The Red Dress episode 10

Chapter 10

Jonathan berlarian menuruni tangga, Jerry mengejarnya dan meneriakinya meminta untuk tenang. Tapi suara Jerry tida terdengar oleh Jonathan, dia panik bukan main. Karena berlarian tidak beraturan Jonathan tersungkur, dia terjatuh dengan keras. Jerry yang melihatnya membangunkannya, memintanya tuk tenang selagi Jonathan masih meronta-ronta minta dilepaskan.“Jo!..Jonathan! dengar aku,” Jonathan berhenti meronta. “dengar, kita akan keluar dari hotel ini dulu lalu aku akan mengantarmu ke rumah. Kamu paham?”

“Tapi…”

“Percayalah bahwa ibumu akan baik-baik saja, mereka tidak akan gegabah dengan menambah jumlah korban, tuk sekarang kita cari dulu tempat yang aman. Lukamu tampak berat,” Jerry membantu Jonathan untuk berjalan.

Mereka menemukan pintu yang tertulis angka 17, Jerry mengintipnya sedikit takut ada security atau staff hotel yang sedang bertugas. Tidak ada tanda-tanda dari mereka, Jerry memapah Jonathan keluar. Dia melihat sebuah kamar didepannya.

“Tadi kamu bisa membuka kamar tanpa kartu akses kan?”

“Ya, memang kenapa?”

“Aku akan mencobanya,” membuka salah satu kamar. Benar saja pintunya terbuka, “apa yang sebenarnya mereka lakukan?” membawa Jonathan masuk.

Kamar ini kosong dan bersih, seperti baru dibereskan oleh staff hotel. Jonathan duduk di atas kasur, dia membuka sepatunya. Kaki kanannya terkilir dan memar, Jerry mengambil handuk dari kamar mandi. Dia menyuruh Jonathan untuk mengelap darah yang sudah kering dihidungnya dan darah yang mengucur di keningnya. Jerry mondar-mandir di depan Jonathan, dari mukanya tampak dia sedang berpikir.

“Ada apa?” Jonathan bertanya.

“Tidak..aku masih bingung, jika mereka mematikan semua listrik bagaimana nasib para tamu hotel? Apa mereka sudah mengusir semua orang di sini hanya untuk menahan kita?” Jonathan terdiam. “kenapa?”

“Dimimpiku semua orang berkumpul di aula, mungkin para tamu ditempatkan di sana oleh Marissa.”

“Aula yah…aku sendiri tidak tahu di mana letaknya, kita sudah sampai sejauh ini tidak mungkin kita mengecek tiap lantai.”

Sambil menunggu tenaga mereka pulih, mereka hanya diam saja di kamar ini. Sesekali Jerry mengintip keluar, untuk memastikan tidak ada security maupun staff hotel di lantai ini. Setelah menunggu hampir 30 menit Jonathan mulai berdiri, dia menginjak-injak lantai untuk mengetes apakah kakinya sudah bisa berjalan dengan baik apa belum.

“Bagaimana?” Jerry bertanya

“Ya! Kita harus bersiap,” namun langkah Jonathan belum benar-benar mantap.

Jerry pelan-pelan membuka pintu, dilihatnya lagi keadaan di luar kamar. Keadaan sangat aman mereka mulai berjalan menuju pintu darurat. Namun ketika melewati lift, pintu lift terbuka.

“Liftnya?” mereka berdua saling menatap, “tunggu Jo, bisa jadi ini adalah jebakan,” Jerry sangat berhati-hati.

“Tapi jika menggunakan ini kita bisa turun lebih cepat kan? Kakiku juga belum sepenuhnya pulih dan kita berada di lantai 17,” Jonathan mencoba meyakinkan Jerry.

Dengan agak terpaksa Jerry mengikuti Jonathan masuk ke dalam lift, Jonathan menekan tombol menuju lobi. Mereka berdua saling diam, Jerry selalu dalam keadaan waspada. Bunyi dalam lift menandakan mereka sudah sampai di lobi, sebelum keluar Jerry memberitahu Jonathan agar bertingkah seperti biasanya. Jika mereka beruntung mereka bisa lebih dahulu keluar sebelum tuan Rico dan Marissa datang.

Mereka keluar dari lift, berkat beristirahat sebentar di kamar kosong barusan tampilan mereka sangat rapih. Bekas luka dari wajah Jonathan maupun Jerry tidak terlihat. Suasana di lobi sangat ramai, penuh sekali dengan orang-orang penghuni kamar hotel. Para staff juga kelihatan berkeliaran di sini. Mereka sudah hampir mendekati pintu masuk hotel ini namun tiba-tiba suara tepukan tangan sangat nyaring terdengar. Keadaan lobi yang tadi ramai mendadak diam dan sepi, mereka semua melihat Jerry dan Jonathan. Memandangnya dengan kosong.

Lalu orang-orang yang ada di lobi berdiri, Jerry sudah mengambil ancang-ancang jika mereka semua berniat mengejarnya. Suara tepukan yang terdengar belum reda malah tambah nyaring karena keadaan sunyi. Muncul dari kerumunan orang-orang tersebut seseorang yang membuat suara tepukan tangan. Dia adalah seorang wanita, bentuk tubuhnya sangat indah dan dia memakai gaun ketat berwarna merah. Disampingnya seorang pria yang memakai pakaian modis.

“Hebat! Sungguh hebat, kalian berdua bisa sampai ke sini,” sahut Marissa. “tapi sayang sekali perjalanan kalian hanya sampai di sini,” orang-orang mulai berjalan pelan menghampiri Jerry dan Jonathan

Jerry membisikkan sesuatu kepada Jonathan, “Jangan-jangan…,” Jonathan melihat ke arah Jerry.

“Tidak ada artinya jika kita berdua tertangkap lagi, pergilah…aku akan menahan mereka dan ingat apa yang aku katakan barusan,” Jonathan ragu-ragu melangkahkan kakiknya, “cepat!” tertatih-tatih Jonathan keluar dari hotel ini.

Cahaya matahari menusuk badannya, jalanan di sini tampak sepi walaupun masih masuk hari akhir pekan. Dia melihat mobil Jerry, lalu memasukinya. Dia ingat perkataan Jerry barusan. Dia melihat jok kemudi mobil ini, terlihat di jok ini seperti ada celah-celah seperti bekas potongan. Dia membukanya dan benar saja didalamnya ada sebuah ponsel dan kunci mobil. Lalu menyalakan ponselnya berbarengan dengan menyalakan mobil Jerry. Tidak menunggu lama Jonathan menekan pedal gas dalam-dalam dan mulai menjauh dari hotel.

Dia langsung menghubungi rekan Jerry dan meminta mereka segera datang ke hotel itu karena keadaannya sangat darurat. Lalu dia mengarahkan mobilnya kerumahnya, dia ingin melihat keadaan ibunya terlebih dahulu. Dia juga sudah meminta rekannya Jerry untuk memberitahukan jika petugasnya sudah mengatasi masalah di sana.

Ibunya senantiasa selalu membukakan pintu ketika Jonathan pulang, Ibunya tidak mengetahui apa yang terjadi pada anaknya.

“Itu mobil temanmu kan? Di mana dia? Kenapa kamu pulang sendiri?” Ibunya bertanya dengan lembut kepada anaknya.

Jonathan memeluk ibunya dengan keras karena mengetahui ibunya tidak kenapa-napa, “Dia…dia ada kasus mendadak Bu,” tidak terasa Jonathan menitikan air mata.


cerbung.net

The Red Dress

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
The Red Dress adalah serial bertemakan horror yang merupakan lanjutan dari serial Sisters List.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset