The Red Dress episode 5

Chapter 5

Pagi ini di kantor suasana sudah sangat gaduh, pelakunya bukan lain adalah Smith. Dia sangat bersemangat menceritakan kencan pertamanya dengan Marissa. Jonathan mendengarnya dengan seksama.

“Dia…dia sangat agresif! Bayangkan saja, dia membanting pintu dengan keras. Lalu mendorongku sampai aku jatuh kekasurnya. Selanjutnya kalian bisa bayangkan sendiri,” rekan-rekannya kecewa Smith tidak menceritakan bagian erotisnya.

“Smith…, kamu masih ingat nomor kamarnya? Lantainya sama dengan lantai ini kan?”

Smith tertawa sambil meledeknya, “Lihat…Jon ingin mengintipnya langsung lewat lubang kunci kamarnya,” sontak semua tertawa. “tidak…aku hanya bercanda, kamarnya nomor 48010. Kamu tahu kan aku tidak pernah menyimpan hati kepada wanita sembarangan, apalagi seperti Marissa. Jadi kamu boleh menggodanya,” dengan gayanya yang angkuh.

Obrolan mereka terhenti karena waktu bekerja sudah dimulai, namun ada saja rekannya yang penasaran apa saja yang dilakukan oleh Smith kepada Marissa saat kencan itu. Smith berjanji akan menceritakan lagi saat waktu makan siang, dia benar-benar terkesan kepada rekan kerjanya karena begitu antusias terhadap kencannya malam itu.

Kedai kopi langganan menjadi tempat mereka berkumpul siang ini, Jonathan sudah mempersiapkan matanya. Kamera ponselnya juga sudah siap, dia ingin mencari bukti. Belum ada tanda-tanda keberadaan Marissa, Smith semakin bersemangat menceritakan malamnya bersama Marissa. Jonathan tidak terlalu memperhatikannya, apa yang sudah dia inginkan sudah didapatkannya.

“Dia menghisap semuanya, tubuhku dibuat lemas olehnya. Disituasi seperti itu dia semakin ganas, kami bahkan sampai….,” ceritanya semakin liar. Dia melihat Jonathan yang terus memperhatikan keadaan di luar kedai sampai tidak memperhatikan ceritanya, “lihat Jonathan, dia malah sedang membayangkannya sambil melihat keluar jendela,” rekannya meledeknya lagi.

Seharian itu Marissa tidak menampakan dirinya, bahkan kamar hotelnya gelap dan tertutup rapat. Padahal dia ingin sekali melihatnya dengan seorang pria lagi dihadapan rekan-rekannya khususnya Smith. Mereka bahkan sudah menjalani cinta satu malam, tidak ada jaminan Smith tidak akan melakukannya lagi dengan Marissa. Jika ini terus berlanjut bukan tidak mungkin Smith yang akan masuk ke berita orang hilang selanjutnya.

Dia bingung ingin bercerita kepada siapa, Smith mendadak lupa begitupun rekannya yang melihat Marissa dengan seorang pria. Ibunya tidak mungkin, dia sudah berada di usia senja. lalu dia teringat di masa sekolahnya dahulu ada seorang temannya yang menjadi detektif sekarang. Hubungan mereka juga lumayan dekat.

Dia menelpon temannya yang seorang detektif, dia meminta untuk membantunya. Temannya bersedia dan malam ini dia langsung menuju rumahnya, ibunya menyambutnya dengan hangat. Jerry Hart, temannya yang seorang detektif. Rambut coklatnya sangat serasi dengan jaket panjang berwarna coklat yang dia kenakan malam ini.

“Jadi ada perlu apa Jo?”

“Akhir-akhir ini pikiranku sangat kacau, aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Tenang, bukan masalah percintaan. Kamu mungkin tahu jika ada seseorang yang minta bantuan kepada detektif kan?”

“Tenang saja, aku sangat senang jika bisa membantu,” ucapnya.

Jonathan bercerita, mengenai Marissa yang sering terlihat bersama beberapa seorang pria. Dia menjelaskan pria-pria yang bersamanya adalah seorang model, anehnya para pria yang terlihat bersamanya mendadak hilang dan beritanya masuk channel berita lokal. Rekannya yang melihatnya juga tidak mengingatnya padahal dia yakin melihatnya bersama rekannya.

“Terdengar aneh bukan?” senyum sinis, dia sendiri bahkan ragu menceritakannya.

“Kamu yakin wanita ini memang melakukannya? Maksudku kamu mempunyai bukti atau saksi yang menguatkan?”

“Rekanku melihatnya, seperti yang aku ceritakan mereka malah lupa bahwa pernah bertemu pria itu. Tunggu sebentar,” beranjak dari tempat duduknya dan kembali membawa berkas-berkas tentang orang hilang yang diduga menjadi korban Marissa. “akan aku jelaskan dengan berkas ini,” detektif itu mengamatinya.

Korban pertama adalah seorang pria besar berkulit gelap, semua rekannya melihatnya bersama Marissa saat berada di sebuah kedai kopi. Hanya berselang semalam pria itu dikabarkan hilang, lalu berlanjut dengan pria yang membawa mobil sport. Saat itu hanya Smith yang melihatnya dan Marissa terus terlihat bersama pria lainnya, lalu tepatnya 2 minggu setelah pertemuannya dengan pria yang membawa mobil sport itu mereka semua dinyatakan hilang.

“Aku sudah memeriksanya, mereka semuanya adalah model kecuali pria tua yang ini,” menunjuk satu berkas.

Jerry memeriksanya dengan detil, “Kamu sudah mencoba mengunjungi keluarga dari orang-orang ini? Apa kata mereka sebelum orang-orang ini dinyatakan hilang?”

“Belum, kamu tahu aku hanya seorang akuntan dan melakukan suatu investigasi pasti sudah menyalahi aturan.”

“Hmm…yah…,baiklah aku akan mendalami berkas-berkas ini dahulu. Kamu kosong saat akhir pekan?” Jonathan mengangguk, “jika mau kamu bisa ikut denganku, kita bersama-sama berkunjung ke keluarga pria-pria yang dinyatakan hilang ini.”

Setelah memberikan semua berkasnya Jerry pamit untuk pulang, dia meminta Jonathan untuk selalu berhati-hati dan selalu mengawasi Smith serta gerak-gerik Marissa. Jika bisa dia ingin sekali melihat sosok wanita ini, Jonathan sudah menjelaskan ciri-cirinya tapi Jerry tidak bisa membayangkannya. Dia juga tidak mempunyai fotonya. Dia sudah mencoba meminta kepada Smith tetapi belum dibalas.

“Oh iya Jo, terima kasih karena kamu telah memberikanku pekerjaan,” mereka berdua tertawa. “dan soal rekan kerjamu si Smith, tenang saja. Dia bukan selera wanita ini, awasi saja dia dan kita akan bertemu lagi di akhir pekan,” Jerry pulang dengan mengendarai mobilnya.


cerbung.net

The Red Dress

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
The Red Dress adalah serial bertemakan horror yang merupakan lanjutan dari serial Sisters List.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset