Time Is The Only One Who Cares Love episode 3

Chapter 3

“Aku ingin merayakan setahun hubungan kita. Kamu juga sudah semester 2 tahun ini. Aku senang bisa selalu membantumu dalam setiap tugas!” “Besok? Di mana?” “Mari kita jalan-jalan, ke mana saja besok!” Nina senang. Mereka kencan seperti selalu sebagai pasangan baru. Sangat mesra. Lan semakin mencintai Nina. Nina selama ini tidak pernah bisa berbohong kepada Lan. Sangat setia mendampingi Lan. Ini lah yang membuat Lan sangat senang. Mereka mengambil foto bersama. “Ini foto tahun pertama kita, Lan.” “Tahun depan akan bertambah lagi foto kita.”

Bulan demi bulan berlalu. Nina dan Lan menjadi terlalu mesra. Hubungan mereka semakin dibawa serius. Nina dan Lan dimabuk cinta. Nina datang ke rumah Lan suatu hari setelah pulang kampus. Lan menyambutnya. “Di mana setiap orang di rumahmu?” “Entah, mereka sibuk. Aku sendiri sedang merapikan kamar,” jawab Lan. “Aku akan membantumu,” Nina lalu masuk dan membantu Lan membereskan kamarnya.

Lan kemudian memeluk Nina. “Jangan tinggalkan aku, terkadang aku takut ketika mendengar sifatmu yang bosanan dengan pasangan,” “Aku sangat mencintaimu, berbeda dari segala pria yang ada yang kukenal.” “Aku ingin menikahimu.” “Aku masih 18 tahun, Lan.” Lan lalu membalikkan badan Nina dan mencium bibirnya. “Aku mencintaimu, Nina.” “Aku juga, Lan.”

Hubungan yang seharusnya tidak boleh terjadi, terjadilah. Nina memberikan segalanya. Lan juga memberikan segalanya. Seperti mereka berdua tidak ingin melepas satu sama lain. Kemudian, Nina menangis. Ia takut ibunya mengetahui hal ini. “Lan, maaf, aku khilaf. Aku takut sekali, aku takut Lan!” “Aku akan bertanggung jawab, Nina. Jangan takut.” Lan mencoba menenangkan Nina yang sangat ketakutan. Mereka berdua sangat ketakutan malam itu.

“Apa!? Apa yang kau lakukan terhadap Nina!! Aku memang setuju dengan hubungan kalian namun Nina masih 18 tahun!!” sontak saja ibu Nina sangat kaget ketika Lan datang ke rumahnya dan mengakui semuanya. “Aku akan mengatakan ini pada ibuku juga untuk menikahi Nina. Ia segalanya bagiku!” “Aku tahu itu, walaupun kau bertanggung jawab, aku takut Nina belum siap menjadi seorang istri! Ia masih muda dan menuntut ilmu!” “Terimalah pinanganku atas Nina!” “Bawalah orang tuamu, Lan.”

Lan pulang ke rumah dan menceritakan semua kepada orang tuanya. Mereka setuju menikahkan Lan dan Nina. Orang tuanya sangat senang dengan Nina, “Lan. sudah saatnya. Namun kau masih harus bertanya pada Nina apakah ia siap?” “Aku akan bertanya nanti. Nina, aku sudah lama menantinya.”

Nina masih ketakutan dalam hatinya. Ia belum siap. Ia berkata pada Lan untuk menunggunya lulus terlebih dahulu. Lan akan menunggu. Mereka pun berpelukan. Dan hari demi hari, buruk rupa itu mulai terlihat. Lan mulai berbohong walau hanya hal kecil seperti ingin kemana. Nina awalnya sabar namun terkadang ketika ia mengkritik Lan, Lan marah.

“Aku tidak harus selalu memberitahumu kan?” jawab Lan. “Aku takut kamu akan pergi!” “Aku tidak jauh darimu!”. Meskipun setelah ribut itu Lan selalu meminta maaf, luka di hati Nina membekas. Ia mulai kecewa. Belakangan Lan sibuk di kantornya. Nina terkadang membawakannya makan siang. Lan memang menyukainya, namun sikap Lan yang mulai darah tinggian membuat Nina harus selalu bersabar.

Suatu hari di rumah Lan, ketika Nina membuka handphone Lan, ia menemukan seorang wanita chatting dengan penuh perhatian. Tentu sangat menyakiti hati Nina. Ia begitu percaya Lan namun… “Wanita siapa itu Lan?” “Temanku. Hanya teman, Nina.” “Itu terlalu mesra sebagai teman!”. Lan marah. Ia membanting handphonenya. “Kau gila ya, aku punya teman saja kau cemburu! Ia hanya teman!” “Kalau itu temanmu kenapa harus kamu takut mengenalkannya padaku!! Kenapa harus kamu menyembunyikan handphonemu!” “Karena sikap cemburuanmu! Sedikit saja teman wanitaku selalu kau cemburu!!”

Nina menangis. Lan hampir menamparnya. Nina lalu menangis dan berkata, “Aku memberikan kamu segalanya karena aku percaya cintamu!” Nina lalu pergi dari rumah Lan. Lan terduduk. Air mata Nina masih terlihat diatas lantai kamarnya. Nina selalu penuh cinta menemani Lan. Lan lalu mengejar Nina.

“Maafkan aku Nina! Jangan meninggalkanku! Aku janji akan mengenalkan setiap temanku padamu! Nina!” Nina menghentikan langkahnya. Ia melihat sorot mata Lan sangat sedih. Ia lalu berlari dam memeluk Lan. “Jangan lagi berbohong. Lukanya akan berbekas dalam hatiku selamanya.” Mereka berpelukan.

Beberapa hari setelah itu, Lan masih saja marah ketika ditanya di mana oleh Nina. Walau begitu, Nina selalu melayani Lan dengan cinta. Walaupun bukan istrinya, Nina selalu memasaknya makan siang dan malam. Penuh cinta. Segala kemarahan Lan selalu ia maafkan. Namun, dibalik cintanya terpendam sakit hati. Nina lantas curhat kepada temannya.

“Aku ingin rasanya putus dari Lan namun aku tidak bisa. Tidak bisa putus dari seorang pria yang selalu menyakiti hatimu. Dalam hatiku aku takut karena aku sudah tidak berharga lagi sebagai wanita yang belum menikah,” curhat Nina kepada Frey, teman wanitanya.


cerbung.net

Time Is The Only One Who Cares Love

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Cerita sepasang kekasih dengan lika liku kehidupannya , pria yang selalu membohongi terhadap wanitanya dan lebih memilih meninggalkannya sehingga sang wanita akhirnya kehilangan akal sehatnya , namun cinta datang terlambat , tokoh pria baru menyadari bahwa wanita yang selalu memberinya cinta sepenuh hati hanya dia , tidak ada wanita selain dirinya.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset