The Red Dress episode 7

Chapter 7

Mereka berdua mulai mendekati pagar, sama seperti sebelumnya pagar baru terbuka saat Jerry memamerkan lencananya. Halamannya memang sungguh luas, dan tuan Rico sendiri yang menyambut mereka berdua.

“Ada yang bisa saya bantu gentleman?” sapanya hangat.

“Kami berdua dari kepolisian, mungkin anda bisa membantu kami dengan memberi keterangan mengenai Michael Gloris. Anaknya Heater memberi tahu kami bahwa sebelum kejadian ayahnya menghilang, dia dekat dengan model dari pihak anda,” mata Jonathan tidak berani melihat muka tuan Rico secara langsung.

“Um…baiklah, silahkan masuk,” tuan Rico mempersilahkan mereka masuk.

Rumahnya bergaya modern minimalis, banyak ornamen-ornamen kaca di rumah ini. Mereka duduk di sebuah sofa diruangan tamu, di samping mereka ada sebuha televisi besar lengkap dengan perapian elektrik dibawahnya.

“Saya bisa mulai dari mana?” gayanya sangat santai, kakinya dilipat.

“Mengenai model ini, apakah benar model binaan anda belakangan ini dekat dengan tuan Michael?”

“Saya tidak menampik berita itu, model yang anda maksud bernama Marissa. Dia memang dekat dengan Michael akhir-akhir ini. Michael berencana menjadikan Marissa sebagai model produk baru perusahaan mereka. Tapi dia tidak ada kaitannya sama sekali dengan hilangnya Michael,” lanjutnya. “Dia bahkan menghubungiku saat mengetahui Michael menghilang, dia sedih karena sebuah kontrak kerja akan segera dirampungkan oleh mereka. Dengan kejadian ini tentu saja Marissa kehilangan peluang besar.”

“Di mana keberadaan Marissa sekarang?” Jonathan yang sedang menyamar bertanya kepada tuan Rico.

“Ah…dia sedang berada di luar kota, sudah hampir seminggu ini dia pergi.”

Jonathan melihat bahwa tuan Rico ini berbohong, dia menyaksikan sendiri malam itu dia melihat Marissa dengan tuan Rico masuk ke rumah ini. Jonathan hanya bisa tersenyum saat mendengarnya, lalu tuan Rico mempersilahkan mereka pulang karena dia ada janji untuk bertemu seseorang. Mereka berdua keluar, penyataan tuan Rico tidak memberikan petunjuk apapun kecuali kebohongan yang dia katakan. Di dalam mobil Jonathan merencakan sesuatu dan Jerry menyetujuinya.

Mereka pergi menjauh namun tidak benar-benar meninggalkan lokasi itu, mereka hanya memakirkan mobilnya menjauh dari rumah. Jonathan sangat yakin bahwa tuan Rico akan pergi menemui Marissa. Setelah menunggu hampir setengah jam mereka melihat sebuah mobil keluar dari rumah tuan Rico. Mereka menunggu beberapa saat sampai jarak yang begitu jauh lalu mengikutinya.

“kita tidak perlu mendekat, jika dugaanku tepat dia akan pergi ke hotel di mana Marissa berada,” ucap Jonathan kepada Jerry yang saat ini sedang menyetir.

Mereka mengikutinya dengan jarak yang jauh, dan benar tebakan Jonathan. Arah mobil tuan Rico merupakan jalan menuju hotel. Mobil itu masuk ke parkiran bawah tanah yang ada di hotel, Jerry memakirkan mobilnya di pinggir jalan. Di mana mereka bisa melihat jika tuan Rico datang dan masuk melalui pintu depan.

Dengan pakaiannya yang khas, yang menutupi leher tuan Rico masuk ke dalam hotel. Tidak lama mereka berdua keluar, Jonathan masih dengan kostum penyamarannya. Mereka berjalan memasuki hotel, jejak tuan Rico sudah hilang. Namun Jonathan tidak heran karena tempat yang dituju oleh tuan Rico adalah kamar nomor 48010 yang tidak lain adalah nomor kamar Marissa.

“Kita akan menunggu tuan Rico di lobi, jika kita beruntung kita bisa melihat tuan Rico membawa Marissa pergi,” Jonathan seperti menyembunyikan sesuatu. “ada apa?”

“Bagaimana kalau kita kekamarnya Marissa? Aku sudah tahu lantai dan nomor kamarnya.”

“Untuk apa? Kita tidak bisa langsung menyergapnya saat ini juga hanya dengan satu keterangan dari seorang gadis yang ayahnya hilang, bukti kita belum kuat,” terjadi perdebatan kecil di situ.

Suasana di hotel sungguh ramai, karena hari ini merupakan akhir pekan belum lagi hotel menyediakan café di lantai paling atas yang terbuka untuk umum. Security menghampiri mereka dan menanyakan tujuan mereka datang, Jonathan dengan sigap bilang bahwa mereka ingin ke café yang berada di lantai atas. Ketika security itu ingin mengantarnya Jonathan menolaknya dengan sopan karena sudah tahu berada di lantai mana café itu

Mereka berdua menaiki lift, Jerry menekan tombol ke lantai 48. Tidak ada siapa-siapa lagi di dalam lift ini kecuali mereka berdua.
“Ingat walaupun aku temanmu tapi aku masih seorang detektif dari kepolisian, jadi ikuti kata-kataku,” kata Jerry.

“Iya, aku mengerti.”

Pintu lift terbuka, mereka langsung mencari di mana letak kamar yang bernomor 48010 itu. Setelah berjalan ke sana – sini mencari mereka menemukan kamar yang dimaksud. Dari luar keadaanya sama saja dengan pintu kamar lain, ada sebuah lubang kecil dan pintu ini akan terbuka jika memakai kartu yang diberikan oleh pihak hotel.

“Kamu sudah puas? Lebih baik kita pergi sekarang sebelum ada yang mencurigai kita,” Jerry menyuruh Jonathan untuk menjauh dari pintu dan pergi ke lobi, namun Jonathan masih saja memandangi pintu itu. “Jo! Ayo!” akhirnya Jonathan menurutinya.

Baru beberapa langkah mereka bertemu dengan security yang ada di bawah tadi.

“Kalian tersesat? Café di hotel ini berada di lantai paling atas tuan,” ucap security itu.

“Tadi jemariku terselip dan tidak sengaja menekan tombol lantai ini,” Jerry memberikan alasan.

“Di hotel ini privasi orang-orang yang menginap sangat dijaga, sehingga tidak sembarangan orang bisa lalu-lalang di sini, kecuali sudah konfirmasi terlebih dahulu dengan pemilik kamar memalui resepsionis. Baik, mari saya antarkan ke lantai atas,” tanpa menaruh curiga Jerry dan Jonathan mengikuti security itu.

Mereka memasuki lift bersama-sama, security menekan tombol lantai paling atas. Posisi security di belakang sedangkan Jerry dan Jonathan berada didepannya. Sesekali Jonathan menoleh kebelakang, memperhatikan security yang mengantarkan mereka. Tiba-tiba dengan gerakan yang sangat cepat security itu melakukan kuncian dileher Jerry, Jonathan yang melihatnya langsung disikut dengan keras lalu tak sadarkan diri.

Perlahan-lahan Jonathan membuka matanya, dia melihat sebuah lampu menyala diatas kepalanya. Melihat sekeliling banyak sekali perabotan, ruangan ini juga cukup lega. Dia mencoba bergerak tapi tidak bisa, dirinya diikat pada sebuah bangku. Darah dari hidungnya terus menetes, pintu terbuka seorang pria masuk. Jonathan tidak bisa melihatnya karena kondisi ruangan yang gelap dan hanya tempat dia duduk sekarang yang tersorot oleh lampu.

“Aku sudah peringatkan Marissa, agar bertindak secara rapih dan hati-hati. Entah kenapa dia harus mengisap si tua Michael juga,” pria itu berjalan kebelakangnya. “jadinya semua ini terjadi, seorang detektif sungguhan dan rekannya ini yang berpura-pura datang. Padahal Marissa sudah melihat semua polisi diarea ini dan mereka semua sudah terjerat,” pria itu berjalan memutar dan langsung menghadap ke muka Jonathan. “tenang, giliranmu akan tiba setelah Marissa selesai dengan detektif itu,” wajah tuan Rico yang seram melihat Jonathan yang kaget dan bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.


cerbung.net

The Red Dress

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
The Red Dress adalah serial bertemakan horror yang merupakan lanjutan dari serial Sisters List.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset