The Red Dress episode 11

Chapter 11

Senang mengetahui bahwa ibunya baik-baik saja, Jonathan lalu masuk kekamarnya. Lalu Jonathan memutuskan untuk merilekskan tubuhnya dengan mandi menggunakan air hangat. Setiap air yang mengalir mampu membuat tubuhnya lebih enak. Belum ada kabar juga yang masuk, Jonathan menaruh rasa curiga. Mungkin mereka gagal menangkap Marissa. Namun rasanya tidak mungkin, rekan-rekan Jerry merupakan orang luar. Marissa tidak akan bisa mempengaruhi mereka.

Jonathan mencoba menghubungi nomor rekannya Jerry, telepon langsung tersambung. Rekannya malah memarahi Jonathan dan mengancam akan memasukkan dia ke dalam jeruji besi karena telah melakukan panggilan fiktif. Jonathan merasa ada yang aneh, padahal Jerry ada disitu. Dia yakin sekali bahwa kesaksian Jerry bisa dipercaya oleh mereka. Rekannya Jerry malah meminta Jonathan datang ketempatnya dan meminta maaf secara resmi kepada polisi-polisi yang hadir di hotel itu.

Dengan menggunakan mobil yang sama Jonathan kembali menuju hotel, dia sungguh bingung mengapa hal ini bisa terjadi.

“Apa jangan-jangan?….sial!” memukul kemudi dengan keras lalu mempercepat laju mobilnya.

Suasana di luar hotel sungguh ramai, banyak mobil polisi berjejeran bahkan ada sebuah ambulans terparkir di halaman hotel. Rekanan Jerry sunggu kecewa, dia menggeleng-gelengkan kepala lalu memarahi Jonathan. Untung Jerry datang, dia lalu yang meminta maaf kepada rekannya dan polisi-polisi yang sudah hadir di sini. Jonathan membawa Jerry untuk menjauh sebentar untuk berbicara.

“Jerry! Apa-apaan ini?!” Jonathan terlanjur emosi, “bagaimana bisa?”

“Maafkanku Jo, aku tidak mengerti mereka melakukan kesalahan apa? Keadaan di hotel sangat normal. Hanya masalah kelistrikan yang terganggu sehingga semua penghuni hotel harus berkumpul di lobi.”

“Masalah kelistrikan? Bicara apa kamu? Kita hampir mati barusan! Kamu tidak mengingatnya?”

Perkataan Jonathan malah membuat Jerry bingung, lalu Jonathan mulai menjelaskan apa yang terjadi barusan.

“Tidak..tidak mungkin, kita kesini karena katamu makanan di hotel ini enak, bukannya begitu?” timpal Jerry.

Jonathan tidak bisa berkata-kata lagi, dia tidak percaya bahwa Marissa berhasil mencuci otak Jerry. Dia melihat ke pintu masuk hotel, Marissa dengan tuan Rico berdiri dengan santainya. Bahkan Marissa sempat memberikan kedipan matanya yang genit kepada Jonathan. Akibat gestur itu Jonathan semakin emosi dan menghampiri Marissa dan tuan Rico. Karena gerak-gerik Jonathan yang dinilai polisi membahaykan, polisi-polisi itu dengan sigap menyergap Jonathan.

Dia terjatuh dihadapan Marissa dan tuan Rico, lalu sekuat tenaga dia memaki keduanya dengan kata-kata kasar. Jerry mendekatinya lalu meminta polisi-polisi itu melepaskan Jonathan.

“Ayolah Jo, ada apa denganmu?”

Jonathan menatapnya dengan tajam, “Sial!..sial!…arghh!,” lalu pergi menjauh dari hotel itu.

Dalam perjalanan pulang Jonathan hanya menggrutu tidak jelas, orang-orang disekitarnya melihatnya sebagai orang yang stress. Dia memberhentikan taksi karena dia tidak sanggup lagi berjalan, di dalam taksi dia menutup mukanya dengan kedua tangannya. Sang supir telah berbaik hati mengajaknya bicara namun supir taksi itu tidak ditanggapi oleh Jonathan sama sekali.

Sesampainya di rumah dia memasang wajah penuh ceria, dia tidak ingin ibunya tahu tentang masalah ini sedikitpun. Jonathan masuk kekamarnya, menutup mukanya dengan bantal dengan keras sehingga dia kehabisan nafas. Saat itulah dia terpikirkan suatu rencana, dia meminta nomor Marissa kepada Smith. Dengan senang hati Smith memberinya tanpa bertanya hal sepele tuk apa dia meminta nomornya. Jonathan menelpon Marissa, tidak cukup sekali baru telepon dari Jonathan diangkatnya.

Dengan penuh penyesalan Jonathan meminta maaf kepada Marissa atas semua kejadian yang telah dia sebabkan, karenanya dia mengajak Marissa untuk makan malam di sebuah restoran mewah untuk membayar kesalahannya. Tanpa menaruh rasa curiga berlebih Marissa sangat menerima ajakan Jonathan tersebut.

Jonathan langsung bersiap-siap, dia memakai jas paling mewah yang dia punya. Tidak lupa dia mengambil sesuatu barang dari kamar mendiang ayahnya. Dia berpamitan kepada ibunya selagi mobil mewah pesanannya telah diantarkan. Dia sengaja menyewa mobil mewah agar tidak malu membawa Marissa. Malam harinya mereka janjian bertemu di hotel, Jonathan sangat tepat waktu menjemputnya dan Marissa dengan pakaian gaun merah andalannya sudah menunggunya. Marissa masuk ke mobil dan Jonathan mulai mengemudikan mobilnya menuju restoran mewah yang sudah direncanakan.

“Apa yang membuatmu menjadi seperti ini?” tanya Marissa.

“Ah..tidak, aku rasa telah salah menilaimu. Itu saja,” jawab Jonathan sambil tersenyum padanya.

“Sayang sekali rekanmu itu…Jerry, dia melupakan kejadian itu. Padahal kamu sudah membawa teman-temannya.”

“Kamu bicarakan apa? Tidak ada kejadian apapun di hotel kan?” mereka berdua melempar tawa.

Mereka sampai di restoran mewah yang bergaya Italia ini, seorang valet membawa mobil Jonathan untuk diparkirkan. Mereka berdua masuk dan disambut hangat oleh pelayan di sana yang setelannya tidak kalah dengan Jonathan.

“Pesan saja apapun makanan yang kamu suka, malam ini biar aku yang bayar.”

“Hmm…,” Marissa mengeluarkan ekspresi manjanya.

Hidangan mewah khas Italia tersaji di meja mereka, tidak lupa dengan dua botol anggur yang memiliki cita rasa tinggi. Jonathan sangat santai ketika makan bersama Marissa, dia bahkan tidak menyinggung soal di hotel barusan. Mereka seperti kawan akrab bahkan seperti sepasang kekasih. Setelah selesai makan malam Jonathan membelokan arah mobilnya ke suatu jalan, jalan yang sepi.

“Kita akan kemana?”

“Kamu akan terkejut,” jawab Jonathan santai.

Jonathan membawa mobilnya ke tepi danau lalu memberhentikan mobilnya itu. Dia meminta Marissa untuk keluar bersamanya.

“Lihat, di danau ini kita bisa melihat betapa indahnya bulan malam ini.”

“Kamu…wow! Aku tidak menyangka kalau kamu bisa melakukan hal seperti ini.”

Keduanya saling menatap satu sama lain, semakin dalam dan keduanya bercumbu. Kap mobil menjadi saksi bisu apa yang mereka lakukan. Jonathan sangat buas, dia sangat menafsu sekali ingin menggauli Marissa. Permainan belum sampai jauh Jonathan mengeluarkan sesuatu dari belakang celananya yaitu sebuah pistol dan langsung menodongkan pistol ke muka Marissa.

“Hmm…anak nakal!” Marissa menjilati pistolnya, “kamu ingin menembakku? Apa kamu berani?”

“DIAM!” Jonathan berteriak, “aku mohon diam…., jika saja kamu…kamu tidak muncul, hidupku mungkin tidak menjadi seperti ini!”

“Jadi kamu menyukaiku?” tanya Marissa.

“Apa?…,” sekarang Jonathan mengarahkan pistolnya ke kening Marissa.

Padahal sudah bertindak sejauh ini tetapi Jonathan masih tidak berani untuk melakukan apa yang dia ingin lakukan, yaitu mengakhiri ini semua. Tangannya malah bergetar, situasi ini dimanfaatkan oleh Marissa. Dia mencoba membuyarkan konsentrasi Jonathan.

“Kamu tahu Jonathan, apa kamu sudah memeluk ibumu hari ini?”

Jonathan bergetar, lalu dengan satu tarikan menyakinkan dia menembakkan peluru tepat di kepala Marissa. Dia tewas seketika, keningnya bolong lalu mengeluarkan darah. Matanya melotot dan anehnya wajahnya malah tersenyum seperti menikmati peluru besi menembus kepalanya. Jonathan melempar pistol tersebut ke danau sambil berteriak, seakan-akan bebannya telah hilang sepenuhnya.


cerbung.net

The Red Dress

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
The Red Dress adalah serial bertemakan horror yang merupakan lanjutan dari serial Sisters List.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset