The Red Dress episode 3

Chapter 3

Pagi ini dia sengaja datang lebih awal ke kantor, dia terlalu lelah saat malam hari tuk melakukan tugas lanjutannya. Maka dari itu dia memilih melakukannya di awal pagi. Seperti biasa mobil bekas mendiang ayahnya melewati gedung-gedung bertingkat di sini, pintu masuk parkir sudah di depan mata dia melihat Marissa berada di pinggir jalan. Dia meliriknya melalui jendela mobilnya, lalu perlahan dia masuk keparkiran mobil. Ruangan mereka pun lampunya masih mati dan gelap, dia menyalakannya lalu mulai mengerjakan tugasnya di komputer.

Merogoh tasnya untuk mencari bekal sarapan yang sudah dia siapkan di rumah, “Mana…,” merogoh lebih dalam. “apa aku lupa menaruhnya….,” memutuskan untuk membelinya di bawah.

Udara pagi memang terasa sejuk, orang-orang juga belum lalu-lalang di sekitar sini. Dia melihat kesampingnya, sekarang Marissa tidak sendirian. Ada seorang pria yang sedang mengobrol dengannya, pria itu adalah Smith, rekan kerjanya di kantor. Dia menghampirinya, entah mengapa dia merasa Marissa bukanlah wanita yang baik-baik, apalagi setelah berita menghilangnya pria besar yang bersamanya waktu itu.

“Um…Smith,” menyapanya.

Menoleh kebelakang, “Hei…Jon.., oh iya Marissa ini Jonathan, rekan kerja di kantor,” langsung mengenalkannya kepada Marissa.

Jonathan agak canggung saat menyalaminya, “Smith, wajahmu tampak tidak segar, bagaimana kalau aku traktir kopi diseberang?”

“Jon, kamu tidak lihat aku sedang bersama Marissa. Lagipula tidak baik meminum kopi saat perut sedang kosong.”

“Tidak apa-apa, pergilah…saya juga sedang menunggu teman saya datang,” sebuah mobil sport merah datang lalu menepi.

Seseorang keluar dari mobil sport merah itu, pakaiannya sangat rapih namun terkesan glamor. Rambutnya sangat licin, berwarna pirang dan memakai anting di sebelah kiri. Pria itu menyapa Jonathan dan Smith, lalu meminta Marissa cepat naik ke mobil karena kru dan kamera sudah siap di set. Marissa pamit kepada mereka sebelum pergi, dengan suara mobil yang menggelegar Marissa dan Pria itu meninggalkan mereka.

“Tumben sekali Smith, datang di pagi begini,” ucap Jonathan.

“Yah…oh iya apa tawaran kopinya masih berlaku?” mereka berdua berjalan menuju kedai kopi diseberang.

Hari itu tidak ada yang aneh, sampai jam kerja Jonathan berakhir sosok Marissa tidak muncul di kamar hotelnya walaupun bagian gorden tetap terbuka. Dia sampai mengecek berita malam, apakah ada berita orang hilang atau tidak. Memang ada berita orang hilang namun bukan pria yang bersama dengan Marissa. Hampir beberapa hari ini tidak ada berita apapun, dia merasa lega dan berpikiran bahwa pria besar yang bersama Marissa hilang mungkin disebabkan oleh orang lain.

Dia tersadar bahwa harusnya dia tidak usah terlalu memikirkan hal itu secara berlebihan bahkan sampai mengganggu pekerjaannya. Sekalipun benar orang itu hilang akibat dari ‘kencan’ bersama Marissa teknisnya itu bukan urusannya, begitu yang ada dibenak Jonathan. Dia tersenyum lebar sambil menghabiskan makan malamnya.

Hari-harinya di kantor kini kembali normal. Pekerjaan yang menyita waktu, pikiran, serta mental sudah menjadi makanan sehari-hari. Kedai kopi seberang sudah menjadi tempat wajib bagi mereka jika ingin melepas penat. Saat itu juga Jonathan sering melihat Marissa bersama pria lain, dia sangat teliti sampai mengingat bentuk fisiknya dengan jelas. Ada pria tua berbadan gemuk, pria besar dengan tubuh penuh tato sampai pria berkacamata yang seumuran dengannya.

Smith merasa kecewa karena dia sudah agak lama mengenalnya tapi belum juga mampu mengajaknya kencan. Jumat ini mereka memutuskan untuk minum-minum, karena besok sabtu merupakan hari libur. Pergilah mereka ke sebuah bar dan mulai memesan minuman, mereka berencana belum akan pulang sebelum mabuk berat.

“Jo…Jonathan ayo tambah lagi,” ucap Smith yang sudah mabuk. “hei pelayan berikan kami satu botol besar lagi,” diikuti sorak rekannya. “Sial! Benar-benar sial! Menurut kalian apa sih kurangnya aku, karirku bagus, wajahku tampan bahkan mataku saja berwarna biru tapi kenapa aku selalu gagal mengajak Marissa kencan!” Smith semakin tidak bisa mengendalikan diri.

“Karir bagus apanya, kamu cuman akuntan Smith. Lihat selera Marissa, kamu bukan salah satu dari mereka,” rekanannya yang lain mengiyakan.

“Ya…ya kamu benar Tom…mungkin aku harus mempunyai mobil sport kuda jingkrak itu jika ingin mengajak Marissa kencan, padahal aku sudah tidak sabar untuk meng ekhem…ekhem…tubuhnya yang seksi itu,” rekannya tertawa..

Mereka semua mabuk sampai lewat tengah malam, Jonathan pulang mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. Dia berharap tidak ada polisi yang menghadangnya, doanya terkabul dia kembali ke rumah dengan selamat. Di rumah Ibunya memarahinya karena melihat kondisi Jonathan yang mabuk parah. Dia mengambil minuman soda jeruk dalam kaleng untuk meringankan efek mabuk, lalu mengambil remote untuk menonton televisi.

“Hm…ada acara menarik apa malam ini,” mengganti-ganti channel sampai terhenti di channel berita. “kasihan sekali mereka, sudah larut begini masih bekerja di kantor,” menertawakan penyiar berita yang sedang membacakan berita.

Satu persatu berita mulai diberitakan, hingga akhirnya menuju segmen akhir yaitu info mengenai orang hilang. Mereka mengatakan bahwa info ini rangkuman dari beberapa hari yang lalu.

“Woohoo…segmen yang aku suka, kenapa belakangan ini sering terjadi yah…yeah!…,” masih dalam kondisi mabuk. Terpampang foto-foto orang yang diberitakan hilang, semua tidak ada yang dikenal hingga mabuk Jonathan mendadak hilang dan dia menjatuhkan remote televisinya.

Pria yang membawa mobil sport, pria penuh tato, beberapa pria yang dia lihat beberapa hari ini bersama Marissa semua muncul dalam satu siaran berita. Dia tidak mampu berkata lagi dan pikiran negatifnya kembali muncul.

“Apa ini?…kenapa mereka semua…,” langsung mematikan televisi. “aku ingat betul, orang-orang itu…aku melihatnya…aku melihatnya…,” beranjak menuju kamar tidurnya, dia masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi. “tidak…aku tidak harus perduli,” menutup mukanya dengan bantal.

Dia terbangun saat siang hari, kepalanya masih pusing. Getaran dari ponselnya yang membangunkannya, semua pesan berasal dari grup chat. Dia membukanya, isinya tentang kencan. Lalu dengan jemarinya menggeser pesan itu ke atas, ternyata Smith mengabari bahwa dia akan berkencan malam ini. Setelah dibaca dengan seksama ternyata Smith akan berkencan dengan Marissa, sontak Jonathan kaget.
Lalu teringat lagi tentang berita orang hilang tadi malam, “Tidak…tidak mungkin, Smith,” menghubungi Smith secara personal.

Smith membenarkan tentang kencan itu dan bilang kepada Jonathan tidak perlu khawatir, dia yakin bisa meng’handle’ Marissa dengan baik. Saat diberitahu tentang pria yang membawa mobil sport merah menghilang dia kebingungan padahal jelas sekali Smith tampak kecewa saat pria itu menjemput Marissa tempo hari. Jonathan bersikukuh menyuruh Smith untuk mengingatnya, namun dia menjawab hanya ingat ketika Jonathan menghampirinya dan mengajaknya membeli kopi dan Marissa saat itu langsung masuk kembali ke hotel untuk mengambil barang untuk photoshoot.

Jonathan langsung bergegas lalu pergi menuju hotel tempat Marissa tinggal yang kebetulan bertetangga dengan kantornya, dia sangat penasaran dengan ini semua. Dengan tekad yang kuat dia akan bertanya langsung kepada Marissa siapa dia sebenarnya. Jalanan di hari sabtu tidak terlalu ramai, dengan cepat dia sudah sampai di hotel dan langsung menuju resepsionis.

“Bisa minta tolong, apakah ada penghuni hotel yang bernama Marissa…kalau tidak salah namanya Marissa Charoline,” kata Jonathan.

“Apa tuan sudah ada perjanjian sebelumnya dengan miss Marissa? Jika tidak kami mohon maaf tidak bisa memberitahu di mana kamar miss Marissa. Biasanya beliau akan memberitahu sehari sebelumnya, ini sudah aturan dari hotel untuk tidak memberikan info kepada orang yang tidak dikenal oleh penghuni kamar dan memang miss Marissa yang meminta untuk menjaga privasinya.”

“Tolonglah…sekali ini saja, aku mohon…,” tetap tidak diberikan oleh resepsionis hotel ini.

Terjadi keributan kecil di meja resepsionis akibar ulah Jonathan, hingga akhirnya wanita yang dibicarakan tiba dan menyelesaikan keributan itu dengan cepat.

“Jonathan?…kenapa tidak menghubungiku…maaf, baru tadi sekali kami melakukan perjanjian tuk bertemu hari ini, saya tidak sempat mengabari kalian. Saya minta maaf,” memberitahu resepsionis itu lalu mereka berdua pergi.

Marissa membawanya ke lift tuk menuju lantai paling atas, hotel ini memiliki café bersifat umum di sana Seperti biasa Marissa mengenakan gaun merah ketat, payudaranya besar dan kencang. Bokongnya bulat penuh, belum lagi wangi parfumnya. Jika Smith berada di lift ini sudah pasti dia akan terangsang dengan sendirinya. Sesampainya di café itu Marissa memilih tempat dekat pagar agar mereka berdua bisa melihat pemadangan kota ini yang dipenuhi gedung-gedung bertingkat.

“Jadi kamu ingin membicarakan apa?” Jonathan menelan ludahnya, dia malah gugup berhadapan langsung dengan Marissa. Bibir Marissa yang merah menyala membuat pikirannya menjadi tidak fokus.


cerbung.net

The Red Dress

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
The Red Dress adalah serial bertemakan horror yang merupakan lanjutan dari serial Sisters List.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset