The Magical episode 4

Chapter 4

“Kita tidak bisa menyalahkan hukum fisika ketika sebatang ranting patah karena kita bersandar padanya. Ranting tidak pernah diciptakan untuk menahan beban kita.” – Reclaim Your Heart

Ibrahim Zayn Redrivck POV

Kantor pusat Redriv Company, Jakarta

“Astaga Ibrahim!!!!”pekikan Keenan membuatku mengalihkan pandangan dari kertas-kertas di atas meja ke arah pintu ruang kerjaku. Aku melihat wajahnya yang nampak frustasi sambil terkekeh geli. Dia mendelik dan berjalan ke arahku dengan menghentak. Aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi dan melihatnya berdiri menjulang tepat didepanku. Aku hanya diam, tahu dengan pasti apa yang diributkannya.

“Kenapa kamu bisa meninggalkan meeting begitu saja sebelum negosiasi itu selesai bahkan dimulai ?”tanyanya dengan mata menyimpit tajam. Aku menghela nafas dan mengibaskan telapak tanganku di depannya,”Sudahlah tidak usah meributkan hal itu.” Dia menggeleng keras,”Aku sudah membuat janji itu dari dua bulan sebelumnya,Ibrahim. Anastasia itu pebisnis yang sangat sibuk. You know ?”

“Entahlah ya. Aku sudah datang sesuai janji di sebuah restoran esklusive di Vancouver yang sangat private. Kamu tahu pemandangan apa yang aku dapatkan disana ?”

Dia duduk di kursi sambil menggeleng. Aku memajukan dudukku dan bertopang dagu menghembuskan nafas lelah,”Wanita itu bertingkah bukan selayaknya seorang pebisnis tapi seorang wanita panggilan.” Keenan melotot kaget,”Maksudmu ?”

“Mungkin sebelumnya dia sudah melihatku disebuah majalah bisnis dan berasumsi sendiri kalau aku sama dengan laki-laki yang dia kenal yang memulai sebuah bisnis harus diberi service yang memuaskan.”

Keenan ternganga mendengarnya,”Seriusan ?”. Aku menghela nafas,”Untuk apa sih aku bohong.” Dia merebahkan punggungnya seperti orang kelelahan dan memegangi kepalanya dengan kedua tangan,”Astaga !!!! aku tidak menyangka.”

“Jangan salahkan aku kalau langsung keluar tanpa berbicara bahkan menoleh lagi.” Dia menganggukkan kepalanya lemas seperti orang kalah main judi. Keenan memandnagiku dengan wajah memelas,”Padahal wajahnya luar biasa cantik.” Aku tertawa dan kembali menekuni kertas-kertas kontrak yang harus aku pelajari diatas meja sambil bergumam,”Biasa aja.”

“Yeah, aku tidak akan mendebat pendapatmu. Jadi empat negosiasi goals dan satu yang lost.

Aku menganggukkan kepala tanpa menoleh kearahnya. Aku mendengar dia mendengus dan menggerutu,”Memangnya wanita itu tidak bisa professional dalam bekerja.” Aku hanya diam tidak menanggapi. tiba-tiba aku menghentikan kegiatanku dan mengangkat kepala,”Jadwalku minggu ini ada yang kosong tidak ?”

Keenan membuka iPad yang sedari tadi ada ditangannya nampak mengecek jadwalku kemudian menggeleng singkat sebelum menyebutkan jadwal mingguanku,”Seminggu ini Full. Tiga hari mengunjungi beberapa panti asuhan dan yayasan di beberapa daerah, dua hari harus menghadiri meeting dengan beberapa relasi kita dan satu hari melihat langsung pengerjaan hotel kita yang baru di Bali , dan beberapa undangan makan malam. Minggu depan free kok. Kenapa ? Punya rencana lain ?”

Aku berfikir sebentar kemudian mengangguk,”Minggu sore saja temani aku ke Klaten.” Keenan mengangkat alisnya,”Bukannya minggu lalu baru saja dari sana. Sudah secepat itu kangen sama abah ?” Aku tertawa mendengarnya,”Kali ini aku punya urusan penting.” Keenan menyimpitkan matanya,”Urusan apa itu ?” Aku mendengus,”Kepo banget sih.”

Keenan berdiri dari duduknya,”Pergi saja sendiri kalau begitu.” Aku mendelik, kadang suka lupa kalau punya asisten yang suka seenak jidatnya sendiri tidak peduli yang dihadapi adalah bos besarnya sendiri. “Kamu ini menjengkelkan ya !!!”semprotku. Keenan, sahabatku sejak sekolah dasar itu menggangkat bahunya acuh dan berbalik keluar kembali ke ruangannya. Aku menghela nafas dan menggelengkan kepala heran.

Keenan adalah saksi hidup bagaimana aku berjuang keras keluar dari keterpurukanku. Dia mendukungku sepenuhnya dan tidak pernah menghakimi atau men-judge apapun yang aku lakukan tapi walau begitu dia akan langsung mengutarakannya padaku jika ada sikapku yang tidak dimengertinya. Prinsip kami berbeda begitu pula keyakinan kami tapi aku atau sebaliknya dia, akan maju lebih dulu jika ada yang mengganggu kami. Keenan sudah seperti saudara kandungku sendiri lebih dari kedua adikku dirumah.

Aku sampai saat ini maaih terus memberinya pengertian tentang gaya hidup bebasnya dan nampaknya hidayah itu belum sampai ke padanya tapi aku berjanji oada diriku akan menjaganya seperti dia yang menjagaku setelah kecelakaan itu saat aku harus menjalani perawatan, terapi dan trauma. Tidak seperti dia.

Aku memejamkan mata dan memijit pelipisku. Aku pikir dulu dia yang terbaik. Aku mencintainya dan dia nampaknya juga mencintaiku namun kecelakaan itu membuka topeng yag ternyata disimpannya rapat-rapat. Tentang prilakunya dan perasaannya padaku. Entah aku harus bersyukur atau tertawa miris. Sekarang aku sudah mengikhlaskan semuanya sejak aku hanya memikirkan bagaimana cara mencintai Allah dengan sebenar-benarnya.

Sungguh berbeda. Mencintai sesama manusia lebih banyak menimbulkan penderitaan tapi tidak jika kita mencintaiNYA. Alasannya simple karena apapun yang terjadi Allah SWT tidak pernah meninggalkan kita. Allah lebih dekat daripada pembuluh darah di leher kita.

Aku tersenyum kemudian kembali menekuni pekerjaan rutinku selama beberapa jam lagi lalu pulang ke rumah nyamanku. Rumah ramai yang memberiku ketenangan. Aku mengambil bolpoint berniat membubuhkan tanda tangan disalah satu kontrak kerja ketika Keenan menyeruak masuk kembali dengan tergesa-gesa. Aku memandanginya smabil menberyit heran dengan tingkahnya yang sempat membuatku kaget tadi.

“Anastasia. Dia melakukan panggilan video call langsung dari Vancouver,”Pekiknya sambil bergegas memasang sambungan iPadnya pada televisi layar datar super besar tidak jauh dariku. Aku mengeryit,”Ada perlu apa dia ?” Keenan bergumam disela kesibukannya,”Kita akan tahu apa maunya kalau kita sudah bertatapan wajah dengannya Ibrahim.”

Aku memutar bola mataku dan berdiri dari dudukku berpindah ke depan dan bersandar pada meja kerjaku menunggu panggilan itu tersambung. Jangan sampai Anastasia mengenakan pakaian minim seperti waktu itu. Keenan kemudian berdiri disebelahku.

Layar itu menampilkan sebuah ruangan luas menghadap ke sebuah meja besar dan seorang wanita cantik dan elegan berambut blonde berdiri sambil tersenyum tipis. Tanpa sadar aku menghela nafas dan mengalihkan tatapanku dan hampir tertawa geli melihat ekspersi Keenan yang ternganga. Kudengar wanita itu tertawa renyah disana. Aku kembali fokus ke layar dan dia sedang memandnagiku dengan senyuman lebar.

“Apa kamu tadi sempat berfikir bahwa aku akan berpakaian seksi seperti tempo hari, Zay ?” Tanyanya sambil tertawa geli. Aku menggelengkan kepalanya, heran dengan sikapnya saat ini,”Tidak ada salahnya waspada.” Anastasia melipat kedua lengannya di dada,”Well, aku sudah tahu kalau kau bukan laki-laki seperti yang lain yang memuja-mujaku seperti asisten tampanmu itu,”selorohnya sambil menunjuk Keenan yang masih nampak bengong. Aku menoleh dan menyikut lengannya menyadsrkan. Dia tersemyum lebar dan maju selangkah,”Kamu memang pantas di puja Anastasia.” Aku langsung mendnegus mendnegarnya dan wanita itu tertawa membahana.

“Kerja sama kita tidak terjadi kamarin. Kali imi apa yang membuatmu menghubungiku ?”tanyaku langsung. Wanita itu berdeham,”Sebelumnya aku akan meluruskan satu hal. Kemarin aku tidak bernaksud menggodamu Zay. Aku hanya ingin membuktikan bahwa rumor tentangmu itu benar.”

Aku mengangkat alia heran,”Rumor ?”

Anastasia mengangguk.”Pengusaha berkelas yang tampan dan sangat religius. Aku tidak begitu saja percaya dan aku membuktikannya kemarin.” Anastasia memandnagiku heran,”Kamu benar-benar pergi meninggalkanku tanpa menoleh lagi dan membuatku nampak menggelikan Zay.”

Aku menghela nafas dan tersenyum tipis,”Seharusnya kamu tidak usah melakukan hal itu An.” Anastasia mengangkat bahunya,”Aku penasaran. Oke lupakan hal itu. Aku masih tetap akan bekerja sama denganmu perihal pembangunan resort di pulau Hawai yang kamu miliki itu. Untuk teknisnya kita akan bicarakan lagi nanti. Bagaimana ? Masih mau bekerja sama denganku ?”

Aku terdiam sejenak. Anastasia terlihat mengedipkan mata genit ke arah Keenan. aku mengabaikanny dan masih memikirkan perihal kerjasama itu.

“Apa kamu sudah memiliki kekasih ?” Keenan tiba-tiba mengeluarkan suara dengan jurus senyuman mautnya yang memang menghipnotis semua kaum hawa. aku menatapnya sambil menggelengkan kepala. Anastasia berderai dengan tawanya,”Kalaupun aku memiliki kekasih, aku akan meninggalkannya demi memiliki senyuman memikatmu itu Keenan.”

Keenan tersenyum penuh kemenangan dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana jasnya,”Tunggu aku datang Anastasia. Kamu tidak akan menyesalinya.” Anastasia mengerling nakal,”Jangan lama-lama tampan.”

aku menghembuskan nafas kesal ke arah Keenan yang hanya bisa nyengir lalu fokusku beralih ke Anastasia yang duduk di atas meja kerjanya dengan anggun,”Oke. KIta akan membahasnya lagi nanti saat bertemu dan aku ingatkan An, jangan melakukan hal aneh seperti tempo hari atau kesepakatan kita batal. AKu bisa dengan mudah mencari relasi yang lain untuk menggantikan perusahaanmu.”

Deal,“sahutnya enteng. aku tersenyum,”Oke. KIta sudahi pembicaraan ini sebelum kamu bertambah jauh menggoda asistenku.” Keenan melotot kearahku dan Anastasia tertawa menggelengkan kepalanya,”Jangan lupa bawa dia ke Vancouver, Zayn. Aku sudah tidak sabar.”

“Tunggu aku, My Lady.” aku memutar bola mata kesal dan langsung mematikan sambungan video call itu dan keluar dari ruanganku. Keenan berteriak nyaring,”See, Ibrahim. Aku akan menakhlukan wanita itu.”

Aku mengabaikannya dan berjalan keluar ruangan meninggalkannya. sudah sejak dulu laki-laki itu seperti ini. Seorang playboy yang paling diminati di kalangan sosialita dan sudah berkali-kali juga aku memperingatkannya. Aku hanya bisa berdoa agar dia segera berubah karena aku tidak mau dia menyesal di kemudian hari.

><

“Zayn, akhirnya kamu datang juga.” Mami berjalan cepat dari tangga di tengah ruangan ke pintu utama setelah melihat kedatanganku. Aku berjalan dengan tergesa,”Kenapa lagi dia Mam ?”tanyaku sambil merangkul Mami dan membawanya ke lantai dua menaiki tangga sprial menuju salah satu kamar si kembar. Mami menghembuskan nafasnya lelah, aku menoleh dengan bingung dengan kerutan dalam,”Patah hati lagi.” Mami mengganggukkan kepalanya aku mencelos,”Tuh anak ngak kapok juga.”

“DIa lagi berduka Zay. Nasihati pelan-pelan nanti dia ngembek berkepanjangan,”Mami mengingatkan. aku hanya bisa menghela nafas. Sampai di depan sebuah pintu berwarna pink dengan aksesories berbagai macam tempelan magnet wajah boyband Korea yang aku tidak tahu apa dan tulisan ” Arians Room ” ditengahnya. Aku melepas rangkulanku dan mengetuknya pelan,”Kitty, ini abang.” Aku terdiam sejenak tidak mendengar respon yang di dalam. Aku mengetuk lagi,”Kitty, abang masuk ke dalam ya.”

Aku membukanya perlahan kemudian berdiri kaku seraya mengepalkan tangan diambang pintu begitu juga Mami saat melihat pemandangan mengerikan. Arians mencoba untuk menyayat nadinya sendiri dengan sebuah cutter tajam yang sudah menggores beberapa centimeter kulitnya menampakkan cairan merah yang lumayan banyak. Aku langsung berlari dan merebut cutter itu dari tangannya dengan kasar. Mami menjerit dengan hebohnya mencoba untuk memeluk Kitty yang nampak menahan sakit dengan wajah sembab sehabis menangis. setelah menjauhkan benda terkutuk itu aku mendekatinya.

“Kitty, kamu apa-apan sih. Ayo kerumah sakit,”ujarku cepat dan berniat menggendongnya. namun tangisan Kitty yang meraung dengan nyaringnya membuatku terdiam. Mami sudah memeluknya dengan kencang. Aku menggertakkan gigi dan menolehkan kepala ke seluruh ruangan dan mengambil cepat sebuah kaos hitam di atas tempat tidur dan mencoba untuk menghentikan darah di lukanya yang untung tidak sampai menggores nadinya hanya kulitnya. Kitty masih histeris dan aku menamparnya membuatnya langsung terdiam dari kehiterisannya dan nampak shock begitu pula Mami.

Aku berjongkok di depannya yang masih terisak dan merapikan anak rambutnya yang terjuntai di depan wajahnya,”Kitty, jangan pernah lakukan hal ini lagi.” Kitty memandangiku dengan linangan air mata,”Alva sudah berjanji untuk tidak menggoda perempuan lain abang tapi kemarin aku melihatnya mencoba mencium seorang wanita penghibur di pub.” Aku menghela nafas lalu berdiri dan duduk di sebelahnya membawanya kepelukanku,”Abang sudah bilang, dia itu cowok brengsek. Kenapa kamu pertahanin sih ?”. Aku merasakan Kitty menggelengkan kepala,”Aku mencintainya Abang.”Darahku rasanya mendidih. Astagfirullah. AKu memejamkan mata mencoba meredakan gemuruh amarah itu.

Mami keluar dari ruangan sedangkan aku masih memeluk Kitty dan memegang luka di tangannya lalu mengelus kepalanya,”Kamu itu cantik sayang. Kamu bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dia.” Arians melepas pelukannya dan menatapku,”Aku sudah pernah mencobanya tapi aku tidak bisa melupakannya. Aku harus bagaimana abang ?”tanyanya. Aku mencubit pipinya,”Kita akan mencari jalan keluarnya tapi berjanjilah satu hal pada abang.”

Kitty terdiam menunggu lanjutan kata-kataku,”Jangan pernah. Sekalipun jangan pernah lakukan hal bodoh seperti ini lagi. Bahkan jangan sedikitpun terbesit lagi di dalam kepalamu. Kamu mengerti ?”

Kitty menganggukkan kepalanya. Aku tersenyum dan kembali memeluknya erat,”Kamu satu-satunya adik perempuan abang. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Papi, Mami bahkan Allians kalau kamu nekat dan kami terlambat menolongmu. Mami akan bersedih sepanjang hidupnya sayang.”

Aku merasakan pundak Arians bergetar karena tangis yang coba ditahannya ketika mendnegar kata-kataku. Aku mencium puncak kepalanya dan memejamkan mata. Sungguh, pemandangan tadi membuatku seketika menjadi seorang kakak yang tidak berguna. kalau sampai Arians kenapa-kenapa, mungkin aku akan menyesalinya seumur hidupku karena merasa tidak becus menjaga keluargaku sendiri. Aku sibuk dengan urusanku tapi tidak mencoba untuk menjaga mereka.

“KITTY !!!!”teriakan itu membuatku membuka mata dan menemukan Allens berdiri dengan wajah keruh dan nafas yang naik turun. Aku tersenyum dan melepaskan pelukanku membuat Arians seketika menghambur ke dalam pelukan saudara kembarnya dan kembali menangis di sana. Aku berdiri dan melihat Allens mencoba menenagkan saudaranya dengan ribuan kata maaf dan penyesalan karena tadi dia tidak ada disamping Arians. Setelah agak tenang, Allensmemapah Arians dan merebahkannya di tempat tidur hingga Mami datang bersama dokter keluarga untuk mengobati Arians. Aku dan Allens memlih keluar dalam diam. Sampai diujung tangga menuju lantai bawah, adik laki-lakiku itu menepuk bahuku. Aku menoleh dan menemukan tatapan amarahnya,”Aku akan mencari bajingan itu Abang. AKu tidak akan membiarkannya lagi.”

Aku menggelangkan kepalanya,”Tidak usah. Abang yang akan mencarinya dan tugasmu hanya mengawasi Arians mulai saat ini. Kamu mengerti AL ?”. “Tapi….”Aku langsung menggeleng tegas,”Tidak ada tapi. Ikuti kata-kata abang.”

Allens mengacak rambutnya kesal dan menendang pintu tidak jauh dari sana. Aku menghela nafas dan mendekatinya,”Dengar Al,abang punya rencana dan kamu harus menyetujuinya demi adikmu.” Al menatapku dengan mantap lalu menganggukkan kepala,”Apapun itu demi Kitty, aku akan melakukannya abang.”

“Bagus. Nanti abang jelaskan tapi sekarang abang harus pulang dan mencari si brengsek itu.” Al mengangguk. Aku tersenyum dan menepuk bahunya. Aku tahu bahwa aku bisa mengandalkan Al untuk menjaga adiknya. Lalu berbalik untuk turun menuju ruang tamu. sampai diambang pintu , Al berteriak,”Abang Zay. Wakilkan aku untuk menonjok wajahnya.” AKu tertawa dan mengacungkan jempol tanganku kearahnya sebelum menghilang di balik pintu menuju motor besarku terparkir.

><

Aku masuk kesebuah pub yang hingar bingar mencoba mencari seorang cowok yang aku tahu sering nogkrong bersama temannya disini. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh sudut mencoba mencari-carinya dan masuk semakin ke dalam. Semua orang nampak bergembira. Ada yang asik berjoget mengikuti dentuman musik beat yang diputar, beberapa orang asik menyesap berbotol-botol alkohol dan lebih banyak yang sedang bercumbu dengan wanita-wanita berpakaian minim penghuni abadi pub ini.

Dalam hati aku berdecak dan mengucapkan Astagfirullah berulang kali melihat semua kekacauan ini. Andai saja mareka semua bisa melihat seperti apa siksa kubur dan siksa neraka itu, niscaya mereka semua pasti akan bertobat memohon ampun. Mungkin karena mereka tidak bisa melihat seusatu yang sudah jelas namun kasat mata bagi mereka sehingga begitu terlena dengan dunia ini. Dunia yang dulu pernah aku jalani dan aku sudah menghabiskan setiap malam untuk menangisinya.

Aku melihat seorang cowok sedang tersenyum pada wanita cantik dengan gaun seksi dan ketat yang ada di hadapannya di sebuah sudut bar. Wanita berambut coklat panjang itu terlihat membentaknya tapi cowok itu mencoba untuk merayunya. Tidak lamaa pertengkaran mereka selesai dan wanita itu pergi dari sana berlawanan arah denganku dan tidak menyadari kehadiranku. Aku tidak bisa melihat wajahnya sampai dia menghilang di pintu toilet.

Aku melangkah pelan dengan kepalan tangan kuat mendekati cowok brengsek yang sudah berkali-kali melukai hati adikku.

“Alva,”kataku dingin. Cowok itu menoleh kearahku dan melotot. Dia terlihat sangat terkejut kemudian berniat balik badan dengan tergesa. Aku tidak akan membiarkannya pergi begitu saja setelah apa yang dia lakukan. Aku mencengkram erat kerah kemejanya dari belakang membuatnya tidak bisa kemana-mana. Aku menariknya dan membawanya hingga tersudut di ujung sofa dekat dinding.

“Kamu mau apa ?”cicitnya. Aku berdecak dan melipat kedua lenganku di dada,”Aku mau membuat perhitungan karena kamu telah melukai Arians.” Dia berdiri menantang,”Aku tidak peduli lagi pada perempuan manja dan cengeng itu. Dia sudah …..” Aku menonjok wajahnya sekali membuatnya mundur ke belakang. Dia memandangiku sambil memegangi pipi dan hidungnya yang lebam.

“Aku tidak peduli denganmu. AKu peringatkan !!! Kalau sekali lagi aku melihat kamu menemui dan melukai Arians maka aku akan mengejarmu sampai menemukanmu bahkan keujung dunia sekalipun.”

“Kamu hanya membual,”dia berteriak lantang mencoba menyamai suara musik beat yang membahana. Aku tertawa dan mendengus,”Ibrahim Zayn tidak pernah main-main. Lebih parahnya lagi aku bisa membuat perusahaan ayahmu bangkrut hanya dalam satu malam. Kamu mengerti ?”

Alva terdiam cukup lama dan menatapku horor dan terkejut dengan ancaman utamaku. Aku tahu setelah ini dia tidak akan berani lagi menemui atau mengganggu Arians. Mana sanggup dia hidup jika perusahaan ayahnya sumber pendapatannya untuk foya-foya hilang begitu saja. Aku menojok wajahnya sekali lagi kemudian berbalik berniat keluar dan pulang. Sudah cukup banyak drama yang terjadi hari ini. Rasanya begitu lelah luar biasa.

Aku sudah berbalik dan berniat melangkah ketika aku mendnegar suara yang nampak familiar itu. Suara seorang wanita.

“Alva, wajahmu kenapa ?”wanita itu nampak panik dari suaranya.

Aku berbalik dan terpaku melihat wanita itu menempel pada Alva dan memeluk lengan laki-laki itu yang masih nampak memegangi wajahnya dengan tangan lain yang juga memadangiku. Apa-apan ini, batinku bingung.

Wanita itu lebih dulu beraksi dan menyebut namaku dengan lirih,”Ibra.”

Aku tersenyum tipis menatap matanya dengan keterkejutan yang sama. Kejutan yang tak pernah aku sangka sebelumnya.

“Medina. KIta berjumpa lagi,”lirihku.


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset