The Magical episode 5

Chapter 5

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang pun kamu tidak mengetahui.” – Al -Baqarah [2]: 216.

Medinna Nayyara POV

Pub Nineteen, Jakarta

Aku menatap mata biru yang menghujamku itu dengan pandangan terkejut. Aku tidak pernah menyangka bahwa laki-laki yang tadi terlihat adu cekcok dengan Alva adalah dia. Dalam hati aku mengerang. Dari sekian banyaknya tempat di Jakarta, kenapa pertemuan kami yang kedua kalinya harus di tempat seperti ini dan keadaan yang bisa membuatnya salah paham ini.

Shitt, ngapain juga aku harus peduli apa pendapatnya ketika melihatku seperti ini.

Mengingat pertemuan pertama kami yang bisa dibilang tidak meninggalkan kesan yang sweet , aku yakin pertemuan ini akan berakhir sama dengan dia meninggalkanku.

Aku berdeham, masih mencoba menatap matanya yang sama sekali tidak teralihkan dariku dengan suara yang aku sendiri tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena aku lebih fokus merasakan dadaku yang bergemuruh hebat ketika bisa berjumpa dengan laki-laki bermata biru itu lagi.

“Ibra.”

Untuk sesaat dia hanya diam, kemudian tersenyum tipis masih nampak terkejut. Aku tidak tahu apakah dia masih mengenaliku atau tidak.

“Medina. Kita berjumpa lagi,”lirihnya yang bisa aku dengar jelas. SHITT.

Aku melepas peganganku pada Alva karena kekhawatiranku tadi yang melihat bekas lebam di wajahnya. Aku bisa diamuk sama Stephani kalau dia pulang dalam keadaan seperti ini. Aku menatap Alva dan Ibra bergantian,”Kalian saling kenal ?”tanyaku. Alva mendengus,”Tante juga kenal si brengsek ini…” kata-katanya terhenti karena mendapatkan tatapan tajam dari Ibrahim. Aku bahkan juga sempat bergidik ngeri melihatnya.

Well, Medina. Aku tidak menyangka akan menemukanmu disini walaupun seharusnya aku tidak perlu kaget. Jadi kamu berkencan dengan berondong ?”tunjuknya dengan tatapan tajamnya ke arah Alva.

Aku sedikit salah tingkah,”Tidak. Hubungan kami…” aku mengatupkan bibirku melihat tangannya yang terangkat ke atas menyuruhku berhenti berbicara,”Urusanku memberi peringatan pada cowok brengsek itu sudah selesai. Aku bisa melihat dengan jelas hubungan kalian berdua dan kamu tidak perlu menjelaskannya,”dia tersenyum tipis dan berdecak.

“Ingat peringatanku itu Alva. Jangan pernah lagi temui Arians. Ingat itu !!!!” ucapnya dengan nada dingin. aku hanya mempu terdiam tidak mengerti dengan apa yang dibicarakannya. Aku masih sedikit shock dengan kata-katanya yang sebelumnya ditujukan padaku. Aku melihatnya menatapku sebentar dengan pandangan sendu sebelum berbalik dan pergi keluar dari pub. Aku menatap kepergiannya dengan pandangan nanar. Jangan pergi, sebagian dari diriku menginginkannya untuk tetap dsini.

“AHHH RESEE!!!!!!” Alva berteriak disebelahku setelah menendang sofa dibelakang kami. Aku berbalik menatapnya sambil menyilangkan kedua tanganku,”Kali ini masalah apa yang kamu buat,Alva ?”. Dia menatapku sekilas sebelum menjatuhkan diri di sofa dan berdecak,”Aku membuat adiknya patah hati dan hampir bunuh diri tadi siang.” Aku ternganga mendnegarnya dan mengerjapkan mata. Aku mendekatinya dan melepak kepalanya keras dengan tanganku.

“AWW!!!!”teriaknya sambil menatapku tajam lalu berdiri,”Kenapa tante ikut-ikutan mukul sih ?”. Aku menunjuk mukanya,”Apa yang sebenarnya ada di dalam otakmu ini,HAH !!!”teriakku sambil menunjuk dahinya dengan marah,”Pantas saja dia marah seperti itu. Masih untung kamu masih hidup.”

Dia bersungut kesal,”Arians itu cewek manja yang terlalu baik tante. Aku ngak bisa ngimbangin dia karena itu kamarin aku merayu seorang gadis di sini dan dia melihatnya,”erangnya sambil mengacak-acak rambutnya. Aku menggelengkan kepala,”Kamu ini baru lulus sekolah,Va. Setahu tante mama dan papa kamu dulu kelakuannya ngak kayak kamu gini. Mau jadi playboy ?”aku masih menatapnya dengan heran.

Dia mengedumel,”Mereka memang ngak seperti aku tapi pergaulan mereka dulu lebih bebas makanya lulus SMP sudah punya anak kayak aku.” AKu melepak kepalanya lagi,”Kamu ini ya. Walaupun begitu seharusnya kamu masih bersyukur, mereka ngak ngaborsi kamu tahu ngak !!!” Alva diam dan duduk di sofa. AKu menghela nafas dan duduk disebelahnya,”Walaupun begitu mereka sangat mencintai kamu. Orang tuamu masih lengkap dan mereka saling mencintai walaupun masa lalu mereka dulu seperti itu. Kamu harus minta maaf sama cewek itu ?”

Alva menoleh dengan ekspresi kaget dan menggeleng keras,”Ngak akan.” AKu berdiri dan mengambil tasku lalu menoleh kembali padanya yang masih melihatku dengan heran,”Sebaiknya kita pulang. Mamamu pasti ngamuk sama tante kalau ngelihat anaknya pulang dalam keadaan kayak gini tapi mamamu harus tahu apa yang terjadi.”

Alva melotot melihatku. aku berbalik dan melangkah pergi keluar dari pub meninggalkannya di sana tapi aku tahu dia pasti akan mengikutiku keluar sebentar lagi. aku menghela nafas dan memijit pelipisku ketika mengingat tatapan dingin Ibra tadi.

><

AKu menyadari hidupku saat ini sudah terlampau kacau tapi aku tidak peduli. Rasanya sudah tidak ada sesuatu yang membuatku bisa memandang segala hal seperti dulu lagi. Biarlah aku tersesat karena aku sudah tidak memiliki tujuan. Biarlah diriku sendirian karena tidak ada yang akan menerimaku lagi. Aku sudah mengubur semuanya saat itu, sebulan setelah kecelakaan pesawat yang telah merenggut semua orang yang aku cintai tanpa sisa dan menyadari bahwa mereka tidak akan pernah kembali lagi untuk menerangi hidupku.

Aku membuang siapa aku, aku menumbuhkan kebencian itu di dalam diriku, aku mengubah diriku berbanding terbalik dengan Nayya yang dulu dan aku mungkin akan tetap terus seperti ini sampai kematian merenggutku. Tidak tertolong . Kesakitan ini hanya aku simpan sendiri dan aku tidak mau mereka mengetahui kelemahanku dan mengoyak luka itu semakin dalam. Aku bisa berjuang sendiri tanpa bantuan siapa-pun. Hidup dalam dunia yang aku tahu hanya ada hitam dan putih di dalamnya. Suram.

Abah Sulaiman dan Helena, adalah dua orang terpenting dalam hidupku setelah keluargaku. Mereka menyayangiku dan sangat memperhatikanku. sahabat baik ayah yang selalu menganggap aku sebagai anak dan adik bagi mereka. Namun sekali lagi, aku sudah tidak bisa melihat semua itu seperti dulu lagi. AKu akan marah jika mereka menasehatiku macam-macam dan mengancam akan kembali pulang ke Vancouver. Aku masih mengingat dengan jelas tatapan sedih mereka berdua ketika aku memilih menginap di rumah teman dekatku, Stephanie selama di Jakarta karena aku tidak mau membuat mereka malu dengan kelakuanku yang seperti ini. Walau bagaimana pun aku tidak bisa mencoreng nama mereka karena tingkah lakuku yang urakan.

Seminggu setelah kedatanganku ke Jakarta, aku belum diperbolehkan pulang. Mereka menyita dengan paksa semua dokumen-dokumenku untuk kembali dan berjanji akan mengembalikannya secepatnya. AKu tidak bisa membantah ketika abah sendiri yang mengatakannya dan aku melampiaskannya dengan pergi ke pub seperti malam itu saat aku kembali bertemu dengan laki-laki bermata biru yang nampak dingin melihatku. Aku menghela nafas dan meminum orange juice yang ada di depanku sedari tadi.

“Dasar remaja labil. Kemarin yang minta putus eh sekarang katanya kangen berat. Gimana sih !!”

Aku menoleh dan menemukan Phie, mamanya Alva duduk di sebelahku setelah mengomel sendiri. Aku terkekeh,”Kayak ngak pernah muda aja.” Dia menoleh dengan wajah keruh,”Punya anak laki satu-satunya tapi kelakuan kayak gitu.” Aku mengangkat bahuku,”Masih dihukum ?”. Phie menyandarkan tubuhnya sambil membuka majalah fashion terbaru yang menumpuk di bawah meja,”Dia lagi ngerayu Jona buat ngembalikan semua fasilitasnya. Biar kapok tuh anak.”

Aku tersenyum tipis sambil memandnag kejauhan kearah hamparan kebun bunga luas milik Phie yang terawat indah. Temanku ini sungguh beruntung walaupun menjadi orang tua diusia sangat muda namun dia memiliki suami yang begitu sangat mencintainya. Aku tidak heran sih karena aku yakin Jona pasti sangat beruntung memiliki wanita disebelahku ini sebagai istrinya.

Mereka menikah muda dan Jona harus kerja keras sambil melanjutkan sekolahnya untuk membiayai hidup mereka dan anak dalam kandungan mereka waktu itu. Aku bisa mengingat semua perjuangan mereka dengan sangat jelas. Sungguh tekanan yang mereka dapatkan bukan hal yang bisa ditanggung sendirian tapi cinta membuktikan segalanya. Tidak sedikitpun Phie mencoba untuk meninggalkan suaminya saat masalah keuangan menghimpit dan itulah yang membuat Jona, begitu sangat kerasnya bekerja hingga dia bisa seperti sekarang ini menjadi seorang pengusaha yang sukses, memiliki keluarga yang lengkap dengan dua orang anak yang tampan dan cantik. Sungguh beruntung.

“Nay,” panggil Phie.

“Hmm,”jawabku tanpa mengalihkan pandanganku.

“TIdak usah kembali ke Vancouver,”katanya setelah sempat terdiam. AKu menolehkan kepala,”Aku sudah bilang jangan terus-terusan membahas ini.” Dia menghela nafas dan menutup majalahnya dan memandangiku. AKu mendengus,”Jangan menatapku dengan tampang kasihan seperti itu. Hidupku baik-baik saja disana.” Phie menggelengkan kepalanya,”Aku tahu sejak dulu kamu tidak baik-baik saja Nay. Aku sangat mengkhawatirkanmu.”

Aku membuang muka,”TIdak usah pikirkan aku. Nyatanya kamu melihatku kembali dengan utuh kan ?” jawabku dingin.

“Nayya bukan seperti ini. Aku tahu tragedi itu begitu melukaimu Nay tapi cobalah berdamai dengan Tuhan.” Aku sontak menoleh k erahnya dengan geram,”Kamu ngak usah ikut campur. Itu urusanku sendiri dan kamu tidak perlu mengungkitnya Phie. Aku sudah mati-matian berusaha untuk tetap hidup walaupun aku sudah tidak tahu lagi untuk apa sebenarnya aku hidup saat ini,”aku menahan mati-matian air mata sambil memandnaginya. Phie mendekat dan memelukku sambil terisak,”Semuanya memiliki alasan Nay. Aku mengerti dengan sangat bagaimana menderitanya dirimu tapi jangan bersikap seperti ini.”

aku membuang muka dan terdiam di dalam pelukan Phie yang sesugukan. Aku ingin percaya, seperti dulu tapi sekarang semuanya mengabur. Aku sudah tidak bisa melihat semuanya dengan jelas bagiku sekarang aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan. Phie melepas pelukannya dan menatapku dengan sendu,”Kamu tahu kan aku akan selalu ada buat kamu begitu juga dengan abah dan Aisyah. Jangan merasa sendiri.”

Saat ini aku sendirian walaupun mereka menyayangiku tapi aku memang merasa sendirian di dunia ini. aku tersenyum tipis,”Maafkan aku Phie. Aku sudah tidak mempercayai apapun setelah semuanya direnggut dariku dengan tiba-tiba.”

Phie menggelengkan kepalanya dan aku mengintrupsi apapun yang hendak dikatakannya sambil berdiri,”Aku akan ke kediri karena mereka sudah memintaku untuk kembali dan aku akan secepatnya balik ke Vancouver. Terimakasih banyak Phie dan sampaikan salamku untuk Jona dan kedua anakmu.”

Aku tersenyum lemah dan dia hanya memandangiku dalam diam. Aku berjalan masuk ke dalam rumah besar itu dengan perasaan kebas. Mungkin aku memang sudah tidak bisa diselamatkan.

><

“Nanti seseorang akan melamarku Nay.”

Aku sontak menoleh ke arahnya dengan ekspresi kaget,”Seriusan ?”tanyaku. Helena menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Aku mendekatinya yang sedang duduk di sebuah pondokan tengah sawah, tempat dimana sedari tadi kami berada. Aku duduk disebelahnya,”Siapa dia ?”tanyaku penasaran.

“Seseorang yang aku temukan di Vancouver beberapa minggu lalu saat menjemputmu,”jawabnya sambil terlihat menerawang. Aku ternganga,”Bagaimana bisa ?”

Dia menoleh dan tertawa,”Tentu saja bisa. Allah bisa melakukan segalanya bahkan yang tidak mungkin sekalipun.” Aku mencebik,”Bisa tidak mengembalikan anakku ?”tanyaku sarkas. Helena menatapku sendu. Aku tertawa sambil menggelengkan kepala,”Tidak bisa kan ?”

Helena menggenggam tanganku,”Allah tidak pernah memberi umatnya cobaan yang tidak bisa ditanggung Nay. Semuanya sudah digariskan dan tragedi itu sudah menjadi bagian dari takdirmu.” Aku memalingkan muka menghindar dari tatapan lembutnya,”Kenapa ?” tanpa sadar air mataku menetes. Pertanyaannya hanya satu, Kenapa ?

“Itu rahasia besar Allah dan kamu pasti akan mengetahui jawabannya nanti,”lanjutnya. Aku menundukkan kepala sambil tertawa miris,”Aku tidak peduli lagi. ”

Aku mendengar helaan nafas Helena. Dia melepas genggaman tangannya kemudian berdiri. aku mengangkat kepalaku dan menemukan tatapan keteduhannya disana,”Kamu akan mengerti nanti Nay. Bagaimana kalau kita pulang sekarang karena calon suamiku sudah menungguku dirumah.”

Aku terdiam dan menatapnya heran,”Dari mana kamu tahu ?”. AKu berdiri dan mengikutinya berjalan kearah sepeda kami terparkir melewati sawah-sawah yang padinya sudah menguning. Helena menoleh sedikit masih sambil berjalan,”Aku hanya tahu saja.” AKu berdecak tapi tetap mengikutinya. Gamis dan jilbab panjangnya berkibar indah dibelai angin sore yang berhembus pelan. Tanpa sadar aku berjalan sambil mengamati saudaraku itu. Sungguh beruntung laki-laki yang bisa menikahinya dan yang pasti bukanlah laki-laki sembarangan.

Seorang bidadari penghuni syurga sepertinya pasti memiliki calon suami yang luar biasa. Tanpa sadar aku tersenyum dan tidak sabar untuk melihat siapa laki-laki yang akan meminang saudaraku itu, Aisyah Helenafi Azizah.


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset