The Red Dress episode 1

Chapter 1

“Hei Jon! Sadarlah…ini masih pagi,” seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

“Aku tidak melamun, hanya memandangi keadaan di luar,” balasnya.

“Hm..kamu menunggu wanita itu ganti pakaian kan? Aku tahu kenapa kamu tidak mau menukar meja kerjamu dengan Richard karena itu kan?” mengacak-ngacak rambut Jonathan yang begitu rapih dengan jell rambut, rekan kerjanya yang lain tertawa mendengar celotehan dari Smith.

Jonathan Richer, seorang akuntan biasa di perusahaan asuransi. Kantor mereka mendiami gedung setinggi 50 lantai, bos mereka menyewa lantai 45 sampai 50 untuk dijadikan kantor. Menurut bosnya lantai atas melambangkan kesuksesan. Sudah tiga tahun lamanya dia menjadi akuntan di kantor ini. Secara kebetulan gedung ini berseberangan dengan sebuah hotel mewah, dari jendela meja Jonathan dia bisa mengintip orang-orang yang sedang berada di hotel itu walaupun ukuran mereka sebesar korek api gesek. Tetapi jika mata seseorang masih normal maka hal itu tidak menjadi masalah.

Di dalam lantai 48 ini di isi oleh para akuntan, untuk ruangan bos sendiri berada di lantai 50. Sejajar dengan tempat di mana Jonathan bekerja ada sebuah kamar hotel yang menghadap ke jendela tempat Jonathan biasa mengerjakan tugas-tugasnya. Kamar hotel itu di isi oleh seorang wanita, jika beruntung Jonathan dan rekannya bisa melihat wanita itu tanpa busana sama sekali berjalan-jalan di kamar hotelnya.

Bentuk fisik wanita ini langsing, bak super model. Rambutnya hitam bergelombang panjang hampir menyentuh bokongnya. Karena jaraknya yang lumayan jauh mereka tidak bisa melihat mukanya secara jelas, tapi Smith yakin bahwa wanita ini memiliki paras yang menggoda. Jonathan memang sering melamun karena merasa hidupnya yang stagnan tapi dia tidak ada maksud sedikitpun untuk mengintip atau menggoda wanita diseberang. Hal ini menjadi bahan lelucon rekan kerjanya terutama Smith Jackson, yang tadi mengacak-ngacak rambutnya.

“Jon, bisa kamu kerjakan bahan-bahan laporan ini?” seseorang memberinya kertas-kertas dalam map.

“Ya..tentu saja,” mengambil map itu.

Dia membukanya perlahan, kertas-kertas itu berisi data-data keuangan perusahaan. Sudah sewajarnya tugas akuntan adalah mengolah data-data berupa angka, khususnya yang berkaitan dengan uang perusahaan. Dia mengerjakannya dengan sesekali mengintip ke gedung sebelah, wanita itu muncul dengan menggunakan piyama. Jantungnya berdebar-debar, dia seakan-akan tahu apa yang akan wanita itu lakukan selanjutnya.

Benar saja, dengan sekali gerakan piyama itu terjatuh ke lantai. Bagian belakang tubuhnya terlihat jelas, tangannya yang tadi akrab dengan keyboard sekarang bahkan berhenti. Dia melihatnya terus sampai wanita itu masuk melalui sebuah pintu yang mereka yakini adalah kamar mandi hotel itu.

Melihat Jonathan melihat ke luar Smith meneriakinya dengan niat mengejeknya, “Jon! Bagaimana keadaan di sana? Wanita itu telanjang lagi kah?” kepalanya mengangkat ke atas.

“Tidak…tidak ada..,” menjawabnya dengan nada gugup.

“Sudahlah tidak usah berbohong, aku tahu kok! Senangnya berada di sana,” rekannya yang lain tertawa.

Sebenarnya dibarisan Jonathan ada juga rekannya yang lain, hanya saja posisi mereka membelakangi jendela dan berada di depan meja kerja Jonathan. Sedangkan meja kerja Jonathan berada di sudut ruangan, tiga meja ke kiri terdapat meja Smith. Jam makan siang telah tiba, hari ini Jonathan tidak membawa bekal makanan dan dia berniat mencari makanan ke bawah. Di sekitar gedungnya banyak sekali café tersedia.

Mereka semua berada di lift yang sama, memikirkan ingin menghabiskan jam makan siang di mana.

“Jon, kamu ada ide…?” seseorang rekannya bertanya, Jonathan kelihatan melamun. “Jon?..Jon!”

“Ahh…yah…, aku akan pergi ke kedai kopi diseberang.”

“Apa mereka menjual sandwhich? Kalau ada aku akan ikut.”

“Ya aku rasa mereka menjualnya.”

Kelima rekanan itu akhirnya bersama-sama pergi ke kedai kopi seberang termasuk Smith. Kedai kopi ini sudah terkenal sejak dahulu, karena wilayah di sini termasuk wilayah perkantoran tidak heran jika di jam makan siang seperti ini banyak sekali orang-orang berpakaian rapih serba kemeja datang ke sini. Sambil menunggu sandwhich mereka datang, mereka isi dengan obrolan santai. Entah itu masalah kerjaan, olahraga, bahkan tentang masalah selebritis mereka bicarakan.

Tidak lama sandwhich yang mereka pesan datang, dengan kopi yang sudah ada di meja. Mereka melahapnya dengan nikmat, tingkat stress pekerjaan mereka mempengaruhi kondisi perut mereka. Di saat sedang menikmati makan siang, semua perhatian tertuju kepada seseorang wanita yang baru masuk. Dia memakai gaun ketat berwarna merah, lekuk tubuhnya terpampang jelas. Rambut bergelombang panjang, bibir yang menyala senada dengan gaun yang dia pakai dan kacamata hitam modis membuat penampilannya semakin menggoda.

Dia berjalan mencari tempat duduk, kebetulan sekali berada didekat Jonathan dan rekanannya. Dia membuka kacamata hitam itu, matanya begitu tajam namun indah cocok dengan wajahnya yang lancip. Dengan tampilan dan wajah yang seperti itu rasanya pria yang melihatnya pasti akan berpikiran kotor terhadap wanita itu.

“Eh..beruntung sekali kita siang ini, lihat wanita itu…apa dadanya tidak terasa sesak yah?” lagi-lagi Smith dengan guyonannya.

“Ssstt, pelankan suaramu. Jika terdengar nanti bagaimana?”

“Aku membicarakan fakta kok, coba lihat sendiri…”

“Sudah…sudah, makan saja sandwhich kalian,” Jonathan mencoba menenangkan rekanannya yang mulai gaduh.

Jonathan menengok kebelakangan, melihatnya sekali lagi. Dia merasa tidak asing dengan wanita yang hanya berjarak 2 meter darinya itu, sepertinya dia sudah sering melihatnya namun entah di mana. Jonathan berpikir keras karena rasa penasarannya sangat tinggi. Bola matanya membesar, dia sadar bahwa dengan fisik yang begitu indah dan rambut panjang hitam bergelombang ini adalah wanita penghuni kamar hotel yang berhadapan dengan meja kerjanya.


cerbung.net

The Red Dress

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
The Red Dress adalah serial bertemakan horror yang merupakan lanjutan dari serial Sisters List.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset