The Red Dress episode 4

Chapter 4

Jonathan masih belum mau membuka suaranya, dia malah membayangkan bisa mengecup bibir indah milik Marissa.

“Jonathan…Jonathan, kamu masih di sini?” mengentikan jarinya.

“Ah..ya.., dari mana anda tahu nama saya?” muka Marissa menjadi bingung.

“Bukannya kita sudah berkenalan yah? Pagi itu…kamu sendiri kan yang menghampiri Smith, lalu Smith mengenalkanku padamu…kenapa kamu bisa lupa? Ada-ada saja…,” tertawa kecil yang disambut rasa malu Jonathan.

“Sial! Kenapa aku mendadak bodoh begini didepannya, padahal tadi aku ingin langsung melabraknya,” ucapnya dalam hati.

Pelayan membawakan sebuah botol wine dan dua buah gelas, si pelayan mulai menuangkan minuman itu ke masing-masing gelas.

“Tenang saja, aku yang bayar. Aku masih penasaran, jadi niat kamu mencariku ada perlu apa?”

Tanpa basa-basi Jonathan langsung menceritakan tentang kasus orang hilang yang akhir-akhir ini marak terjadi, dia bercerita soal para pria yang sebelumnya bertemu dengan Marissa mereka termasuk ke dalam daftar tersebut. Lalu menyinggung salah satunya, “Aku ingin bertanya, kemana perginya pria itu, yang membawa mobil sport merah. Aku melihatnya di berita malam dia menghilang, seperti yang kamu bilang sebelumnya pagi itu aku menghampiri kalian lalu tidak lama seorang pria datang dengan mobil sport mewahnya. Kebetulan temanku ada di kepolisian, info ini akan sangat berguna untuknya…”

Mengangkat telunjuknya, “Hm..jadi kamu menuduhku kalau akau ada hubungannya dengan hilangnya mereka? Apa kamu punya bukti kalau aku yang melakukannya,” mendekatkan wajahnya ke Jonathan, dadanya sudah memenuhi meja.

“Bukan..bukan begitu, aku hanya…,” lagi-lagi Marissa memotongnya.

“Baiklah asisten “detektif”, katakanlah aku yang melakukannya. Jika kamu bisa menemukan buktikannya aku akan rela kamu jadikan “tahanan” pribadimu,” wajahnya semakin mendekat, dia membisikan sesuatu. “kamu harus cepat, jika tidak Smith mungkin akan muncul di info orang hilang selanjutnya,” meminum winenya. Muka Jonathan menjadi tegang lalu Marissa tertawa keras, “Ya ampun Jo…aku hanya bercanda. Eh sudah yah papi sudah datang,” beranjak dari bangkunya dan mulai pergi.

Jonathan melihatnya pergi dengan seorang pria, tampilannya modis. Dia memakai baju yang menutupi lehernya, rambutnya putih dan dari mukanya pria itu sudah tidak muda lagi. Mereka membicarakan sesuatu sebelum pergi dari hotel. Perkataan terakhir Marissa membuatnya bingung, apakah dia ada maksud mengatakan itu atau hanya sebagai gurauan. Untuk memastikan Smith aman dia meneleponnya dan memintanya untuk membatalkan kencan malam ini. Dia menolaknya dan memastikan dirinya akan senang-senang dengan Marissa.

Dengan perasaan tak menentu dia keluar dari hotel, disebelahnya gedung tempat dia bekerja memandanginya dengan dingin. Dia tak tahu harus melakukan apa, pertemuannya dengan Marissa tidak menghasilkan apa-apa. Marissa malah meledeknya, tak patah arang dia memikirkan cara lain. Lagi-lagi teringat perkataan Marissa tadi, dia berniat akan mencari bukti-bukti. Hal pertama yang melintas dipikirannya adalah mendatangi kantor channel berita yang memberitakan info orang hilang itu tadi malam.

Ketika mengendarai mobilnya dia masih berpikir, kenapa harus melakukan sampai sejauh ini. Padahal Marissa sendiri belum terbukti dan sejak kasus orang hilang pertama belum ada polisi yang mendatangi hotel di mana Marissa tinggal. Sebenarnya dia hanya khawatir jikalau nantinya ada orang di kantor atau yang lebih buruknya rekan-rekannya yang akan menjadi “korban”. Karena bukan suatu kebetulan jika pria-pria yang bersama Marissa diberitakan hilang, pasti ada sesuatu dikejadian ini.

Kantor channel berita letaknya lumayan jauh dari hotel Marissa, tapi demi membuktikan prasangkanya dia lakukan itu semua. Sebelum turun dia memikirkan beberapa cara agar bisa mendapat informasi orang-orang hilang tersebut, mulai mengaku sebagai salah satu anggota keluarga, pemburu hadiah atas balas jasa, dan mengaku sebagai detektif swasta. Tidak banyak membuang waktu dia masuk ke dalam kantor, security langsung menyapanya.

“Maaf, perkenalkan saya…saya Ro..James Rode, detektif swasta,” terbata-bata saat mengenalkan dirinya.

“Ada perlu apa pak detektif?”

“Kemarin malam saya melihat tayangan mengenai orang hilang, jumlahnya cukup banyak dan saya tertarik untuk membantu menemukannya,” memperdalam suaranya agar terlihat seperti detektif sungguhan.

Security itu lalu mengantarnya kebagian redaksi, khususnya redaksi yang bertanggung jawab atas program tayangan orang hilang itu. Jonathan bertemu dengan seorang wanita, dengan perkenalan sederhana Jonathan meminta wanita ini untuk memberinya semua data orang-orang yang dinyatakan hilang. Tanpa curiga wanita ini memberinya salinan data-data orang ini, dan berharap Jonathan dapat menemukan keberadaan orang ini karena salah satu keluarganya. Sebuah map coklat sudah di tangan, Jonathan mengarahkan mobilnya ke arah pulang.

Dia berharap masih melihat Smith saat senin pagi, dia bahkan tidak memberi tahu di mana dia akan berkencan dengan Marissa. Hari sudah mulai gelap saat dia sampai ke rumah, dia membuka map coklat itu. Lalu memilah-milah mana saja yang menjadi ‘korban’ Marissa. Hingga akhirnya dia mendapati tujuh orang, pria besar berkulit gelap juga termasuk. Ternyata belum ada yang menemukan di mana keberadaan pria ini. Dengan seksama dia melihat-melihat berkas itu, menjajarkan semuanya di atas meja. Dia masih belum menemukan sesuatu, factor ‘x’ kenapa harus pria-pria ini.

“Hm…, tunggu dulu,” melihat berkasnya lagi. “ternyata semuanya bekerja di bidang modeling, sedangkan pria tua ini…top manager perusahaan pakaian dalam wanita, Soft ‘SD’ Diamond,” lalu tertawa girang. “kenapa aku seperti detektif sungguhan,” mengelus-ngelus rambutnya lalu merapikan berkas, membaginya menjadi dua agar tidak tercampur dengan berkas orang yang tidak memiliki hubungan dengan Marissa.

Jonathan memeriksa ponselnya, banyak notifikasi dari grup chat. Kebanyakan isinya adalah menanyakan bagaimana kencan Smith dengan Marissa. Lewat tengah malam Smith belum juga membalasnya. Rekan-rekannya mengisi obrolan grup dengan obrolan liar dan bahasanya yang menjurus ke arah seks, “Kalian ini, pria-pria otak kotor!” lalu melempar ponselnya. Hingga keesokan harinya Smith belum juga membalas chat di grup, Jonathan mencoba menghubunginya namun ponselnya tidak aktif.

Saat menghubungi tempat tinggalnya orang di sana mengatakan Smith belum juga pulang sejak kemarin malam. Perasaan was-was kembali muncul, dia berniat untuk kembali mendatangi Marissa namun tidak jadi ketika ponselnya bergetar dan notifikasi berasal dari grup chat. Smith membalasnya, dia bilang kemarin malam merupakan malam terbaiknya. Menurutnya Marissa sangat handal kemarin, dia berjanji akan menceritakannya besok pagi di kantor sebelum jam kerja di mulai.

“Bulu kudukku berdiri semua, aku merinding tak karuan. Sungguh nikmat,” isi pesan Smith yang membuat grup chat semakin gaduh.


cerbung.net

The Red Dress

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
The Red Dress adalah serial bertemakan horror yang merupakan lanjutan dari serial Sisters List.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset