The Red Dress episode 2

Chapter 2

Jonathan pura-pura tidak mengenalinya untuk menghindari kegaduhan yang lebih besar karena mereka semua tahu mulut Smith kadang tidak bisa dikontrol. Makanan wanita itu sampai kemejanya, dia memesan pasta. Rekannya yang lain masih saja membicarakan wanita itu, lalu tiba-tiba ide gila datang dari Smith.

“Hei..mau apa kau?”

Merapikan rambutnya dan kemejanya, “Lihat aku, aku akan menghampiri wanita itu dan akan ku buat dia jatuh hati padaku.”

“Smith! Smith! Apa kau gila? Duduk sekarang!” Smith dengan percaya dirinya sudah berdiri, dia mengacuhkan Jonathan dan mendekati wanita itu.

Rekanannya hanya bisa mengamati tingkah laku Smith, Jonathan tidak percaya apa yang dilakukan oleh Smith. Tidak lama kemudian seseorang berkulit gelap dengan postur badan yang besar datang. Pria ini berkepala plontos langsung menuju meja wanita bergaun merah ini, mendadak Smith menjadi panik. Dia beranjak dari meja wanita itu dan langsung memberi pria itu penjelasan.

“Siang pak, saya dari perusahaan asuransi hanya ingin menawarkan….,” pria besar itu langsung memotong pembicaraan.

“Enyah kau! Sebelum kupecahkan kepalamu!” wajar saja pria ini marah karena gelagat Smith jauh dari seorang sales yang sedang menawarkan asuransi, dia lebih cocok seperti pria penggoda.

“Tenanglah Carl…maaf dia orangnya cemburuan dan agak posesif,” ucap wanita bergaun merah itu.

Pria besar ini yang tadinya marah besar menjadi lebih dingin dan membiarkan Smith pergi dengan damai.

Smith kembali kemejanya, tawa meledek langsung terdengar. Bahkan salah satu rekanannya sampai mengucurkan air mata karena tertawa begitu puas.

“Ya..ya..silahkan tertawalah sepuasnya, sial!”

“Kan sudah ku bilang Smith,” Jonathan menggelengkan kepalanya.

Selesai jam makan siang mereka kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Smith masih membahasnya selama mereka berada di dalam lift.

“Kalian tidak tahu, aku tadi berhasil berkenalan dengannya. Namanya Marissa Charoline, dia bilang padaku pekerjaannya adalah seorang model majalah pria dewasa,” kata Smith.

“Pantas saja tubuhnya begitu menggoda, tapi apa kalian tidak sadar sepertinya wanita itu tidak asing,” sahut rekanannya yang lain.

“Ah yang benar? Hm…, sayangnya aku tidak berhasil meminta nomor telepon dan alamat tempat tinggalnya. Hei…, dia menyukai “Chocolate Bar” seperti mu,” melihat ke arah rekanannya yang berkulit sama dengan pria itu, dia melihat ke arah Smith dengan tajam. “Ayolah, aku hanya bercanda,” rekanannya itu menggelengkan kepala.

Suasana masih gaduh saat mereka keluar lift dan menuju ruangan kerja mereka. Jonathan kembali kemejanya, dia melihat ke hotel seberang, gordennya tertutup rapat. Jadi memang benar wanita tadi alias Marissa adalah penghuni kamar itu. Jam sudah menunjukkan waktu pulang, sebagai karyawan yang baik mereka semua pulang tepat waktu. Dengan mengandarai mobil bekas mendiang ayahnya Jonathan pulang ke rumah yang jaraknya agak jauh dari pusat kota.

Sesampainya di lampu merah dia melihat bangku disebelahnya, dia ingat betul bahwa tasnya yang berisi kerjaan sudah dia taruh. Dia melihat ke bangku belakang, ternyata tasnya tidak ada.

“Selalu saja, padahal tinggal beberapa mil lagi,” dengan berat hati membelokan mobilnya tuk menuju kantornya.

Ketika tiba kembali gedung sudah gelap, karena waktu juga sudah malam. Dia meminta izin kepada security di sana untuk mengambil tasnya yang ketinggalan. Security itu mengantarnya menuju lantai 48 setelah Jonathan mengeluarkan kartu tanda karyawan kepada security. Dia langsung menuju ke meja tempat kerjanya sedangkan security menjaga di depan lift.

“Syukurlah,” mengambilnya tasnya, sekilas dia melihat keadaan di luar. “…..,” dia melihat Marissa dengan pria besar itu sedang melakukan aktivitas seksual. “ya aku tahu kamarnya berada di lantai atas, tapi bisakah menutup gorden jika sedang melakukannya,” berbicara dalam hati.

Merasa risih melihatnya Jonathan buru-buru pergi dari situ,dia menoleh kebelakang sekali lagi.

Tubuh Marissa menempel ke kaca sedangkan pria besar itu sekuat tenaga mendorongnya dari belakang, “Sial!” langsung bergegas meninggalkan tempat itu.

Di dalam lift Jonathan mengingat kembali kejadian barusan, entah mengapa dia merasa Marissa seperti melihat kearahnya barusan. Setelah beres dengan urusannya Jonathan kembali melanjutkan perjalanan pulang, dia melewati hotel sambil melihatnya ke atas. Dia tidak berniat untuk menyaksikan hal tadi, semua serba kebetulan. Sesampainya di rumah ibunya yang sudah tua menyambutnya, dia membasuh tubuhnya lalu mengerjakan beberapa tugas yang tadi dia sisakan tuk dikerjakan.

Beberapa hari kemudian Marissa melakukannya lagi seperti sudah kebiasaan, berjalan tanpa busana di pagi hari menuju ke kamar mandinya. Jonathan yang merasa ‘ketahuan’ waktu itu hanya menggerakan matanya saja tanpa menoleh. Sebagai lelaki normal wajar rasanya jika dia menyukai pemandangan itu. Jam makan siang kali ini dia lewatkan di area santai yang berada di bawah lantai dia bekerja. Di sini disediakan beberapa meja khusus karyawan untuk memakan bekal makan siang mereka. Ada juga dapur sederhana yang menyediakan microwave dan mesin pembuat kopi otomatis untuk karyawan.

Dia duduk di salah satu meja sambil menunggu microwave menghangatkan sandwhichnya yang dia beli di mini market. Sebuah televisi berukuran agak besar sedang menayangkan berita. Dia tidak bersama rekanannya, dia malu jika bertemu Marissa padahal belum tentu Marissa benar-benar melihatnya. Microwave sudah berbunyi, tanda sandwhich telah siap dihidangkan. Dia mengambilnya dan duduk kembali.

Sambil menikmati makan siangnya dia menonton saluran berita itu, isinya mengenai orang hilang. Yang mengagetkannya adalah ketika saluran itu menampilkan foto orang yang hilang tersebut.

“Apa?…orang itu kan,” saluran berita itu menampilkan foto orang yang waktu itu bersama Marissa di sebuah kedai kopi.

Jonathan menceritakan ini kepada rekanannya setelah jam makan siang usai, mereka semua berkumpul di meja Smith.

“Smith, apa kamu tahu pria besar itu. Yang kemarin bersama Marissa, wanita bergaun merah di kedai kopi. Dia dinyatakan hilang oleh pihak kepolisian, keberadaannya belum diketahui.”

“Kamu berbicara apa Jon, pria besar yang mana? Kemarin hanya aku yang mendekatinya, bahkan kami mengobrol banyak sampai jam makan siang usai. Sampai-sampai dia memberikan nomor teleponnya kepadaku,” ucap Smith.

“Smith…kamu tidak sedang bercanda kan?” menatapnya serius, “Kamu kan hampir dipukuli oleh pria itu,” Smith menjadi bingung.

“Jika kamu tidak percaya coba tanya yang lain, baiklah…apa kemarin ada pria besar yang mendekati Marissa? Si wanita bergaun merah?” rekanannya yang lain menggelengkan kepalanya bahkan salah satunya menganggap Jonathan sedang menghayal iri karena Smith mendapatkan nomornya. “lihat sendiri kan?”

Jonathan yakin sekali bahwa beberapa hari yang lalu dia melihatnya dengan jelas bahwa pria besar itu bersama Marissa di kedai kopi. Dia kembali kemejanya lalu menatap ke luar, ternyata diseberang Marissa yang mengenakan gaun merah sedang menatapnya juga. Mereka berdua saling menatap satu sama lain, Jonathan memalingkan pandangannya lalu mencoba melihatnya lagi. Marissa yang bergaun merah itu sudah tidak ada.


cerbung.net

The Red Dress

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
The Red Dress adalah serial bertemakan horror yang merupakan lanjutan dari serial Sisters List.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset