The Magical episode 9

Chapter 9

“Allah menjawab semua doa – tapi tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan” – Reclaim your heart

Medina Nayyara POV

“Aku belum bisa kembali,Ab,”lirihku.

“Why Nayya ?”Abigail menekankan setiap katanya.

Aku mengusap air mata yang sempat turun dengan tanganku yang bebas. Yang bisa kulakukan hanya memandangi perbukitan dikejauhan dan mendengar semua yang diumpatkan Abigail.

“Hmm, ada masalah disini. Aku mohon mengertilah.”

Sunyi. Abigail terdiam diujung sana. Aku hanya bisa menunggu amukannya keluar.

Abigail terdengar menghela nafas,”Terserahlah. Sekarang istriku sudah pindah ke Vancouver. Sepertinya aku juga sudah tidak bisa terlalu sering menemuimu.”

Aku mengerutkan kening,”Kenapa dia tiba-tiba pindah ? Bukannya kamu bilang…”

“Ada sesuatu hal yang terjadi baru-baru ini. Anakku juga ikut pindah. Apa yang menghambatmu disana Nay ?”tanyanya.

Aku menghela nafas dan mulai menggigiti kuku jariku,”Aku dipaksa menikah disini Ab.”

“WHATT!!!!”teriaknya. Aku memejamkan mata merasakan semilir angin membelainlembut wajahku. Rasanya aku berharap bahwa angin juga dapat menerbangkan asa ku saat ini atau kalau bisa aku ingin terbang bersama angin. Hilang tak berbekas.

“Aku sedang berusaha untuk menolaknya. Kalau aku sudah kembali ke Vancouver, aku akan memberimu kabar.”

“Entahlah Nay,”gumamnya. Aku terdiam,”Apa maksudmu Ab ?”

“Hampir sebulan kamu berada disana. Aku pikir mungkin aku akan mencari yang lain dan tidak menunggumu. Bagaimana kalau kamu benar-benar menikah disana ?”

“Ab, jangan katakan itu. Aku sedang berusaha untuk menolaknya dan ketika aku kembali ke Vancouver hubungan kita tetap seperti dulu. Menguntungkan,”mulutku tercekat ketika mengatakannya. Aku tidak tahu apakah bisa merelakan Abigail. Dia yang selama ini menemaniku walaupun tanpa melibaykan hati didalamnya karena aku tahu dia sangat mencintai keluarganya. SHITT !!!!

“Kita bicarakan lagi nanti. Aku harus pergi.”

“Abigail….”panggilku tapi laki-laki itu sudah memutus sambungan teleponnya. Aku menggenggam ponsel ditanganku dengan erat dan menatap kejauhan. Saat ini aku berharap bahwa Ibrahim tidak akan kembali lagi kesini. Aku berharap bahwa dia sudah kembali ke Jakarta dan melupakan apa yang terjadi kemarin. Rencana pernikahan konyol itu. Entah apa yang ada didalam pikiran Abah dan Helene hingga menganggap bahwa aku membutuhkan seorang Ibrahim untuk menolongku. Pernikahan itu bukan sebuah perkara yang mudah. Aku bahkan tidak tahu apakah sanggup menghadapi status itu sekali lagi. Bagiku sendiri membuat segalanya lebih mudah.

Aku bebas melakukan apapun sesukaku tidak terganggu dengan sebuah status, ikrar dan seorang suami. Aku masih belum sanggup menjalani semuanya. Lagian masih ada satu kenyataan pahita yang belum pernah aku katakan kepada siapapun yang selama ini aku simpan sendiri.

Aku seorang janda dan aku ingin memerdekakan diriku sendiri.

Ibrahim Zayn, sepintas wajah tampannya terlintas di mataku. Pertama kali melihatnya dia memang mempesona apalagi dengan sisi religiusnya dan aku penasaran setengah mati dengan apa yang terjadi padanya hingga membuatnya seperri sekarang ini.

Tidak dipungkiri dia adalah jelmaan wujud laki-laki yang sempurna. Parasnya dan agamanya. Hanya saja semua itu bukan untukku karena aku yang kotor ini tidak pantas untuk memiliki laki-laki seperti dirinya.

Jadi aku yakin dilihat dari sikapnya kemarin, dia pasti tidak akan datang lagi. Dia tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan maha pentinf seperti ini untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama wanita yang sudah rusak sepertiku.

Tanpa terasa air mataku mengalir, aku berusaha untuk diam dan tidak histeris disini. Aku kembali teringat dengan semua keluargaku. Kenapa ?

Sejak kejadian itu hanya tanya yang bisa aku teriakkan. Pada Tuhan dan semesta.

Kenapa ? Aku yang sejak kecil memberikan seluruh hidupku untuk mengikuti semua aturanNYA harus diberi luka sebesar ini ?

Aku menghapus dengan kasar air mata dan membuang tanya yang hanya akan berakhir dengan kalimat tanga lainnya. Sudah sejak lama aku belajar bahwa jawaban itu tidak akan pernah aku dapatkan.

Aku menarik nafas dan mengeluarkannya. Kupandangi sekali lagi bukit dikejauhan lalu berbalik untuk pulang. Kemana aku harus pulang ketika aku sudah tidak memiliki rumah yang menjadi tempat terindahku ?

Kakiku berhenti melangkah. Aku terdiam. Mata biru selaksa langit luas atau hamparan samudra dalam memandangiku tepat dimanik mata. Kakiku serasa dipahat ditanah saat itu juga tidak bisa bergerak.

Laki-laki itu berdiri beberapa meter dariku. Matanya bersinar penuh kehangatan juga senyuman yang mengembang di wajah sempurnanya. Aku tidak yakin bahwa semua itu ditujukan untukku namun disana laki-laki itu berdiri menjulang tidak tergoyahkan. Aku menikmati semilir hangat yang dibawanya yang menyapaku lewat semilir angin yang beehembus disekitarku.

Untuk sejenak, aku ingin menangis dengan hebatnya disini. Tanpa tahu apa yang ingin aku tangisi.

—— The Magical ——

Ibrahim Zayn POV

Dia berdiri dalam diam melihatku seakan -akan aku adalah hal yang tidak pernah disangkanya akan datang. Mata hitam itu balas memandangku dengan berbagai macam pikiran berkecamuk disana. Tapi yang paling dominan yang bisa aku lihat, wanita itu berusaha untuk menahan air matanya.

Dia cantik,sangat. Rambut coklat panjangnya berkibar ditiup angin begitu pula dengan gaunnya. Kulitnya yang kecoklatan begitu berkilau di antara cahaya matahari sore berwarna jingga. Aku pernah melihat siluetnya dan itu menghipnotis sebelum aku tahu bahwa wanita itu satu wujud dengan wanita yang diam berdiri dihadapanku.

Aku sekarang bisa melihatnya dengah jelas. Rapuhnya, retakannya, deritanya, air matanya, beban hidupnya dan kemarahannya. Dan satu pukulan telak setelahnya membuatku bagai dihantam sembilu yang sakitnya teramat pekat. Aku yang menyebabkan wanita ini menjadi seperti ini.

Sudah sejak lama aku melupakan yang namanya berandai-andai. Karena aku belajar bahwa semuanya memang sudah menjadi sebuaj guratan takdir. Tapi sekali lagi melihat wanita yang ada dihadapanku saat ini yang begitu rapuh dan sidah retak disana sini membuatku kembali membayangkan seandainya.

Aku menundukkan pandanganku sejenak karena sudah terlalu lama aku menatapnya tadi dan menelan salivaku dengan susah payah. Aku menegakkan pandangan dan berjalan mendekat.

Wanita rapuh harus ekstra diperlakukan dengan kelembutan karena sudah lama kerasnya hidup mematikan semua sifat dasarnya.

“Apa yang kamu lakukan disini Medina ?”tanyaku seramah mungkin. Aku tahu semua ini tidak akan mudah bagi kami berdua tapi aku sudah memutuskan untuk mencobanya sampai akhir dan aku pantang untuk mundur.

Dia hanya diam. Pandangannya menyelidik. Sesaat kemudian cibirannya muncul dengan mata menantangnya. Inilah dia sekarang. Melindungi dirinya dan retakannya dari banyak hal yang bisa membuatnha kembali tersakiti.

“Apa pedulimu ?”katanya ketus. Aku menghela nafas lalu berjalan mendekatinya namun tetap menjaga jarak lalu berdiri dihadapannya. Dia mundur beberapa langkah dan menatapku intens.

Ya Allah, Dzat yang maha pemurah, izinkan aku untuk mengembalikan senyum bahagia dan tawa ceria ke dalam dirinya.

“Aku bukan orang yang suka berbasa basi. Aku akan langsung mengutarakannya kepadamu.”

Aku memberi jeda mengamati perubahan ekspresinga. Dia menggigit bibirnya dan ekpsresi keras iti muncul. Sepertinya dia sudah bisa menebaknya.

“Aku sudah bertemu dengan abah Sulaiman. Aku……”

Bismillahhirahmannirrahim,

“Aku setuju untuk menikahimu Medina Nayyara.”

Dia terkesiap kaget dan terbelalak memandangiku. Kemarahannya, kegelisahannya, kecemasannya semua nampak di wajahnya. Aku menunggu amukan itu keluar darinya.

Lalu dia tertawa terbahak-bahak. Aku diam memandnaginya menumpahkan semuanya. Dia menggelengkan kepala sambil merapikan anak rambut yang terkena angin menutupi pandangannya.

“Kamu sudah gila Ibrahim,”katanya.

“Kamu sadar kan saat memutuskannya ? Aku tahu sejak awal kita bertemu bahwa kamu memandangku dengan sebelah mata. Aku tahu apa penilaimu terhadapku. Aku yakin kamu pasti menganggapku wanita murahan, wanita genit dan sejenisnya. Dan kemarin ketika ide konyol itu datang kamu bahkan berharap mati-matian utnuk bisa menolaknya. Aku bisa melihatnya dari ekspresimu. Jadi hal gila apa yang membuatmu berubah pikiran ?”tanyanya lantang.

Aku tersenyum tipis mendnegarnya. Sebagian benar tapi juga sebagian dari apa yang dikatakannya salah.

“Aku……”

Tangannya terangkat keatas mengintrupsi apapun yang akan aku katakan. Dia terrawa lagi nampak geli dan berdecak. Seakan-akan ada hal lucu yang sedang dia bayangkan saat ini.

“Ahh aku tahu. Helena pasti sudah menceritakannya padamu kan tentang masa laluku yang dulu bahagia dan masa laluku yang suram. Lalu kamu merasa menyesal dan kasihan padaku lalu menerima ide konyol itu. Oh ayolah Ibrahim, kamu pasti menganggapku wanita paling ngenes didunia dan paling harus dikasihani. Iya kan ?”

Aku terdiam. Dia maju mendekat dan berteriak dihadapanku,”Apa kasihan menjadi dasar untukmu memutuskan hal itu secara sepihak, HAH !!!!!”

Aku memalingkan muka tidak sanggup menatapnya terlalu lama. Aku tidak sanggup menatap mata yang penuh gurat luka itu tanpa melukai diriku sendiri.

Dia mundur seraya tertawa. Tawa yang dipaksakaan dan mengaburkan segala macam luka miliknya.

See, sejak awal kamu bahkan mengabaikanku dan tadi oun begitu. Aku benarkan ? Kalau memang atas dasar itulah kamu memutuskan menikahiku maka Ibrahim aku menolak dnegan keras semua ini. Aku tidak membutuhkanmu dan yang pasti tidak butuh belas kasinanmu.”

“Apa kamu sudah puas berkata-kata. Sekarang gilaranku yang berbicara Medina.”

Aku berusaha untuk bersikap tegas. Aku memandnaginya tanpa goyah dan setelah beberpaa saat dia memalingkan wajahnya dan memilih menatap kejauhan. Aku ikut berbalik dan menatap cakrawala yang sama. Sebuah pesawat melintas dikejauhan. Aku tersenyum getir.

“Sejak awal aku tidak pernah mengacuhkanmu. Aku melakukannya karena itu harus. Aku tidak sama dnegan laki-laki lain yang berani dengan terang-terangan emmandnagi kemolekan tubuhmu saat itu apalagi dengan pakaian yang kamu kenakan. Aku memilih menghindarinya. Seharusnya kamu menyadarinya.”

“Helena tidak menceritakan apapun tentang masa lalumu karena dia langsung memberikanku jurnal harian milikmu.”

Medina reflek menoleh kearahku dengan kerutan dalam didahinya. Wajahnya nampak menyiratkan kemarahan,”Luar biasa sekali Helena. Itu jurnal pribadiku Ibrahim dan kamu harus mengembalikannya.”

Aku mengabaikan permintaannya,”Kamu tahu bahwa sejak awal kita memang diharuskan untuk bertemu. Aku juga tidak pernah menyangka akan seperti ini jadinya. Tapi Medina….”

Aku memandnaginya dan dia balas memandnagiku,”Atas nama pribadi aku mengucapkan beribu kata maaf dan beribu penyesalan. Aku seumur hidup tidak akan pernah lepas dari dua kata itu terutama untukmu. Keputusanku menikahimu bukan atas dasar kasihan tapi itu sudah menjadi kewajibanku. Aku akan membuatmu menerimaku dan kembali memperxayai banyak hal yang sudah lama kamu abaikan.”

“Untuk apa kamu meminta maaf seperti itu. Jelaskan padaku ?”tuntutnya.

Aku menghela nafas dan mencoba meredakan gemuruh yang nenghimpit dadaku saat ini hanya karena tatapannya.

“Maaf karena aku hidup sedangkan keluargamu tidak,”

Dia ternganga mendnegarnya. Matanya membulat dan mundur sambil menutup mulutnya dengan tangan.

“Lebih dari apapun aku mengerti penderitaanmu karena aku berhadapan langsung dengan kematian itu sama seperti keluargamu namun bedanya dan entah bagaimana caranya aku tetap diizinkan hidup. Sungguh, semua ini bukan karena rasa kasihan seperti yang kamu katakan tapi ini adalah bentuk penebusan dosaku. Maafkan aku Medina.”

Air mata Medina mengalir deras disana. Aku ingin sekali merengkuhnya dan membawanya kepelukanku dan mengucapkan beribu kalimat menenangkab bahwa aku ada disini untuknya, untuk menyembuhkan lukanya tapi aku tidak punya daya dan yang bisa kulakukan hanya diam memandnaginya. Dia masih saja memandnagiku tanpa kata-kata. Yang terdengar hanya isakan tangisnya dan itu melukaiku.

“Secepatnya kita akan menikah.”

Hanya itu yang bisa aku janjikan. Nayya menggelengkan kepalanya, mengusap air matanya dengan punggung tangan dan menghujam pertahananku dengan tatapannya yang penuh amarah.

“Bagaimana kamu bisa hidup. Kenapa harus kamu yang selamat dari insiden itu ? Kenapa bukan suamiku ? Orang tuaku ? Anakku ?”isakannya semakin kencang saat menyebut kata yang terakhir. Anakku.

“Kenapa bukan anakku yang hidup supaya aku tidak kehilangan sebagian jiwaku seperti ini. Kenapa harus kamh yang hidup Ibrahim Zayn ? KENAPA ?”Teriaknya frustasi sembari mencengkram erat kedua lenganku.

Aku memalingkan wajahku dan mengepalkan kedua tanganku erat. Aku meggertakkan gigiku menahan hatiku yang tersayat atas semua perkataannya. Aku sama sekali tidak memiliki jawaban atas pertanyaannya.

Isakannya semakin lirih dan dia meluruh jatuh dan terduduk diatas tanah. Air matanya tidak berhenti mengalir dan isakannya semakin membuat hatiku pedih. Aku hanya mampu menatapnya. Sejenak hanya semilir angin yang terasa menggigilkan dam isakan Medina yang semakin menghilang. Aku berjongkok dihadapannya seraya mengamatinya yang masih menundukkan wajahnya pada bumi.

“Aku tidak tahu apa jawaban atas pertanyaanmu Nay. Selama ini aku juga bertanya-tanya. Jangan pernah su’uzan dengan takdir yang Allah berikan kepada kita karena ketetapannya itulah yang terbaik.”

Medina mengangkat kepalanya dengan amarah yang masih nampak jelas dan matanya yang memerah,”Aku membencimu Ibrahim. Aku tidak peduli apapun yang kamu katakan. Jangan pernah dekati aku.”

Medina berdiri kemuadian berbalik pergi menjauh dan meninggalkanku sendiri dalam kekalutan dan kesedihan karena semua perkataannya.

Aku berdiri dan menatap pada matahari yang berpendar jingga dipenghujung cakrawala bersama hatiku yang terluka.

Allah pasti telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih indah untuk kita Nay setelah kita membuktikan bahwa kita memang pantas mendapatkannya. Aku akan memperjuangkannya. Untuk kita.


cerbung.net

The Magical

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Dua manusia berbeda yang tidak pernah bersilangan jalan berada dalam titik 0 hidupnya karena sebuah tragedi mengenaskan. Keduanya memilih menyikapinya dengan cara yang saling bertolak belakang. Hingga mereka disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan yang tidak pernah disangka akan terjadi. Bagaimana mereka bisa bertahan satu sama lain bahkan setelah benang merah masa lalu menyeruak dan merusak segalanya ?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset