata abahnya adalah seornag ulama terkenal di Kediri. Guruku, Abah Alfi berteman baik dengan beliau. Sepulangku dari sini aku akan langsung menemui Abah Alfi. Aisyah, Subhanallah cantiknya.

“Seriusan ? Kamu ngak bercanda kan ,Zay ?” Ayah menahan lenganku dengan pandangan tidak percaya. Aku emngangguk,”Ayah tunggu saja kabar baiknya.”

Senyumannya melebar. Matanya terlihat sangat bahagia. Mata biru cemerlang yang juga dia wariskan padaku. Aku mewarisi semua gen wastern nya. Berbeda dengan kedua adikku, aku memang lebih kebula-bulean karena darah Jerman – Swedia milik ayah yang menikahi gadis jawa asli Indonesia yaitu Ibuku. Walaupun asli jawa, tapi Ibu sangat csntik dan hem – seksi.

“Ayah sudah tidak sabar. Jadi siapa gadis itu ?”

“Seorang anak ulama yah. Semoga saja beliau menerima lamaranku nanti.” Aku melihat ayah terdiam lalu menepuk bahuku tanpa mengucapkan apapun. Aku tersenyum maklum dan mengalihkan pandangan ke Samudra luas di depan. Ah laut…..

Kami duduk di sebuah bangku taman yang memang tersedia banyak disana menunggu fenoma alam paling indah. Kami hanya diam dnegan pikiran kami sendiri. Aku bersyukur bahwa walaupun ayahku nampak kecewa dengan pilihanku berhijrah setrlah kecelakaan itu tapi beliau tidak melarangku. Keputusanku itu kuambil secara sadar dan dia hanya mengajukan syarat untuk membantunya di perusahaan. Dan aku bersedia.

“Besok kamu pulang ?” Tanyanya memandangiku. Aku mengangguk,”Iya yah. Besok siang dengan penerbangan kelas satu. Erggghhh , Keenan pasti sengaja yah.”

Ayahku tertawa,”Jangan salahkan dia, dia pasti hanya ingin kamu nyaman dalam peenerbangan selama berjam-jam itu Zay.”

Aku menghembuskan nafas pelan dan melihat cakrawala tak berujung dikejauhan. Bagiku mau penerbangan kelas satu atau kelas ekonomi pun tidak akan ada bedanya. Jika memang sudah ajal dan pesawat itu kembali jatuh, tidak akan menjamin aku masih hidup, aku menyimpan pikiranku sendiri dan memaklumi tindakan sahabat sekaligus sekretsrisku itu.

Perlahan semburat jingga muncul dilangit cerah itu dan matahari turun keperaduan untuk berganti malam penuh bintang. Orang-orang yang menyaksikannya dari bibir pantai nampak bagai siluet indah. Aku tersenyum menikmati begitu juga ayahku. Kami menyaksikannya dalam diam.

“Subhanallah,”ucapku. Sangat.sangat indah.

Pandanganku menyapu area pantai yang ramai melihat beberapa pengunjung juga nampak asyik menikmati sunset indah itu ketika mataku menangkap sosok yang membuatku terpaku. Seorang perempuan memakai gaun panjang transparan berwarna putih menyapu pasir dan air laut dibawahnya. Berdiri diam di bibir pantai menatap kejauhan. Aku sempat tertegun walauoun aku tahu aku sama sekali tidak mengenalnya. Rambut bergelombangnya beriak cantik tertiup angin. Aku fokus memperhatikan rambut itu.

Lalu ketika matahari sudah semakin terbenam, dia bergerak maju beberapa langkah masuk ke air, mengangkat kedua tangannya dan menaburkan sesuatu.

Aku memejamkan mata karena bagiku melihatnya membuat hatiku tersayat. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi tapi satu hal yang pasti aku tahu apa maksud kelakuannya itu.

Laut, takdir, matahari terbenam melebur membuatku seketika mengingat kenangan itu.

Hari ini adalah hari peringatan ketiga tragedi kecelakaan itu. Hatiku terenyuh seketika.


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset