The Magical episode 8

Chapter 8

You are the love I need
The One who is guiding me
And You know my destiny
For You are The Light

And You are My Life – Harris J

Author POV

Dua malam berturut-turut, hujan deras mengguyur kota Kediri. Membuat sebagian orang bisa tidur lelap ditemani oleh gemericiknya suara hujan bagai nyanyian pengantar tidur. Bagi orang yang lainnya, hujan bagaikan sembilu yang menemani mereka dalam melewati fase kesakitan akibat dari banyak hal. Itulah yang dirasakan oleh seorang laki-laki yang juga sudah dua hari ini menangis diatas sajadah panjangnya disepertiga malam.

Begitu banyak hal yang menghimpit dadanya begitu juga yang disesalinya. Dia tahu bahwa rasa bersalah itu memang belum sepenuhnya menghilang dalam dirinya dan kejadian beberapa hari ini semakin membuatnya terpukur. Jatuh dalam lubang penyesalan itu sekali lagi.

Ibrahim tidak pernah menyangka, kejadian itu kembali menjadi momok hitam yang memunculkan wujudnya lagi dihadapannya setelah dirinya dengan susah payah berusaha bangkit dan mencoba memperbaiki diri dari yang awalnya rusak menjadi sedikit lebih baik. Allah SWT kali ini mengujinya untuk melihat sudah sejauh mana selama ini dia berbenah diri untuk mencintaiNYA dan Ibrahim tidak bisa menghindari takdirnya sekali lagi.

Setelah tangisan panjang beberapa jam lalu, Ibrahim masih duduk diatas sajadahnya dengan sebuah jurnal yang terbuka dihadapannya. Pada foto seorang wanita cantik bergamis syar’i warna biru matanya terpaku. Sungguh dia tidak pernah menyangka, wanita yang tidak sengaja bertemu dengannya didalam pesawat waktu itu adalah wanita yang sama dengan yang ada didalam foto.

Sama tapi sekaligus berbeda. Dan luka yang telah mengubahnya begitu menjadi sangat jauh dan berbeda dari dirinya yang dulu. Ibrahim benar-benar tertohok jiwa dan raganya.

Dia sekarang mengerti arti kegelisahan wanita itu dan mengerti bahwa memang inilah jalannya untuk bisa lulus dimata Allah setelah segala hal yang dia relakan pergi demi menjadi manusia yang taat dijalanNYA.

Ibrahim sadar dan ikhlas lahir dan batin untuk menerimanya.

Ibrahim menghela nafasnya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Masih mengenakam baju koko dan sarungnya dia duduk bersandar pada ranjang dihotel temoatnya menginap dua hari ini. Jurnal itu sudah ada dipangkuannya dan sudah sejak kemarin dia buka berulang kali. Dan air matanya tidak pernah tidak mengalir jika sudah membaca semua yang ada disana.

Ingatannya kembali ke hari itu. Hari dimana dia dokagetkan dengan hasil dari acara lamarannya. Alih-alih mendapatkan Aisyah justru yang dia dapatkan adalah kenyataan pahit ini.

Setelah kepergian Medina, Ibra yang memang juga emosi dan terlalu kaget dengan apa yang terjadi sebelumnya berniat untuk pulang karena jelas lamarannya sudah ditolak dan tidak ada alasan lagi untuknya berada ditempat itu walauoun abahnya meminta untuk memikirkan perihal menikahi Medina. Saat itu dia berfikir bahwa dia akan melakukan banyak hal untuk mencoba menolak permintaan itu dengan halus. Nyatanya sekarang semua itu menjadi tidak mudah.

“Mas, boleh kita bicara sebentar ?” Aisyah memanggilku saat aku hendak masuk kedalam mobil. Tatapannya mengiba dan aku masih bisa melihat dengan jelas sisa dari air matanya untuk saudaranya yang seenaknya itu. Aku berpandangan dengan Keenan lalu kemudian mengangguk.

Aisyah membawaku kesebuah bangku panjang dibawah pohon rindang tidak jauh dari rumahnya dengan sebuah jurnal dipangkuannya. Untuk sesaat kami hanya berdiam diri sampai aku tidak sadar telah bertanya hal yang membuatku penasaran.

“Siapa laki-laki itu dek ?”tanyaku.

Aisyah nampak terkejut dan kulihat pijar penyesalan dimata hitamnya. Dia mengangkat wajahnya dengah seulas senyum,”Dia sessorang dari masa laluku mas. Dulu aku pernah berbuat salah padanya. Niat baiknya tidak aku sambut dengan baik dan malah menyakitinya dengan memilih laki-laki lain. Beberapa minggu lalu aku tidak menyangka akan kembali bertemu dengannya. Aku pikir bahwa dia sudah membenciku namun nyatanya saat Allah memberiku kesempatan untuk mengetahui banyak hal disitu aku bisa melihat takdirku mas. Aku memasrahkan diri dan meyakini jika memang dia jodohku, Allah pasti akan menunjukkan jalannya. Ternyata dia datang kembali dan langsung melamarku. Lagi.”

Aku tercengang sesaat mencoba memahami penjelasannya. Dia menundukkan pandangannya,”Aku menjelaskannya karena merasa bersalah mas.”

Aku mengulas senyum,”Tidak apa-apa Aisyah. Aku hanya ingin tahu saja siapa laki-laki itu.”

Aisyah menatapku dan menganggukan kepalanya,”Mas akan mengetahuinya nanti tapi sekarang aku ingin membicarakan hal lain.”

Aku menghela nafas bisa menebak kemana arah pembicaraan ini. Aku memandnpang langit yang tiba-tiba saja disapu mendung diatas sana dan bergumam,”Kamu ingin membicarkan Medina kan ? Maafkan aku Aisyah, aku tidak tahu apakah bisa menerima saudaramu iti atau tidak?”

Medina mengehela nafasnya. Gurat kesedihan itu nampak diwajahnya. Aku hanya mampu memnadanginya saja. Tanpa menatapku dia menjelaskan banyak hal.

“Ada alasan kenapa aku rajin mendatangi tausyiah mas Ibra. Aku hanya ingin melihat langsung dan mendengar ceritamu tentang kejadian naas tiga tahun lalu itu. Saat itu aku berfikir bahwa mas orang yang sangat-sangat beruntung. Dari puluhan jiwa manusia yang ada didalah pesawat itu , mas adalah yang satu-satunya selamat walaupun mengalami cidera yang tidak ringan. Aku saat itu berandai, apa mungkin jika banyak dari mereka yang selamat termasuk orang-orang yang aku kenal baik, hidup seseorang tidak akan rusak seperti sekarang.”

Aku terkejut dan mengerutkan dahi,”Apa maksudmu dek ? Kamu kehilangan keluargamu dalam tragedi itu ?”

Aisyah menatapku dan menggeleng,”Bukan aku mas.”

“Ada alasan kenapa saudara yang aku cintai itu menjadi sosok yang seoerti ini. Aku tidak akan menjelaskannya panjang lebar karena itu aku ingin memberikan ini untuk mas.”

Aisyah mengulurkan jurnal itu kepadaku. Aku mengambilnya dengan wajah bingung dan tidak mengerti. Aisyah tersenyum lalu berdiri dari duduknya dan menatapku. Aku balas menatapnya dan melihatnya berlinang air mata.

“Tolong baca dulu jurnal itu mas sebelum mas memutuskan. Aisyah hanya meminta dengan sangat bahwa mas mau menolong saudaraku yang tersesat. Jurnal itu akan emnjelaskan banyak hal yang ingin mas ketahui. Semuanya ada dositu mas.”

Aku terdiam dan merasakan nyeri melihat air matanya menetes turun. Aisyah tersenyum disela isakannya,”Mas adalah orang yang bisa menolongnya. Aku tahu itu dan Allah juga telah memberikan tandanya karena ternyata kalian saling mengenal.”

“Kami hanya bertemu tiga kali sama hari ini Aisyah.”

“Itu sudah lebih dari cukup mas. Aku mohon tolonglah saudaraku mas Ibrahim.”

Ibrahim memejamkan mata dan menutup jurnal itu lalu memeluknya dan merebahkan kepalana diatas ranjang mencoba untuk mengahalau air matanya. Sesudahnya dia teringat dalam perjalananya pulang yang disertai hujan deras dan petir, dia membaca kenyataan pahit itu dan tidak berhenti membacanya dengan mata yang merah sampai Keenan menyadarkannya.

“Zay, lihat disana.”

Ibrahim mengangkat kepalanya dan menemukan sosok wanita itu. Meringkuk di sebuah halte bis dengan pandangan kosong. Wanita itu menangis dan terlihat memeluk dirinya sendiri seperti kedinginan. Ibrahim teehenyak sesaat. Memandnag antara foto dijurnal dengan sosok wanita rapuh yang ada disana. Banyak hal yang saat itu dipikirannya.

Lalu wanita itu berdiri dengan sedikit sempoyongn mencoba untuk menantang hujan hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek. Beberapa langkah dia berjalan, Medina terjatuh diatas aspal dingin dibawah guyuran hujan yang semakin menderas.

Tanpa pikir panjang Ibrahim langsung membuka pintu mobil berlari cepat mendekatinya dan langsung merengkuh tubuh rapuh wanita yang sudah tidak sadarkan diri itu dan membawanya kedalam mobilnya. Saat itu dibawah guyuran hujan, hatinya tersayat dengan hebatnha. Wajah Medina pucat pasi dan badannya begitu dingin. Wanita rapuh yang mencoba untuk menantang Tuhan dan dunia tempatnya berpijak. Saat itu Ibrahim tidak bisa membendung air matanya yang tersapu guyuran hujan deras yang mengaburkannya namun sakitnya terasa menusuk setiap sendinya.

><

Ibrahim POV

Rertaurant Bunda, Kediri

Aku tercengang dengan apa yang aku lihat sekarang. Wajahku mungkin sangat jelas menampakkan ekspresi kagetku hingga membuat laki-laki itu mengulas senyum dan berujar kata maaf. Laki-laki yang akan menjadi calon suami Aisyah saat ini tengah duduk dihadapanku juga bersama dengan Aisyah dan seorang sepupu Aisyah, Denni. Aku tidak pernah menyangka bahwa bumi memang sesempit ini. Keenan yang duduk disebelahku menyenggol lenganku yang sedari tadi hanya diam karena tidak menjawab pertanyaan laki-laki itu.

“Mas, jangan buat saya menjadi merasa bersalah dong. Saya minta maaf sebelumnya,”katanya.

Aku mengeryit heran,”Kenapa kamu harus minta maaf ?”

“Aku tidak menyangka mas akan melamar Aisyah.”

Aku tersenyum dan menepuk bahunya,”Jangan seperti itu Kellan. Aku memang kecewa tapi aku sudah berbesar hati untuk menerima. Dia takdirmu dan hadiah atas apa yang kamu capai saat ini. Aku tadi hanya tidak menyangka bahwa kamulah orangnya.”

Kellan tertawa dan sesaat berpandangan dengan Aisyah yang juga sedang tersenyum.

“Wanita yang aku ceritakan tempo hari itu adalah dia mas. Aisyah Helenafi Azizah. Dia yang awalnya membuatku masuk islam namun setelah dia menerima lamaran orang lain saat itu aku berfikir lebih jauh. Bahwa memang Islam lah agama yang aku yakini yang membuatku mantap dan juga tenang. Sejak itu aku berbenah diri karena tidak ingin kejadian itu terulang kembali dan juga aku ingin memantaskan diri dan mencintai Allah dan Rasulnya. Islam adalah agama yang akan aku bahwa sampai ajal menjemputku. Aku sudah berusaha walaupun aku muallaf.”

Aku tersenyum lebar,”Kamu luar biasa Kellan. Aku mengerti sekarang. Allah telah mendewasakanmu sekarang dan mengembalikan apa yang seharusnya kamu miliki. Aku pikir kamu masih di Vancouver ?”

Kellan menggelengkan kepalanya,”Saat kami bertemu saat itu di Tausiyah mas aku tercengang mendapati Aisyah ada disana. Aku pikir dia sudah menikah dan saat dalam perjalananku pulang ke Jakarta, kami kembali dipertemukan dipenerbangan yang sama dan duduk bersebelahan. Kami jadi mengobrol banyak hal. Saat itu aku menjanjikan akan databg kerumahnya secepatnya karena memang aku masih mencintainya.”

Aku tersenyum dan memandnag mereka bergantian. Ada perasaan hangat yang menjalar tanpa bisa aku cegah. Sungguh takdir benar-benar tidak pernah bisa ditebak. Obrolan kami terintrupsi saat makanan datang.

Ini hari ketiga dan aku meminfa Aisyah untuk datang karena aku ingin mengobrolkan sesuatu terkait Medina dan tidak menyangka akan bertemu Kellan yang tidak lain adalah calon suami Aisyah.

“Aku saat itu sedang menyeret paksa pulang Nayya mas,”Aisyah tiba-tiba bersuara. Aku terdiam,”Aku bertemu dengannya pertama kali dipesawat di dalam penerbangan kelas satu. Jadi kalian juga ada disana saat itu.”

Mereka berdua mengangguk bersama-sama.

“Aku berhasil membawanya pulang setelah dua tahun lebih pergi dari Indonesia. Dia mau ikut asal naik penerbangan kelas satu dan aku duduk dikelas ekonomi dan bisa bertemu dengan mas Kellan lagi.”

Aku tertawa sambil menggelengkan kepala,”Takdir yang luar biasa.”

Kami lalu menikmati sajian yang terhidang dalam diam. Aku sedikit gelisah lalu karena tidak bisa membendungnya lagi aku berdeham.

“Ehmm Aisyah, bagaimana keadaan Medina ?”tanyaku.

Aisyah sedikit kaget lalu senyumnya mengembang,”Dia masih istirhat total dirumah mas. Walaupun dia lebih banyak diam.”

Aku mengangguk lega. Aku menikmati makananku namun pikiranku kemana-mana. Aku sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Medina dan rencanaku setelah dari sini, kami akan sama-sama kerumah Aisyah.

“Mas sudah memikirkannya ?”Aisyah bertanya.

Aku tersneyum,”Sepertinya Medina perlu diyakinkan. Aku tahu dia pasti menolak keras.”

“Alhamdulillah. Makasih banyak mas. Aku bahagia sekali,”katanya dengan disertai air mata.

Aku hanya teesenyum melihatnya. Aisyah mengusap sisa air matanya,”Kalau urusan Medina, aku yang akan mengurusnya mas. Yang penting mas bersedia.”

Aku menganggukkan kepalaku lalu kami kembali melanjutkan makan disertai dengan obrolan ringan lainnya. Satu jam kemudian kami keluar dari sana dan pulang kerumah Aisyah bersama-sama.

><

“Kenapa kamu terima sih Zay ?” Keenan yang duduk disebelahku menumpahkan kekesalannya. Sedari tadi dia memang diam saja menyimak semua obrolanku dengan Kellan dan Aisyah. Saat ini kami sedang dalam perjalanan kerumah Aisyah beriringan dengan mobil Kellan didepan.

“Aku memiliki alasan tersendiri,”Kataku pelan.

Keenan mendengus,”Alasan apa yang membuatmu menerima wanita urakan seperti itu. Aku tidak setuju kalau kamu menikah dengannya. Kamu berhak mendapat yang lebih baik bukan wanita tersesat seperti dia.”

Aku mengeryitkan dahi mensnegar pendapatnya,”Dia harus ditolong Keenan dan aku sidah bersedia untuk menikah dengannya. Aku sudah memikirkannya. Dia tidak urakan tspi hanya tersesat.”

“Ingat tujuanmu kesini Zay. Tapi Aisyah sudah memilih laki-laki lain dan kita seharusnya kembali ke Jakarta bukan malah disini.”

“Beri aku waktu beberapa hari lagi. Oke ? Sampai aku bisa mendapatkan kepastian Medina mau menikah denganku.”

“Erghhhh dasar idiot,”umpatnya. Aku teetawa dan menggelengkan kepala,”Aku ngak idiot Keenan. Aku masih waras. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus dosaku.”

“Dosa apa yang kamu maksud ?”Keenan menatapku heran. Aku terdiam masih menatap jalanan lurus didepanku. Aku menghela nafas dan menoleh sebentar ke Keenan yang sedang menunggu penjelasanku.

“Medina dulu wanita sholehah,Nan. Dia seperti itu karena kehilangan seluruh keluarganya dalam tragedi pesawat itu. Semuanya Nan. Ayah dan ibunya. Saudara perempuannya, suaminya bahkan anak laki-laki satu-satunya. Dia sendirian Keenan dan aku merasa bahwa ini adalah caraku untuk menebus dosaku dimasa lalu.”

Keenan terdiam dengan keterkejutan diwajahnya,”Tapi kamu ngak salah Zay. Bukan kamu yang seharusnya menolongnya.”

“Aku Nan. Allah mempertemukan kami didalam pesawat waktu itu. Dia sangat gelisah dan terlihat sangat tidak nyaman. Waktu itu aku hanya bertanya-tanya sendiri dan sekarang aku mendapatkan jawabannya. Dan aku bertemu lagi dengannya untuk yang kedua kalinya.”

“Dimana ?”

Aku menghela nafas mencoba mengusir bayangan wanita berpakaian seksi yang aku lihat saat itu,”Di pub.”

Keenan mendengus,”Takdir macam apa ini Zay. Aku tetap tidak setuju. Pikirkan pendapat ornag tuamu.”

“Mereka harus bisa menerimanya karena ini sudah menjadi keputusanku.”

“Ergghh kamu memang keras kepala,”Keenan mengacsk rambutnya dengan kesal. Aku hanya bisa diam dan memikirkan bagaimana reaksi kedua orang tuaku nanti.

“Bukan kamu seharusnya yang menolongnya. Kamu juga korban dalam kecelakaan itu Zay walaupun hanya kamu satu-satunya yang selamat.”

“Justru itulah maksudnya. Allah pasti punya alasan lain kenapa aku diberi kesempatan kedua.”

“Kan kami sudah menebusnya dengan menjadi muallaf dan berbuat baik Zay,”Keenan berkata lirih nampak frustasi memandnagiku.

Aku tersenyum tipis,”Tidak hanya itu Nan. Sebelumnya aku pernah bertanya-tanya bagaimana caraku untuk menebus dosaku itu selain dengan mendirikan yayasan yatim piatu, menyantuni panti jompo dan berusaha untuk memperbaiki diriku yang dulu rusak.”

Aku menoleh dan tersenyum,”Sekarang Allah menunjukkan jalannya. Karena aku , Medina jadi seperti sekarang ini.”

“BUKAN KARENA KAMU ZAY,”Keenan berteriak.”ITU SUDAH TAKDIR.”

Aku sedikit tersulut emosi karena teriakannya walaupun memang apa yang dikatakannya tidak salah.

“AKU YANG SAAT ITU MENJADI PILOTNYA. SELAIN AKU TIDAK ADA YANG SELAMAT DARI INSIDEN ITU. DAN KAMU HARUS TAHU SETIAP MALAM AKU SELALU TERBAYANG-BAYANG DENGAN APA YANG TERJADI SAAT ITU.”

Aku menarik nafas kasar setelah teriakanku seraya mencengkram erat kemudi mobil. Keenan terdiam disampingku dan menghembuskan nafas lelah.

“Kamu memang yang mengendarai pesawat itu Nan tapi tetap aku merasa bukan kewajiban kamu atas nasib Medina. Tapi oke, aku tidak akan mendebatnya lagi kalau itu sudah jadi keputusanmu. Kamu tahunkan aku selalu mendukungmu. Aku hanya kesal dan sedikit tidak terima dengan semua ini.”

Aku beristigfar dalam hati lalu bergumam lirih,”Thanks Nan.”

Mobil memasuki area pesantren melewati deretan rumah penduduk. Saat melewati sebuah pematang sawah,mataku menangkap sosok yang tidak asing. Seorang wanita dengan gaun putih panjang dan rambut coklat indahnya yang tergerai di tiup angin sore sedang berdiri menatap kejauhan.

Aku menghela nafas dan seketika bayangan itu menjadi satu dengan bayangan seorang wanita yang kujumpai di pantai Vancouver saat matahari terbenam.

Ya Allah, apakah memang sudah menjadi takdir kami untuk bertemu dan bersatu dalam ikatan pernikahan ?


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset