The Magical episode 6

Chapter 6

“Takdir selalu bisa mengejutkanmu dengan caranya sendiri. Entah bisa diterima atau tidak.” – unknown

Ibrahim Zayn POV

Kediri

Santai,bro.  Calon istri lo ngak akan kemana-mana.”

Aku menoleh ke samping menemukan tatapan jahil Keenan lalu kembali fokus dengan jalanan di depanku mengabaikan candaannya. Tadi siang kami baru saja sampai di Kediri dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah Aisyah. Disana sudah menunggu Abah Alfi sebagai perantara niatku untuk mengkhitbah Aisyah sebagai calon istriku. Aku tersenyum memikirkan semua itu dan merasa sangat yakin kalau Aisyah pasti akan menerimanya.

“Cieh, sudah senyum-senyum aja.” Keenan lalu memfokuskan pandangannya padaku dengan sedikit merubah posisi duduknya. Aku tetap fokus dengan jalanan di depanku.

“Tapi,Zay. Apa kamu memang sudah semantap itu sampai harus secepat ini memutuskan lamgsung menikah padahal baru bertemu sekali ?”tanyanya dengan serius. Aku tersenyum tahu dengan pasti kebingungan sahabatku itu.

“Seharusnya sudah beberapa minggu yang lalu kita kesini tapi pending  karena aku harus ngurusin kepindahan Arians sama Allens dulu,”aku melirik sekilas Keenan yang masih memandnagiku serius menunggu lanjutan kata-kataku,”Aku sudah memantapkan hatiku bahkan sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu.”

“Kenapa kamu bisa seyakin itu ? kenalan dulu kek atau pacaran dulu kek ?”tanyanya lagi. AKu tertawa dan menepuk bahu kanan Keenan beberapa kali.

“Pacaran tidak ada dalam kamus hidupku lagi,Nan. Aku yakin karena niatku untuk menyempurnakan separuh agamaku dengan seseorang seperti Aisyah, wanita taat yang sejalan dan setujuan denganku. Untuk apa lagi aku berlama-lama kalau tidak langsung ambil tindakan untuk mengkhitbahnya. Nanti malah duluan dilamar laki-laki lain.”

Keenan manggut-manggut tapi wajahnya masih nampak belum puas. Aku tersenyum,”Kami ngak akan langsung menikah kok tapi ta’aruf dulu untuk saling mengenal. ”

“Aku bisa melihat kemantapanmu dari wajahmu yang berseri-seri itu. Aku yakin dia pasti sangat cantik,”Keenan merebahkan punggungnya di sandaran kursi dan menatap jalanan didepannya.

“Tentu saja dia cantik dan semakin cantik dan bersahaja karena auranya. Kamu akan melihat perbedaannya nanti. Bandingkan saat melihat wanita cantik yang seksi dan wanita cantik yang memang benar-benar cantik dari dalam.”

“Hmmm,aku bisa langsung membayangkan wanita seksinya tapi untuk wanita yabg satunya aku masih belum bisa membayangkannya,”gumamnya.

Aku tertawa sambil membelokkan mobilku masuk kesebuah desa yang masih asri. Sawah-sawah yang padinya sudah menguning siap untuk dipanen dilatarbelakangi dengan perbukitan indah dikejauhan memanjakan mata kami. Aku menatap takjub semua pemandnagan yang tersaji dan menurunkan kaca mobil disebelahku dan langsung merasakan angin segar membelai wajahku. Sangat menyegarkan.

“Jadi cinta pada pandangan pertama ?”tanyanya lagi.

“Apa sih definisi cinta menurutmu ?”aku menoleh dan balik bertanya.

Keenan mengerutkan dahinya berfikir lalu menatapku,”Perasaan kuat untuk menjadikan seseorang milik kita.”

“Itu cinta pada umumnya. Namun Cinta itu juga berbahaya jika diletakkan tidak pada tempatnya.”

Aku melihat alis Keenan terangkat heran dan aku membalasnya dengan senyuman lalu menghela nafas,”Jangan sampai cinta menjadikanmu seorang tawanan dalam penjara hawa nafsumu sendiri. Cinta yang sesungguhnya itu hanya ditujukan untuk Sang Pencipta.”

“Bukankah cinta membuat kita bahagia ? Sepertimu tadi yang sudah senyum-senyum sendiri karena akan melamarnya ?”tanya Keenan.

“Niatku menikahinya untuk menyempurnakan separuh agamaku Keenan. Nantinya kami berdua akan bersama-sama mengejar cinta yang lain. Cinta yang lebih sejati. Cinta yang hanya ditujukan kepada Sang Pencipta.”

“Jadi salah kalau kita mencintai sesama manusia ?”

AKu tertawa,”Tentu saja tidak tapi kamu harus tahu porsinya karena cinta yang seperti itu tidak bisa menjamin apa-apa. Jangan sampai cinta membuat matamu buta dan menganggap bahwa dia adalah segala-galanya di dunia ini hingga kamu yakin tidak akan hidup jika dia tidak ada. Cinta seperti itu yang berbahaya dan salah. Itu masuk dalam taraf memuja. Bagiamana bisa kita menyandarkan hidup kita begitu saja pada orang lain kalau yang menjadi sandaran itu juga membutuhkannya.”

Aku mengklakson pelan beberapa anak-anak yang nampak tengah bermain dipinggir jalan untuk minggir ,”Intinya cinta dan pemujaan itu seharusnya hanya ditunjukan untukNYA.”

Keenan manggut-manggut. Aku menambahkan,”Aku harap kamu bisa memahaminya Keenan dan mulai memikirkan masa depanmu. Aku tidak akan mengguruimu karena kamu sudah dewasa tapi aku hanya mengingatkan untuk tidak bermain-main terlalu lama. Tidak akan ada manfaatnya selain sakit hati dan keburukan lainnya yang mengikuti.”

Keenan tertawa dan menganggukkan kepalanya,”Thanks Bro. Kamu perhatian banget sama aku.” AKu memutar bola mataku lalu tertawa.

Dikejauhan aku melihat sebuah masjid berdiri kokoh ditengah-tengah rumah-rumah penduduk. Abah Alfi bilang kalau Abah Sulaiman memiliki sebuah pesantren tepat di belakang masjid besar itu. Seminggu yang lalu aku datang ke Klaten dan mengutarakan niatku hingga membuat Abah terkejut terlebih gadis itu adalah anak dari sahabat beliau sendiri. Walaupun begitu Abah menyetujuinya dan akan melamarkannya untukku. Juga beberapa nasihat yang diberikan oleh beliau yang beberapa hari ini begitu aku resapi.

“Ibrahim, Kelemahan kita manusia adalah tidak mengetahui takdir kita sendiri. Tugas kita mendapatkan takdir yang terbaik dengan doa dan ikhtiar. Sekarang itulah yang harus kamu lakukan Nak.” Abah menatapku sejenak lalu tersenyum,”Apapun hasilnya nanti, diterima atau tidaknya kamu harus tahu bahwa semua itu sudah menjadi ketetapanNYA.”

Saat itu aku mengerti dan menganggukkan kepala dan kemudian memikirkannya. Kemungkinan itu tetap ada walaupun aku harus yakin bahwa Aisyah bisa menerimaku sebagai calon suaminya. Aku dengar dari abah kalau beberapa bulan silam, Aisyah pernah dilamar oleh seseorang dan akan segera melangsungkan pernikahan namun ternyata seminggu sebelum pernikahan itu terjadi calon suaminya meninggal dunia karena kecelakaan.

Semuanya pasti memiliki alasan dan ketetapanNYA sudah pasti mutlak. Apapun yang terjadi aku akan ikhlas dan tidak berhenti berdoa semoga semuanya bisa berjalan sesuai dengan keinginan hati. Tapi aku tahu betul Allah SWT yang maha membolak-balik hati.

Mobil yang aku kendarai akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana dua lantai dengan pekarangan yang asri. Tanaman cantik dan segar tertata rapi sebagai penghias. aku tahu berada di dalam sana pasti membuat siapapun akan betah dan nyaman. Aku mematikan mesin mobilku, menatap sekilas Keenan yang menganggukkan kepala dan menepuk bahuku menyemangati yang aku balas dengan senyuman lalu kembali melihat rumah itu.

Aku terdiam sejenak lalu menutup mataku dan membaca basmalah, hamdalah dan puji-pujian untuk Allah SWT, membaca shalawat dan salam kepada Muhammad SAW lalu berdoa dengan sungguh-sungguh apa yang menjadi keinginanku.

Beberapa saat kemudian aku membuka mata dan mengusap wajahku dengan kedua tangan lalu mengangguk pada Keenan dan berbarengan keluar dari mobil.

Semoga seorang wanita yang menghuni rumah itu sudah ditetapkan menjadi takdirku kelak, menyempurnakam agamaku dan ibu yang baik bagi anak-anakku.

><

Wajahnya begitu meneduhkan dan auranya sama sekali tidak bisa aku hindari. Wanita cantik bergamis biru itu duduk disebrangku hanya dibatasi sebuah meja panjang tempat minuman dan beberapa   kue tersaji. Dia menundukkan pandangannya kebawah sedari tadi mungkin menyadari aku tidak bisa berhenti menatapnya. Tangannya saling bertaut seperti orang yang nampak gelisah. Mungkin dia kaget, terkejut atau gugup seperti aku saat ini.

“Ehhmmm,”Ayahnya yang duduk tepat disebelahnya berdeham. Aku tersadar dan mengalihkan pandangan seraya tersenyum. Abah Alfi disampingku terkekeh geli begitu juga dengan Keenan di kursi paling ujung menikmati kegugupanku.

“Terimakasih atas kedatangan dan niat Nak Ibra jauh-jauh dari Jakarta untuk mengkhitbah putri saya. Sebelumnya saya tidak menyangka bahwa laki-laki yang belakangan ini terkenal dimedia sosial karena tausiyahnya ternyata adalah anak angkat dan didik abah Alfi. Kami tadi sudah mengobrolkan banyak hal sebelum nak Ibra datang. Kalau boleh tahu kapan nak Ibra bertemu putri saya ?”

Aku tersenyum ketika menjawabnya,”Sejujurnya hanya sekali saat di Vancouver.”

Abah Sulaiman menganggukkan kepala dan sekilas meilirik anak gadisnya,”Hanya sekali ya padahal setahu saya Aisyah selalu datang ketika nak Ibra menjadi pembicara.”

Aku tersentak kaget dan memandnagi Aisyah yang menatapku degan senyuman tipis sebelum kembali menundukkan pandangannya. Aku sama sekali tidak tahu fakta itu. Perasaanku menghangat ketika mendengarnya.

“Saya tidak tahu abah.”

“Tentu saja kamu tidak akan memperhatikannya diantara manusia-manusia itu,”Abah Alfi menimpali.”lebih baik utarakan saja mas apa yang perlu dia ketahui agar tidak semakin berlarut-larut.”

Aku menoleh ke abah disebelahku dengan pandangan heran. Abah menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.

“Hmm, jadi gini nak. Sebelumnya kami mau minta maaf.”

Tubuhku kaku dan tanpa sadar aku mengepalkan kedua tanganlu yang aku letakkan diatas kedua pahaku. Tegang dan gelisah. Aku harap ini bukan jawaban yang buruk.

“Kami minta maaf karena tidak bisa menerima lamaran Nak Ibra.”

Aku sempurna membeku dan kecewa. Aku menatap Abah Sulaiman dnegan kerutan dalam melihat mata penuh kesenduan itu lalu beralih melihat Aisyah yang semakin menundukkan wajahnya.

Aku menelan salivaku dengan susah payah sebelum berbicara,”Kalau boleh tahu apa alasannya ?”

“Seseorang sudah datang terlebih dahulu untuk melamar Aisyah dan putriku menerimanya.”

Aku mengerang dan mwnyandarkan punggungku ke belakang. Abah Alfi mengelus bahuku,”Jangan kecewa Nak. Allah telah memilihkan takdir yang lain untukmu.”

Aku menatapnya dan tersenyum lalu mengangguk,”Iya abah aku hanya kecewa tapi aku tahu aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Tetaplah berdoa dan berikhtiar,”pintanya. Aku mengangguk lagi dan menatap kedepan dan tatapan nata kami beradu. Aisyah tersenyum,”Saya minta maaf mas.”

Aku duduk tegak dan ikhlas menerima semuanya. Aku tersenyum,”Tidak apa-apa Aisyah. Saya hanya datang terlambat.”

“Hmm Nak Ibra. Ada satu hal yang ingin saya sampaikan. Mungkin terdengar aneh dan membingungkan tapi saya ingin minta pertolongan.”

Aku mengerutkan dahi bingung,”Apa itu abah ?”

“Ada seorang wanita yang tersesat dan butuh pertolongan. Dia adalah anak angkat saya, anak dari sahabat saya. Saya berharap bahwa Nak Ibra bersedia menjadi penolongnya ?”abah menatapku dengan pandangan sendu dan diliputi kesedihan yang mendalam. Kudengar Aisyah terisak pelan. Aku semakin bingung tidak mengerti.

“Kenapa harus saya yang menolongnya ?”tanyaku.

Abah Alfi yang kini menjawabnya,”Nak, takdir satu orang kadang  bisa berdampak juga bagi takdir orang lain. Kita manusia tanpa sadar saling berhubungan walaupun tidak pernah saling mengenal. Seperti yang kita ketahui setiap kejadian didalam hidup kita terjadi karena sebuah alasan walaupun kita tidak mengetahuinya.”

Aku terdiam mencoba mencerna perkataan abah. Sejujurnya aku semakin bingung.

“Coba kamu pikirkan dulu Nak sebelum menolaknya. Aisyah nanti akan menjelaskanya padamu. Abah memintamu untuk menolongnya dan itu akan menjadi ladang pahalamu Nak.”

Tidak ada lagi yang bisa aku katakan selain menganggukkan kepala. Abah tersenyum,”Saya tahu bahwa kamu seseorang yang bisa menolongnya.”

“Sejujurnya saya belum mengerti tapi saya akan mendnegarkan dan memikirkannya. Saya tidak tahu apakah saya bisa menolongnya atau tidak.”

“Tidak apa-apa. Pikirkan saja dulu.”

Aku mengedarkan pandangan keseluruh area ruang tamu namun tidak menemukan siapa-siapa. Aku menoleh kembali ke abah,”Siapa wanita itu ?”

Gurat kesedihan itu kembali nampak diwajah beliau,”Namanya Nayya. Dia seorang janda.”

Aku tersentak kaget tidak menyangka dengan apa yang baru saja aku dengar.

“Dia akan pulang sebentar lagi. Tunggulah sebentar dan lihatlah sendiri bagaimana dia.”

Aku terpaksa menganggukkan kepalaku walaupun aku sudah gelisah tidak tahu harus bagaimana. Niat awalku sebelumnya adalah datang untuk melamar Aisyah tapi malah berakhir seperti ini. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang sedang dipersiapkan untukku.

Aku penasaran dan aku membutuhkan jawabannya segera.

“Abah, aku mau pu……”

Seruang wanita dari arah ointu membuat kami serempak menoleh padanya. Aku terdiam dan sempurna membeku. Pemandnagan yang kulihat disana membuatku mengerang. Wanita itu mengenakan celana selutu dipadukan dengan kaos pas badan berwarna hitam yang menampilkan lekukan badannya. Wajahnya nampak kaget dengan rambut yang diikat keatas asal-asalan.

Aku langzung teringat dengan pertemuan terakhir kami di pub malam itu. Aku lamgsung berdiri dan menatapnya dengan pandangan tidak suka. Wanita itu sangat terkejut lalu mengedarkan pandangannya dan tatapannya kembali ke arahku.

“Ibrahim, apa yang kamu lakukan disini ?”tanyanya dengan ekspresi bingung.

Aku berdecak,”Kamu sendiri sedang apa disini Medina ?”

Kami saling beradu tatapan tidak suka sebelum abah Sulaiman membuyarkannya dan membuat kami kembali spot jantung.

“Kalian sudah saling kenal rupanya. Baguslah kalau begitu. Nayya, sopan sama tamu dirumah kita. Laki-laki ini , Ibrahim Zayn yang akan menjadi calon suamimu.”

Aku reflek berbalik menghadap abah Sulaiman sedangkan Medina berdiri disebalahku dengah bingung.

“Nak Ibra, kenalkan anak kedua saya. Medina Nayyara. Calon istrimu.”

“WHATTTT !!!!!” Teriakan Medina membahana diseluruh ruang tamu. Sedangkan aku hanya bisa berdiri terpaku tidak bisa merespon apapun.

Sungguh, aku tidak pernah menyangka takdir pertemuan kami akan berakhir menjadi seperti ini. Aku tentu tidak akan bisa menerimanya begitu saja. Wanita ini tidak seperti Aisyah dan aku akan berushaa menolaknya bagaimanapun caranya.


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset