The Magical episode 7

Chapter 7

“Tubuh hanyalah cangkang, bejana bagi jiwa. Penyerta untuk sementara waktu. Tapi saya akan meninggalkannya begitu saya tiba . Tiba – bukan pergi. Karena disanalah rumah saya. Bukan disni. Itulah sebabnya Allah SWT memanggil jiwa-jiwa yang diridhainya dengan – kembalilah.” – Reclaim your heart.


Medina Nayyara POV

Ini namanya malapetaka.

SHIT !!!!

Aku menatap bergantian antara Abah, Helena lalu ke laki-laki yang berdiri disebelahku yang menampilkan ekspresi keras diwajahnya. Aku mengerjapkan mata menganggap bahwa berita yang tadi hanyalah sebuah candaan belaka. Aku mendekat dan duduk melipat satu kaki kiriku diatas kursi menghadap ke abah dan mengayun-ayunkan lengannya,”Abah lagi bercandain Naya kan ?”

Abah menggelengkan kepalanya lalu mencubit hidungku keras. Aku seketika menjerit karena rasa sakit yang ditimbulkan akibat cubitannya. Wajah serius abah membuatku seketika terdiam membeku.

“Nay, abah ini sudah tua. Sebentar lagi Aisyah akan menikah dan abah tidak akan membiarkan kamu diluar sana hidup tidak jelas.”

Aku menyela,”Tidak abah. Naya tidak bisa menerima keputusan sepihak ini. Naya hanya sebentar saja disini seperti apa yang kalian janjikan dan akan segera kembali ke Vancouver. Hidup Naya disana abah.”

Abah menggelengkan kepalanya dan mengelus puncak kepalaku lembut. AKu mengerang karena melihat air mata yang perlahan mengalir dari kedua mata pria paruh baya yang sudah menjadi ayah keduaku selama ini.

“Nay, abah tidak mau merasa bersalah dan berdosa karena membiarkan kamu tetap seperti ini. Kamu butuh pendamping dan pembimbing Nay dan abah tahu dia laki-laki yang tepat.”

aku menggelengkan kepala sekilas melirik Ibra yang masih terpaku menatapku dari tempatnya berdiri dengan aajah kaget campur bingung. Aku beralih ke Helena yang sejak tadi hanya diam saja menyembunyikan wajahnya.

“Kamu sudah berjanji bahwa aku bisa kembali ke Vancouver Helena. Kenapa kamu lakukan ini padaku ?”lirihku menatapnya penuh kecewa. Helena terisak lalu mencoba untuk memelukku,”Aku melakukannya karena sangat menyayangimu Nay. Kamu harus kembali bahagia.”

Aku menepis pelukannya seraya berdiri. dia sedikit kaget dan termundur kebelakang begitu juga abah yang langsung berdiri dari duduknya. aku mundur sambil menggelengkan kepala menatap semua mata yang memandangku kasihan dan penuh iba disana. Aku menunjuk Ibra dengan kebencian yang mendalam dan menumpahkan kekesalanku,”Aku tidak akan pernah bersedia untuk menikah dengan laki-laki ini jika apa yang dilakukannya hanya karena ksihan terhadapku.”

Aku mencoba menahan tangisanku ketika melihat raut wajah laki-laki itu melunak dan tatapannya begitu sendu. Aku berdecih,”Jangan pandangi aku seperti itu Ibrahim Zayn. Aku tidak butuh belas kasihmu atau apapun darimu. You’re a stranger. Tidak ada orang yang akan aku biarkan mengatur hidupku lagi.”

Ibra tersentak dengan perkataanku. Dia menatapku penuh tanya,”Apa maksudmu Nay ? Kamu harus tahu bahwa aku juga kaget dengan itu semua dan tidak pernah menyangka bahwa kamu adalah Nayya yang mereka maksud. Dan lagi kamu memang benar, kamu juga orang aaing bagiku dan kuharap tetap begitu.”

Aku teridiam sesaat mendnegarnya dan seketika rasa sakit didada ini berdenyut. Kecewa dan mengerti disaat bersamaan. Aku berusaha mengabaikan hal itu dan memandnagi Ibra tajam,”Kalau begitu katakan ke mereka kalau kamu menolaknya.”

Abah berusaha mendekat dan aku bergerak mundur,”Nay jangan seperti ini. Abah mohon kembalilah. Nak Ibrahim setuju untuk memikirkannya Nay.”

Aku tertawa sarkas,”Untuk apa abah ? Apa abah akan menceritakan padanya kisah hidupku lali dia akan merasa kasihan kemudian bersedia menikah denganku. Aku yakin kedatangannya kesini adalah untuk bertemu dengan Helena kan ? Iya kan bah ? Kenapa kalian harus mencampuri hidupku.”

Aku sudah berlinang air mata dengan tangan yang gemetaran. Apa lagi yang dilakukan seorang Ibrahim, laki-laki yang tampan dan religius dengan status belum menikah ke rumah ini kalaau tidak dengan niat melamar Helena tapi sayangnya wanita itu sudah menerima pinangan laki-laki lain kemarin dan sekarang dia harus dipaksa memikirkan pernikahan konyol itu. Aku yakin Ibrahim pasti akan menertawakan semuanya setrlah keluar dari rumah ini.

“Aku memang tidak mengertj kenapa jadi seperti ini tapi aku sudah berjanji pada Abah dan Aisyah untuk mendnegarkan dan memikirkannya. Jangan beranggapan buruk dan tidak-tidak tentangku Nay,”Ibra menatapku langsung kemanik mata.

“Bukan aku tapi kamu yang sejak awal sudah menganggap aku wanita yang buruk dan alu tidak peduli pendapatmu Ibrahim. Ngak usah repot-repot memikirkannya karena pernikahan itu tidak akan pernah terjadi,”kataku tajam. Ibrahim terdiam.

Lalu seorang pria paruh baya lain ikut berdiri dari duduknya bersamaan dengan seorang laki-laki yang sejak tadi hanya diam memperhayikan. Pria iti mendekat dan tersenyum padaku.

“Nay, kami bermaksud baik. Ini jalan keluarmu untuk kembali Nay. Percayalah.”

Aku tertawa membahana sambil mengegelenglan kepala. Kuhapus sisa air mataku dengan kasar dan menatap Helena lalu Ibra dengan perasaan benci. Dengan nafas tertahan aku menekankan setiap suku kata yang keluar dari bibirku.

“Medina Nayyara yang dulu sudah lama mati.”

Aku tersenyum miring lalu berbalik ke arah pintu dan lari keluar rumah tidak mempedulikan panggilan mereka. Aku sudah muak diperlakukan seperti ini. Mereka hanya kasihan dan iba karena hidup mereka tidak seperti hidupku yang berantakan. Aku berjalan tidak tentu arah mengikuti kemana kakiku melangkah. Yang pasti menjauh dari mereka semua.

><

Langit rasanya seperti menertawakan kepedihanku. Hujan menderas sejak sore tadi membuatku tertahan dihalte bis. Curahannya tidak main-main derasnya. Awan kelabu menggantung pada langit yang biasanya biru. Bahkan langit yang selalu cerah dan menyilaukan memiliki kesedihannyas sendiri.

Dulu aku beranggapan bahwa hujan adalah bentuk dari frustasi langit melihat kami semua yang dibawah sini terlalu sombong dalam memainkan peranan sebagai manusia. Diatas langit masih ada langit bahkan memiliki beberapa lapisan seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Kadang hujannya membahagiakan tapi juga banyak yang memporqk porandakan. Tetap saja kami semua butuh hujan untuk banyak hal terlebih ada satu hal menarik yang mengikuti setelahnya, pelangi.

Mungkin mereka mempertanyakan kenapa aku harus begitu menyiksaa diri menjadi seseorang yang bukan diriku seperti ini. Meraka tidak tahu bahwa ini semua adalah bentuk rasa kecewaku, frustasiku terhadap permainan takdir. Dan aku sudah tidak oeduli dengan apapun. Lw git bahkan menyelamatiku dengan memnurunkan curahan hujannya yang taj terbendung serta dinginnya udara yang menusuk kulit.

Kuanggap kepedihan memang akan selalu mengikutiju kemanapun tidak peduli bahwa aku sudah teramat lelagph dan tidak kuat,

Aku mengedarkan pandangan seraya memeluk badanku dengan kedua tangan mencoba untuk menghalau dingin yang menggigilkan tulang terlebih saat ini aku hanya menggunakan kaos tipis. Aku menyandarkan tubuhku di pojokan dekat pilar dinding halte dan menatap keramaian didepanku. Sudah beberapa bis lewat tapi aku hanya mengabaikannya saja. Aku hanya ingin diam seperti ini tidak ingin melakukan apapun. Mungkinkah aku sudah mulai lelah untuk tetap berusaha hidup ?

Sejak sore tadi aku sudah menyaksikan berbagai macam hal disekitarku. Aku mengabaikan tatapan mata dan bisikan mereka yang mungkin menganggap bahwa aku orang stress yang butuh pertolongan. Kenapa semua orang menganggap bahwa aku haruz segera ditolong ?

Saat ini aku sedang melihat seorang ibu bersama anak gadisnya sedang berbincang sambil menunggu angkutan umum atau bus yang lewat. Sepertinya si anak baru saja lulus SMP dilihat dari wajah imut dan polosnya. Tanpa sadar aku tersenyum mengingat ibuku sendiri di masa lalu. Seketika jiwaku melayang pada beberapa tahun silam saat hidupku begitu sempurna.

Beliau adalah seorang muslimah sejati. Sejak kecil diajarkan oleh almarhum nenek dan kakek untuk menutup aurat dengan kerudung, menjaga prilaku dan perangainya dan mengajarkan segala hal tentanh kewajiban seorang wanita. Semua ilmu itu juga diajarkan kepadaku sejak aku masih kecil. Sekolah dipesantren, hidupku hanya seputar beribadah dan berbakti pada kedua ornag tuaku. Teman sepermainanku hanya Helene karena kami memang tumbuh dilingkungan yang sama. Kedua ornag tua kami bersahabat sebelum mereka memutuskan untuk hijrah ke Medan. Aku melakukan semua hal itu dengan ikhlas tahu bahwa mereka mempersiapkanku menjadi seorang wanita penghuni syurga seperti hayalan yang selalu ada dikepalaku.

Aku tumbuh dewasa dengan bimbingan ibu yang berperan penting untuk hidupku karena itu aku begitu mencintainya. Beliau panutanku dalam memberikan contoh yang sempurna bagaimana hidup di dunia yang katanya hanya sementara ini. Hingga seorang laki-laki yatim piatu yang juga seorang lulusan pesantren yang sama denganku dan bekerja di Jakarta datang dan mengkhitbahku.

Aku memejamkan mata membiarkan air mata itu mengalir. Pada laki-laki bernama Muh. Haikal Alfian, aku menyerahkan hidupku untuk dibimbing olehnya. Sejak pertama melihatnya datang aku sudah terpikat dan ketika tahu dia melamarku aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Sosok laki-laki lembut namun tegas, penyabar, seorang hafiz qur’an dan imam masjid. Bagiku laki-laki itu sempurna.

Kami menikah dan aku tidak membutuhkan apapun lagi. Semua kebahagiaanku berkumpul disana. Aku merindukannya, aku mencintainya dengan seluruh sendi hidupku. Dia yang terbaik yang Tuhan berikan untukku. Walaupun ternyata ada hal lain yang diberikan olehNYA yaitu kehadiran jagoan kecil kami.

Aku semakin terisak ketika mengingat sebentuk wajah menggemaskan yang tidak oernah lepas dari pelukanku. Jagoan kecil yang memikatku dan aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untuk menjaganya, memberinya yang terbaik dan berusaha membuatnya bahagia. Aku masih mengingat dengan jelas semuanya. Rasanya seperti masih terjadi kemarin bukan bertahun-tahun yang lalu.

Aku menutup mulutku untuk meredam tangisanku. Tidak peduli bahwa beberapa oasang mata menagapku ingin tahu. Aku sudah terjebak dalam kenangan itu dan aku sama sekali tidak mau pergi. Hanya itu yang aku miliki dan aku mencintai setiap menitnya.

Masalahnya selain kenangan teramat indaj itu, memoriku juga mengingat dengan jelas tentang penderitaan setelahnya. Ketika aku tidak bisa ikut rombongan keluargaku ke Medan karena harus menyelesaikan masalah yayasan yang aku miliki. Aku dengan bodoh yz membiarkan mereka berjalan menuju kematian tanpa aku didalamnya. Meninggalkan aku hanha bisa menangis histeris di bandara beberpaa jam setelah pesawat itu terjatuh disamudra luas tak terbatas.

Aku hancur berkeping-keping. Aku retakan yang tidak akan bisa disatukan lagi karena kepingan-kepingan miliku tersebar disamudra tanpa belas kasih itu. Bahkan dari puluhan manusia aku hanya tahu hanya ada satu orang yang selamat dari kecelakaan itu. Manusia beruntung. Aku tahu bahwa hidupku seketika sudah berakhir.

Mereka tidak akan pernah kembali lagi padaku. Kepingan kebahagiaanku telah menghilang didasar samudra. Dan aku jatuh dalam kegelapan yang menyiksaku bertahun-tahun.

Sakit itu semakin menyesakkan dada. Aku sudah tidak kuat menanggungnya. Isakanku semakin hebat. Aku berdiri dengan susah payah diatas kedua kakiku dan bergerak maju keluar dari halte dan disambut guyuran hujan yang menggigilkan. Aku tidak memoedulikan derasnya hujan. Aku tidak peduli. Beberpaa langkah berjalan menjauh dari halte, kegelapan menyelimutiku.

Aku terjatuh ke bumi bersamaan dengan derasnya hujan dan petir yang menggelegar. Mausk semakin dalam ke kegelapan tak berujung. Aku hanya ingin satu hal. Aku berharap bahwa aku tidak akan pernah bangun lagi.


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset